Pondok Cina, sebagai salah satu kelurahan di Depok, Jawa Barat, hingga saat ini seakan tidak pernah sepi untuk dilewati serta disinggahi masyarakat yang memang sekedar melintasinya atau bahkan justru telah bermukim di sana, baik warga Kota Depok maupun masyarakat dari luar Depok. Mulai dari universitas, tempat kost-an, stasiun, toko buku Gramedia, pusat perbelanjaan Depok Town Square, serta diramaikan dengan banyaknya pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa (seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warung internet (warnet), usaha laundry, tempat fotokopian, penjual gorengan dengan gerobak, dan masih banyak lagi) sebagai unit usaha masyarakat Pondok Cina mampu terus memutar roda perekonomian di daerah tersebut. Keamanan dari banjir bandang serta kenyamanan saat hidup bersama dengan para warganya yang relatif friendly dan open, masih turut menjadi magnet bagi para kaum pendatang untuk tinggal dan berbisnis di Pondok Cina. Mengamati interaksi warga di Pondok Cina yang saya yakini beragam untuk mata kuliah Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) pun menjadi menarik bagi saya.

            Dengan kesepakatan bersama dalam kelompok, saya dan teman-teman saya memutuskan untuk mengambil sub-setting di tikungan jalan antara tempat parkir mobil di Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square. Di daerah sub-setting tersebut, terdapat sebuah warung tegal (warteg), sebuah toko mainan anak, seorang penjual makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” dengan gerobak yang settle, sebuah toko pulsa dan aksesoris handphone “Rahayu Cell”, sebuah warung nasi “Priangan”, rumah-rumah warga (yang merupakan penduduk asli) Pondok Cina, sebuah bengkel serta tempat tambal ban kecil, beberapa toko kelontong, dan sebuah toko baju.

Masih terdapat banyak pohon yang cukup rimbun di daerah sub-setting tersebut, sehingga suasana dan udara di sana tidak terlalu gersang dan panas. Jalanan yang sudah di-aspal namun belum begitu “mulus” karena masih banyak terdapat lubang, belum dapat dikatakan bersih dari sampah, terutama sampah-sampah yang telah disatukan ke dalam kantong plastik, yang dibiarkan terbengkalai begitu saja di luar rumah oleh warga setempat, karena ketiadaan tempat sampah di daerah sub-setting tersebut. Hal tersebut bahkan tidak jarang menyebabkan para warga secara swadaya membakar sampah di tikungan jalan menuju Depok Town Square bila pemulung jarang atau pun sedang tidak melewati daerah sub-setting tersebut. Ditemukan pula sampah-sampah kecil di dalam saluran parit di depan rumah para warga yang menghambat aliran airnya. Hal tersebut berafiliasi dengan keadaan sungai kecil di antara rumah-rumah warga (di sebelah kiri jalan yang menuju Depok Town Square dari Stasiun Pondok Cina) yang berisi banyak sampah menumpuk, terutama sampah plastik, sehingga warna airnya menjadi keruh.

Jalanan Pondok Cina yang terus diramaikan dengan lalu-lalang para pejalan kaki dan para pengendara motor, turut digaduhkan oleh derap langkah kereta Commuter Line, yang setiap kali ia lewat, jalanan di daerah Pondok Cina tidak terkecuali tempat saya berdiri dalam setiap “turun lapangan” pun akan bergetar di saat yang sama. Tidak sedikit motor yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina ditumpangi oleh 3 (tiga) orang sekaligus. Mungkin belum dipandang bahaya oleh sebagian masyarakat, memang, untuk mengendarai motor dengan cara yang salah seperti itu. Pelanggaran dalam berlalu-lintas di sana juga seringkali terlihat dari banyaknya pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Banyak pula motor yang berjalan di depan saya dikendarai hanya oleh 1 (satu) orang di tiap motornya, yang dapat menunjukkan kecenderungan masyarakat Indonesia secara umum pada saat ini lebih sering (dan mungkin lebih merasa nyaman) mengendarai sepeda motor daripada sepeda biasa yang jauh lebih ramah lingkungan dan menyehatkan bagi yang mengendarainya.

