“Apakah benar, semua manusia tiada yang sama? Buktinya, kita semua sama-sama tidak sempurna,” salah satu pertanyaan retoris yang menurut saya cukup mendasar dalam kehidupan kita (as a human being) karena menyangkut tentang fakta dari karakteristik atau ciri-ciri manusia. Ketika kita meyakini bahwa di dunia ini tiada manusia yang sama persis, maka di saat yang sama pula, tingkat kesempurnaan dari manusia sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya diyakini adalah sama, yakni sama-sama tidak (sepenuhnya) sempurna. Tapi memangnya, seperti apa sih bentuk kehidupan manusia yang semakin mendekati kesempurnaan tersebut?

Equality atau persamaan dari tiap manusia dalam nilai dan prinsip yang mainstream di masyarakat begitu sering diagungkan atau dianggap penting oleh masyarakat itu sendiri, di mana ketika terdapat seseorang atau pun sekelompok kecil orang yang tidak sama atau “menyimpang” dari kebiasaan dan/atau keadaan masyarakat pada umumnya, maka masyarakat akan cenderung bersikap kurang friendly kepadanya dibandingkan dengan kepada orang lain yang pemikiran dan kebiasaannya mainstream di masyarakat, hingga seseorang atau pun sekelompok kecil orang unik tersebut bisa semakin lama semakin ter-marjinal-kan.

Pemikiran saya di atas timbul setelah saya “turun lapangan” ke Pondok Cina untuk pengamatan kembali di hari Minggu, 6 Oktober 2013 yang cerah pada pukul 15.00 WIB. Ketika saya berjalan kaki dari Depok Town Square (Detos) menuju sub-setting saya, saya melihat Mas Ahmad (objek pengamatan saya: penjual CinLok “Putuwijoyo 01” di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) sedang berjualan dengan mengenakan seragam biru mudanya di cabang dari CinLok “Putuwijoyo 01” di belakang Depok Town Square. Suasana yang lebih ramai dengan lalu-lalang masyarakat (dibandingkan dengan suasana Pondok Cina di hari lainnya) pada saat itu membuat saya tidak terlihat oleh Mas Ahmad padahal saya sedang berdiri di seberangnya, yang juga disebabkan karena kebetulan pada saat itu Mas Ahmad sedang melayani banyak pembeli CinLok. Bermaksud untuk berbincang sebentar dengannya, saya pun kemudian berjalan ke arahnya.

Namun, ketika tidak sengaja menoleh ke rumah warga di samping kanan Mas Ahmad, saya melihat Pak Marsino (pemilik CinLok “Putuwijoyo 01”) sedang tiduran di sofa dalam rumah tersebut. Rumah warga yang berwarna krem dan bersih tersebut tidak begitu besar, seperti rumah-rumah warga di Perumnas pada umumnya. Kebetulan di depan rumah tersebut terdapat seorang wanita (sekitar umur 35an) yang sedang menyapu lantai dan mengenakan daster batik warna merah dengan rambut di-konde, saya pun menghampiri wanita itu untuk meminta izin menemui Pak Marsino. Awalnya, wanita tersebut sempat bertanya kepada saya beberapa kali untuk meyakinkannya apakah ia perlu membangunkan Pak Marsino yang sedang tertidur lelap di sofanya sembari mengenakan seragam biru mudanya.

Ketika saya masih memohon kepada wanita tersebut untuk membangunkan beliau, tiba-tiba Pak Marsino terbangun dari tidurnya. Walau kedua mata beliau terlihat berwarna merah karena masih mengantuk dan beliau terlihat linglung, beliau menyadari kehadiran saya dan mengizinkan saya berbincang sejenak dengan beliau di rumah tersebut. Rasa tidak enak kepada Pak Marsino berserta wanita tersebut pun sempat menjalar di hati saya walau pada akhirnya saya tetap masuk ke dalam rumah tersebut setelah diizinkan oleh wanita penghuni rumah tersebut.

