Prolog

            Langit biru yang sedang menangis deras pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 pukul 13.00 WIB menambah gulana suasana hati kecil ini, di sepanjang perjalanan saya dari FE (Fakultas Ekonomi) ke Pondok Cina, yang belum dapat tenang seiring dengan berjalannya proses penggusuran oleh PT. KAI (PT. Kereta Api Indonesia) di daerah subsetting kelompok MMI (Manusia dan Masyarakat Indonesia) saya (gang di sebelah timur – belakang Stasiun Pondok Cina; mulai dari lahan parkir kendaraan di Stasiun Pondok Cina hingga ke bekas rumah Ketua RW. 08, ke arah Depok Town Square) sejak awal November 2013 dengan target untuk seluruh warga setempat pindah dari Pondok Cina paling lambat minggu ketiga Desember 2013.

———————————————————————————————

                 Sekilas gambaran mengenai kondisi fisik serta suasana Pondok Cina pada umumnya dan daerah subsetting kelompok MMI saya pada khususnya kini, bahwa masih terdapat beberapa pohon yang cukup rimbun di daerah sub-setting tersebut, sehingga suasana dan udara di sana tidak terlalu gersang dan panas. Jalanan yang sudah di-aspal dan bersih dari sampah non-organik (yakni sampah plastik, kertas, botol, dan sebagainya selain dedaunan tua yang memang berjatuhan ke jalanan dari pepohonan di pinggir jalan), jauh berbeda kondisinya dengan parit dan sungai kecil di pinggir jalanan yang airnya sudah pekat akan banyaknya sampah non-organik yang menumpuk di atas genangannya hingga berwarna hitam. Untungnya, meski kondisi parit dan sungai kecil di sana tersebut memprihatinkan, hingga kini belum ada warga Pondok Cina yang ketika saya wawancara bercerita bahwa Pondok Cina banjir karena hujan. Semakin minimnya jumlah sampah yang tergeletak sembarangan di jalanan tersebut (bila dibandingkan dengan jumlah sampah yang dapat ditemukan di jalanan sebelum bulan November 2013 tiba) ditengarai berbanding lurus dengan semakin sedikitnya jumlah warga di daerah subsetting kelompok MMI saya yang hingga pada hari terakhir pengamatan saya (Sabtu, 14 Desember 2013) masih keukeuh menetap di sana walau di akhir minggu ketiga bulan ini mereka sudah di‘harus’kan meninggalkan daerah tersebut. Namun, pada hari yang sama, masih saya temukan 2 (dua) tumpukan kecil sampah dan dedaunan di pinggir jalan (di sisi kiri dari lahan parkir Stasiun Pondok Cina, bila kita berjalan dari arah Gramedia masuk ke gang subsetting kelompok MMI saya) yang menjadi sisa pembakaran oleh warga setempat.

Hingga saat ini pun, daerah Pondok Cina (tidak terkecuali daerah subsetting kelompok MMI saya) seakan tidak pernah sepi untuk dilewati oleh masyarakat yang umumnya sekedar melintasinya baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai motor, terutama oleh para mahasiswa dan mahasiswi, mengingat bahwa di daerah Pondok Cina terdapat 2 (dua) universitas, tempat kost-an, stasiun, toko buku Gramedia, pusat perbelanjaan Depok Town Square, serta ramai dengan terdapat banyaknya pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa (seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warnet (warung internet), usaha laundry, tempat fotokopian, penjual gorengan dengan gerobak, dan masih banyak lagi). Daerah Pondok Cina juga digaduhkan oleh derap langkah kereta CL (Commuter Line) setiap kali ia melewati Stasiun Pondok Cina, dengan turut bergetarnya jalanan di sana seiring kedatangan kereta CL tersebut.

Di daerah subsetting kelompok MMI saya tersebut, terdapat sebuah warteg (warung tegal) “Ronda-Ronde” dengan tokoh Ibu Cindy, sebuah toko mainan dan aksesoris anak dengan tokoh Kakak kandung Ibu Nunuk, seorang penjual makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” (dengan gerobak yang settle) bernama Mas Ahmad, sebuah toko pulsa dan aksesoris handphone “Rahayu Cell” dengan tokoh Ibu Nunuk, sebuah warung nasi “Priangan” dengan tokoh Ibu Amero, rumah-rumah warga (yang merupakan penduduk asli) Pondok Cina, sebuah bengkel serta tempat kecil untuk tambal dan pompa ban dengan tokoh Bapak Mamin, toko kelontong kecil yang menjual minuman-minuman ringan blended dengan tokoh Ibunda dari Bapak Mamin, sebuah toko baju, sebuah toko kelontong yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan dengan tokoh Bapak Asan, seorang penjual bensin eceran, serta Ketua RW. 08. (dengan urutan lokasi masing-masing yakni start dari lahan parkir kendaraan di Stasiun Pondok Cina menuju ke bekas rumah Ketua RW. 08, ke arah Depok Town Square).

Setiap setelah melakukan pengamatan (‘turun lapangan’), saya beserta teman-teman sekelompok MMI saling bercerita tentang perkembangan temuan interaksi dari masing-masing objek pengamatan kami dengan orang-orang di sekitar mereka untuk saling meng-update kabar terkini warga di ‘lapangan’.

