Patut dicontoh.
Ibu Tri Mumpuni ini pernah mendapat penganugerahan People Of The Year dari Koran Sindo.
Memang sangat luar biasa semangat dan hatinya.
Saya baru saja nonton sebagian acara di Alif TV yang narasumbernya Mbak Tri Mumpuni yang mengulas tentang pengalamannya membangun ratusan Pembangkit Listrik Mikro Hidro di pelosok negeri di Indonesia .( yang beliau sendiri sepertinya tidak pernah menghitung berapa buah pembangkit yang pernah dibuatnya)Ketika di akhir pembicaraannya beliau mengajak generasi muda untuk membangun negeri ini .Beliau berucap : “Bahwa Negeri ini hanya bisa maju dibangun oleh manusia yang Morally Correct. Secara moral baik, ikhlas dan bercita cita hidupnya berguna bagi orang banyak”. Tanpa disadari saya bertepuk tangan sendiri ketika kalimat itu usai diucapkan .Saking tertariknya dengan isi kata-kata tersebut.

Disebutkannya bahwa beda aparat pemerintah atau birokrat kita yang baru bisanya “berjanji” untuk membiayai pembangunan Mikro Hidro dibanding dengan para pendana dari luar (Karena kenyataannya dana untuk membangun pembangkit 2 tersebut rata-rata didapat dari dana luar negeri . Misalnya dari Korea, Jepang dan negara Eropa).
Kalau aparat pemerintah kita itu umumnya mensyaratkan itu dan ini, yang semuanya dimintai dana. Untuk kertas saja dihitung dan ditagihkan ke beliau.Tapi pada ujung ujungnya selalu kearah untuk kepentingan si pejabat itu sendiri. Bagaimana dana untuk project tersebut bisa masuk ke kantong sendiri , tentang teknis dan teknologinya ,terserah mau apa saja Yang penting mungkin Komisi masuk kantong sendiri. Oleh sebab itu ibu Tri Mumpuni tidak pernah mau bekerjasama dengan aparat atau orang yang bermoral seperti itu.

Kalau pendana dari luar, bila trust sudah terjalin, maka dengan tidak bertele-tele dibuatlah sebuah MOU. Setelah membuat MOU, tidak sampai seminggu dana sudah ditransfer ke rekening, tanpa sepeserpun dipotong.
Ketika host acara tersebut bertanya, apa kepentingan dari para pendana tersebut terhadap program atau proyeknya tersebut.
Ibu Tri Mumpuni mencontohkan pendana dari Korea bilang : “Kami (orang Korea), menyadari betapa negeri anda itu (Indonesia) sangat potensial dengan berbagai alternatif energi yang tidak dipunyai oleh negara Korea. Dengan termanfaatkannya energi air untuk negeri dan rakyat anda sendiri, maka gas yang anda punya juga bisa dijual kepada kami”. Positif sekali. Win-win solution. Give dulu baru berharap ada take.

Lain lagi dengan penyandang dana dari negeri Eropa: “Dengan adanya energi air yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat Indonesia sendiri, maka rakyat anda dengan sendirinya akan sadar sendiri untuk memelihara hutan sebagai sumber mata air”. Alasan yang sangat visioner, buat kelestarian paru paru dunia.

Beda dengan aparat dan rata-rata birokrat kita. Morally sangat Cetek, walau secara akademis bergelar S2 dan S3 nya berderet deret. Sepertinya akan hidup 1000 tahun dan pikirnya bisa membawa kekayaan ke liang lahatnya bila mati.

Maka dengan ulasan yang cukup menarik tersebut, saya secara spontan bertepuk tangan sendiri, saat kalimat diatas diucapkan oleh ibu Mumpuni.

Saya sangat bangga dengan kiprah beliau. Rasanya saya ingin muda kembali, biar bisa berbuat lebih terarah lagi seperti beliau.
Ada satu lagi perkataan beliau yang menurut saya masukan bagus. Yang intinya begini : “Saat ini bukanlah pemberdayaan masyarakat yang harus ditingkatkan, karena untuk memperdayakan rakyat itu lebih mudah bila diurus oleh yang mentally correct, punya hati. Tapi pemberdayaan aparatlah yang menjadi tantangan besar, supaya keberadaannya buat ngurus rakyat berada di jalan yang benar”.
Dia bisa bicara tersebut, bukan ngarang-ngarang atau bermaksud menghujat kayaknya. Tapi berdasarkan pengalaman ngurus ratusan pembangkit Mikro Hidro di lapangan, yang proven sudah dia lakukan di pelosok pelosok. Itulah salutnya saya pada beliau, padahal dia seorang wanita. Angkat topi, tinggi-tinggi.

Salam Semangat
Dudi/76

*Copas dari suatu maillist🙂