Pengelolaan Sampah Pasar Dengan Metode Destilasi

Minggu, 29 Januari 2012

Sumber Sampah
Salah satu penyebab kerusakan alam dan lingkungan hidup di wilayah perkotaan yang menimbulkan dampak negatif pada masyarakat adalah masalah sampah. Sampah merupakan sisa buangan setiap aktifitas/kegiatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat baik langsung maupun tidak langsung. Permasalahan sampah dapat ditimbulkan akibat adanya pertambahan jumlah penduduk setiap tahun, sarana prasarana berkurang, berkembangnya wilayah perkotaan, sumber daya manusia yang kurang mencukupi, sistem manajemen pengelolaan sampah yang tidak baik, terbatasnya lahan untuk pembuangan sampah, tidak adanya pendidikan lingkungan di masyarakat, khususnya masalah sampah serta kurangnya pemahaman masyarakat akan arti pentingnya menjaga lingkungan.
                       Volume sampah yang semakin besar akibat aktifikat kehidupan masyarakat baik masyarakat pemukiman, perdagangan (pasar) dan perkantoran, apabila tidak dikelola secara benar, maka akan berpotensi menimbulkan masalah. Pemahaman yang dianggap benar oleh masyarakat bahwa permasalahan sampah adalah tanggung jawab pemerintah saja haruslah diubah menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemahaman di masyarakat khususnya pada masyarakat pedagang yang selama ini ada adalah mereka hanya berkewajiban untuk membayar retribusi sampah, untuk itu mereka mendapatkan kompensasi atas retribusi yang dibayarkan lewat Dinas Pengelola Pasar Pemerintah Daerah/Kota.
            Pasar sebagai tempat berlangsungnya jual beli barang yang dibutuhkan oleh setiap komunitas, semakin besar dan kompleksnya suatu komunitas, maka semakin banyak pasar yang dibutuhkan. Dalam lingkungan pasar, sunber-sumber sampah pasar dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis barang yang diperdagangkan. Pasar umum memiliki jenis sumber sampah yang lebih banyak dibandingkan pasar khusus, yakni pasar yang hanya memperjual belikan kelompok barang tertentu, misalnya pasar buah dan sayur seperti di Pasar Baru Bekasi. Jenis barang yang diperjual belikan dalam suatu pasar mempengaruhi volume serta sifat dari sampah yang dihasilkan. Sampah pasar memiliki karakteristik khas, volumenya besar, kadar air tinggi, serta mudah membusuk. Oleh karena itu pengelolaan sampah pasar perlu dilakukan secara tepat. Selain ditinjau dari karakteristik sampahnya, pasar umumnya terletak pada area yang strategis, sehingga keberhasilan pengelolaan sampah secara baik dan benar akan terasa oleh masyarakat dan lingkungan sekitarnyaData Volume Sampah Pasar dari Berbagai Sumber
No.
Nama Pasar
Lokasi
Sampah Yang di Hasilkan (m³/hari)
1.
Pasar Kramat Jati
Jakarta
300.000
2.
Pasar Baru Bekasi
Kota Bekasi
60
3.
Pasar  Bogor
Kab. Bogor
56
4.
Pasar Tambun
Kab. Bekasi
24
5.
Pasar Cikarang
Kab. Cikarang
40
6.
Pasar Cilegon
Kab. Serang
60
Tabel 2.  Volume Sampah dikawasan  JABOTABEK
Sumber : Harian Sinar Harapan (tgl / bln / thn)
IV.2 Sistem Pengelolaan Sampah Pasar Baru Bekasi Saat Ini
Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir/pengolahan.
Dari sumber penghasil sampah dilakukan pewadahan dilanjutkan dengan pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan lalu dilanjutkan pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sistem ini merupakan sitem manajemen pengelolaan sampah yang sering diterapkan dalam penanganan sampah selama ini. Pengumpulan diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya. Pada tahapan ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah, bak sampah, peti kemas sampah, gerobak dorong maupun tempat pembuangan sementara (TPS/Dipo). Pengumpulan (tanpa pemilahan), umumnya melibatkan sejumlah tenaga pengumpul sampah setiap periode waktu tertentu.
Tahapan pengangkutan dilakukan dengan menggunakan sarana bantuan berupa alat transportasi tertentu menuju ke tempat pembuangan akhir/pengolahan. Tahapan ini juga melibatkan tenaga yang pada periode tertentu mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dengan metode ini tentu saja sampah tidak mempunyai manfaat sama sekali, belum lagi proses pengankutan yang jauh mengakibatkan biaya transportasi begitu mahal.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Pengelolaan sampah akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Secara spesifikasi teknis Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara amanagar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik.
