6 Wanita Ini Sukses Bangkitkan Perusahaan ‘Sakit’

Angga Aliya – detikfinance

Rabu, 13/06/2012 07:10 WIB

 

Jakarta – Kaum hawa selama ini dipandang sebelah mata di dunia korporasi. Jangankan masuk jajaran direksi, jadi karyawan biasa saja kadang masih diragukan kinerjanya.

 

Tapi sekarang ini zaman mulai bergeser, sudah banyak wanita yang memimpin perusahaan, dan berhasil membawa sukses terhadap perusahaan tersebut. Sebanyak 18 perusahaan yang masuk dalam Fortune 500 (perusahaan terbaik dan terbesar di Amerika Serikat), dipimpin oleh wanita.

 

Meski jumlahnya masih sedikit, tapi keberadaan kaum wanita di korporasi AS ini perlu diperhitungkan. Apalagi jika wanita tersebut telah berhasil menyelamatkan perusahaannya dari sakit menjadi sukses besar.

 

Seperti dikutip dari Investopedia, Rabu (13/6/2012), berikut ini adalah enam wanita yang telah sukses mengumpulkan laba cukup tinggi untuk perusahaan yang mereka pimpin.

 

1. Ursula M. Burns

 

Ursula menjadi CEO wanita keturunan Afrika-Amerika pertama yang masuk daftar perusahaan Fortune 500 company. Ursula Burns menjabat sebagai CEO Xerox Corporation sejak Juli 2009, bahkan sekarang rangkap jabatan menajdi komisaris.

 

Ia memulai karirnya di Xerox pada tahun 1980 melalui magang sebagai teknisi mekanik. Di bawah pimpinannya, Xerox melakukan akuisisi terbesarnya sepanjang sejarah, yaitu mencaplok Affiliated Computer Services senilai US$ 6,4 miliar (Rp 57,6 triliun).

 

Akuisisi itu berhasil menjejakkan kaki Xerox di industri jasa komputer yang pergerakan uang di industrinya mencapai lebih dari US$ 500 miliar (Rp 4.500 triliun) setiap tahunnya.

 

2. Ellen J. Kullman

 

Sebagai komisaris dan CEO E.I. du Pont de Nemours and Company, produsen bahan kimia terbesar ketiga dunia, Kullman mengarahkan divisi customer relations untuk berkonsentrasi ke customer needs.

 

Keputusannya itu membuahkan banyak inovasi dan ide baru di perusahaan tersebut. Konsentrasinya kepada pengembangan produk baru menghasilkan lonjakan pendapatan hingga 40%, rekor baru yang dipegang DuPont’s dari penjualan produk baru saat resesi.

 

3. Irene B. Rosenfeld

 

Rosenfeld adalah CEO sekaligus komisaris Kraft Foods, produsen makanan kemasan yang beroperasi di lebih dari 170 negara. Produk-produknya yang terkenal antara lain keju Kraft, Oreo, Nabisco, kopi Maxwell House, dan sereal Oscar Mayer.

 

Laba yang diraup Kraft meningkat signifikan di bawah kepemimpinannya, baik itu di AS dan luar negeri. Pada 2011 lalu, ia memotong bonusnya sendiri sebanyak 46% karena gagal mencapai target meski masih terus mencetak laba.

 

4. Indra K. Nooyi

 

Nooyi dikenal luas sebagai CEO wanita yang paling sukses sejak mulai memimpin PepsiCo Oktober 2006 silam. Pepsi merupakan perusahaan global yang memiliki merek-merek seperti Quaker Oats, Tropicana, Gatorade, Frito Lay, dan Pepsi Cola.

 

Saham Pepsi sempat turun 1% sejak dipimpin Nooyi. Bahkan banyak analis yang menilai saham Pepsi masih terlalu murah, hanya US$ 10, tidak sebanding dengan kinerja perusahaan yang kinclong.

 

Meski dirudung berbagai masalah ini, Nooyi berhasil menggenjot omzet perusahaan melalui berbagi produk baru yang serba sehat, meliputi produk berisi buah, susu dan tanaman pangan lain. Hasilnya, omzet PepsiCo melonjak 72% dengan laba yang naik dua kali lipat.

 

5. Lynn L. Elsenhans

 

Ia pernah jadi komisaris, CEO dan pemilik Sunoco, dan jadi satu-satunya wanita yang pernah memimpin perusahaan migas raksasa itu. Permintaan akan minyak sedang turun tajam akibat krisis saat ia ditunjuk sebagai CEO di 2008.

 

Untuk menyelamatkan perusahaan, ia mengurangi pegawai, menutup beberapa kilang dan menjual aset yang tidak menghasilkan atau sudah di ujung tanduk. Kapitalisasi pasar raksasa migas itu menanjak 52% di bawah kepemimpinannya. Awal tahun ini Elsenhans baru saja mengundurkan diri dari posisi CEO.

 

6. Patricia Woertz

 

Sebagai komisaris, pemilik sekaligus CEO Archer Daniels Midland, raksasa di industri agrikultur dan makanan kemasan, Woertz pernah membantu perusahaan itu mencetak rekor laba tertinggi.

 

Di bawah pengawasannya, perusahaan agrikultur itu membukukan penjualan US$ 61 miliar (Rp 549 triliun), dibarengi dengan berkembangnya sistem operasional dan rencana pengembangan investasi.

 

Woertz selalu punya rencana untuk melakukan akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan baru, juga membangun pabrik baru untuk pengembangan perusahaan.