Sejak “turun lapangan” yang pertama, saya telah memutuskan untuk menjadikan seorang penjual makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” sebagai objek pengamatan saya. Karena selain beliau merupakan satu-satunya warga yang memang lebih sering stand by di luar rumah (tepatnya di belakang gerobaknya) daripada warga lain di daerah sub-setting tersebut yang lebih sering berada di dalam rumah mereka masing-masing, gerobak beliau pun tidak jarang terlihat dihampiri oleh banyak pembeli yang dapat meyakinkan saya bahwa Cilok yang beliau jual enak (yang dibuktikan dengan terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual Cilok tersebut sebanyak delapan (8) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan pertama saya di hari Minggu serta sebanyak 10 (sepuluh) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan keempat saya di hari Minggu, (sebenarnya) lebih banyak pembeli Cilok “Putuwijoyo 01” tersebut bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitarnya pada waktu yang sama). Setelah beberapa kali “turun lapangan” pun, saya selalu disambut oleh beliau dengan tatapan dan salam yang ramah, sehingga saya belum pernah mengalami “penolakan” secara langsung dari warga setempat yang merasa “terganggu” dengan kehadiran para mahasiswa yang sedang melakukan observasi di sana.

Setelah beberapa kali berbincang dengan penjual makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” yang diketahui bernama (Mas) Ahmad tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa pemilik dari usaha perdagangan makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” tersebut bukanlah Mas Ahmad, namun seorang pria bernama (Pak) Marsino. Pak Marsino hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari usaha makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di daerah sub-setting saya telah dijaga oleh Mas Ahmad tersebut serta cabang yang berada di belakang Depok Town Square dijaga oleh Mas Suryanto (seorang teman dari Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat).

Mas Ahmad yang lahir pada tanggal 16 Mei 1992 tersebut ternyata bukan merupakan warga Pondok Cina asli. Beliau diajak teman baiknya dari Jawa Tengah untuk bekerja menjual Cilok di Pondok Cina, Depok. Beliau tinggal dengan mengontrak rumah bersama temannya tersebut di daerah Depok I, tepatnya di Jalan Kedondong. Beliau bercerita bahwa di rumah kontrakannya tersebut sering terjadi mati lampu secara tiba-tiba, walau biasanya tidak mati terlalu lama. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah mengalami banjir, walau sering terjadi hujan deras di sana. Hobi yang beliau biasa lakukan di waktu senggangnya adalah merokok, walau tergantung pula dengan suasananya. Namun di daerah asalnya yakni Kebumen, ia ternyata senang bermain gitar, “walau gak jago-jago amat,” ungkapnya.

Saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa Mas Ahmad merupakan seorang penjual Cilok yang selalu ramah, fokus, dan ikhlas atau tulus dalam melayani para pembeli, dengan begitu cekatannya menyajikan Cilok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Cukup menarik pula bagi saya bahwa menurut beliau, pada umumnya, bapak-bapaklah yang lebih sering membeli Cilok darinya daripada ibu-ibu maupun anak-anak.

Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik. Beliau bercerita bahwa walau pun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga) kali, tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi penyebab dari pertengkaran-pertengkaran tersebut. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah melihat atau pun mengalami tindakan premanisme.

Setelah beberapa kali “turun lapangan” ke daerah Pondok Cina, saya pun sempat berbincang dan memperoleh sekelumit informasi mengenai kehidupan Pak Marsino. Pak Marsino yang telah beberapa kali saya pergoki secara langsung terlihat sedang merokok dengan nikmatnya bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, pernah terjadi penggusuran di daerah Pondok Cina oleh pihak Pemerintah yang menyebabkan Pak Marsino sempat berhenti berjualan untuk sementara waktu. Setelah beliau menemukan resep membuat Cilok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan Cilok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Pak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan Cilok khas-nya tersebut yang diberi nama (atau merek) “Cinlok”, karena umumnya “Cinlok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan Cilok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada Cilok khas-nya itu. Setelah dipercaya oleh banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil (berupa gerobak yang settle) dengan merek Cilok dagangannya “Cinlok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”.

Hingga saat ini, Pak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang biasa dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang biasa dijaga oleh Mas Ahmad), dan di daerah Kukusan (Beji, Depok). Pak Marsino pun pernah mengaku bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Mas Suryanto sempat mengatakan bahwa setiap hari Cilok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari.

