Sabtu, 28 Januari 2012

Berkembanglah, keluar dari zona nyaman!

Hari demi hari tentu harus kita lalui dengan perbaikan, dengan perkembangan diri. Nah untuk bisa berkembang, salah satu cara yang efektif adalah dengan keluar dari zona aman kita, comfort zone. Zona aman adalah situasi saat kita merasa aman dan nyaman yang membuat diri terlena dan kehilangan antusiasme dan semangat untuk berkembang.
            Bayangin aja misalnya ada seorang siswa Sekolah Dasar kelas 6 akhir, dia sudah menguasai semua pelajaran SD. Karena merasa sudah jago, dia menginginkan di SD terus, supaya bisa jadi yang paling pinter. Apakah dia menjadi juara? Ya tentu juara kelas di SD, akan tetapi apakah dia berkembang? Tidak! Dia melakukan hal yang itu-itu saja dan tidak berkembang, dia harus keluar dari zona aman, pindah ke level yang lebih tinggi, yakni SMP. Begitu pun seterusnya.
            Juga seperti kata hadits bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin! Continuous improvement adalah kewajiban maka keluarlah dari zona amanmu. Apabila kita sama dengan hari kemarin apakah bisa dibilang biasa-biasa aja? Ingat, orang-orang di sekitar kita terus berkembang, dunia terus berputar, maka sama dengan hari kemarin adalah sebuah kerugian, apalagi lebih buruk!
Dalih-dalih agar bisa hidup di zona nyaman:
1. Syukuri apa yang ada
Memang benar bahwa kita harus selalu senantiasa bersyukur apapun kondisi kita saat ini. Tapi rasa syukur itu tidak boleh dijadikan alasan kita untuk tidak berkembang, untuk tidak melakukan perubahan. Jangan berbohong pada diri sendiri. Tanyakan pada diri, apakah aku pantas mendapat kehidupan yang lebih baik? Apakah aku mampu? Pasti mampu. Masalahnya apakah ada keinginan dan kesadaran diri untuk memulai? Jadi bersyukurlah apapun kondisi saat ini, sambil terus usaha menggapai cita-cita.
      2. Berisiko
Ya, dalih lain adalah mengenai risiko. Kata-kata ini sering keluar dari kelompok orang tertentu. “Kalau nanti rugi gimana? Kalau nanti gini gitu gimana?” kelompok ini senang memikirkan kemungkinan terburuk, untuk selanjutnya mencari alasan yang pada akhirnya tidak berbuat apa-apa. Saya pun setuju untuk berpikir kemungkinan terburuk, tapi hal itu difungsikan agar kita waspada. Bukan untuk tidak melakukan apa-apa.
Tipe manusia memang ada 3, yakni Risk Avoider(Penghindar Risiko), Risk Netral, dan Risk Lover(Pecinta Risiko). Ketiga tipe ini sesungguhnya tidak permanen, bisa diubah asal ada keinginan. Untuk Risk Avoider, kenapa harus menghindari risiko? Asal tau aja ya, sebenarnya kalau dilihat dari bahasa, Risk = Rizki, mirip-mirip kan. Makanya risiko itu sama dengan rezeki atau kekayaan, makin besar risiko ya makin banyak rezekinya donk. Nah masa iya rezeki mau dihindari? Pikir-pikir lagi kalau ketemu peluang.
Sebuah pemikiran yang out of the box, tapi masuk tempat sampah
Kalau memang iya semakin besar risiko semakin besar juga rezeki, ga usah sekolah aja, kan hidup jadi lebih makin berisiko, makin banyak rezeki donk. Atau ga resign dari kantor, ga usah kerja aja, kondisi hidup kan jadi terombang-ambing penuh risiko, penuh rezeki donk. Orang kaya gini namanya orang ngelantur, yang kaya gitu namanya bukan risiko, tapi bunuh diri. Sekalian aja loncat dari gedung atau gantung diri, berisiko kan. Coba deh kita agak ilmiah dikit dulu, risiko menurut buku Pengelolaan Risiko Usaha karangan Dewi Hanggraeni didefinisikan sebagai “Peristiwa/kejadian yang potensi untuk terjadi yang mungkin dapat menimbulkan kerugian. Timbul karena adanya unsur ketidakpastian di masa mendatang, adanya penyimpangan, terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan, atau tidak terjadinya sesuatu yang diharapkan.” Nah itulah definisi risiko menurut Dewi Hanggraeni.
Jangan kapasitas diri diperkecil agar hidup lebih berisiko, tapi bangun kapasitas terus menerus, terus lakukan hal besar. Risiko bagi orang yang berkapasitas kecil tentu juga mendatangkan rezeki yang sesuai dengan kapasitas.
3. Keluar dari zona aman cuma buat orang susah
Keluar dari zona aman cuma buat orang susah, orang yang sudah berkecukupan ya sudah. Tidak sama sekali. Hal ini untuk semua orang, miskin kaya susah senang, apapun kondisinya, kita harus senantiasa berkembang
Suatu hari ada seorang pemuda
–          Lahir di Argentina dari keluarga yang berkecukupan dengan penyakit asma
–          Menempuh pendidikan kedokteran di universitas, dengan niat mendalami penyakitnya
–          Masa mudanya dihabiskan dengan membaca buku tentang Karl Marx, Engels, dll
–          Suatu ketika saat liburan, dengan motor gedenya ia pergi keliling Argentina Utara, saat itulah ia bertemu orang-orang miskin dan sisa suku Indian
–          Melihat kondisi orang-orang miskin, ia berpikir bahwa inilah akibat dari kapitalisme
–          Melepas kenyamanannya dan menjadi dokter relawan bagi prajurit revolusi Kuba
–          Diangkat jadi komandan militer pemberontak
–          Bersama Fidel Castro berhasil menggulingkan pemimpin dictator Kuba, Fulgencio Batista
–          Menjadi mentri perindustrian Kuba, saat Fidel Castro menjabat presiden
–          Merasa Tugasnya di Kuba telah selesai, berhenti dari jabatan mentri dan membantu Negara-negara lain untuk revolusi
–          Tertangkap saat membantu pasukan gerilyawan Bolivia
–          Keesokan harinya dieksekusi mati, di usianya yang ke-39
Dialah seorang pemuda yang sering kita lihat fotonya dimana-mana, bahkan di angkot atau truk sekalipun. Ernesto Guevara Lynch de La Serna atau lebih dikenal dengan Che Guevara. Seorang pahlawan yang berasal dari Argentina. Memiliki karakter yang kuat dan selalu berani keluar dari zona nyaman demi tujuannya.