Selama ini masih banyak persepsi keliru tentang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang lebih sering dianggap hanya merupakan tempat pembuangan sampah. Hal ini menyebabkan banyak Pemerintah Daerah masih merasa sayang untuk mengalokasikan pendanaan bagi penyediaan fasilitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dirasakan kurang prioritas dibanding pembangunan sektor lainnya.
Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sampah mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu yang panjang. Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sementara yang lain lebih lambat; bahkan ada bebrapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sementara yang lain lebih lambat; bahkan ada beberapa jenis sampah yang tidak berubah sampai puluhan tahun; misalnya plastik. Hal ini memberikan gambaran bahwa setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) selesai digunakan pun masih ada proses yang berlangsung dan menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan. Karenanya masih diperlukan pengawasan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang telah ditutup.
Melalui metode yang penulis sarankan ini diharapkan mampu memperpanjang umur TPA serta tidak mengorbankan para pengepul barang bekas, karena metode ini hanya akan memproses sampah organik.
Sistem Pengelolaan Sampah Dengan Metode Fermentasi dan Destilasi
Secara umum teknologi pengelolaan  limbah organik ini adalah proses pembusukan suatu bahan organik dan penyulingan suatu zat yang akan menguap pada titik didihnya, dalam hal ini gugus alkohol adalah zat yang di cari dari proses destilasi ini. Saat proses fermentasi penulis diamkan sampah organik yang telah dicampur ragi selama 9 hari. Temperatur yang di gunakan saat destilasi berkisar antara 78°-86°C celcius.
Dari berbagai metode destilasi, penulis menggunakan destilasi bertingkat tetapi penulis perkirakan apabila menggunakan metode destilasi yang diterapkan untuk penyulingan minyak bumi, akan menghasilkan alkohol yang lebih murni dan lebih tinggi kadar oktannya.
Di bawah ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi saat proses destilasi dilakukan :
Ø  Energi input yang diberikan akan menaikkan tekanan uap
Ø  Tekanan uap berkaitan dengan peristiwa mendidih
Ø  Makin tinggi tekanan uapnya makin rendah suhu yang dibutuhkan untuk mendidih.
Ø  Tekanan uap dan titik didih pada campuran bergantung pada banyaknya komponen pada campuran
Ø  Peristiwa destilasi dapat terjadi bila ada perbedaan tekanan uap dan titik
didih antara komponen pada campuran.
Proses Pengomposan
Beberapa bahan-bahan organik padat yang dapat dijadikan kompos, seperti limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertaniah, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll. Selain mengenal bahan-bahan yang dapat dijadikan kompos kita juga harus memahami dengan baik proses pengomposan agar dapat membuat kompos dengan kualitas baik.
Proses pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50º – 70ºC. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu.
Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan. Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan selama proses pengomposan karena akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses aerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.
 Di bawah ini adalah tabel yang menggambarkan jenis organisme yang terlibat dalam proses pengomposan
Kelompok Organisme
Organisme
Mikroflora
-Bakteri
-Aktinomicetes
-Kapang
Mikrofauna
Protozoa
Makroflora
Jamur tingkat tinggi
Makrofauna
Cacing tanah, rayap, semut, kutu dll
Tabel 3. Organisme Yang Terlibat Dalam Proses Pengomposan
Di bawah ini faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan :
Proses pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, aktivator pengomposan yang dipergunakan, metode pengomposan yang dilakukan. Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri. Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
Rasio C/N
Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.

Porositas

Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
Kelembaban (Moisture content)
Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 – 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.
Temperatur
Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30º – 60ºC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60ºC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.
pH
Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.
Kandungan hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
 Kandungan bahan berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
Di bawah ini tabel yang menggambarkan kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan :
Kondisi
Kondisi yang bisa diterima
Ideal
Rasio C/N
20:1 s/d 40:1
25-35:1
Kelembaban
40-65%
45-62% berat
Konsentrasi oksigen tersedia
>5%
>10%
Ukuran partikel
1 inchi
bervariasi
Bulk Density
1000 lbs/cu yd
1000 lbs/cu yd
pH
5,5-9,0
6,5-8,0
Temperatur
43-66ºC
54-60ºC
Tabel 4. Kondisi Yang Optimal Untuk Mempercepat Proses Pengomposan
IV.7 Manfaat Kompos
Adapun manfaat kompos ditinjau dari beberapa aspek, seperti aspek ekonomi, aspek lingkungan, dan aspek bagi tanah / tanaman adalah sebagai berikut :
Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah.
2. Mengurangi volume/ukuran limbah.
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya.
Aspek Lingkungan :
1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah.
2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan.
Aspek Bagi Tanah / Tanaman:
1. Meningkatkan kesuburan tanah.
2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah.