Pak Marsino sempat bercerita pula bahwa perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah adalah begitu sedikitnya lapangan (kesempatan) kerja yang terdapat di domisilinya yang merupakan daerah pedesaan tersebut, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah daerah perkotaan. Selain itu, beliau pun berpendapat bahwa cuaca di Depok lebih panas daripada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di daerah domisili beliau, tiada warga yang mengemis, yang kontradiktif dengan keadaan di Depok (khususnya di Pondok Cina) yang setiap hari disinggahi banyak pengemis. Cukup menarik namun ironis, bahwa terdapat seorang pengemis yang setiap hari diberi uang oleh Pak Marsino (dengan nominal yang tidak banyak) karena bila tidak diberi uang maka pengemis tersebut marah.

Mengenai pengalaman menarik beliau (selama di Depok) yang tidak terlupakan, Pak Marsino menjelaskan bahwa kaki beliau pernah tersiram air panas ketika ia sedang menyiapkan bakso untuk dijual sejak dini hari, yang menyebabkan beliau sempat dibawa ke rumah sakit dan masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga setelah itu beliau memutuskan untuk pulang sejenak ke Jawa Tengah untuk beberapa hari. Di setiap perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di daerah domisili beliau, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga di daerah tersebut, termasuk oleh beliau. Berbeda dengan suasana “17 Agustus” di Depok yang menurut beliau kurang ramai, dan beliau sendiri tidak turut serta dalam perayaan tersebut di Depok. Menariknya, beliau mengaku bahwa dahulu (ketika masih muda) di daerah domisilinya ia pernah menjadi ketua Karang Taruna. Ternyata, Pak Marsino telah memiliki akun Facebook dan Twitter yang seringkali di-update oleh beliau, sekedar untuk mengisi waktu senggangnya. Beliau pun mengaku sering mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk belanja kebutuhan sehari-hari setiap bulannya serta mengetahui harga-harga gadget terkini melalui teman-temannya yang memiliki counter di Depok Town Square. Plaza Depok dan Depok Mall juga pernah dikunjungi beliau dulu.

Setelah pertanyaan-pertanyaan terkait pengalaman hidup dari Mas Ahmad dan Pak Marsino selama di Jawa Tengah dan di Depok saya ajukan kepada beliau semua ketika beberapa kali “turun lapangan”, saya mendapat insight tersendiri bahwa memang tidak sedikit perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang secara kasat mata memiliki kegiatan serta profesi yang sama. Dan dari perbedaan-perbedaan tersebut, setiap orang yang memilikinya akan mampu mendapatkan pengalaman menarik sekaligus berharga sebagai “guru terbaik” yang bisa mempengaruhi kehidupan serta prinsip yang dianut oleh orang tersebut di masa yang akan datang, terlepas dari kebiasaan dari orang tersebut unik atau pun tidak, dan mainstream atau pun antimainstream di masyarakat. Bahkan bila kita sebagai sesama manusia mau saling menghargai serta memanfaatkannya, perbedaan dari setiap orang dapat kita jadikan sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran dan refleksi untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Hasil pengamatan saya selain terhadap 2 (dua) objek pengamatan saya (yakni Mas Ahmad dan Pak Marsino) tersebut di daerah sub-setting saya, yaitu mengenai seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 tahun yang pernah terlihat merokok dengan santainya bersama sang ibu di balik lemari kaca di toko “Rahayu Cell”. Begitu pula dengan Mas Ahmad yang sering terlihat merokok ketika tidak ada pembeli yang menghampirinya. Hati saya ciut dan sedih, setelah untuk kesekian kalinya saya melihat langsung banyak dari generasi muda bangsa ini yang merokok dengan menikmati kehangatannya disertai wajah yang ceria tanpa khawatir sedikitpun akan sejuta bahaya dari sepuntung rokok.

Pernah pula dalam pengamatan saya muncul seorang ibu (berusia kurang-lebih 42 tahun) dari dalam warteg yang membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring. Ternyata, beliau ingin mencuci piring di luar warteg, dengan cara yang menurut saya kurang higienis. Setelah itu, wanita yang saya yakini merupakan ibu dari anak kecil yang merokok di toko “Rahayu Cell” tersebut terlihat pergi ke warteg lalu kembali ke toko “Rahayu Cell” dengan membawa dua (2) gelas air minum dalam kemasan merek Aqua. Tak lama kemudian, Mas Ahmad pun pergi ke warteg tersebut lalu kembali ke gerobaknya dengan membawa segelas kopi panas.