Ibu pemilik warteg (warung tegal) “Ronda-Ronde” bernama Ibu Cindy. Menurut beberapa teman kelompok MMI saya, pada awalnya Ibu Cindy kurang ‘bersahabat’ dengan kami yang sedang melakukan pengamatan di sana karena ketika kami mengajak bicara Ibu Cindy, kami dianggap mengganggu beliau bekerja. Namun, Alhamdulillah semakin lama beliau pun dapat menerima kami ketika kami sekedar berkunjung kembali ke warung beliau. Sepanjang pengamatan kami, terutama salah satu teman kelompok MMI saya yang menjadikan Ibu Cindy sebagai objek pengamatannya, interaksi yang terlihat antara Ibu Cindy dengan para pelanggannya hanya sebatas interaksi jual-beli; interaksi selesai ketika Ibu Cindy selesai menyediakan makanan dan minuman yang dipesan oleh pelanggannya tanpa berbasa-basi. Pernah pula pada suatu hari saya melihat suami dari Ibu Cindy melayani pesanan makanan dan minuman kepada para pelanggan ketika Ibu Cindy memasak. Acap kali Ibu Nunuk (seorang wanita pemilik “Rahayu Cell” di seberang warung Ibu Cindy) terlihat bercengkerama dengan Ibu Cindy, seperti ketika Ibu Nunuk membeli air mineral dan gorengan ke warung Ibu Cindy dan ketika Ibu Nunuk menanyakan Ibu Cindy tentang proses penggantian atap warung Ibu Cindy yang sempat bocor. Mas Ahmad (seorang pria yang menjaga gerobak CinLok “Putuwijoyo 01” di antara toko mainan dan aksesoris anak dan toko pulsa dan aksesoris handphone “Rahayu Cell”) serta bosnya Bapak Marsino (seorang pria pemilik usaha CinLok “Putuwijoyo 01”) pernah pula terlihat membeli kopi panas dan gorengan ke warung Ibu Cindy selama menjaga gerobaknya ketika belum ada pelanggan yang membeli CinLok. Pada suatu hari, saya pernah melihat Ibu Cindy keluar dari warung beliau untuk membuang sampah dalam plastik transparan besar berwarna merah (dengan cara meletakkannya begitu saja) ke samping warung beliau tersebut, untuk nantinya diambil oleh pemulung, serta di hari lain dari dalam warung beliau pernah beliau membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring untuk dicuci di luar warung beliau tersebut dengan cara yang menurut saya kurang higienis.

Toko mainan dan aksesoris anak di seberang warung Ibu Cindy merupakan milik dari Kakak kandung Ibu Nunuk. Dalam beberapa pengamatan, saya pernah melihat seorang pria yang kurang-lebih berusia 50 tahun, duduk di teras ‘Rahayu Cell’ dan di hari lain duduk di teras toko mainan dan aksesoris anak tersebut. Sekilas saya sempat persepsikan di awal pengamatan, bahwa alis mata beliau yang berkerut mengandung arti secara implisit dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Beliau pernah saya lihat berbincang dengan Ibu Nunuk yang sedang berada di dalam toko “Rahayu Cell”, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar isi percakapan mereka pada saat itu karena keriuhan suasana di Pondok Cina. Pria yang sedang mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam serta celana bahan selutut tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by 5 (lima) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada Ibu Nunuk, dan kemudian pria tersebut memakan es potong bersama dengan Ibu Nunuk sambil duduk di teras toko mainan dan aksesoris anak tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Pria tersebut segera menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, pria tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ayah dan anak tersebut pun berterimakasih kepada beliau atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara (ke arah Masjid di Gunadarma). Pada kesempatan lain ketika mengunjungi Pondok Cina, saya juga pernah mengamati Kakak kandung Ibu Nunuk tersebut yang sedang mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih serta celana bahan selutut duduk di teras toko mainan dan aksesoris anak tersebut sambil menggendong seorang anak perempuan cantik yang berusia kira-kira 3 (tiga) tahun dan tersenyum tulus yang menyiratkan kebahagiaan tersendiri dari wajah beliau, dengan tetap menyapa ramah beberapa warga yang lewat di depannya. Saya pun tidak ketinggalan turut tersenyum kepada beliau setiap saya lewat di hadapannya. Beberapa teman kelompok MMI saya juga pernah mengamati Ibu Nunuk tidak jarang meminta tolong Kakaknya tersebut untuk melayani pelanggan di toko “Rahayu Cell” saat Ibu Nunuk sibuk dengan urusan lain. Sebenarnya, saya beserta teman-teman sekelompok MMI belum pernah menangkap interaksi antara pria tersebut maupun orang lain yang menjaga toko tersebut dengan pelanggan di toko mainan dan aksesoris anak (karena pada beberapa kesempatan saat ‘turun lapangan’, kami mendapati toko mainan dan aksesoris anak tersebut tidak hanya dijaga oleh Kakak kandung Ibu Nunuk tersebut, tapi juga pernah dijaga oleh anggota keluarga Ibu Nunuk lainnya yang memang banyak tinggal bersama di rumah-rumah di belakang toko “Rahayu Cell”). Namun, saat saya bersama salah satu teman kelompok MMI saya mengunjungi toko mainan dan aksesoris tersebut dan untuk pertama kalinya menjadi pelanggan, terdapat seorang wanita berkulit putih dengan rambut dikuncir kuda yang sedang mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana bahan selutut yang menjaga toko tersebut dari balik sebuah lemari display yang besar dan kemudian memberi kebebasan kepada kami untuk melihat berbagai barang yang dijualnya tanpa pengawasan yang begitu ketat. Kami melihat barang-barang yang dipajang di sana, seperti gelang, kertas kado, kartu ucapan, boneka, lampu meja, celengan, dan sebagainya. Saya membeli 3 (tiga) buah gelang yang di-bundling seharga Rp. 10,000 untuk saya dan 2 (dua) teman saya pakai nantinya. Ketika saya mencoba memakai salah satu gelang tersebut, simpul talinya tidak sengaja lepas sehingga gelang tersebut pun tidak bisa dipakai lagi. Melihat kejadian tersebut, wanita tersebut pun dengan senang hati menukarnya dengan gelang baru yang belum rusak atau masih dalam keadaan baik, tanpa perlu saya membayar lagi. Wanita tersebut cukup ramah kepada kami. Namun, terdapat hal yang menyayat hati saya ketika itu, bahwa sedari kami datang mengunjungi toko tersebut, terdapat seorang anak perempuan cantik yang sedang bermain hujan di depan toko tersebut menggunakan payung. Anak tersebut berumur sekitar 6 (enam) tahun. Ketika saya menyapa anak tersebut dan menanyakan namanya, ia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama kami melihat barang-barang yang dipajang di sana, wanita tersebut sempat terlihat mencari sesuatu di atas meja display di depan toko lalu berkata kepada anaknya dengan nada tinggi, “Eh, obat gw mana? Lo ilangin lagi, ya, obat gw? Dasar anak monyet emang, lu.” Padahal saya lihat, anak tersebut tidak mengerti perkataan wanita tersebut dan hanya diam termangu melihat wanita tersebut berteriak kepadanya. Ketika wanita tersebut menghampirinya, anak tersebut lari membawa payungnya ke arah Depok Town Square. Pada hari terakhir pengamatan saya (Sabtu, 14 Desember 2013), saya melihat terdapat 2 (dua) orang pria berambut agak gondrong dan berbaju putih yang menjaga toko mainan dan aksesoris anak tersebut. Beliau berdua terlihat sibuk saling berdiskusi satu sama lain di dalam toko, namun sesekali tertangkap pula momen ketika beliau berdua menertawakan sesuatu yang mereka diskusikan tersebut, sambil juga menyapa ramah beberapa warga yang lewat di depan mereka.

