Membangun Keluarga yang Kokoh

oleh : KH Abdullah Gymnastiar

ManajemenQolbu.Com:

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin. Saudaraku yang baik, sulit untuk membangun negeri yang kita cintai ini, jika tidak kita awali dengan membangun keluarga yang kokoh.

Seorang suami yang berasal dari keluarga yang kokoh, ia akan mampu memimpin keluarganya dengan baik. Jangan sampai, di kantor sukses mengurus perusahaan dengan ribuan karyawan, namun di rumah gagal, karena 2 orang anaknya tidak terurus.

Rumah tangga yang kokoh akan membuat kemampuan sang ibu turut berkembang. Ia semakin mampu menjadi ibu yang baik. Menjadi istri yang mulia. Kita berharap, para wanita terus berjuang sekuat tenaga untuk membangun keluarganya, karena semua pemimpin dilahirkan oleh seorang wanita. Kita begitu rindu akan banyaknya wanita Indonesia yang berlomba-lomba menjadi tuntunan, bukan berlomba-lomba sekedar menjadi tontonan.

Para suami juga harus sadar, bahwa memiliki status sebagai suami, atau saya ayah saja tidaklah cukup, karena akan jadi dengan sendirinya saat ia menikah dan dikarunia anak.

Seorang suami adalah pemimpin keluarga. Ia harus belajar terus menerus untuk mencari cara terbaik dalam memimpin rumah tangganya.

Karena setiap hari, masalah yang dihadapi bertambah, tiap hari kebutuhan juga bertambah ,dan tiap hari potensi konflik ikut bertambah, Jadi, bagaimana mungkin bisa menyikapi segala yang bertambah tanpa kemampuan yang bertambah.

Semakin tua, seharusnya semakin matang, semakin bijak. Sehingga ketika ia wafat, warisan terbesar bagi kelurga dan anak-anaknya adalah kebanggaan memiliki orang tua yang bijak. Yang mulia. Sebagai orang tua, kita harus menginformasikan kepada anak-anak, bahwa mereka tidak selamanya memiliki orang tua yang ideal. Mungkin ayahnya yang kurang bijak ? Mungkin ibunya yang kurang arif ? Atau Mungkin kedua-duanya.

Mereka tidak boleh patah semangat, walau orang tua belum seideal yang mereka harapkan. Mungkin diantara kita, ada yang orang tuanya bercerai, orang tuanya telah wafat, atau mungkin ada yang tidak tahu dimana ibu bapaknya, karena yatim piatu sejak lahir. Hal Itupun tidak boleh membuat kita patah semangat.

Nabi Muhammad, ketika lahir tidak pernah melihat ayahnya, karena sudah wafat. Umur 5 tahun, ibunya juga meninggal. Nabi Muhammad umur 5 tahun sudah yatim piatu, namun beliau bisa bangkit berprestasi. Maka, membangun rumah tangga tidak cukup hanya tekad ayah, tekad ibu, atau tekad anak. Tapi yang penting adalah bagaimana menyikapi setiap masalah dengan sikap yang terbaik. Dan kuncinya adalah ilmu.

Rumah tangga pecinta ilmu, pecinta amal, itulah yang akan mengokohkan iman. Sungguh, iman yang kokohlah yang akan membuat hiruk pikuk rumah tangga tidak akan menenggelamkan ataupun menyengsarakan. Hanya dengan kekuatan iman, buah dari ilmu yang diamalkan, yang akan memperindah keluarga dan memperkokoh rumah tangga, Insya Allah. Wallahu alam.

(nd/mikha)Lsdjaflksdjf sdal

*Dari suatu mailist, semoga bermanfa’at :)

About these ads