Langkah gontai mengawali perjalanan saya dan teman-teman dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) ke Pondok Cina sore itu, pukul 14.00 WIB. Langit mendung yang semakin mengelamkan suasana sempat menciutkan semangat teman-teman saya untuk “turun lapangan” saat itu, namun tidak untuk semangat saya. Sebenarnya, bukan semata-mata karena keengganan teman-teman saya dalam melakukan pengamatan di Pondok Cina, namun lebih karena pengalaman singkat yang telah diceritakan beberapa teman kami, bahwa 3 (tiga) hari yang lalu, kedatangan mereka langsung “ditolak” seorang Ibu penjual kopi di sebuah warung kecil, sebelum mereka sempat berkata apa-apa, dengan alasan bahwa beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Ada pula teman kami yang mengaku memiliki pemikiran (yang cukup subjektif menurut saya, karena saya tidak mengalaminya secara langsung) bahwa para warga yang berada di sub-setting kami akhir-akhir ini menunjukkan sikap dan pandangan tidak ramah kepada kami bahkan lebih menutup diri daripada dalam pengamatan-pengamatan kami sebelumnya.

Sedih saya mendengar cerita dari pengalaman tersebut, karena sesungguhnya saya tidak ingin para warga Pondok Cina memiliki persepsi awal yang negatif terhadap mahasiswa UI, walau mungkin memang para warga masih merasa insecure terhadap kehadiran “orang baru” yang tiba-tiba datang ke lingkungan mereka secara intens. Ternyata, usaha pendekatan yang telah saya dan teman-teman lakukan selama ini kepada beberapa warga Pondok Cina di sub-setting kami tidak semudah yang awalnya pernah kami pikirkan, bagai aliran air dari sungai ke laut.

Sejak pertama kali kelas Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) “turun lapangan” ke sub-setting masing-masing kelompok, saya telah memperhatikan seorang bapak yang memiliki bengkel serta tempat tambal ban kecil di pelataran rumahnya di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square. Bapak tersebut tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang begitu menyeramkan dan penuh kecurigaan kepada kami (para mahasiswa) yang melewati rumahnya, hingga pada saat pengamatan kami Rabu lalu. Saya pribadi sempat merasa paranoid dan memperkirakan bahwa bapak tersebut mengalami gangguan jiwa. Ingin sekali rasanya saya berkunjung ke rumah bapak tersebut untuk berkenalan dan memperlihatkan kenyataan bahwa sebenarnya para mahasiswa yang sejak awal September sering terlihat mondar-mandir ngobrol dengan para warga di Pondok Cina itu tidak pernah memiliki sedikitpun maksud ataupun motif buruk terhadap para warga di Pondok Cina, walau sebenarnya kami (para mahasiswa) juga belum dapat memberikan kebermanfaatan yang secara nyata dapat dirasakan para warga di Pondok Cina melalui kegiatan pengamatan tersebut.

Yang lebih menimbulkan “tanda tanya” (rasa penasaran-red.) lagi, saya pernah melihat seorang nenek paruh baya dengan rambut yang telah memutih secara keseluruhan berada di samping bengkel tersebut untuk menunggu pembeli di toko kecil di depan rumah tersebut. Nenek tersebut menjual minuman-minuman instan (sachet) yang jumlah dan variasi merk produknya tidak banyak dengan menggantungnya secara anggun di atas seutas tali putih yang turut menjadi saksi bisu mengenai asam-garam kehidupan sang nenek selama ini. Seketika itu juga saya mengingat nenek saya yang begitu saya sayangi, yang telah turut merawat saya dengan begitu sabar sedari saya masih kecil, terutama ketika kedua orangtua saya bekerja. Karena, hingga saat ini nenek saya tersebut tinggal bersama saya dalam satu atap.