Di gang kecil antara toko mainan dan aksesoris anak serta toko “Rahayu Cell”, terdapat seorang penjual makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” yang menjadi salah satu fokus dari objek pengamatan saya, bernama Mas Ahmad. Selain beliau merupakan satu-satunya warga yang memang lebih sering stand by di luar rumah (tepatnya di belakang gerobaknya) daripada warga lain di daerah subsetting kelompok MMI saya yang lebih sering berada di dalam rumah mereka masing-masing, gerobak beliau pun tidak jarang terlihat dihampiri oleh banyak pembeli yang dapat meyakinkan saya bahwa CinLok yang beliau jual enak (yang dibuktikan dengan terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual CinLok tersebut sebanyak delapan (8) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan pertama saya di hari Minggu serta sebanyak 10 (sepuluh) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan keempat saya di hari Minggu, (sebenarnya) lebih banyak pembeli CinLok “Putuwijoyo 01” tersebut bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitarnya pada waktu yang sama). Setelah beberapa kali “turun lapangan” pun, saya selalu disambut oleh beliau dengan tatapan dan salam yang ramah, sehingga saya belum pernah mengalami “penolakan” secara langsung dari warga setempat yang merasa “terganggu” dengan kehadiran para mahasiswa yang sedang melakukan observasi di sana. Setelah beberapa kali berbincang dengan Mas Ahmad tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa pemilik dari usaha perdagangan makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” adalah Bapak Marsino yang hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari usaha makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di daerah subsetting kelompok MMI saya tersebut telah dijaga oleh Mas Ahmad serta cabang yang berada di belakang Depok Town Square dijaga oleh Mas Suryanto (seorang teman dari Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat). Saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa Mas Ahmad merupakan seorang penjual CinLok yang selalu ramah, fokus, dan ikhlas atau tulus dalam melayani para pembeli, dengan begitu cekatannya menyajikan CinLok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Cukup menarik pula bagi saya bahwa menurut beliau, pada umumnya, bapak-bapaklah yang lebih sering membeli CinLok darinya daripada ibu-ibu maupun anak-anak. Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik. Beliau bercerita bahwa walau pun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga) kali, tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi akar dari pertengkaran-pertengkaran tersebut. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah melihat atau pun mengalami tindakan premanisme. Setelah beberapa kali ‘turun lapangan’ ke daerah Pondok Cina, saya pun sempat berbincang dan memperoleh sekelumit informasi mengenai kehidupan Bapak Marsino. Bapak Marsino yang telah beberapa kali saya pergoki secara langsung sedang merokok dengan nikmatnya bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, pernah terjadi penggusuran di daerah Pondok Cina oleh pihak Pemerintah yang menyebabkan Bapak Marsino sempat berhenti berjualan untuk sementara waktu. Setelah beliau menemukan resep membuat CinLok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan CinLok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Bapak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan makanan khas yang sebenarnya bernama “Cilok” tersebut dengan memberinya nama (atau merek) baru “CinLok”, karena umumnya “CinLok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan CinLok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada CinLok khas-nya itu. Setelah dipercaya oleh banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil (berupa gerobak yang settle) dengan merek CinLok dagangannya “CinLok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”. Hingga akhir Oktober 2013, Bapak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “CinLok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang biasa dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang biasa dijaga oleh Mas Ahmad), dan di daerah Kukusan (Beji, Depok). Bapak Marsino pun pernah mengaku bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Sebelum proses penggusuran mulai dilaksanakan oleh PT. KAI, Mas Suryanto pernah bercerita kepada saya bahwa setiap hari CinLok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari. Namun, setelah proses penggusuran mulai dilaksanakan oleh PT. KAI sejak awal November 2013, tidak jarang saya mendapati gerobak “CinLok Putuwijoyo 01” di daerah subsetting kelompok MMI saya serta di cabang yang berada di belakang Depok Town Square kosong atau sedang tidak berjualan, ketika sebenarnya masih terdapat beberapa pedagang kecil yang menjajakan barang dagangannya kepada para masyarakat yang melewati jalan dari dan ke Depok Town Square tersebut walau memang tidak seramai sebelum proses penggusuran dimulai. Terakhir kali saya bertemu dengan Bapak Marsino yang sedang membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya yang beliau beli di warungnya Ibu Cindy, yakni tepatnya pada saat pengamatan ketujuh saya. Kala itu, Bapak Marsino yang sedang menggunakan seragam kerjanya (bertuliskan “Putuwijoyo 01” di belakang punggungnya) lengkap dengan topi dan senyum khasnya seperti biasa menyapa saya dengan berkata, “Masih ingat, Mbak, dengan saya?” Saya pun menjawab, “Wah, Pak, masih, dong. Hehe. Kok Bapak jaga di sini (di gerobak “CinLok Putuwijoyo 01” samping “Rahayu Cell”), ya? Mas Ahmad ke mana, ya?” Lalu Bapak Marsino yang terlihat sambil menggunakan handphonenya untuk mengetik sesuatu pun berkata, “Iya, Mas Ahmad lagi pulang kampung. Kangen keluarga, katanya. Udah sekitar 3 (tiga) bulanan Dia di sini.” Bapak Marsino pun cerita bahwa setelah penggusuran oleh PT. KAI beliau tetap ingin berjualan CinLok di Pondok Cina tersebut, dengan memindahkan gerobaknya ke halte di sisi samping rel kereta api (di belakang Depok Town Square).

