*Mengenai kebiasaan penurunan produktivitas sepeninggal liburan*

Baru seminggu kita mulai bekerja lagi, dan memang, tak bisa dipungkiri masih ada beberapa di antara kita yang mengambil cuti dan kita masih dalam suasana silahturahmi sebagai imbas dari moment Idul Fitri. Kondisi ini tak pelak mempengaruhi kinerja unit dan perusahaan dalam skup yang lebih besar.

 

Kini setelah menginjak minggu kedua setelah libur Lebaran, semoga kita dalam performa terbaik dan formasi lengkap sehingga tak ‘kaget’ lagi menggerakkan roda perusahaan karena beberapa waktu telah libur. Setelah libur dan ber-halal bihalal kemarin, kita diharapkan memiliki semangat yang lebih baru dalam menatap dan mengatasi tantangan yang menghadang.

 

Rekan-rekan, tak salah rasanya kita mulai menginventarisir sejauh mana langkah-langkah bisnis yang telah kita ambil dan mengevaluasi sejauh mana progress yang telah dicapai. Dari titik ini tentu kita akan dapat memutuskan kemana kita akan melangkah. Dengan semangat yang terbarukan dan evaluasi, seyogyanya kita melihat bagaimana kita memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kita dalam upaya memajukan perusahaan agar tak mampu disalip kompetitor.

 

Menganut prinsip mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari sekarang, kita harus berbesar hati untuk menerima kondisi pribadi. Maksudnya, dengan kepala dingin dan hati yang lapang, kita harus mengenal diri, dengan begitu, hati kita tak akan panas dan buru-buru menyangkal jika pola kerja kita kurang efektif dan efisien dalam hal waktu.

 

Dalam era digital seperti sekarang ini, memang, bekerja tak harus berada di belakang meja. Tapi jujur saja, berapa di antara kita yang memikirkan konsep agar pekerjaan kita selesai dalam waktu yang lebih singkat dari sebelumnya, namun lebih efektif dalam upaya memuaskan pelanggan? Kenapa lagi-lagi harus pelanggan? Karena tanpa mereka kita tak lebih dari sekumpulan orang-orang yang kurang ber-value dalam konteks bisnis.

 

Dalam bidang bisnis apapun, pelanggan adalah sumber dari segalanya, termasuk pendapatan kita. Perusahaan ini tak akan mungkin hidup jika tak memiliki pelanggan, apalagi pelanggan yang loyal dan sangat percaya pada kita sehingga bersedia dengan suka hati selalu menggunakan produk dan layanan kita.

 

Kembali pada konteks time management, hal ini mungkin sering dianggap sepele. Tapi seberapa seringkah kita merasa dirugikan akibat dari penggunaan waktu yang teledor, baik oleh rekan sejawat maupun kita sendiri? Mungkin kita sering menggerutu dalam hati bahwa betapa tidak cepatnya kinerja si A, si B dan sebagainya yang menyebabkan pekerjaan kita juga menjadi terhambat. Ya! Time management mungkin masih dianggap remeh sebagian besar dari kita, tapi betapa hal ini dapat mempengaruhi pekerjaan orang lain, dan dalam level yang lebih tinggi lagi adalah kinerja perusahaan.

 

Kemampuan untuk mengoptimalkan waktu kerja tentu akan berdampak pada keselarasan dan harmonisnya integrasi di antara insan Telkom. Jika kita bekerja sesuai dengan tenggat waktu bahkan mendahuluideadline, maka kita tak menghambat pekerjaan rekan kita yang akan mem-follow up pekerjaan tersebut. Relasi kerja yang harmonis, akan membuat laju pekerjaan juga semakin cepat, dan tanpa sadar kita telah memperkuat soliditas perusahaan. Konsepnya sederhana saja, saat kita bekerja sesuai tenggat waktu, kita tidak akan menghambat orang lain untuk follow up pekerjaan, seiring dengan hal itu hubungan dengan rekan sejawat akan semakin akrab dan menghasilkan kerja sama yang solid. Ini tentu saja sejalan dengan makna Collaborative Innovation dan Co-Creation of Win-win Partnership yang sama-sama bernafaskan kerja sama yang harmonis.

 

Ketika kita piawai mengelola waktu dalam konteks penyelesaian pekerjaan, dengan begitu kita akan menjadi yang pertama menyentuh pelanggan, bukan malah kompetitor. Kualitas ini akan membuat kita progresif di mata stake holder, tak hanya di mata pelanggan. Jika kualitas ini ada dalam diri setiap insan Telkom maka pelanggan akan menilai kita sebagai sekumpulan orang-orang yang progresif, sesuai dengan salah satubrand value kita, progresif.

 

Setiap kita harus menyadari hal ini sehingga dengan sadar pula kita memperbaikinya. Sekarang mari kita beri tantangan untuk diri sendiri. Jika sebelumnya kita menyelesaikan suatu pekerjaan dalam satu jam, maka sekarang kita coba kurangi waktu penyelesaian pekerjaan itu, 45 menit misalnya. Lakukan terus menerus tantangan ini dengan waktu yang lebih dipersingkat lagi. Atau paling tidak, kita tak menjadi penghambat dari suatu pekerjaan. Dengan latihan ini kita akan tahu sejauh mana tingkat efisiensi dan efektivitas waktu yang kita konsumsi untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

 

Sejatinya, time management ini bukanlah hal baru bagi kita. Sejak muda, kita diajarkan untuk selalu menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk menjadi manusia yang lebih baik dan beruntung. Beruntunglah mereka yang berlaku hari ini lebih baik dari hari sebelumnya dan merugilah bagi mereka yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Konsep pengelolaan waktu ini juga bisa diadopsi dari ajaran untuk mengoptimalkan waktu selagi lapang sebelum kita tak memiliki banyak waktu (sempit). Ini juga bukan lantas kita harus bekerja sepanjang waktu tanpa jeda. Kita tetap memerlukan waktu untuk melepas penat sejenak untuk menyegarkan badan dan pikiran sehingga akan selalu siap untuk tugas atau pekerjaan berikutnya. Tapi memang kita tak dapat berlama-lama istirahat karena setelah menyelesaikan suatu pekerjaan maka hendaklah untuk menyelesaikan pekerjaan berikutnya.

 

Jika hal ini dilakukan dengan sadar oleh kita semua, atau paling tidak, sebagian besar dari kita, maka akan dapat dengan mudah kita melihat betapa dinamisnya perusahaan ini. Dengan mengoptimalkan waktu bekerja, kita bisa memperbaiki pergerakan perusahaan ini menjadi lebih kencang lagi larinya.

 

*dari sebuah mailist.. semoga bermanfaat🙂