Berubah dan baru. Tidak mudah, memang, untuk setiap dari diri kita menerima serta membiasakan diri akan perubahan dan pembaharuan dalam hidup kita, tidak terkecuali bagi saya dan beberapa warga Pondok Cina yang sudah secara sukarela menyempatkan sedikit waktunya untuk berbincang dengan saya di sore itu, Minggu, 22 September 2013 pukul 16.15 WIB.

Saya menaiki sebuah angkutan umum dari depan komplek rumah saya hingga ke depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok. Selama menyusuri Gang Pondok Cina kala itu, terasa ketenangan dan kedamaian mengiringi perjalanan saya, jauh bila dibandingkan dengan perjalanan saya selama melewati jalan raya perkotaan yang kini sudah sesak akan asap dan deru kendaraan bermotor. Langit biru yang cerah serta hembusan angin yang lembut, semakin memperkuat suasana yang hangat dari keharmonisan interaksi antar-warga di daerah Pondok Cina pada saat itu. Sekilas terlihat beberapa orang mengunjungi pertokoan-pertokoan di sepanjang Gang Pondok Cina tersebut yang didominasi oleh toko aksesoris dan jasa service komputer.

Kemudian, saat melihat suatu gang kecil di sebelah kiri saya, rasa penasaran pun muncul seketika di benak saya yang akhirnya berhasil mendorong saya untuk coba melewati gang kecil cabang dari Gang Pondok Cina tersebut. Ternyata, di kanan-kiri jalan di sepanjang gang kecil itu, terdapat rumah-rumah warga yang beberapa di antaranya merupakan rumah kost. Menarik ketika saya mendapati banyak dari rumah-rumah warga tersebut diberi pagar, yang menurut saya mampu mengurangi intensitas interaksi antar-warga di gang kecil itu. Tidak sedikit dari rumah-rumah tersebut terlihat sepi dan bahkan kosong karena tidak ada penghuninya yang pada saat itu beraktivitas di halaman rumah dan bahkan pagarnya tertutup rapat. Namun, mata saya sempat berhasil menangkap “pemandangan” yang cukup menarik di gang kecil tersebut, yakni seorang ibu paruh baya berbaju putih yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Menarik, karena ketika terdapat beberapa orang yang kebetulan juga sedang beraktivitas di luar runah (di sekitar rumah Ibu paruh baya tersebut) pada saat itu, tidak ada satu pun dari mereka yang saling bertegur sapa bahkan untuk sekedar menengok keadaan satu sama lain. Saya pun cukup heran dengan banyaknya mobil yang diparkir memenuhi halaman dari salah satu rumah kost di dalam gang kecil tersebut, apakah itu semua mobil dari pemilik kost atau dari penyewa kost.

Setelah untuk beberapa saat memperhatikan lebih dekat salah satu gang kecil di daerah Pondok Cina tersebut, saya kembali ke gang besarnya dan memperhatikan daerah pengamatan Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) saya dari jauh terlebih dahulu untuk memastikan bahwa warga Pondok Cina yang ingin saya temui tersebut ada pada saat itu. Alhamdulillah, Mas penjual Cinlok yang sejak seminggu sebelumnya telah saya amati ada dan sedang berjualan Cinlok pada saat itu. Karena kebetulan sedang tidak ada pembeli dan Mas penjual Cinlok tersebut sedang duduk saja (tidak mengerjakan apa-apa), maka tanpa ragu saya menghampiri Mas penjual Cinlok tersebut. Senyum tulus dari Mas penjual Cinlok yang sedang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans tersebut menunjukkan keramahan sekaligus tanda tanya bagi beliau mengenai saya yang belum beliau kenal namun tiba-tiba mengajak berbincang empat mata dengan beliau sore itu. Sebelum saya melanjutkan wawancara tersebut lebih jauh, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dari kunjungan saya tersebut kepada beliau. Saya memohon izin kepada Mas penjual Cinlok tersebut untuk saya tiap minggu mengunjungi beliau selama kurang-lebih 5 (lima) bulan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau. Alhamdulillah, tanpa pikir panjang, beliau mengizinkan saya. Saya cukup terkejut dengan kenyataan bahwa Mas penjual Cinlok tersebut merupakan seorang bertipikal pendiam-introvert, namun selama perbincangan beliau tidak se-tertutup yang pada awalnya sempat saya bayangkan. Berikut ini adalah hasil wawancara dan kunjungan saya ke beberapa pedagang Cinlok di Pondok Cina, Depok.