Pada pengamatan pertama saya di Toko “Rahayu Cell” milik Ibu Nunuk, saya pernah melihat seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 (lima) tahun yang pernah terlihat merokok dengan santainya bersama sang ibu (yakni Ibu Nunuk) di balik lemari display di toko “Rahayu Cell”. Di awal masa pengamatan MMI kami, tidak jarang kami mendapati Ibu Nunuk berusaha ‘menghindar’ dari penglihatan kami dengan cara pergi ke warungnya Ibu Cindy atau ke rumah di belakang toko “Rahayu Cell” setelah beliau mendapati kami datang ke daerah subsetting kelompok MMI saya tersebut beramai-ramai dengan membawa buku catatan dan alat tulis. Namun semakin lama, saya dan terutama beberapa teman kelompok MMI saya menyadari bahwa sebenarnya Ibu Nunuk cekatan dan ramah dalam melayani pelanggan yang menghampiri toko bercat dinding warna kuningnya tersebut meski beliau jarang tersenyum, setelah beberapa teman saya berhasil ‘mendekati’ dan berdiskusi dengan beliau dalam beberapa kali kunjungan. Pernah suatu hari terlihat Ibu Nunuk membeli gorengan di warung nasi “Priangan” milik Ibu Amero. Sempat pula tertangkap mata oleh beberapa teman kelompok MMI saya momen ketika Ibu Nunuk menyusul anaknya yang sedang bermain di warung nasi “Priangan” tersebut. Namun pada kesempatan lain, beberapa teman kelompok MMI saya sempat melihat Ibu Nunuk menarik tangan anaknya yang hendak bermain ke warung nasi “Priangan”. Ibu Nunuk pun pernah terlihat sedang menyuapi anaknya makanan dan memandikan lalu memakaikan baju anaknya pada kesempatan yang lain. cukup disayangkan, bahwa Mas Ahmad pernah bercerita kepada saya bahwa beliau belum pernah berinteraksi dengan Ibu Nunuk padahal hampir setiap hari beliau berdua sama-sama menjaga toko masing-masing yang letaknya berdampingan. Cerita Mas Ahmad tersebut sebanding dengan hasil pengamatan saya beserta teman-teman sekelompok MMI yang belum pernah melihat interaksi di antara keduanya, dengan dukungan fakta bahwa memang Mas Ahmad merupakan seseorang yang pendiam dan juga merupakan penduduk baru di Pondok Cina. Ibu Nunuk seringkali cukup sulit ditemui oleh pelanggan yang mendatangi toko “Rahayu Cell” karena menurut hasil pengamatan beberapa teman kelompok MMI saya beliau lebih sering berada di toko mainan dan aksesoris anak ataupun di warungnya Ibu Cindy.

Interaksi antara Ibu Amero, pemilik warung nasi “Priangan”, dengan orang-orang di sekitarnya sempat terlihat ketika saya beserta teman-teman sekelompok MMI ‘turun lapangan’ beberapa kali. Seperti ketika Mas Ahmad membeli gorengan di warung nasi “Priangan”, saat Ibu Amero mengantarkan cucunya membeli es potong kepada pedagang keliling yang sedang berhenti di depan toko mainan dan aksesoris anak, serta waktu Ibu Amero menanyakan kabar tentang anjing milik Bapak Mamin. Beberapa teman kelompok MMI saya pernah mendapati Ibu Amero sedang memasak bersama di dapur (di bagian belakang warung nasi “Priangan”) dengan menantunya yang bernama Ibu Sri. Ibu Amero pun pernah tertangkap mata sedang meminta tolong (atau memberi tugas) kepada Ibu Sri untuk menyediakan pesanan makanan dan minuman kepada para pelanggan yang datang ke warung nasi “Priangan” tersebut. Ibu Amero yang seringkali mengajak ngobrol para pelanggannya sembari menyiapkan pesanan makanan dan tidak jarang berkomunikasi kepada Ibu Sri, tetangga, dan pelanggannya dengan Bahasa Sunda tersebut sudah hafal dengan menu yang cukup sering dipesan oleh para pelanggan yang memang sudah sering datang ke warung nasi “Priangan” tersebut. Pernah pada suatu hari, saya beserta beberapa teman sekelompok MMI berkunjung ke warung nasi “Priangan” dan memesan minuman untuk sekaligus berteduh dari hujan gerimis pada saat itu sembari menunggu beberapa teman kami yang belum tiba di Pondok Cina. Pada kesempatan yang lain, Ibu Amero sempat terlihat dari balik pintu samping rumahnya sedang memasak di dapur dengan mengenakan kaos berwarna merah muda. Saya sempat menyapa beliau dengan sekedar berkata “Halo, Bu.”, dan beliau langsung menjawab dengan hati-hati, “Iya, ada apa, ya?” Setelah saya menjelaskan secara singkat kepada beliau bahwa saya hanya kebetulan melewati Pondok Cina dan sekedar ingin menyapa beliau, beliau pun akhirnya mengerti dan sempat tersenyum kepada saya sebelum beliau melanjutkan kembali kegiatan memasaknya dengan segera.

