Tag : 

https://anilifitya.files.wordpress.com/2013/07/333a4-mata.jpg
Ilustrasi – Google Image
Teringat ketika saya masih duduk dibangku kelas IV Sekolah Dasar. Satu hal dari sekian banyak memoria indah di masa muda, ketika salah satu teman saya dengan antusias memceritakan apa yang dilihatnya ketika di pusat perbelanjaan. Teman saya menceritakan seorang yang asing di mata ras Indonesia, berwajah kekuningan dan bermata sipit. Entah berkewarganegaraan mana, teman saya bilang dia adalah orang Jepang. Orang Jepang yang dilihat teman saya itu hanya sendiri. Teman saya bilang orang Jepang itu konsumtif, boros, banyak belanja hal yang dinilainya tidak begitu diperlukan dan hal negatif lainnya yang teman saya lihat dari satu individu saja. Saya dan teman lainnya hanya bisa jadi mustami’ yang berusaha memahami celotehan bocah kelas IV sekolah dasar.
Tanpa disadari majelis kami, wali kelas kami mendengarkan cerita teman saya itu. Wah… spontan kami membubarkan majelis tanpa penutupan. Berlarian menuju kursi dan meja masing-masing siswa-siswi. Kebetulan pada pagi ini diawali mentoring atau tausiyah dari wali kelas. Mengucapkan salam adalah hal yang lumrah dan wajib bagi setiap majelis di sekolah dasar saya. Beliau mengisi mentoring dengan membahas hal yang saya dan teman-teman saya dengar tadi sebelum wali kelas datang. Ya benar! memangnya apalagi kalau bukan cerita si Jepang itu ? Guruku mengomentari dengan wajah serius yang bagi kami –bocah SD– itu kurang enak dan terkesan penuh amarah, padahal komentarnya biasa saja. Beliau berkata, “Kalian seharusnya menggunakan kedua mata kalian, hanya karena satu individu dari suatu golongan bertindak konsumtif, maka kalian menyimpulkan golongan tersebut berbuat konsumif. KemudianUstadzah (sebutan untuk ibu guru di SD saya) memberi contoh: “si Fulan adalah salah satu anak dari sepasang orangtua dan memiliki lima saudara. Fulan adalah anak yang sholeh begitu juga orangtua dan tiga saudaranya, namun dua saudaranya adalah preman dan pengedar narkoba. Semua tetangganya bilang bahwa keluarga tersebut adalah keluarga penjahat. Bagaimana jika kejadian ini terjadi pada keluarga kalian? apakah kalian yang ternyata sholeh/ah mau dibilang, kalian adalah salahsatu keluarga penjahat? pasti tidak mau ‘kan?”.
 
Delapan tahun lamanya perkataan guru saya yang mulia tersebut kembali teringat. Ketika guru bidang Sosial saya berdiskusi panjang mengenai riwayat perjalanan politik runtuhnya orba menjemput era reformasiNgalor-ngidul perbincangan kami antara guru dan seluruh siswa, namun subtansi diskusi tetaplah tentang politik. Beliau berpesan Partai baru yang hanya bisa terkenal karena berkoar di media massa tiba-tiba naik daun dan menjadi harapan bangsa, hanyalah partai isapan jempol belaka, NATO (no action talk only) apalagi partai yang dimaksud belum punya partisipasi berarti bagi kemajuan bangsa. OK saya setuju!. Karena hal tersebut, teman-teman saya menjadi penasaran bagaimana penilaian terhadap partai yang lain, maka dengan mantapnya teman-teman saya satu persatu bertanya “Bu, bagaimana dengan partai anu?” berulang-ulang dari mulut yang berbeda-beda. Karena pengetahuan dan wawasan Beliau begitu luas, apalagi mengenai politik dalam negeri, Beliau menjawab dengan penilaian objektifnya tersebut.

Satu komentar beliau tentang partai, sebutlah partai tersebut partai bergaris Islamis. Beliau berkata kurang lebih seperti ini“Yang Ibu kira awalnya partai bersih itu eh.. ternyata salah satu pengurusnya malah lihat gambar porno saat sidang, ih partai apaan itu?”. Saya hanya bisa mendengar, kalaupun saya berani menyanggah penilaian yang sebelah mata itu, malah akan menambah ruwet pikiran, mengingat gaya bicaranya yang tidak mau kalah. Perkataan tersebut membuat saya agak geram. Bukan karena saya adalah partisipan ataupun pengurus partai bergaris Islamis tersebut, bukan pula anak dari pengurus partai tersebut. Bagi saya partai manapun belum ada yang menciptakan pemerintahan yang bersih, membuat sejahtera rakyatnya. Hanya pemerintah menurut perspektif  Islam-lah yang akan membuat kesejahteraanhaqiqi (sejati). Pemerintahan tersebut pernah direalisasikan oleh Muhammad Rasulullah SAWdan generasi-generasi berikutnya. Pemerintahan mana yang memilki rakyatnya yang berstatusMuzaki (pemberi uang zakat) sehingga Khalifah Harun Arrasyid bingung mau di kemanakan uang zakat tersebut, mengingat semua rakyatnya kaya raya.

Namun kiranya, walau bagaimanapun kekurangan partai tersebut, tetaplah penilaian objektif terhadap satu individu dalam ruang lingkup golongan tidak bisa dipaksakan menjadi penilaian mutlak terhadap golongan/ organisasi tersebut. Seperti yang ustadzah saya katakan dalam analogi keluarga Fulan, “jika terjadi pada keluarga kita, apakah kita pun mau dinilai orang lain seperti itu?”.
Gunakan kedua matamu!
Semoga bermanfaat. Barokallah
sumber: Rahman95 Kompasiana