Inilah contoh bahwa kondisi ekonomi bukanlah faktor utama, faktor utama adalah diri sendiri. Bahkan banyak pula kisah bagaimana anak dari keluarga kaya yang akhirnya jatuh miskin, atau orang miskin yang mampu membalikan keadaan hidup. Saat tujuan dan keyakinan kuat, maka apapun bisa kita korbankan, apa pun akan kita perjuangkan. Tentu dalam batasan-batasan tertentu. Che Guevara berhasil keluar dari zona nyamannya saat menjadi lulusan fakultas kedokteran dan Mentri perindustrian.
Kekuatan mental dan karakternya sampai-sampai saat ia ingin dieksekusi, Che Guevara dengan mantap berdiri dan berkata “cepat tembakan pistol itu ke kepalaku, lebih baik aku mati berdiri dari pada merangkak di bawah kapitalisme”, kata-kata yang sempat membuat penembakanya tertunda karena sang algojo ketakutan.
Mulailah mencoba hal baru!
Ya, mulailah mencoba hal-hal baru, kegiatan yang belum pernah anda lakukan sebelumnya. Ini adalah salah satu cara mudah untuk berkembang. Dengan memberanikan diri mencoba melakukan hal-hal baru, kita akan sadar bahwa there is always room for improvement, selalu ada ruang untuk berkembang. Tapi itu tergantung kita apakah ingin memasuki ruang itu, apakah ingin mendorong diri hingga ke limit potensinya. Karena apabila kita terjebak rutinitas dan tidak mencoba melakukan sesuatu yang baru, kemungkinan hidup kita jalan di tempat.
            Sayapun pada semester 3 kuliah memutuskan untuk tidak melanjutkan karier di organisasi. Alasannya? Jenuh dan sudah seperti sekedar rutinitas. Saya telah ikut otganisasi sejak bangku SMP. Saat itu saya menjadi Ketua OSIS di sekolah, begitupun saat SMA, kelas 1 saya terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan setahun kemudian menjadi Ketua OSIS. Semester awal perkuliahan, saya mengikuti Badan Perwakilan Mahasiswa dan menjadi Ketua Komisi. Banyak manfaat yang saya dapat, tapi saya merasa alur dan pola yang sama di tiap organisasi, saya jenuh, rasanya diri saya gitu-gitu aja, akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan karir di organisasi. Saya memilih mengisi waktu dengan mengikuti kursus, banyak membaca buku, mulai bisnis kecil-kecilan, dan mungkin gabung dengan HIPMI-UI. Banyak teman yang mempertanyakan tentang keputusan yang saya ambil. Saya jawab ini sudah pilihan saya, saya ingin berkembang.
            Kini saya merasa menjadi lebih bergairah, bisa mencoba hal baru yang belum pernah saya lakukan, dapat melakukan apapun yang memang saya ingin lakukan. Saya merasa berkembang dari waktu ke waktu. Poinnya bukan pada ikut organisasi atau tidak, tapi keberanian melakukan sesuatu yang baru dan keluar dari rutinitas. So mulai sekarang pikirin deh hal baru apa yang pengen anda lakukan segera!
Continuous Improvement

            Suatu hari saya dan beberapa teman berjalan-jalan berkeliling kampus NTU (Nanyang Technological University) di Singapur. Di salah satu gedungnya, saya menemukan patung seorang tokoh, tertulis disana namanya Tan Chin Tuan. Dibawahnya diukir kata-kata beliau.

We can never achieve perfect, but keep aiming for it.”
            Kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, tapi teruslah berusaha untuk mencapainya. Pesannya jelas, teruslah berkembang. Continuous Improvement!
Faadhil Irshad Nasution
*repost