Ketika saya kembali merenungi kegiatan pengamatan yang telah saya lakukan di Pondok Cina beberapa kali, saya mencoba memahami keadaan ketika saya yang menjadi warga Pondok Cina dan terdapat sekelompok mahasiswa yang menjadikan saya objek pengamatan, untuk tujuan apapun. Saya pribadi sebenarnya tidak begitu takut dan menutup diri ketika bertemu dengan orang asing yang di kemudian hari secara intens justru bercengkerama dengan saya. Namun, keadaan psikologis yang berbeda antara kami (para mahasiswa) dan para warga yang mayoritas dari mereka masih termasuk dalam golongan ekonomi “menengah ke bawah” di Pondok Cina tersebut menyebabkan fleksibilitas penerimaan terhadap orang asing dalam kehidupan mereka cukup rendah. Comfort zone dari masing-masing warga tersebut pun begitu “dilindungi” oleh mereka dari segala bentuk threat atau ancaman dari luar dengan cara bersikap apatis terhadap keberadaan dan keadaan orang lain yang masih dianggap “asing” oleh mereka.

Rasa penasaran yang diawali dengan rasa takut tersebut menyelimuti pikiran saya selama perjalanan ke Pondok Cina pada hari itu. Namun, ketika saya melihat dari kejauhan bahwa penjual CinLok yang menjadi objek pengamatan saya berada di tempat beliau biasa mencari nafkah dengan memakai seragam biru muda plus topi khasnya. Sebelum berbincang dengan penjual CinLok tersebut, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk berkunjung ke Warung Nasi Priangan yang terletak di kurang-lebih 5 (lima) meter dari tempat dagang penjual CinLok untuk menikmati segelas teh manis-dingin serta untuk berteduh dari rintik-rintik hujan. Alhamdulillah Warung Nasi Priangan tersebut ramai dikunjungi para pembeli pada saat itu, yang berarti di waktu yang sama pundi-pundi rezeki pun mengalir deras kepada sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut.

Tidak lama kemudian, saya bergegas mengamati kembali penjual CinLok dari kejauhan setelah hujan reda. Karena kebetulan sedang tidak ada pembeli yang datang, maka saya memberanikan diri untuk berkunjung ke sana dan berbincang dengan beliau yang terlihat sedang merokok (teringat kembali hipotesis dari hasil pengamatan pertama saya bahwa penjual CinLok tersebut tidak merokok, ternyata terbukti tidak tepat).

Senang rasanya mengetahui bahwa penjual CinLok tersebut masih mengingat saya yang sudah cukup lama tidak berkunjung ke sana. Saya pun melanjutkan sambutan hangat dari beliau dengan memulai perbincangan kami. Beliau bercerita bahwa ia lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Namun, beliau lupa tanggal lahirnya. Saya iseng melarang beliau untuk nyontek ke Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya yang berdomisili di Kebumen. Beliau pun sekedar mengira-ngira bahwa ia lahir pada tanggal 16 Mei 1992. Saya cukup terkejut mengetahui bahwa ternyata saya hanya lebih muda setahun daripada beliau. Ia lalu berkata bahwa di Kebumen terdapat seorang kakak yang sudah bekerja dan seorang adik yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hobi yang beliau biasa lakukan di waktu senggangnya adalah merokok, walau tergantung pula dengan suasananya. Namun di Kebumen, ia ternyata senang bermain gitar, “walau gak jago-jago amat,” ungkapnya.

Sudah 3 (tiga) minggu penjual CinLok tersebut tinggal di Depok. Semua kebutuhan hidupnya sehari-hari (seperti sabun cuci, dan sebagainya) telah disediakan oleh pemilik kontrakannya, yang menurut saya kurang lazim atau begitu jarang dilakukan oleh para pemilik kontrakan rumah saat ini. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah mengalami banjir, walau sering terjadi hujan deras. “Paling airnya hanya naik berapa centi,” jawabnya. Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik dan hingga kini tiada konflik serius antar-warga karena hubungan antar-warga terjalin dengan dekat dan baik. Namun, beliau belum begitu tahu persis akan kemungkinan adanya preman di Pondok Cina tersebut.

Beliau tinggal dengan mengontrak rumah bersama temannya di daerah Depok I, tepatnya di Jalan Kedondong. Beliau bercerita bahwa di rumah kontrakannya tersebut sering terjadi mati lampu secara tiba-tiba, walau biasanya tidak mati terlalu lama.