3. Meningkatkan kapasitas jerap air tanah.
4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah.
5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen).
6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman.
7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman.
8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah.
IV.8 Lokasi Penempatan Alat Destilator
Untuk lokasi penempatan alat untuk pengelolaan sampah ini, penulis sarankan alat tersebut disediakan di lokasi dekat pasar agar tidak jauh dalam proses pengangkutan.
IV.9 Sistem Manajemen Pengelolaan Sampah Pasar
Sistem manajemen pengelolaan sampah pasar dilakukan dengan mempertimbangkan atas beberapa hal utama serta berkaitan erat dengan sistem pengelolaan sampah modern, yaitu :
1. Sumber dan Volume Sampah
Dengan volume sampah yang dihasilkan oleh pasar dari aktifitas jual beli masyarakat, tentunya jumlah sampah yang dihasilkan cukup signifikan jika dapat dikelola dengan reduksi optimal. Jenis sampah yang berupa sampah organik tentunya akan sangat menguntungkan apabila sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan baku kompos. Pemilahan sampah organik tersebut dengan sampah lainnya tetap dilakukan untuk mendapatkan kompos yang baik. Valume sampah yang demikian besar sangat disayangkan apabila tidak dikelola dengan baik, sehingga akan menimbulkan problem sampah saja yang tidak terselesaikan.
2. Secara Ekonomis
Dengan sistem pengelolaan sampah yang baik dan benar serta tepat sasaran dapat menekan biaya operasional dan biaya retribusi, sehingga beban pemerintah daerah akan lebih ringan dalam pengeluaran biaya pengelolaan sampah.
3. Kebersihan
Sistem pengelolaan sampah akan sangat menentukan wajah dari suatu tempat dimana sampah itu akan dihasilkan, apabila sistem kinerja pengelolaan sampah baik, maka wajah tempat tersebut akan menjadi bersih dan indah. Nilai penting dari unjuk kerja sistem pengelolaan sampah tidak saja nilai estetika, tetapi juga akan memiliki manfaat terhadap :
a. Perlindungan kesehatan masyarakat
b. Perlindungan pencemaran lingkungan
c. Pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat
d. Peningkatan Nilai sosial Budaya Masyarakat
 Pengelolaan manajemen sampah yang baik dan benar akan memberikan(kesimpulan) keuntungan ditinjau dari segi ekologi, ekonomi dan kesehatan, antara lain:
Dari segi ekologis
1. Proses destilasi dan fermentasi air sampah ini, serta pembuatan kompos dari sisa destilasi akan mengurangi volume sampah/limbah yang ada, sehingga hal tersebut akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan pasar dan kebersihan
2. Mengurangi pencemaran yang di akibatkan dengan menumpuknya limbah sampah di pasar
3. Alkohol mempunyai banyak manfaat ,dan pupuk kompos dapat bermanfaat untuk kebutuhan lingkungan/tanah dan tanaman.
4. Memberikan upaya alternatif pelestarian lingkungan.
5. Menghilangkan kesan jorok, kumuh, kotor dll, karena banyaknya timbunan sampah yang tidak terurus secara baik
Dari segi ekonomi
1. Mengurangi volume sampah yang diangkut, sehingga dapat menekan biaya tranportasi, biaya tenaga kerja dan biaya peralatan
2. Dengan berkurangnya jumlah sampah yang dikirim ke TPA akan menambah panjang umur pemakaian TPA.
3. Memberikan kesempatan kepada pengepul barang bekas untuk mengambil sampah non organik yang dapat didaur ulang.
Dari segi kesehatan
1. Berkurangnya pencemaran yang diakibatkan dari sampah/limbah akan memberikan dampak positif terhadap kesehatan.
2. Berkurangnya penyebaran penyakit yang ditimbulkan oleh sampah.
IV.10 Sistem Pengelolaan Sampah Perlu Diubah
Pada dasarnya pola pembuangan sampah yang dilakukan dengan sistem TPA (tempat pembuangan akhir) sudah tidak relevan lagi dengan lahan kota yang semakin sempit dan pertambahan penduduk yang pesat, sebab bila hal ini terus dipertahankan akan membuat kota dikepung “lautan sampah” sebagai akibat kerakusan pola ini terhadap lahan dan volume sampah yang terus bertambah. Pembuangan yang dilakukan dengan pembuangan sampah secara terbuka dan di tempat terbuka juga berakibat meningkatnya intensitas pencemaran. Selain itu yang paling dirugikan dan selama ini tidak dirasakan oleh masyarakat adalah telah dikeluarkannya miliaran rupiah untuk membuat dan mengelola TPA.