Setelah saya memohon maaf kepada beliau karena telah mengganggu “perjalanan beliau ke pulau kapuk”, saya yang mengingat hasil pengamatan kedua saya dulu (bahwa Pak Marsino tinggal di Beji, bukan Pondok Cina) pun bertanya apakah beliau memang tinggal di rumah tersebut. Beliau lalu menjawab bahwa pada saat itu (dan sudah biasa beliau lakukan sehari-hari) ia hanya menumpang untuk tiduran sejenak di rumah tersebut.

Selama kami berdua berbincang, beliau bercerita bahwa perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah adalah begitu sedikitnya lapangan (kesempatan) kerja yang terdapat di domisilinya yang merupakan daerah pedesaan tersebut, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota. Selain itu, beliau pun berpendapat bahwa cuaca di Depok lebih panas daripada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di daerah domisili beliau, tiada warga yang mengemis, yang kontradiktif dengan keadaan di Depok (khususnya di Pondok Cina) yang setiap hari disinggahi banyak pengemis. Cukup menarik namun ironis, bahwa terdapat seorang pengemis yang setiap hari diberi uang oleh Pak Marsino (dengan nominal yang tidak banyak) karena bila tidak diberi uang maka pengemis tersebut marah.

Kemudian, beliau bercerita bahwa sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja (tiada warga Pondok Cina yang sering bertengkar).

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau menjelaskan bahwa kaki beliau pernah tersiram air panas ketika ia sedang menyiapkan bakso untuk dijual sejak dini hari, yang menyebabkan beliau sempat dibawa ke rumah sakit dan masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga beliau lalu pulang ke Jawa Tengah untuk beberapa hari.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di daerah domisili beliau, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga di daerah tersebut, termasuk oleh beliau. Berbeda dengan suasana “17 Agustus” di Depok yang menurut beliau kurang ramai, dan beliau sendiri tidak turut serta dalam perayaan tersebut di Depok. Menariknya, beliau mengaku bahwa dahulu (ketika masih muda) di daerah domisilinya ia pernah menjadi ketua Karang Taruna.

Beliau pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut untuk pergi ke daerah Jakarta dan Bogor.

Ternyata, Pak Marsino telah memiliki akun Facebook dan Twitter yang seringkali di-update oleh beliau, sekedar untuk mengisi waktu senggangnya. Beliau pun mengaku sering mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk belanja kebutuhan sehari-hari setiap bulannya serta mengetahui harga-harga gadget terkini melalui teman-temannya yang memiliki counter di Depok Town Square. Plaza Depok dan Depok Mall juga pernah dikunjungi beliau dulu.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Pak Marsino ingin turut serta memilih presiden yang menurut beliau cocok dan pantas memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya.

Setelah berterimakasih kepada Pak Marsino beserta wanita penghuni rumah tersebut, saya menghampiri Mas Ahmad yang sedang melayani 3 (tiga) pembeli CinLok. Tidak disangka, Mas Ahmad menengok ke arah saya yang sedang berada di samping kanan dari toko (gerobak-red.) CinLok-nya sambil menyunggingkan senyuman kecil yang saya tangkap sebagai suatu tanda positif bahwa ia sudah menerima “usaha pendekatan” saya kepadanya selama ini.

Kami (saya dan Mas Ahmad) pun berbincang ketika sedang tiada pembeli menghampiri tokonya. Sembari menghisap rokoknya, Mas Ahmad berpendapat bahwa  perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di Kebumen, Jawa Tengah dan tempat tinggalnya kini di Depok adalah cuacanya yang lebih dingin dan suasana yang kurang ramai, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota.

Kemudian, Mas Ahmad bercerita bahwa walaupun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga), tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi penyebab dari pertengkaran-pertengkaran tersebut.