Pada suatu hari (ketika saya “turun lapangan”), dari dalam gang sempit antara toko mainan anak dan toko “Rahayu Cell”, muncul seorang bapak yang kurang-lebih berusia 50 tahun. Sekilas saya persepsikan, bahwa alis matanya yang berkerut mengandung arti dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Ia sempat berbincang dengan wanita yang rambutnya berkuncir kuda (ibu dari anak kecil yang merokok tersebut) yang sedang berada di dalam toko “Rahayu Cell”, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar percakapan mereka karena keriuhan suasana di Pondok Cina. Bapak tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by lima (5) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada wanita di toko “Rahayu Cell” tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Bapak tersebut menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Bapak tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ayah dan anak tersebut pun berterimakasih kepada Bapak itu atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara.

Saya pernah “turun lapangan” bersama dengan teman-teman di satu waktu, sebanyak 2 (dua) kali, yang selalu pada sore hari. Saya diajak teman-teman untuk berkunjung ke rumah salah satu warga asli Pondok Cina di daerah sub-setting kami yang begitu ramah dan terbuka, yaitu Pak Hasan. Tidak mengherankan, memang, ketika kami tiba di depan rumah Pak Hasan, beliau langsung menyunggingkan senyum secara tulus untuk menyambut kami. Beliau memiliki toko kelontong di depan rumahnya yang menjual beragam makanan dan minuman ringan plus gorengan. Dalam kunjungan pertama kami ke rumah beliau, setelah teman saya memperkenalkan kami sebagai mahasiswa yang ingin berbincang sejenak dengan beliau untuk mengetahui interaksi warga Pondok Cina, beliau tanpa ragu bercerita panjang-lebar kepada kami mengenai pengalaman hidupnya selama tinggal di Pondok Cina.

Ayah dari Pak Hasan yang terkena penyakit stroke sering terlihat duduk sendiri dengan mengenakan sarung dan kaos singlet di depan rumah beliau setiap sore. Begitu mengharukan bagi saya ketika Ayah dari Pak Hasan tersebut pernah mencoba berkomunikasi dengan saya dan teman-teman secara terbata-bata untuk bertanya apakah kami mahasiswa dari Kampus Universitas Indonesia (UI), kemudian beliau dengan perlahan menarik kursi plastik yang sebelumnya ia duduki untuk diberikan kepada kami (mempersilahkan kami duduk). Istri dari Pak Hasan pun begitu murah senyum (yakni selalu senyum dengan tulus tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu siapa lawan bicaranya, bahkan ketika ia tidak sedang berbincang dengan orang lain). Saat saya memperhatikan ketika Pak Hasan berbincang atau berdiskusi dengan sang istri, beliau berdua terlihat begitu akrab dan saling mendukung keputusan satu sama lain.

Cerita mengenai pengalaman hidup Pak Hasan yang selalu terlihat memakai kupluk tersebut beranekaragam dan “mengalir jauh”, mulai dari sejarah kedua orangtua dan keluarganya yang menguasai seni bela diri tradisional Betawi, pengaruh dari Pemerintah terhadap seni bela diri tradisional dan perkembangannya kini, contoh-contoh perbedaan dari keindahan tiap seni bela diri tradisional antar-daerah di Indonesia serta perbedaan antara seni tradisional dan seni modern saat ini. Saya pun berpendapat bahwa Pak Hasan menerangkan secara komprehensif mengenai seni tradisional Indonesia di tiap kunjungan kami ke rumah beliau, terutama mengenai seni bela diri tradisional, dengan tujuan dan harapan secara implisit agar para mahasiswa masa kini mau turut serta dalam usaha pelestarian seni tradisional Indonesia yang terlalu berharga untuk ditelan zaman dengan menyadari keindahan dari tiap seni tradisional yang memiliki kekhasan tersendiri di tiap daerah di Nusantara.

