Google Image
Memang judul gua ini banyak menyulut kontroversi bahkan sampai permukaan konflik. Tapi inilah nyatanya yang gua rasakan sebagai peserta didik Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak orang mendefinisikan guru sebagai staf pengajar; yang memberikan ilmunya kepada peserta didik. Ya, anak bocah ingusan saja tahu akan hal itu hahahaha. Inilah perjalanan kisah gua memaknai seorang guru.

Seperti biasa di hari biasa, gua biasa masuk kelas. Jam mentoring bersama wali kelas sebentar lagi akan dimulai. Wali kelas gua datang memasuki kelas binaannya. Sedikit profil beliau, beliau adalah salah satu alumnus Perguruan Tinggi Negeri terkenal dengan tingkat prestise baik di Asia, ya Institut Teknologi Bandung. Banyak informasi juga yang mengatakan bahwa beliau adalah salah satu siswa unggulan dari SD sampai SMA sehingga dirinya terpilih sebagai delegasi SMA-nya sebagai peserta olimpiade matematika. Banyak orang yang heran -termasuk murid-muridnya- mengapa orang secerdas beliau menjadi seorang guru ? sungguh mengherankan memang, namun hal ini apakah disadari beliau atau tidak, nampaknya beliau tetap enjoy dengan profesinya.
 
Walaaah malah kepotong cerita di kelas guanya, hahaha. OK gua lanjut, ternyata keheranan kita sebagai murid-muridnya terjawab di sesi mentoring setelah sekian lama membahas mengenai ‘orang yang disiplin’. Lebih kurang seperti ini kata-kata beliau.
 
“Saya dulu heran dengan teman saya, dia punya pilihan utama jurusan teknik dan pilihan akhirnya kependidikan (keguruan) dan itu bukan hanya terjadi pada satu teman saya saja. Sedang saya, menjadi seorang guru sudah menjadi cita-cita saya sejak kecil, bukan seperti teman saya menjadikan profesi guru sebagai pilihan terakhir, padahal untuk menciptakan seorang siswa yang cerdas dibutuhkan seorang guru dari kalangan orang-orang cerdas pula. Jujur, sebenarnya banyak perusahaan menawarkan pekerjaan kepada saya, bukan saya gagal dalam mencari pekerjaan di perusahaan. Saya dulu ingin universitas yang menghasilkan tenaga didik adalah universitas nomor satu di Indonesia, tapi sayang dulu universitas tersebut bukan universitas terbaik, makanya saya pilih ITB. Seharusnya keguruan adalah profesi paling prestise.”
 
Oh, begitu. Kita semua menjadi tahu mengapa beliau lulus dari ITB dan menjadi seorang guru. Memang tidak semuanya bisa disalahkan kepada orang-orang yang memandang sebelah mata profesi guru. Mereka sebagai manusia juga menilai dari kesejahteraan yang didapat dari seorang staf tenaga didik. Entah hanya dulu atau sekarang masih juga, kesejahtreaan guru di Indonesia dinilai minim sekali dibanding profesi lainnya. Banyak di negara lain seorang tenaga didik memiliki penghasilan yang lebih dari profesi lainnya sehingga pandangan masyarakat mengenai profesi tenaga didik sungguh menggiurkan. Tingkat prestise jurusan keguruan di berbagai Universitas menjadi pilihan dengan grade yang tinggi karena peminatnya yang berkuantitas tinggi. Dengan tingginya grade, orang-orang yang cerdas dan yang mau berusaha menjadi cerdaslah yang mampu menempati kursi kuliah kependidikan. 
 
Lalu bagaimana dengan kita? Banyak teman-teman gua yang berbeda sekolah dengan gua bercerita ketidak profesionalan seorang guru ketika mengajar, terutama banyak terjadi di sekolah berstatus negeri. –Mudah-mudahan hanya di sekolah teman gua itu-. 
 
“Gila emang li, guru gua masuk kelas cuma ngasih tugas tapi gak dijelasin dulu, katanya sih tinggal baca. Dalam hati gua, enak bener itu omongan. Ya secara gitu li, gua ‘kan siswa pastilah ada beberapa istilah di pelajaran yang gua gak tau. Kalo gak dikerjain, ya gua dihukum, dikerjain kagak ngerti. eh ujung-ujungnya ulangan. Gitu aja kerjaannya tiap hari, tugas-kumpulin-ulangan-tugas-kumpulin-ulangan.”
 
Google Image
 
 
 “Parah bener, diruangan UN gua banyak pengawas yang ngebiarin peserta UN pake contekan. Bahkan diruangan sebelah si pengawas ngebacain jawabannya.”
 
Gua ketemu guru gua, so pasti salam lah… eh pas udah salam (cium tangan) tangan gua bau garpit (asap rokok) padahal jelas-jelas di sekolah gua ada tulisan ‘DILARANG MEROKOK’.”
 
“Kesel gua sama guru itu. dia tuh yang penting masuk kelas, ngajar, ngasih tugas, terus ulangan. Nilai jeblok tinggal remed.”
 
Kriteria guru seperti itu biasa teman-teman gua panggil GaBut (Gaji Buta). Pembaca yang dimuliakan Allah, seorang guru merupakan sosok pendidik. Sosok yang mendidik tidak hanya dari lisannya saja, melainkan dari adab, sikap dan karakternya. Bagaimana mungkin seorang guru biologi atau penjaskes mengajarkan hindari berbagai penyakit jika dirinya saja merokok? Bagaimana mungkin seorang guru PKn mengajarkan taat pada aturan jika dirinya saja jarang masuk untuk mengajar? Bagaimana mungkin seorang guru matematika mengajarkan harus menghitung dengan tepat, jika dirinya saja sering ‘mengkatrol’ nilai ulangan muridnya agar terlihat baik oleh panitia SNMPTN? Bagaimana mungkin semua guru mengajarkan KEJUJURAN kepada seluruh muridnya jika diri mereka sendiri membiarkan muridnya bertindak tidak jujur saat UJIAN NASIONAL? 
 
Google Image
 
Inilah problema kompleks yang dihadapi negara kita, Kemiskinan Karakter Tenaga Didik. Gua mendengar cerita perjalanan guru kimia gua sebelum mengajar di SMA gua. Sebelumnya beliau pun merupakan guru di salah satu SMA.
 
 
Google Image
 
“Saat selesai UN, saya diajak untuk merubah jawaban yang salah. Jelas saya tidak mau, karena dengan begitu kita menghancurkan masa depan mereka. Memang, dengan membenarkan atau merubah jawaban yang salah, mereka dapat lulus UN dan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Namun apa jadinya nanti balasan dari Allah ?”
 
Gua emang gak punya banyak solusi karena gua juga gak bisa realisasikan solusi buat yang seperti itu. Namun satu saran gua. Meskipun kesejahteraan belum memadai, cobalah menjadi pribadi baik dikalangan siswa-siswi. Sehingga janji Allah yang menjanjikan ‘bagi seluruh makhluk-Nya yang dapat berbagi ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga’ itu benar-benar bisa didapat.Barakallah.
 
Google Image