Saya yakin, bahwa tiada Masyarakat Indonesia yang benar-benar bodoh, karena sebagaimana kita juga tahu bahwa kecerdasan itu tidak hanya berdasarkan 1 bidang tertentu / beberapa bidang saja, namun berdasarkan banyak sekali bidang yang tidak mungkin kesemuanya itu mampu dikuasai oleh 1 orang  saja di dunia, mengingat kembali bahwa tiada manusia yang sempurna di dunia.

Kecerdasan yang dimaksud tersebut pun mencakup dalam prinsip ekonomi mendasar / fundamental bahwa semakin banyak stok / persediaan suatu barang & jasa di pasaran / di tengah masyarakat, maka harga jual dari barang & jasa tersebut akan semakin murah & semakin diminati pula oleh banyak masyarakat, apalagi bila barang & jasa tersebut bermutu tinggi serta terus membawa kebermanfaatan bagi yang membelinya bahkan selalu bisa bermanfaat bagi seluruh umat dalam jangka panjang.

Prinsip ekonomi tersebut secara sadar / tidak sadar juga berlaku pada fenomena belum berkembangnya produk-produk lembaga keuangan syariah di Indonesia yang notabene merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim saat ini. Menurut penjelasan Syafi’i Antonio, pakar ekonomi syariah dari Indonesia, belum maraknya peredaran produk-produk lembaga keuangan syariah (seperti bank & perusahaan asuransi) di tengah Masyarakat Indonesia saat ini salah satunya penyebab utamanya adalah masih kurangnya kepercayaan Masyarakat Indonesia untuk menggunakan jasa perbankan & asuransi syariah.

Hal tersebut menyebabkan akses pemanfaatan produk-produk syariah masih dirasakan cukup sulit oleh para panggunanya, seperti ATM-nya yang masih belum sebanyak ATM bank-bank konvensional yang memang telah hadir lebih dulu di pelosok negeri ini daripada bank-bank syariah.

Kita semua, Warga Indonesia, terutama para umat Muslim, perlu segera menyadari bahwa berbagai lembaga keuangan syariah di Indonesia saat ini masih merupakan “balita” yang belum bisa “berlari” yang perlu terus kita rawat serta kita tumbuh-kembangkan bersama agar kelak dapat “matang” & “mapan” ketika dewasa, bukan justru mengacuhkannya & bahkan tidak memberikannya “nutrisi” yang cukup bagi kesehatannya.

“Nutrisi” tersebut tidak lain & tidak bukan adalah kepercayaan kita sebagai masyarakat untuk menggunakan jasa-jasa perbankan & lembaga asuransi syariah agar lembaga-lembaga keuangan syariah semakin banyak digunakan oleh masyarakat luas hingga sarana & prasarana yang menunjang kegiatan perekonomian syariah pun dapat semakin banyak disediakan di tengah-tengah masyarakat Nusantara (tentu karena penggunanya sudah cukup banyak).

Karena, untuk menyediakan sarana & prasarana pendukung kegiatan perbankan & asuransi, dibutuhkan dana yang tidak sedikit & akan semakin besar dana yang dibutuhkan itu bila pengguna jasa perbankan & asuransi tersebut belum cukup banyak. Begitulah prinsip “dari kita, oleh kita, & untuk kita”. Kalau bukan kita umat Muslim di Indonesia, yang menjaga & merawat berbagai lembaga keuangan syariah di Tanah Air, siapa lagi? Saat ini di Benua Eropa saja, yang notabene mayoritas masyarakatnya adalah non-Muslim, banyak negara telah mengambil langkah inisiasi secara serius & berkelanjutan untuk belajar mengimplementasikan prinsip-prinsip ekonomi syariah pada berbagai produk jasa keuangannya, terutama usai mengalami krisis belum lama ini. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa sistem ekonomi syariah yang notabene lahir dari prinsip agama rahmatan lil ‘alamin yaitu Agama Islam merupakan sistem ekonomi yang dengan mengikuti aturan-aturan & ajaran-ajaran dari-Nya bisa menguntungkan seluruh pihak yang terlibat di dalamnya bahkan membawa kebermanfaatan untuk seluruh umat manusia.

Seluruh pembahasan mengenai sekelumit ekonomi syariah di artikel inilah yang mendorong saya untuk mempelajari mata kuliah Ekonomi Syariah & Akuntansi Syariah di semester-semester berikutnya, yang saya pribadi berharap semoga membawa kesuksesan & keberkahan nantinya, aamiin ya Rabbal ‘alamiin.