ahladif

Saya tidak berani menyampaikan hal ini kepada anakku, saya bimbang apakah saya akan mengajarkan misalnya : norma tawadlu’ (rendah hati) kepadanya, sedangkan saya tahu bahwa norma ini seringkali menghalangi pencapaian kedudukan terpandang, yang oleh masyarakat diidentikkan dengan kekuasaan atau kepemimpinan. Salah satu syarat untuk mencapai sukses tersebut adalah “kemampuan berkurang ajar”. Jangan tertawa membaca ini.

Kekurang ajaran yang saya maksud sungguh-sungguh dalam makna yang sebenarnya. Memang ada saja yang kurang ajar, tetapi ia keliru menempatkan kekurang ajaran itu, sehingga ia tergelincir. Tetapi, ada yang tahu tempatnya, yaitu ia mampu mengatur siasat dan memiliki kemampuan berkurang ajar. Inilah tangga yang mengantarkannya “ke atas”.

Jadilah wahai putra-putriku, seorang yang kuat, niscaya engkau akan dinilai adil dalam perbuatan dan ucapanmu. Engkau akan dianggap pakar meskipun tanpa ilmu, sastrawan meskipun tanpa pena. Tetapi…Tidak! Seribu kali tidak. Mereka yang demikian itu hanya akan dicari oleh generasi berikut tapi tidak ditemukan, bahkan mereka tidak akan disebut-sebut…

View original post 80 more words