Di bulan Mei 2013 yang lalu, beliau mengikuti (berperan serta dalam) pemilihan gubernur Jawa Tengah. Ia berkata bahwa untuk pemilihan presiden Indonesia tahun 2014 nanti beliau ingin turut serta memilih, walau hingga saat ini ia belum memiliki pilihan calon presiden yang menurutnya baik.

Obrolan ringan tersebut pun saya akhiri dengan berterimakasih kepada beliau. Lalu, saya iseng bertanya kepadanya mengenai penjual es potong yang sebelumnya sering terlihat mangkal di dekat CinLok tersebut. Beliau pun bercerita bahwa 2 (dua) hari terakhir ini mas-mas penjual es potong tersebut tidak terlihat berjualan di Pondok Cina, karena sakit. Penjual CinLok tersebut juga bercerita bahwa pada hari itu (Rabu, 2 Oktober 2013) CinLok-nya dihampiri banyak pembeli. Tampak senyum kecil di wajahnya mengandung ribuan energi mengalir untuk beliau terus berjuang menghadapi ketidakpastian akan hari esok dengan suka-duka kehidupan barunya di Pondok Cina.

Ketika saya dan beberapa teman duduk di kursi kayu reot di depan bengkel yang terletak di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square, secara tidak sadar kaki saya terkena batang kayu kecil yang tajam di samping kursi tersebut. Darah segar mengalir deras keluar dari kulit ibu jari kaki saya, walaupun lubang lukanya kecil. Saya pun berkeliling mencari keran air di sekitar saya pada waktu itu dengan langkah kaki yang pincang namun tak kunjung saya temukan, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Warung Nasi Priangan yang terletak di kurang-lebih 5 (lima) meter dari tempat dagang penjual CinLok. Kemudian, saya meminta izin dari sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut untuk meminta air dari keran di kamar mandinya. Awalnya, terlihat keraguan sempat menghampiri ibu tersebut terhadap saya yang memang belum pernah kenal dengannya. Namun, Alhamdulillah tidak begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk saya mendengar kata “iya” darinya sebagai tanda persetujuan izin beliau.

Setelah sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut mencoba mendeskripsikan keadaan kamar mandinya yang berantakan dengan barang ini-itu, saya pun mencoba meyakinkan beliau bahwa saya hanya perlu sedikit aliran air untuk membersihkan luka saya tersebut serta saya tidak akan “merusak tatanan” dari barang-barang di kamar mandi beliau. Namun, ketika saya membuka pintu kamar mandi tersebut, ternyata peralatan-peralatan dapur seperti wajan penggorengan, panci, dan sebagainya, tergeletak secara random di lantai. Mengetahui bahwa ibu tersebut “mengawasi” dari luar kamar mandi, saya bergegas mencuci luka saya secara hati-hati agar darahnya tidak mengenai peralatan dapur sang ibu. Semoga segala kebaikan yang telah ibu tersebut lakukan dibalas pula dengan kebaikan oleh Allah SWT., aamiin.

Setelah luka tersebut saya balut dengan plester antiseptik, tiba-tiba muncul gagasan antara saya dan teman-teman untuk kami pindah sub-setting, untuk memperhatikan dan mengkaji interaksi antar-warga Pondok Cina yang kami harap ”lebih ramah” daripada warga di sub-setiing pertama kami. Karena faktor ketidakpastian respons dari para warga Pondok Cina yang berada di sub-setting lain, maka pada akhirnya kami sepakat untuk tetap di sub-setting pertama hingga Ujian Tengah Semester (UTS) selesai, lalu akan ada diskusi kembali untuk kami memutuskan untuk pindah maupun menetap di sub-setting awal. Kami pun sudah sempat melakukan evaluasi, brainstorming, serta menyamakan sikap dalam usaha pendekatan kepada para warga Pondok Cina secara lebih baik dan lebih soft “mengalir” ketika melakukan pengamatan selanjutnya. Semoga kami berhasil, aamiin.