Tag : 
http://3.bp.blogspot.com/-L1k2NHrnKvg/UMhrJ84_5GI/AAAAAAAAAB4/DwsRQ1OZps0/s1600/musik2.png
Google Image

Bicara musik sebenarnya gue bukan ahlinya. Bahkan gue cuma bisa jadi konsumen musik. Banyak genre musik menjadi pilihan banyak orang seperti pop, jazz, reggae, rock, hip-hop, dll. Selera tidak menjadi masalah. Karena kita tercipta berbeda-beda.

Zaman berkembang seiring melajunya waktu. Karir di dalam permusikan semakin menjanjikan. Pendapatan industri musik semakin tinggi, namun bukan berarti persaingan semakin meregang justru sebaliknya. Setiap industri permusikan harus memutar otak, bagaimana bisa meraup keuntungan lebih dengan menyingkirikan industri lawan.
Banyak hal dihalalkan secara paksa. Tahun 90-an banyak band dunia papan atas beraliranheavy-metal. Disetiap inchi style, fashion, dan lirik lagunya bagi gue kagak enak didengar. Namun, yang gue heran kenapa banyak sekali fans-nya? Gue pernah baca di perpustakaan sekolah gue, ternyata gaya, busana serta lirik lagu band-band tersebut mengadopsi gaya “pemujaan setan”. Disinyalir band-band yang berhaluan heavy-metal merupakan agen Satanist. Bukan hanya demi meraup keuntungan finansial maupun popularitas, jelas ini sebuah propaganda terselubung tanpa kesadaran yang dilakukan Yahudi dan antek-anteknya.
Sekarang, di tahun 2000-an. Mungkin heavy-metal sudah banyak ditinggalkan. Lagi-lagi industri permusikan harus memutar otak. Musik hanya akan bertahan dengan memiliki daya tarik yang tinggi, namun jika hanya didengar apa yang dapat dipertahankan?. Eurekaaa..!!! berpikirlah mereka dengan memadukan kecantikan atau ketampanan wajah dengan kemolekan tubuh tanpa harus memerhatikan makna lagu, keuntungan akan mengalir deras.
Terbukti, demam K-pop meningkat pesat di tanah air. Semua cewek terpana dengan ketampanan boyband, mereka suka musiknya, namun sedikit sekali dari mereka yang mengerti lagunya.“Intinya mah yang penting ganteng” kata salah satu teman gue. Begitu juga dengan teman cowok gue, “girlband tuh enaknya lihat video, kalau dibuat musik mp3, apa yang lu dapat?”.
 Tidak hanya pengaruh K-pop, musik khas Indonesia pun kini kurang berkualitas. Ya, Dangdut. Dulu, Rhoma Irama membawakan lagu dangdut penuh dengan makna. Namun kini, Dangdut semakin semeraut. Banyak lagu mengangkat topik kurang mendidik, misalnya -maaf- “perempuan jalang“. Bodohnya, si penyanyi menyanyikan lagu “aku bukan pelacur” tapi membawakan lagunya itu dengan tarian erotis pembawa hasrat.
Bisa dilihat sekarang, asal punya modal cakep doang, lu bisa jadi artis. Berbeda dengan dulu, walau dunia dipenuhi band satanis, di tanah air sendiri Iwan Fals dan Bimbo dapat meraih antusiasme karena lagunya yang penuh dengan makna kehidupan. Namun bukan berarti kontemporer Indonesia maupun dunia tidak memiliki musisi-musi yang masih memerhatikan unsur makna lagu dibanding gaya berpenampilan. Bagi mereka tak perlu  fashionableberpenampilan. Karena bagi mereka musik itu didengar bukan dilihat.
Diposkan oleh Muhammad ‘Ali Rahman di 18.53