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau mengaku bahwa ia lupa (setelah untuk sejenak ia sempat terlihat berpikir untuk mengingat-ingat sesuatu). Seketika itu saya pun berpikir 2 (dua) opsi pilihan terkait dengan Mas Ahmad yang lupa tersebut, bahwa bila Mas Ahmad benar tidak memiliki pengalaman menarik selama di Depok yang tidak terlupakan, maka berarti Mas Ahmad sebenarnya hanya malu mengungkapkannya.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di Kebumen, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga Kebumen, termasuk oleh Mas Ahmad. Menariknya, ia mengaku bahwa ia cukup sering memenangkan lomba “17 Agustus”-an.

Mas Ahmad pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut, seperti untuk pergi ke daerah Tanah Abang dan Bogor bersama teman-temannya.

Yang lebih menarik lagi bagi saya, adalah ketika Mas Ahmad bercerita bahwa ia belum memiliki akun Facebook dan Twitter karena beberapa alasan, yaitu tiada minat untuk “bermain Internet”, ketiadaan koneksi Internet, serta handphone-nya yang sekedar digunakan untuk menelepon orang lain. Mas Ahmad pun mengaku telah beberapa kali mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk sekedar melihat-lihat bersama teman.

Mas Ahmad juga bercerita tentang keadaan di Pondok Cina yang setiap hari disinggahi banyak pengemis, berbeda dengan di Kebumen di mana tiada warga yang mengemis. Cukup menarik dan mengharukan bagi saya bahwa Mas Ahmad mengaku ia hanya mengikuti kata hatinya dalam memberikan uang kepada pengemis yang melewati tempat kerjanya, yakni terkadang memberi dan terkadang pula tidak memberi, agar ia dapat terus ikhlas dalam bersedekah setelah melihat terlebih dahulu keadaan yang tampak dari sang pengemis.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Mas Ahmad ingin turut serta memilih presiden yang menurutnya cocok memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya, yakni ke Kebumen.

Obrolan kami yang sudah beberapa kali diselingi oleh pelayanan dari Mas Ahmad kepada para pembeli CinLok yang menghampiri tokonya tersebut, saya akhiri dengan terlebih dahulu berterimakasih kepada Mas Ahmad yang telah saya “ganggu” sebentar, sebelum saya pulang. Sempat tertangkap beberapa kali momen menarik oleh saya ketika saya memperhatikan lebih dekat tentang kinerja pelayanan yang dilakukan oleh Mas Ahmad kepada para pembelinya yang banyak pada hari itu (lebih banyak pembeli sebenarnya bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitar CinLok “Putuwijoyo 01” tersebut pada waktu yang sama), bahwa Mas Ahmad begitu cekatan dalam menyajikan CinLok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Teringat saya akan seorang pemuda lain yang menjaga cabang toko CinLok “Putuwijoyo 01” di sub-setting saya (di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) dan mulai terpikir oleh saya apakah pemuda tersebut memiliki semangat dan dedikasi yang sama dengan Mas Ahmad selama ini.

Di akhir pengamatan kali ini, setelah beberapa pertanyaan terkait pengalaman hidup dari Mas Ahmad dan Pak Marsino selama di Jawa Tengah dan di Depok saya ajukan kepada beliau semua, saya mendapat insight tersendiri bahwa memang tidak sedikit perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang secara kasat mata memiliki kegiatan serta profesi yang sama. Dan dari perbedaan-perbedaan tersebut, setiap orang yang memilikinya akan mampu mendapatkan pengalaman menarik sekaligus berharga sebagai “guru terbaik” yang bisa mempengaruhi kehidupan serta prinsip yang dianut oleh orang tersebut di masa depan, terlepas dari kebiasaan dari orang tersebut unik atau pun tidak, dan mainstream atau pun antimainstream di masyarakat. Bahkan bila kita mau saling menghargai serta memanfaatkannya, perbedaan dari setiap manusia dapat kita jadikan sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.