Sore itu, sejak pukul 14.00 WIB, saya menghabiskan waktu luang di hari Minggu untuk sejenak mengunjungi dan memperhatikan sepotong kehidupan yang sebelumnya tak begitu saya kenal baik di daerah Pondok Cina, Depok, sendirian. Niat awal untuk “turun lapangan” bersama kawan-kawan hilang begitu saja ketika di tengah perjalanan hujan turun begitu deras dan kubangan-kubangan air di jalanan berhasil membasahi rok panjang saya. Untunglah tiada kendaraan bermotor yang sengaja lewat di samping saya dengan kecepatan tinggi sehingga baju atasan saya masih kering karena tidak kecipratan air dari kubangan-kubangan di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tersebut. Saya pun terlindungi oleh payung mungil saya, ketika di saat yang sama saya melihat banyak pengendara motor yang nekat menerobos terjangan hujan dari dan menuju Jalan Margonda tanpa peduli badan mereka menjadi basah kuyup walau sudah menggunakan helm.

Jalanan di daerah Pondok Cina cukup lebar, yang terbukti dengan kemampuannya dilewati dua (2) mobil ukuran Kijang secara bersamaan, walau tetap saja tak dapat mobil berjalan ngebut di daerah Pondok Cina karena banyaknya pejalan kaki yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina tersebut. Tak heran bila Pondok Cina dapat dikategorikan sebagai daerah yang ramai dilewati masyarakat karena memang selain banyak mahasiswa-mahasiswi Universitas Indonesia yang nge-kost di daerah Pondok Cina, sebuah pusat perbelanjaan besar bernama Depok Town Square yang berdiri dengan angkuhnya di daerah Pondok Cina, Stasiun Pondok Cina pun menjadi salah satu fasilitas umum yang tak jarang dimanfaatkan masyarakat untuk pergi mencari nafkah dengan menaiki Commuter Line baik ke kota terpadat penduduknya di Nusantara, Jakarta, maupun ke Kota Hujan, Bogor. Pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa sebagai unit usaha masyarakat Pondok Cina juga turut memutar roda perekonomian di daerah tersebut, seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warung internet (warnet), usaha laundry, dan masih banyak lagi. Namun, sore itu, sekilas saya memperhatikan sebuah toko yang menjual pulsa dan berbagai aksesoris handphone bernama Rahayu Cell sepertinya tidak begitu ramai dikunjungi pembeli, walau toko penjual pulsa di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tidak banyak, karena hanya ada dua (2). Atau mungkin belum?

Hujan mulai reda sejak pukul 14.45 WIB. Pondok Cina yang telah sempat dibersihkan dan disegarkan oleh butiran-butiran hujan kembali “hidup” dengan           deru motor yang mulai siap beraksi di jalanan setelah para pengendaranya sempat bernaung sejenak di bawah atap-atap pertokoan selama hujan turun. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk di atas tembok batu pemisah wilayah parkir Stasiun Pondok Cina dan jalanan Pondok Cina yang tingginya kurang-lebih ½ dari tinggi saya.

Sungguh terasa kehangatan menyelimuti pertokoan di seberang dari tempat saya duduk, dengan tertujunya pandangan saya pada gerobak penjual makanan “Cinlok” yang merupakan plesetan dari nama sebenarnya “Cilok”. Cilok yang aslinya berasal dari Tanah Parahyangan (alias Bandung) tersebut merupakan sebuah singkatan dari “Aci dicolok” yang berarti “(makanan dari) tepung kanji yang dicolok (seperti sate)”. Terlihat asap terus mengepul dari panci besar berisi cilok di gerobak yang ditempelkan spanduk hijau bertuliskan merek “Cinlok Putuwijoyo” dan nomor telepon seseorang bernama Slank tersebut. Ketika menyembul kepala seorang pria berumur kurang-lebih 27 tahun yang berseragam serta bertopi biru muda, saya duga pria itulah yang bernama Slank. Pria tersebut diam dan duduk di belakang gerobaknya, di gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell. Cukup menarik bagi saya bahwa mata pria tersebut fokus memperhatikan jalanan Pondok Cina di depannya tanpa memperlihatkan sedikitpun lelah dan bosan dari mimik wajah serta gesture tubuhnya dalam penantian terhadap pembeli untuk datang menghampirinya. Sisi belakang dari seragam yang beliau kenakan bertuliskan “Cinlok Putuwijoyo” yang mampu menunjukkan loyalitas dari beliau dalam bekerja, bila dibandingkan dengan para pedagang kecil lainnya yang tidak jarang terlihat hanya memakai kaos ataupun batik biasa serta bebas sesuka hati mereka. By the way, saya tidak membeli cilok meski sudah cukup tergoda dengan kegurihan serta kehangatannya, karena saya masih kenyang pada saat itu.