Penanganan model pengelolaan sampah perkotaan secara menyeluruh adalah meliputi penghapusan model TPA pada jangka panjang karena dalam banyak hal pengelolaan TPA (tempat pembuangan sampah) masih sangat buruk mulai dari penanganan air sampah (leachet) sampai penanganan bau yang sangat buruk.
Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah dengan cara membuang sampah sekaligus memanfaatkannya sehingga selain membersihkan lingkungan, juga menghasilkan kegunaan baru. Hal ini secara ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya.
Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Cohen dan Uphof (1977) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam suatu proses pembangunan terbagi atas 4 tahap, yaitu : a) partisipasi pada tahap perencanaan, b) partisipasi pada tahap pelaksanaan, c) partisipasi pada tahap pemanfaatan hasil-hasil pembangunan dan d) partisipasi dalam tahap pengawasan dan monitoring. Masyarakat senantiasa ikut berpartisipasi terhadap proses-proses pembangunan bila terdapat faktor-faktor yang mendukung, antara lain : kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasarana, dorongan moral, dan adanya kelembagaan baik informal maupun formal.
Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu faktor teknis untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan atau lingkungan pemukiman dari tahun ke tahun yang semakin kompleks. Pemerintah Jepang saja membutuhkan waktu 10 tahun untuk membiasakan masyarakatnya memilah sampah. Reduce (mengurangi), Reuse (penggunan kembali) dan Recycling (daur ulang) adalah model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah. Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini.
Pengelolaan Sampah Terpadu Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Volume sampah di kota-kota besar, misalnya di Jakarta yang mencapai 24000 hingga 27000 m³/hari menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Jakarta sudah pada tahap menghawatirkan bila tidak dikelola secara baik, dimana potensi konflik dapat meledak sewaktu-waktu. Oleh karena itu perlu dilakukan penataan ulang secara menyeluruh tentang konsepsi pengelolaan sampah di perkotaan. Persoalan yang mendesak dan sulit untuk diatasi pada masyarakat di kota besar adalah rantai distribusi yang terlalu panjang dan pola TPA (tempat pembuangan akhir) yang sentralistis, dimana jika satu unit mengatasi masalah, maka seluruh sistem akan terganggu. Puluhan miliar dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi hanya untuk menangani sampah.
Konsep rencana pengelolaan sampah perlu dengan metode yang penulis rekomendasikan ini dapat diandalkan dan efisien dengan teknologi yang ramah lingkungan. Sistem tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk, meningkatkan standar kesehatan masyarakat dan memberikan peluang bagi masyarakat dan pihak swasta untuk berpartisipasi aktif. Pendekatan yang digunakan dalam konsep rencana pengelolaan sampah ini adalah “meningkatkan sistem pengelolaan sampah yang dapat memenuhi tuntutan dalam paradigma baru pengelolaan sampah”. Untuk itu perlu dilakukan usaha untuk mengubah cara pandang “sampah dari bencana menjadi berkah”. Hal ini penting karena pada hakikatnya pada timbunan sampah itu kadang-kadang masih mengandung komponen-komponen yang sangat bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi namun karena tercampur secara acak maka nilai ekonominya hilang dan bahkan sebaliknya malah menimbulkan bencana yang dapat membahayakan lingkungan hidup
 Kesimpulan
Ø  Perubahan pengelolaan sampah dari sistem lama ke sistem baru yang menekankan pada proses pemilahan, pengumpulan, pemprosesan manjadi bahan yang bernilai ekonomis, sedikit demi sedikit perlu dikenalkan kepada masyarakat khususnya pengelola, pedagang dan pengunjung pasar.
Ø  Sistem pengelolaan sampah pasar menjadi alkohol dan kompos memberikan banyak keuntungan secara ekonomis karena dapat menyumbangkan untuk pembiayaanpengelolaan sampah itu sendiri sehingga mengurangi beban APBD Kota Bekasi.
Ø  Manajemen pengelolaan sampah pasar secara makro akan memberikan dampak yang sangat positif kepada perkembangan perekonomian Kota Bekasi karena masyarakat akan lebih senang datang ke pasar tradisional.

Saran-Saran
Ø  Pengelola kebersihan pasar Kota Bekasi perlu untuk menyediakan tempat sampah sesuai dengan jenis sampah yang dhasilkan oleh pedagang.
Ø  Metode pengelolaan sampah pasar yang penulis rekomendasikan ini dari perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak agar benar – benar terlaksana.Slogan – Slogan tentang kebersihan perlu dipasang ditempat- tempat yang strategis.
Ø  Komposting dari sampah pasar perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak agar benar – benar terlaksana.
Ø  Slogan – Slogan tentang kebersihan perlu dipasang ditempat- tempat yang strategis.
*repost