Menariknya, Pak Hasan sempat bercerita bahwa belum lama ini (yakni sekitar 2 (dua) minggu yang lalu) para warga RW. 08 Pondok Cina melakukan perjalanan rekreasi bersama-sama dengan biaya bersih yang diambil dari kas RW (jadi, warga tidak dipungut biaya lagi) ke Pemandian Air Panas Ciater, Jawa Barat dalam rangka mempererat tali silaturahim dan kekeluargaan dari seluruh warga, walau terdapat sebagian warga yang tidak ikut berekreasi karena memang tidak diwajibkan. Beliau pun menceritakan pengalaman warga RW. 08 yang juga pernah mengunjungi Masjid Kubah Emas di Cinere, Depok bersama-sama. Waktu yang diperlukan untuk berbincang dengan Pak Hasan memang seakan tidak pernah cukup bagi kami J.

Setelah melakukan pengamatan sebanyak 4 (empat) kali dalam rentang waktu sejak minggu pertama September hingga minggu pertama Oktober, pada hari Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 08.15 WIB, saya melakukan pengamatan sekali lagi (sebelum Ujian Tengah Semester (UTS)) dengan berjalan kaki mengamati suasana keramaian Pondok Cina dari belakang Depok Town Square hingga depan gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok, sembari berbincang dengan beberapa warga namun tidak dengan para objek pengamatan saya sebelumnya (yaitu Mas Ahmad dan Pak Marsino).

Dari perbincangan dengan beberapa warga namun tidak dengan para objek pengamatan saya sebelumnya tersebut, saya memperoleh informasi bahwa ternyata di sebagian besar wilayah RW. 08 daerah Pondok Cina (yaitu di sekitar depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok, yang banyak berdiri pertokoan aksesoris dan jasa service komputer, hingga masuk ke dalam sebuah gang kecil di sebelah kiri) memang sudah banyak dijadikan tempat tinggal oleh para kaum pendatang yang bukan merupakan penduduk asli Pondok Cina, sehingga keakraban kurang terlihat dari interaksi antar-warga di wilayah RW. 08 tersebut (relatif terhadap interaksi antar-warga di wilayah sub-setting saya), walau pun pertemuan antar-warga seperti rapat RT, rapat RW, arisan, serta acara perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus masih terus diadakan dan dihadiri oleh para warga.

Keadaan (relasi) antar-warga di wilayah gang kecil yang dihuni oleh para kaum pendatang tersebut cukup berbeda dengan keadaan (relasi) antar-warga di daerah sub-setting saya yang memang dihuni oleh para penduduk asli Pondok Cina, walaupun masih dalam wilayah Rukun Warga (RW) yang sama dengan daerah di sekitar depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok tersebut. Perbedaan tersebut juga terlihat dari model rumah yang besar dan berpagar rapat di dalam gang kecil tersebut dengan rumah yang lebih kecil (seperti rumah di Perumnas pada umumnya) dan pelatarannya sering dijadikan tempat bersosialisasi oleh para warga di daerah sub-setting saya.

Khusus di dalam gang kecil cabang dari Gang Pondok Cina tersebut, ternyata di sisi kanan-kiri jalan di sepanjang gang kecil itu terdapat rumah-rumah warga yang beberapa di antaranya merupakan rumah kost. Menarik ketika saya mendapati banyak dari rumah-rumah warga tersebut diberi pagar, yang menurut saya mampu mengurangi intensitas interaksi antar-warga di gang kecil itu. Tidak sedikit dari rumah-rumah tersebut terlihat sepi dan bahkan kosong karena tidak ada penghuninya yang (pada saat saya “turun lapangan”) sedang beraktivitas di halaman rumah dan bahkan pagarnya tertutup rapat. Menurut seorang bapak pemilik salah satu toko kelontong di dalam gang kecil tersebut, yang sudah tinggal di sana kurang-lebih selama 2 (dua) tahun, daerah sepanjang gang kecil tersebut memang terbilang sering sepi karena lebih banyak rumah yang menyediakan tempat kost untuk perempuan sehingga sering terlihat tertutup karena lebih “protektif” daripada tempat kost untuk laki-laki.

Dari penuturan seorang ibu pemilik salah satu restoran kecil di dalam gang kecil tersebut, yang baru saja tinggal di sana kurang-lebih selama 2 (dua) minggu, diketahui bahwa warga di sana umumnya baik dan ramah ketika bertemu dan bertegur sapa dengannya di luar rumah. Walau pun memang intensitas untuk berinteraksi lebih dekat serta menjalin relasi dengan lebih akrab lagi belum sempat beliau lakukan bersama para warga di sana, mengingat bahwa beliau pindah ke daerah Pondok Cina ini memiliki tujuan utama untuk mencari penghasilan dengan berdagang makanan dan minuman melalui restoran kecilnya tersebut.

