Berdamai dengan perbedaan. Betapa hidup di dunia ini kita semua membutuhkan orang lain untuk membantu kita, karena kita manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Sungguh akan indah kehidupan kita semua bila setiap hari kita ikhlas saling tolong-menolong dengan sesama ciptaan-Nya.

Begitulah keyakinanku sejak dulu. Naif & normatif terkadang, pikir orang lain tentang hal tersebut. Namun, tetaplah itu semua menjadi harapanku kelak bahwa seluruh umat manusia sejatinya memang perlu saling bertoleransi & menghargai sesama sebagai umat yang beradab & berakal. Begitu hati ini sedih tiap kulihat & kudengar berita mengenai pertempuran / cek-cok antara para Penduduk Indonesia yang berbeda suku, agama, & bahkan tak jarang yang hanya berbeda pendapat dan idealisme.

Ketika kita (masih) meyakini bahwa Tanah Air Indonesia adalah 1 nusa, 1 bangsa, & 1 bahasa, maka tidaklah akan aneh jika kita membutuhkan seorang pemimpin tertinggi di Nusantara yang mampu menjadi penengah yang adil, tulus, serta imparsial (atau tidak memihak pada kelompok manapun) saat terdapat warganya yang bertengkar, agar tercipta kedamaian yang berkelanjutan & menentramkan seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Tapi, bila pemimpin tersebut justru tidak hadir dalam lika-liku kehidupan masyarakatnya, seperti Pemerintah yang belum memenuhi pemerataan pembangunan sarana & prasarana daerah yang berkelanjutan serta tidak melindungi masyarakat dari peredaran obat-obatan terlarang & dari ancaman oknum-oknum pemecah persatuan Bangsa Indonesia, maka tidaklah akan janggal ketika kita menemukan beberapa kelompok masyarakat dalam berbagai kasus / moment tertentu mengakui & meyakini bahwa pemikiran & pendapat kelompok tersebut sajalah yang benar & memang patut dibenarkan oleh semua orang. Hal tersebut disebabkan karena selama ini kelompok-kelompok masyarakat itu kebingungan & belum menemukan sosok / kehadiran seorang pemimpin (atau lebih tepat seorang negarawan) yang memiliki suatu pemikiran & pendapat yang benar serta memang patut sekaligus bisa dibenarkan oleh seluruh lapisan masyarakat, tentu suatu pemikiran & pendapat yang dimaksud tersebut adalah yang sesuai dengan hati nurani & akal sehat seluruh masyarakat sebagai sebenar-benarnya manusia.

Sehingga, ketika kita merasa mampu & ingin mengabdikan diri sebagai pemimpin tertinggi negeri ini, / sebagai bagian dari kepemimpinan tertinggi di negeri ini, maka kita perlu perlu menyucikan hati & pikiran kita dari segala macam bentuk kepentingan  / tujuan pribadi lalu penuhi niat ikhlas untuk menyatukan serta menyejahterakan seluruh Warga Negara Indonesia selamanya.