Beberapa saat kemudian, tertangkap mata oleh saya seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 tahun yang merokok dengan santainya di balik lemari kaca di toko Rahayu Cell. Tak begitu jelas oleh saya untuk menyatakan jenis kelamin anak tersebut, karena walaupun rambutnya pendek, namun wajahnya cukup cantik. Seketika hati saya ciut dan sedih, setelah untuk kesekian kalinya saya melihat langsung banyak dari generasi muda bangsa ini yang merokok dengan menikmati kehangatannya disertai wajah yang ceria tanpa khawatir sedikitpun akan sejuta bahaya dari sepuntung rokok.

Sejenak saya alihkan pandangan saya dari anak tersebut, agar sakit hati saya terhadap rokok tidak berlarut-larut pada saat itu, untuk menengok ke setiap sisi dari toko Rahayu Cell dari jarak kurang-lebih tiga (3) meter. Dinding yang seluruhnya berwarna kuning masih terlihat baik, karena cat dindingnya belum berkelupas dan dindingnya bersih. Di depan toko, terlihat sedikit sampah-sampah kecil yang tergeletak begitu saja tanpa rasa dosa. Namun, di sisi luar toko tersebut dapat dibilang sudah cukup bersih karena pada nyatanya di pinggir jalan daerah Pondok Cina tidak tersedia tempat sampah untuk para masyarakat yang tinggal ataupun lewat di sana bisa membuang sampah pada tempat yang seyogyanya. Dari kardus-kardus handphone di dalam lemari kaca tersebut, dapat diketahui bahwa sekitar 90% produk handphone yang dijual adalah merek lama atau terbilang “jadul“. Cukup unik ketika saya dapati banyak terdapat colokan listrik yang tergantung di atas lemari kaca tersebut dan ternyata beberapa saat kemudian terdapat dua (2) pengunjung yang numpang men-charge handphone mereka di sana, dengan ditemani seorang wanita (yang saya yakini merupakan ibu dari anak kecil yang merokok tersebut) berbaju putih agak lusuh dan berkulit sawo matang yang muncul dari balik lemari kaca di depan tokonya. Wajah wanita tersebut terlihat cukup berminyak dan rambutnya dikuncir kuda.

Cuaca mendung masih menyelimuti langit dan seisi bumi pada pukul 15.15 WIB. Jalanan Pondok Cina yang ramai akan lalu-lalang para pejalan kaki dan para pengendara motor, turut digaduhkan oleh derap langkah kereta Commuter Line, yang ketika ia lewat, maka jalanan di daerah Pondok Cina tak terkecuali tempat saya duduk pada saat itu pun bergetar. Tak sedikit motor yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina pada saat itu ditumpangi oleh tiga (3) orang. Mungkin belum dipandang bahaya oleh banyak masyarakat, memang, untuk mengendarai motor di daerah Pondok Cina tersebut. Hal itu juga terlihat dari banyaknya pengendara motor tidak ber-helm yang lewat. Banyak pula motor yang berjalan di depan saya dikendarai hanya oleh satu (1) orang di tiap motornya. Saya langsung mengingat di komplek rumah saya yang juga sering ditemui para warga seorang diri mengendarai motor mereka masing-masing dari rumah mereka ke depan komplek, padahal dengan jalan kaki saja tidak dibutuhkan lebih dari 10 menit untuk sampai ke jalan raya di depan komplek saya tersebut, apalagi jalanannya datar (tidak naik-turun).

Terlihat pula beberapa pejalan kaki yang melewati jalanan di depan saya dengan membawa kantong plastik dari Hypermart yang berlokasi di dalam Depok Town Square. Begitu mudahnya saat ini masyarakat di Depok, terutama yang bertempat tinggal di sepanjang jalan Margonda,  untuk pergi berbelanja bahkan sekedar bertemu handai taulan di mall. Padahal di Jerman, sebuah negara maju di belahan benua Eropa dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang lebih tinggi daripada PDB per kapita Indonesia (sebagai salah satu indikator ekonomi yang dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara), sangat sedikit jumlah mall yang berdiri. Saya refleks mengingat fakta perbedaan antara Indonesia dan Jerman tersebut pada saat itu.