Di belakang toko “Rahayu Cell” dan warung nasi “Priangan”, terdapat sejumlah rumah warga. Saya beserta teman-teman sekelompok MMI pun sempat pada suatu hari memperhatikan keadaan di sekeliling kami ketika ‘turun lapangan’ dan mendapati banyak wanita dan anak-anak kecil yang sedang duduk dan saling berbincang satu sama lain di pelataran atau teras rumah (di belakang tempat tambal ban milik Bapak Mamin) dengan volume suara yang kecil hingga kami tidak dapat mendengar apa yang sedang diperbincangkan dari kejauhan (bahkan kami tidak akan mengetahui keberadaan banyak wanita dan anak-anak kecil tersebut bila kami hanya mengandalkan pendengaran kami tanpa melihat mereka secara langsung dengan lebih jelas lagi). Sangat disayangkan, memang, bahwa tidak ada satupun dari kami yang pada saat itu mau memberanikan diri untuk menghampiri mereka dan mengetahui interaksi yang terjadi di antara mereka. Karena, di saat yang sama terlihat pula sedang duduk di pelataran atau teras rumah tersebut kakak dari Pak Asan yang sedari saya beserta teman-teman sekelompok MMI pertama kali melakukan pengamatan di Pondok Cina tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang tajam dan lekat kepada kami setiap kali kami melewati rumahnya, walau saya telah beberapa kali mencoba menganggukkan kepala saya sambil menyunggingkan senyum dan berkata “Permisi, Pak,” (sebagai sapaan) kepada beliau, namun tatapan tajam dan lekat tersebut masih saja kami terima dari beliau sebelum Bapak Asan beserta seluruh keluarga besarnya yang tinggal bersama di Pondok Cina pindah hunian ke daerah Kukusan-Teknik di awal minggu kedua Bulan Desember 2013 yang lalu.

Bapak Mamin, pemilik bengkel serta tempat kecil untuk tambal dan pompa ban di samping warung nasi “Priangan” yang memelihara anjing berukuran besar dan berwarna hitam legam, merupakan seseorang yang baik, dengan tertangkapnya momen oleh beberapa teman kelompok MMI saya bahwa beliau selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat menerima pembayaran dari pelanggan atas jasanya (menambal atau memompa ban) serta mempersilakan para pelanggannya duduk di kursi kayu yang sederhana di depan bengkelnya tersebut dan mengajak ngobrol mereka untuk menunggu proses tambal atau pompa ban. Pernah pada suatu hari beberapa teman kelompok MMI saya melihat Bapak Mamin membeli minuman di toko kelontong kecil yang menjual minuman-minuman ringan blended di samping bengkel kecil beliau tersebut, tetapi Bapak Mamin tidak membayar karena penjual dari berbagai minuman ringan tersebut merupakan Ibunda dari Bapak Mamin. Ibunda dari Bapak Mamin sudah cukup renta, berusia kurang-lebih 60 (enam puluh) tahun. Saya pernah memperhatikan beliau dari jauh, ketika beliau berjalan perlahan dari dalam rumahnya menuju toko kelontong kecilnya tersebut untuk duduk di sana dan menunggu kedatangan pelanggan. Pada saat itu, rambut putih beliau dikonde dan beliau mengenakan daster warna putih. Di atas meja di depannya, terdapat sewadah air putih, sebuah blender, dan beberapa bungkus sachet minuman ringan. Beliau terlihat begitu sabar dan tulus menunggu pelanggan hingga membuat saya langsung teringat akan Nenek saya yang begitu saya sayangi.

Terdapat sebuah toko baju kecil di daerah subsetting kelompok MMI saya, tepatnya di tikungan jalan dari arah Stasiun Pondok Cina menuju ke Depok Town Square. Selama kami ‘turun lapangan’ ke sana, belum pernah kami melihat adanya interaksi antara seorang wanita yang biasanya menjaga toko tersebut dengan pelanggan. Namun, sempat beberapa teman kelompok MMI saya melihat bahwa wanita tersebut tidak jarang ngobrol dengan istri Bapak Asan dan membeli barang dagangan Bapak Asan dengan cara berutang. Pernah pula wanita tersebut terlihat sedang mengembalikan sendok yang telah dipinjamnya dari Bapak Asan. Juga, wanita tersebut pernah terlihat menggunakan kamar mandi di rumah Bapak Asan.