Mas yang bernama Ahmad ini ternyata bukan merupakan warga Pondok Cina asli. Beliau diajak teman baiknya dari Jawa Tengah untuk bekerja menjual Cinlok di Pondok Cina, Depok. Beliau baru tiba di Depok pada hari Minggu, 15 September 2013 (tepat di hari pengamatan pertama saya di tempat yang sama). Sekarang, beliau tinggal bersama teman baiknya yang bernama Suryanto tersebut di dekat Pertamina daerah Beji, Depok. Namun lucunya, beliau tidak tahu dengan pasti di mana letak dan arah tempat tinggalnya di Beji tersebut karena beliau mengendarai motor untuk berjualan di Pondok Cina dan beliau belum hafal nama jalan maupun angkutan umum menuju tempat tinggalnya tersebut. Cinlok yang juga disukai oleh Mas Ahmad tersebut dijual seharga Rp. 1,000; per 4 (empat) buah. Karena Cinlok ini bukan merupakan usaha beliau pribadi, maka supply bahan baku Cinlok tersebut beliau peroleh dari temannya yang biasa berbelanja ke pasar, yang kemudian beliau masak sendiri di gerobak dagangan Cinlok beliau. Suryanto ternyata juga berjualan Cinlok di belakang Depok Town Square, yang berarti di daerah Pondok Cina juga. Beliau mengaku bahwa dagangan Cinlok ini beliau buka setiap hari Senin hingga Minggu sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB, kecuali bila beliau sedang sakit yang menyebabkan beliau tidak dapat berjualan. Karena baru berjualan Cinlok di Pondok Cina ini selama kurang-lebih seminggu, beliau belum menemukan hari tertentu atau jam khusus saat terdapat pembeli Cinlok terbanyak. Namun pada umumnya, rata-rata jumlah pembeli yang datang setiap jam dan setiap hari adalah sama, mengingat bahwa Pondok Cina merupakan daerah yang setiap hari ramai akan lalu-lalang masyarakat, baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor, karena di sana terdapat suatu pusat perbelanjaan yang besar serta stasiun kereta api. Cukup menarik bahwa beliau juga menyatakan bahwa umumnya bapak-bapaklah yang lebih sering membeli Cinlok daripada ibu-ibu maupun anak-anak. Menelisik kembali hasil pengamatan pertama saya di Pondok Cina, saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa terdapat seorang pedagang Cinlok yang ramah dan fokus dalam melayani para pembeli tanpa terlihat ada insentif apapun bagi pedagang tersebut pada saat itu untuk melayani pembeli dengan baik. Setelah pengamatan kedua ini saya lakukan, saya cukup kecewa karena Mas Ahmad tersebut menjawab bahwa beliau melakukan semua hal yang telah saya sebutkan sebelumnya (ramah dan fokus dalam melayani para pembeli-red.) itu hanya (sebagai variasi pelayanan terhadap pembeli) agar beliau tidak bosan selama berjualan Cinlok. Tapi entah mengapa, saya tetap meyakini bahwa seluruh tindakan Mas Ahmad tersebut datang dan diniatkan secara tulus dari hati, ketika kebetulan terdapat seorang anak kecil membeli Cinlok setelah beberapa saat saya berbincang dengan beliau dan saya kembali mendapati keramahan beliau dalam melayani pembeli. Sempat terkejut saya ketika tertangkap mata oleh saya sebungkus rokok dan korek api tergeletak di atas gerobak Cinlok beliau, padahal saya belum pernah melihat secara langsung Mas Ahmad merokok selama beberapa kali saya mengamati beliau, yang pada awalnya menjadi suatu hal menarik pula bagi saya.