Di samping kiri gerobak cilok, terdapat sebuh toko mainan anak yang berisi lampu meja, celengan, bingkai foto, dan masih banyak lagi mainan berkarakter kartun-kartun menarik di atas lemari display-nya. Tiba-tiba muncul seorang anak kecil cantik berambut pendek yang memakai baju warna kuning dari dalam toko mainan tersebut. Ia menggenggam kain kanebo (kain lap kuning untuk membersihkan kendaraan bermotor yang menyerap air) erat-erat di tangan mungilnya. Tak disangka oleh saya bahwa ternyata anak kecil tersebut bermaksud untuk membersihkan seluruh mainan dan pajangan yang terletak di atas lemari kaca. Ia begitu telaten dan hati-hati dalam membersihkan mainan satu-per-satu. Ketulusannya dalam membersihkan barang-barang di toko tersebut juga terlihat ketika ia sempat menyapu isi makanan ringan yang bungkusnya tidak sengaja jatuh dari atas lemari kaca di depan toko dan tumpah ke lantai. Saya jadi begitu penasaran dengan orangtua dari anak tersebut, apakah orangtuanya juga rajin sepertinya. Karena, hanya anak tersebut seorang diri yang terus terlihat di depan toko. Wajah imutnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal ataupun lelah akan pekerjaan bersih-bersih yang ia lakukan tersebut. Bahkan, kain kanebo tersebut ia lipat rapi kembali secara perlahan-lahan setelah ia selesai membersihkan barang-barang dan sekaligus membersihkan lemari kaca di depan tokonya. Meskipun hingga akhir pengamatan saya di sana, tiada pembeli yang mengunjungi toko mainan tersebut.

Di samping kiri saya, terdapat sebuah warung tegal (warteg) yang di pinggir jalannya (di sisi luar warung tersebut) terdapat beberapa bungkus plastik besar berisi sampah. Tidak bau, memang, namun tetap tidaklah benar dan pantas untuk kita meninggalkan sampah begitu saja di pinggir jalan, di tempat yang tidak semestinya kita kotori dengan terbengkalainya sampah di sana, walau tempat sampah memang terbilang cukup jauh dari warteg tersebut. Beberapa saat kemudian, muncul seorang ibu (berusia kurang-lebih 42 tahun) dari dalam warteg yang membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring. Ternyata, beliau ingin mencuci piring di luar warteg, dengan cara yang menurut saya kurang higienis. Beberapa saat kemudian, wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell pergi ke warteg tersebut dengan sebatang rokok terbakar di tangan kanannya. Lalu, wanita tersebut kembali ke toko Rahayu Cell dengan membawa dua (2) gelas air minum dalam kemasan merek Aqua.

Tak lama setelah itu, pria penjual cilok pun pergi ke warteg tersebut lalu kembali ke gerobaknya dengan membawa segelas kopi panas. Saya salut dengan pria tersebut, karena saya tidak menangkap basah beliau merokok sekalipun selama pengamatan sata pada saat itu. Dan Alhamdulillah hingga akhir pengamatan saya tersebut, gerobak cilok itu telah dikunjungi pembeli sebanyak delapan (8) kali.

Kemudian, dari dalam gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell, muncul seorang bapak yang kurang-lebih berusia 50 tahun. Beliau duduk di kursi plastik di depan toko Rahayu Cell. Sekilas saya persepsikan, bahwa alis matanya yang berkerut mengandung arti dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Ia sempat berbincang dengan wanita yang rambutnya berkuncir kuda yang sedang berada di dalam toko Rahayu Cell, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar percakapan mereka karena keriuhan suasana Pondok Cina di Minggu sore. Bapak tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by lima (5) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Bapak tersebut menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Bapak tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ketika ayah dan anak tersebut berterimakasih kepada Bapak itu atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara, Bapak tersebut kembali duduk di depan toko Rahayu Cell. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk melempar senyum kepada beliau sebelum saya pulang dan mengakhiri pengamatan pertama saya pukul 16.00 WIB. Beliau membalasnya dengan senyuman yang hangat pula.🙂