Dalam beberapa kali pengamatan, saya sempat diajak beberapa teman kelompok MMI saya untuk berkunjung ke rumah salah satu warga asli Pondok Cina di daerah subsetting kami yang begitu ramah dan terbuka, yaitu Bapak Asan. Tidak mengherankan, memang, ketika kami tiba di depan rumah Bapak Asan, beliau langsung menyunggingkan senyum secara tulus untuk menyambut kami. Beliau memiliki toko kelontong di depan rumahnya yang menjual beragam makanan dan minuman ringan plus gorengan. Dalam kunjungan pertama kami ke rumah beliau, setelah teman saya memperkenalkan kami sebagai mahasiswa yang ingin berbincang sejenak dengan beliau untuk mengetahui interaksi antar-warga di Pondok Cina, beliau tanpa ragu bercerita panjang-lebar kepada kami mengenai pengalaman hidupnya selama tinggal di Pondok Cina, yang sebenarnya memerlukan waktu yang seakan tidak pernah cukup bagi kami untuk berbincang dengan Bapak Asan setiap kami mengunjungi toko beliau J. Bapak Asan sempat bercerita bahwa di awal Oktober 2013 para warga RW. 08 Pondok Cina melakukan perjalanan rekreasi bersama-sama dengan biaya bersih yang diambil dari kas RW (jadi, warga tidak dipungut biaya lagi) ke Pemandian Air Panas Ciater, Jawa Barat dalam rangka mempererat tali silaturahim dan kekeluargaan dari seluruh warga, walau terdapat sebagian warga yang tidak ikut berekreasi karena memang tidak diwajibkan. Beliau pun menceritakan pengalaman warga RW. 08 yang juga pernah mengunjungi Masjid Kubah Emas di Cinere, Depok bersama-sama. Ayah dari Bapak Asan yang terkena penyakit stroke sering terlihat duduk sendiri dengan mengenakan sarung dan kaos singlet di depan rumah beliau setiap sore. Begitu mengharukan bagi saya ketika Ayah dari Bapak Asan tersebut pernah mencoba berkomunikasi dengan saya beserta teman-teman sekelompok MMI secara terbata-bata untuk bertanya apakah kami mahasiswa dari Kampus UI (Universitas Indonesia), kemudian beliau dengan perlahan menarik kursi plastik yang sebelumnya ia duduki untuk diberikan kepada kami (mempersilahkan kami duduk). Istri dari Bapak Asan pun begitu murah senyum (yakni selalu senyum dengan tulus tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu siapa lawan bicaranya, bahkan ketika ia tidak sedang berbincang atau tidak memiliki kepentingan dengan orang lain). Saat saya memperhatikan ketika Bapak Asan berbincang atau berdiskusi dengan sang istri, beliau berdua terlihat begitu akrab dan saling mendukung keputusan satu sama lain. Pernah pula pada suatu ketika saya beserta teman-teman sekelompok MMI menyapa Fadil (anak dari Bapak Asan) di depan rumahnya. Fadil tidak begitu mengingat kami dengan jelas yang memang telah pernah mengunjungi rumahnya, yakni sebelum UTS (Ujian Tengah Semester), namun ia merasa familiar dengan kami sehingga kami dengan Fadil mudah atau cepat akrab kembali. Fadil mengajak kami untuk berkunjung ke rumahnya. Terlihat dari dekat sosok sang Ibunda dari Fadil yang sedang duduk membuat atau meracik bumbu dapur untuk memasak. Seperti biasa, Ibunda dari Fadil (yang juga merupakan istri dari Bapak Asan) tersenyum tulus untuk menyapa kami semua dengan begitu hangatnya. Selama beberapa menit, kami (saya, teman-teman saya, dan Fadil) sempat berbincang ringan serta berfoto ria. Fadil yang tidak ragu untuk terus mencari lalu menggendong ayam jago berbulu cantik milik ayahnya, begitu senang dan selalu tersenyum riang ketika kami potret. Tak lupa sang ibunda pun terus mengingatkan Fadil dengan lembut untuk berhati-hati dengan kendaraan yang melewati jalan. Tak lama kemudian, datang menghampiri kami seorang anak laki-laki berkaos merah tanpa lengan dan bercelana selutut yang merupakan teman Fadil, bernama Dafa. Awalnya, Dafa yang ingin membeli makanan ringan (snack) di warung kelontong di rumah Fadil masih menjawab dengan ketus (belum ramah) ketika saya dan teman-teman saya menyapa dan menanyakan namanya. Namun, setelah beberapa lama Dafa dan Fadil bermain bersama dengan action figures sederhana atau robot-robot kecil yang terbuat dari plastik serta berwarna-warni di depan rumah Fadil, kami semua pun dapat tertawa bersama dan mudah untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain. Fadil pun sempat menunjukkan kepada saya dan teman-teman saya kepintarannya memainkan games dalam tablet-nya. Selang beberapa menit kemudian, 3 (tiga) orang anak kecil (yang diketahui salah satunya merupakan keponakan dari Ibu Nunuk bernama Ayu) datang menghampiri warung di depan rumah Fadil untuk membeli makanan ringan (snack) sembari menerka-nerka apakah terdapat hadiah di dalam masing-masing bungkus snack yang mereka beli tersebut. Fadil sempat menyapa Ayu. namun Ayu tidak menanggapi panggilan dari Fadil secara serius (Ayu hanya menengok ke Fadil sebentar, lalu pergi). Tak hanya Fadil, Dafa pun begitu riang ketika dipotret oleh kami, hingga Fadil dan Dafa pun berlarian kesana-kemari. Namun, ketika Fadil dan Dafa melewati Kakek Fadil (Ayah Bapak Asan) yang sedang duduk santai di kursi plastik di depan rumah Pak Asan dengan mengenakan sarung sambil merokok, Kakek Fadil yang telah mengalami stroke tersebut memperingatkan Fadil dan Dafa dengan suara yang lantang untuk tidak asal bermain dan berlari yang dapat menimbulkan tangis di antara Fadil dan Dafa bila keduanya bertengkar dalam permainan ataupun jatuh ketika berlari-lari. Miris hati saya ketika saya mendengar secara langsung ancaman yang dikatakan oleh Kakek Fadil untuk menendang Fadil dan Dafa ke tong sampah ataupun menyundut rokok ke mulut 2 (dua) anak tersebut bila mereka berdua terus ribut apalagi menangis. Dafa dan Fadil yang sempat terlihat diam karena takut, seketika itu pula saya ajak untuk meminta maaf serta menjauhi Kakek Fadil dengan bermain tanpa mengganggu sang kakek lagi. Pada saat melakukan pengamatan ketujuh ke Pondok Cina, cukup terkejut saya ketika di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina, Bapak Asan menyapa saya, “Wah, Mbak, masih pengamatan ke sini, ya?” Lalu saya pun menjawab dengan senang hati, “Haha iya nih, Pak.” Bapak Asan kemudian bercerita bahwa sudah banyak rumah di dekat Depok Town Square yang ditinggalkan penghuninya lalu dihancurkan oleh pihak PT. KAI. Bapak Asan sendiri berencana untuk langsung pindah bersama keluarga besarnya ke daerah Kukusan-Teknik setelah melangsungkan pernikahan adiknya pada tanggal 1 Desember 2013 di depan rumah Bapak Asan di Pondok Cina tersebut. Dengan tulus Bapak Asan mengundang saya beserta teman-teman sekelompok MMI (yang memang selama melakukan pengamatan MMI sering mengunjungi rumah Bapak Asan untuk mewawancarai beliau) untuk datang ke acara pernikahan adiknya tersebut. Saya sempat menyanggupinya dengan syarat tidak diharuskan ‘menyumbang’ lagu dangdut. Namun sangat disesalkan, dikarenakan satu-dua hal, kami tidak jadi datang pada acara pernikahan Adik Bapak Asan tersebut. Tidak hanya itu, Pak Asan pun mempersilahkan saya dan teman-teman saya untuk kelak berkunjung ke rumahnya di daerah Kukusan-Teknik serta memberikan nomor handphonenya kepada saya. Bapak Asan juga bercerita kepada saya bahwa beliau berencana kerja menjadi guru silat seperti yang pernah beliau lakukan beberapa tahun yang lalu ataupun satpam. Beliau ckup khawatir bahwa bila beliau menjadi guru silat kembali, beliau belum bisa mengatur waktu. Karena biasanya akan ada murid yang meminta beliau mengajar secara privat. Beliau bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, namun juga untuk turut melestarikan budaya Indonesia, terutama budaya silat Betawi. Beliau sempat menawarkan saya untuk belajar silat dengan beliau, namun saya menolaknya karena saya tidak ingin belajar silat. Bapak Asan pun bercerita kepada saya bahwa sebagian dari uang kompensasi yang dijanjikan oleh PT. KAI kepada para warga Pondok Cina yang digusur (yakni total sebesar Rp. 250,000 per m2 luas tanah dan bangunan setiap rumah warga tersebut) telah diberikan pada pertengahan Bulan November 2013, dan sebagian sisanya akan diberikan di akhir bulan yang sama. Bapak Asan sempat menyayangkan Ketua RW. 08 yang sudah pindah terlebih dahulu, karena dianggap Ketua RW. 08 tersebut tidak berhasil mengadvokasi aspirasi para warga yang tidak ingin digusur PT. KAI. Hal yang sama sempat pula dirasakan oleh Bapak Mamin, bahwa Ketua RW. 08 tersebut belum melakukan sesuatu yang bisa menunda penggusuran oleh PT. KAI di Pondok Cina. Bahkan, Bapak Asan dan Bapak Mamin sempat curiga bahwa Ketua RW. 08 mengadakan kerjasama dengan PT. KAI untuk memperlancar penggusuran rumah di daerah subsetting kelompok MMI saya dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan pengguna jasa kereta api. Pada saat pertemuan tak terencana di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina tersebut, Bapak Asan dengan motornya yang telah dimodifikasi untuk dapat mendistribusikan barang-barang dagangannya sebenarnya sedang mengantar pesanan minuman-minuman ringan (dalam satuan dus) dan LPG ke warung-warung tetangga di daerah Pondok Cina yang telah menjadi pelanggan tetapnya, seperti yang beliau lakukan setiap hari. Dulu, beliau pernah mendistribusikan barang-barang dagangannya ke kantin-kantin di UI, namun hal tersebut tidak dilakukannya lagi karena beliau tidak ingin merasakan macet di UI. Pada hari Minggu, 8 Desember 2013, saya pernah melihat Fadil sedang berjalan-jalan seorang diri di tengah kerumunan pasar pagi di daerah Kukusan-Teknik. 2 (dua) hari sebelumnya, saya pun pernah melihat Fadil beserta Kakak dari Bapak Asan di Selasar FEUI (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) ketika Prokadisu (Program Kakak-Adik Asuh) yang merupakan salah satu dari acara BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FEUI sedang menyelenggarakan salah satu mata acaranya sebagai kegiatan rutin tiap bulan untuk mengundang anak-anak yang mendapat donasi berupa uang sekolah dari Prokadisu tersebut datang ke gathering bersama mahasiswa-mahasiswi FEUI yang memberikan donasi untuk mereka setiap bulannya. Beberapa teman kelompok MMI saya pernah mendapati petugas dari PT. KAI melepas ikatan penyangga pohon pisang milik Bapak Asan yang ditanam di seberang rumahnya, sehingga pohon pisang tersebut rubuh, setelah Bapak Asan dan petugas dari PT. KAI tersebut berselisih paham karena pohon pisang tersebut tingginya telah melebihi tinggi peron Stasiun Pondok Cina. Terdapat beberapa hasil pengamatan dari teman-teman kelompok MMI saya, bahwa Bapak Asan selalu menjaga ayam peliharaan beliau agar tidak masuk ke rumah para tetangga. Bapak Asan pun menerima penitipan barang dagangan (penjualan sistem konsinyasi) dari para tetangga. Bapak Asan juga bersedia membuka toko kelontong beliau apabila mendesak (maksudnya apabila terdapat pelanggan yang ingin membeli sesuatu di sana walau toko kelontongnya sebenarnya telah tutup karena telah larut malam dan/atau karena masih terlalu dini hari). Bahkan, Bapak Asan biasa membiarkan para pelanggan untuk membuang sampah di depan toko kelontong beliau karena beliau akan menyapu halaman rumah beliau tersebut dan membuang sampah rumah tangga beliau tersebut ke dalam tempat sampah yang telah disediakan di sana (Beberapa warga di sana biasanya membuang sampah ke dalam tempat sampah masing-masing yang tiap sorenya akan dikumpulkan oleh seorang pria yang merupakan petugas kebersihan dari Dinas Kota Depok. Setiap rumah yang menggunakan jasa tersebut membayar iuran kebersihan sebesar Rp. 20,000 per bulannya). Tidak jarang Bapak Asan mengajak para pelanggan beliau ngobrol dan mengucapkan terima kasih setiap telah menerima pembayaran dari para pelanggan beliau tersebut. Tidak lupa beliau pun selalu tersenyum dan ramah ketika berhadapan dengan para pelanggan serta selalu menyapa para handai taulannya yang bertemu dengan beliau dan/atau melewati rumah beliau.