Karena sejak awal saya memang baru berniat untuk berbincang dengan Mas Ahmad sebentar dalam rangka perkenalan awal, saya akhiri perbincangan kami di menit ke-20 sejak awal saya menghampiri beliau. Sebagai sekedar tanda terimakasih, saya membawa gula seberat setengah kilogram dari rumah untuk saya berikan kepada beliau. Namun, beliau terus bersikeras untuk menolak pemberian saya tersebut (tentunya dengan penolakan secara halus) sehingga saya terpaksa membawa pulang kembali gula tersebut.

Penasaran dengan informasi dari Mas Ahmad bahwa terdapat seorang temannya yang juga berjualan Cinlok di belakang Depok Town Square, saya pun pergi ke belakang Depok Town Square lalu mencari toko ataupun gerobak pedagang Cinlok yang memiliki merek sama dengan Cinlok Mas Ahmad, yakni “Cinlok Putuwijoyo 01”. Setelah saya temukan apa yang saya cari tersebut, saya menghampiri seorang pemuda yang sedang melayani banyak pembeli Cinlok (rupanya pedagang Cinlok di belakang Depok Town Square tersebut jauh lebih ramai daripada pedagang Cinlok Mas Ahmad di dekat parkiran stasiun Pondok Cina). Ketika saya meminta izin pemuda tersebut untuk berbincang sebentar terkait tugas kuliah saya, pemuda tersebut “melemparkan” saya untuk bertanya langsung kepada bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” yang sedang duduk sambil merokok tepat di depan saya berdiri pada saat itu. Cukup awkward pada awalnya, namun spontan saya kemudian memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dari kunjungan saya tersebut kepada bapak tersebut. Saya memohon izin kepada beliau untuk saya tiap minggu mengunjungi beliau selama kurang-lebih 5 (lima) bulan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau (walaupun nantinya saya ragu untuk kembali mengamati bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut karena telah keluar dari zona setting MMI kelompok saya). Bapak yang sedikit terlihat lebih open dan ramah ini awalnya sempat menunjukkan kecurigaan dan sikap defensive-nya kepada saya dengan beberapa kali bertanya (untuk memastikan) maksud dan tujuan saya mengamati beliau dan dagangan beliau. Namun pada akhirnya, Alhamdulillah saya berhasil meyakinkan beliau bahwa saya hanya bermaksud mengerjakan tugas kuliah untuk berbincang dengan salah satu warga di Pondok Cina (tanpa memberitahu bapak tersebut bahwa sebelumnya saya sudah sempat berbincang dengan Mas Ahmad– temannya).

Bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut bernama Marsino. Beliau tinggal di daerah Beji Timur, Depok. Beliau hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di belakang Depok Town Square tersebut dijaga oleh Suryanto (seorang teman Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat). Pak Marsino bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, sempat terjadi penggusuran dari Pemerintah yang menyebabkan beliau berhenti berjualan sementara. Setelah beliau menemukan resep membuat Cilok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan Cilok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Pak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan Cilok khas-nya tersebut yang diberi nama (atau merek) “Cinlok”, karena umumnya “Cinlok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan Cilok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada Cilok khas-nya itu. Setelah dipercaya banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil dengan merek Cilok dagangannya “Cinlok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”, karena Pak Marsino merupakan cucu pertama sekaligus cucu kesayangan dari Mbah Wijoyo, Kakek yang begitu beliau sayangi dan selalu beliau banggakan. Hingga saat ini, Pak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang dijaga oleh Mas Ahmad), dan di Kukusan (Beji, Depok). Mas Suryanto sempat mengatakan bahwa setiap hari Cinlok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari. Setelah itu, dengan bercanda Pak Marsino gantian bertanya kepada saya, “Mbak udah punya pacar, belum? Untuk si Suryanto, nih. Hahaha.

Setelah rasa penasaran saya cukup terobati dengan berbagai informasi relevan mengenai seluk-beluk “Cinlok Putuwijoyo 01” yang lebih mendalam dari perbincangan singkat saya dengan Pak Marsino, saya pun pulang (tentunya setelah pamit serta berterimakasih kepada Pak Marsino dan Mas Suryanto) dengan optimisme untuk dapat mengungkap lebih banyak lagi keterkaitan serta interaksi menarik antara pedagang-pedagang Cinlok tersebut dengan warga lain di daerah Pondok Cina, terutama setelah Pak Marsino mengatakan bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Semua terasa dimulai di sini, di Pondok Cina.