Terdapat pula pengalaman singkat yang telah diceritakan oleh beberapa teman saya, bahwa kedatangan teman-teman saya ke Pondok Cina ketika “turun lapangan” tersebut sempat langsung “ditolak” seorang ibu penjual kopi di warteg tersebut, sebelum mereka sempat berkata apa-apa, dengan alasan bahwa beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Ada pula teman saya yang mengaku memiliki pemikiran (yang cukup subjektif menurut saya, karena saya tidak mengalaminya secara langsung) bahwa para warga yang berada di sub-setting kami akhir-akhir ini menunjukkan sikap dan pandangan tidak ramah kepada kami bahkan lebih menutup diri daripada dalam pengamatan-pengamatan kami sebelumnya.

Sedih saya mendengar cerita dari pengalaman tersebut, karena sesungguhnya saya bersama teman-teman tidak ingin para warga Pondok Cina memiliki persepsi awal yang negatif terhadap mahasiswa, walau mungkin memang para warga masih merasa insecure terhadap kehadiran “orang baru” yang tiba-tiba datang ke lingkungan mereka secara intens. Ternyata, usaha pendekatan yang telah saya dan teman-teman lakukan selama ini kepada beberapa warga Pondok Cina di sub-setting kami tidak semudah yang awalnya pernah kami yakini.

Sejak pertama kali kelas MMI “turun lapangan” ke sub-setting masing-masing kelompok, saya telah memperhatikan seorang bapak yang tinggal di sebelah kanan dari sebuah bengkel serta tempat tambal ban kecil di daerah sub-setting saya. Bapak tersebut tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang begitu tajam dan penuh kecurigaan kepada kami (saya dan teman-teman) setiap kali kami melewati rumahnya, hingga saya pribadi sempat merasa paranoid dan memperkirakan bahwa bapak tersebut mengalami gangguan jiwa. Ingin sekali rasanya saya berkunjung ke rumah bapak tersebut untuk berkenalan dan meluruskan persepsinya dengan memperlihatkan kenyataan bahwa sebenarnya para mahasiswa yang sejak awal September sering terlihat mondar-mandir ngobrol dengan para warga di Pondok Cina itu tidak pernah memiliki sedikitpun maksud ataupun motif buruk terhadap para warga di Pondok Cina, walau sebenarnya kami (para mahasiswa) juga belum dapat memberikan kebermanfaatan yang secara nyata dapat dirasakan para warga di Pondok Cina melalui kegiatan pengamatan tersebut. Namun hingga saat ini, entah mengapa saya belum berani berkunjung dan berbincang dengan bapak tersebut. Seorang teman saya memberi saran untuk tidak terlihat membawa buku ketika “turun lapangan” agar dapat terlihat lebih membaur dengan para warga setempat secara natural dan membumi, karena para warga tersebut masih cukup sensitif dengan kegiatan pengamatan mahasiswa terhadap mereka.

Saya sempat merenungi kegiatan pengamatan yang telah saya lakukan di Pondok Cina beberapa kali, dengan mencoba memahami keadaan ketika saya yang menjadi warga Pondok Cina dan terdapat sekelompok mahasiswa yang menjadikan saya objek pengamatan, untuk tujuan apapun. Saya pribadi sebenarnya tidak begitu takut dan menutup diri ketika bertemu dengan orang asing yang di kemudian hari justru bercengkerama dengan saya secara intens. Namun, keadaan psikologis serta historis yang berbeda antara kami (para mahasiswa) dan para warga yang mayoritas dari mereka masih termasuk dalam golongan ekonomi “menengah ke bawah” di Pondok Cina tersebut menyebabkan fleksibilitas penerimaan terhadap orang asing dalam kehidupan mereka masih cukup rendah. Comfort zone dari masing-masing warga tersebut pun begitu “dilindungi” oleh mereka dari segala bentuk threat atau ancaman dari luar dengan cara bersikap apatis terhadap keberadaan dan keadaan orang lain yang masih dianggap “asing” oleh mereka.