Pada suatu hari, ketika melakukan ‘turun lapangan’ ke daerah Pondok Cina, seorang teman kelompok MMI saya pernah berkenalan dengan Ibu Aisyah; seorang wanita yang baik hati dan dapat dipercaya yang selalu mengumpulkan uang beberapa warga di sana (berupa tabungan) setiap hari di warung nasi “Priangan” di sekitar pukul 16.00 WIB. Kepercayaan antar-warga tersebut timbul (dan semakin lama semakin kuat) seiring dengan manfaat yang terus diperoleh oleh para penabung tersebut dalam hal perencanaan dan pengaturan keuangan rumah tangga yang baik dan sederhana.

Ibu Gina, berdasarkan hasil pengamatan beberapa teman kelompok MMI saya, merupakan seorang wanita penjual bensin eceran yang rumahnya terletak di samping rumah Bapak Asan dan bensin eceran dagangannya diletakkan di rak kecil di depan rumahnya tersebut. Berbeda dengan bensin eceran yang dijual pula oleh Bapak Mamin, harga dari bensin eceran yang dijual Ibu Gina tidak di-markup setinggi harga jual bensin eceran yang dijual Bapak Mamin, walau beda harga antara keduanya tidak terlampau jauh. Pernah suatu ketika banjir menggenangi daerah Pondok Cina, para tetangga membantu mengangkat barang-barang di dalam rumah Ibu Gina untuk diselamatkan. Senyum dan ucapan terima kasih selalu beliau berikan ketika melayani para pelanggan beliau. Ibu Gina pun cekatan dalam melayani pelanggan.

Di akhir Oktober 2013, saya beserta teman-teman kelompok MMI saya pernah berkunjung sekali ke rumah Bapak Asep (Ketua RW. 08 Pondok Cina) untuk mencaritahu lebih lanjut terkait rencana penggusuran dari PT. KAI. Bapak Asep dengan ramah mempersilahkan kami duduk di pelataran atau teras rumahnya, bahkan istri beliau dengan ramah menyuguhkan air minum dalam kemasan gelas kepada kami semua. Setelah beberapa saat Bapak Asep menyatakan keluh-kesahnya mengenai keputusan penggusuran dari PT. KAI sambil merokok, saya dan teman-teman saya pun sempat menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau terkait dengan rencana penggusuran tersebut. Berbagai usaha telah Bapak Asep lakukan untuk mencegah penggusuran oleh PT. KAI terjadi, yakni dengan mengajukan pengaduan kepada Pemerintah setempat secara prosedural yang diawali dari pihak Kelurahan, namun kabar baik belum juga sampai ke telinga beliau. Saya sempat memberi usul kepada beliau untuk langsung mengadu kepada Walikota Depok, namun Bapak Asep merasa pesimis terhadap proses birokrasi di sana yang pada akhirnya tidak akan mengubah apa-apa. Sebenarnya, Bapak Asep berharap kepada para mahasiswa UI agar mau dan dapat membantu (melakukan advokasi untuk) para warga di Pondok Cina supaya terhindar dari rencana penggusuran oleh PT. KAI tersebut, atau minimal supaya mendapat kompensasi uang dan waktu yang lebih layak lagi sebelum pindah keluar dari Pondok Cina. Sedari awal Oktober 2013 (setelah pengumuman rencana penggusuran telah dinyatakan oleh PT. KAI), Bapak Asep sudah mengingatkan para warganya untuk mulai menabung sebelum pindah dari Pondok Cina. Namun, informasi yang diberikan Bapak Asep sedikit berbeda dengan informasi dari Bapak Asan dan Bapak Mamin terkait dengan proses penggusuran tersebut.

Pada hari terakhir pengamatan saya (Sabtu, 14 Desember 2013), saya sempat berjalan menyusuri sebuah gang di antara reruntuhan rumah hasil proses penggusuran oleh PT. KAI (yakni gang di dekat Depok Town Square, di sisi sungai kecil yang airnya telah menghitam). Ketika saya melihat beberapa meter di depan gang tersebut masih terdapat rumah-rumah warga yang masih utuh tidak tersentuh penggusuran oleh PT. KAI, saya akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri sebuah tempat usaha fotokopi yang di terlihat di dalamnya terdapat 2 (dua) pria (seorang memakai kaos hitam lengan pendek dan celana jeans selutut, dan seorang lagi memakai kemeja lengan pendek berwarna putih dan celana bahan panjang) sedang duduk dan asyik bercengkerama, untuk sekedar bertanya kepada beliau berdua terkait progress proses penggusuran PT. KAI di sana. Ketika saya mulai menyapa dan memperkenalkan diri, beliau berdua masih memperlihatkan senyum dan menanyakan maksud dari kedatangan saya tersebut. Ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk sekedar bertanya tentang penggusuran oleh PT. KAI di sana, beliau berdua langsung memelototkan mata kepada saya dan untuk beberapa detik termangu diam tanpa memberikan jawaban konfirmasi apa-apa. Setelah itu, dengan hati was-was karena sebelumnya saya tidak pernah mengira akan mendapat respon yang tidak biasa terkait penggusuran oleh PT. KAI tersebut, mendengarkan salah satu pria menjawab sambil menundukkan kepala bahwa memang terdapat usaha penggusuran oleh PT. KAI. Ketika saya untuk terakhir kalinya memberanikan diri bertanya (basa-basi) tentang letak rumah Ketua RW.08, beliau pun menjawab bahwa Ketua RW.08 sudah pindah ke daerah Beji, Depok. Seketika saya pun berterimakasih dan pamit pulang kepada beliau berdua.

Entah perlu dibenarkan atau tidak, proses penggusuran oleh PT. KAI di daerah Pondok Cina ini, yang diadakan dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap para pengguna jasa kereta api dengan membangun lahan parkir stasiun yang lebih luas lagi untuk menampung kendaraan-kendaraan pribadi yang semakin lama semakin banyak jumlahnya, terutama di daerah perkotaan. Para warga di daerah Pondok Cina, terutama yang tinggal di daerah subsetting kelompok MMI saya, umumnya berpenghasilan menengah ke bawah. Sedari awal para warga tersebut tinggal di Pondok Cina (baik mengontrak maupun tinggal menetap di rumah pribadi) dan membuka usaha untuk mendapatkan penghasilan serta mengadakan interaksi dengan orang-orang di sekitar mereka, hanyalah kebahagiaan untuk hidup tenang dan damai bersama seluruh warga di sana disertai dengan harta yang sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tidaklah muluk-muluk. Keberagaman antar-suku, agama, ras, dan sebagainya di antara para warga tersebut menjadi indah dengan terjalinnya hubungan persaudaraan dan kekeluargaan mereka yang semakin lama semakin erat, sehingga saling tegur sapa serta saling tolong-menolong untuk kebaikan menjadi makanan mereka di sana setiap hari. Semoga, jalinan kasih di antara para warga tersebut dapat terus terjaga walau mereka semua telah berpindah tempat setelah penggusuran oleh PT. KAI, hingga kebaikan dan semangat persaudaraan pun dapat terus mereka sebarkan kepada orang-orang di sekitar mereka kelak di tempat tinggal baru mereka masing-masing.