Guyuran hujan di sore hari kala itu, Rabu, 13 November 2013 pukul 14.00 WIB, tidak sedingin hawa kekhawatiran yang menusuk kalbu sebagian besar warga Pondok Cina di daerah subsetting saya. Bukan saja kekhawatiran akan rezeki yang setiap hari dicari oleh para warga melalui berbagai usaha mereka masing-masing, namun lebih pada kekhawatiran akan gertakan PT. KAI (PT. Kereta Api Indonesia) agar para warga di daerah subsetting saya (gang di sebelah timur – belakang Stasiun Pondok Cina; antara lahan parkir mobil di Stasiun Pondok Cina hingga Depok Town Square) segera pindah dari Pondok Cina paling lambat minggu ketiga Desember 2013, dengan dijanjikannya pemberian uang kompensasi sebesar Rp. 250,000 per m2 luas tanah dan bangunan setiap rumah warga.

Daerah subsetting saya semakin hari semakin sepi, baik sepi akan para pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor yang melewati jalanan di daerah tersebut maupun sepi akan para warga yang tinggal atau menghuni rumah di daerah tersebut, yang salah satunya disebabkan oleh banyaknya warga yang telah pindah dari Pondok Cina, tidak terkecuali rumah Ketua RW. 08 yang sudah tidak berpenghuni. Bahkan, rumah-rumah di samping Depok Town Square sedikit-demi-sedikit sudah mulai dihancur-leburkan oleh pihak PT. KAI.

Sempat terlihat oleh saya seorang pria paruh baya yang menggunakan topi dengan kaos lengan panjang dan celana panjang memulung atau memungut puing-puing bangunan yang masih tersisa dan masih bisa beliau manfaatkan dari reruntuhan hasil penghancuran tersebut, bahkan hingga turun ke dalam sungai kecil yang begitu hitam warna airnya (karena terdapat banyak sampah di dalamnya) di antara rumah-rumah tersebut. Beliau menggunakan gerobak berwarna putih untuk mengangkut puing-puing

Sempat pula terlihat oleh saya beberapa pria menghancurkan bagian-bagian bangunan yang masih tersisa secara manual (menggunakan semacam benda tumpul di tangan). Dengan rasa penasaran yang menjalar di hati, saya pun memberanikan diri bertanya kepada salah seorang pemuda di sana, “Wah, Mas, kenapa ini semua dihancurkan, ya? Ada penggusuran ya, Mas?” Lalu dengan sigap beliau “melempar” pertanyaan saya tersebut dengan berkata, “Wah, saya gak tau, Mbak. Coba tanya ke Mas ini saja yang lebih berwenang.” Ketika saya membalikkan badan saya untuk melihat orang yang telah ditunjuk oleh pemuda tersebut, seorang pria berambut cepak yang mengenakan kaos berwarna jingga (orange) bertuliskan PT. KAI di samping kiri dadanya dan celana selutut menghampiri saya dengan wajah tanpa senyuman. Setelah pria tersebut bertanya dengan tegas kepada saya, “Ada apa ya, Mbak?” Saya pun menjawab, “Gak, Pak, saya sudah lama gak lewat sini terus belum tahu kalau ada penggusuran. Penggusurannya dari PT. KAI ya, Pak?” Lalu, beliau segera menjawab, “Gak tahu saya, Mbak.” Merasa tiada lagi celah terbuka untuk mengetahui lebih dalam seluk-beluk mengenai penggusuran rumah-rumah para warga di daerah subsetting saya, saya pun segera mengucapkan terimakasih kepada pria tersebut kemudian beranjak pergi.

Sebelumnya, saya sempat mampir ke sebuah toko pernak-pernik di samping Rahayu Cell milik kakak dari Ibu Nunuk. Saya melihat barang-barang yang dipajang di sana, seperti gelang, kertas kado, kartu ucapan, boneka, lampu meja, celengan, dan sebagainya. Saya membeli 3 (tiga) buah gelang yang di-bundling seharga Rp. 10,000 untuk saya dan 2 (dua) teman saya pakai nantinya. Ketika saya mencoba memakai salah satu gelang tersebut, simpul talinya tidak sengaja lepas sehingga gelang tersebut pun tidak bisa dipakai lagi. Melihat kejadian tersebut, seorang wanita berkaos abu-abu dan (rambutnya) berkuncir kuda yang sedang menjaga toko tersebut pun dengan senang hati menukarnya dengan gelang baru yang belum rusak atau masih dalam keadaan baik, tanpa perlu saya membayar lagi. Wanita tersebut cukup ramah kepada saya. Namun, terdapat hal yang menyayat hati saya ketika itu, bahwa sedari saya datang mengunjungi toko tersebut, anak perempuan cantik sedang bermain hujan di depan toko menggunakan payung. Anak tersebut berumur sekitar 6 (enam) tahun. Ketika saya menyapa anak tersebut dan menanyakan namanya, ia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama saya melihat barang-barang yang dipajang di sana, wanita yang sedang menjaga toko tersebut sempat terlihat mencari sesuatu di atas meja display di depan tokok lalu berkata kepada anaknya dengan nada tinggi, “Eh, obat gw mana? Lo ilangin lagi, ya, obat gw? Dasar anak monyet emang, lu.” Padahal saya lihat, anak tersebut tidak mengerti perkataan wanita tersebut dan hanya diam termangu melihat wanita tersebut berteriak kepadanya. Ketika wanita tersebut menghampirinya, anak tersebut lari membawa payungnya ke arah Depok Town Square.

Setelah saya keluar dari toko pernak-pernik tersebut, saya disapa oleh Pak Marsino, pemilik usaha CiLok “Putuwijoyo 01” di Pondok Cina, yang sedang membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya yang beliau beli di warung kopi di seberang toko pernak-pernik tersebut. Pak Marsino yang sedang menggunakan seragam kerjanya (bertuliskan “Putuwijoyo 01” di belakang punggungnya) lengkap dengan topi dan senyum khasnya menyapa saya dengan berkata, “Masih ingat, Mbak, dengan saya?” Saya pun menjawab, “Wah, Pak, masih, dong. Hehe. Kok Bapak jaga di (toko) sini, ya? Mas Ahmad ke mana, ya?” Lalu Pak Marsino yang terlihat sambil menggunakan handphonenya untuk mengetik sesuatu pun berkata, “Iya, Mas Ahmad lagi pulang kampung. Kangen keluarga, katanya. Udah sekitar 3 (tiga) bulanan Dia di sini.” Pak Marsino pun cerita bahwa setelah penggusuran oleh PT. KAI beliau tetap berjualan CiLok di Pondok Cina tersebut, dengan memindahkan gerobaknya ke halte di sisi samping rel kereta api (di belakang Depok Town Square).

Hari Senin, 18 November 2013, saya kembali menyusuri jalan di Pondok Cina pada pukul 09.30 WIB. Pagi yang cerah nan terik akan sinar sang surya kala itu, menemani saya dan orang-orang yang berlalu-lalang di daerah Pondok Cina tersebut. Cukup terkejut saya ketika di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina, Pak Asan (pemilik warung kelontong di daerah subsetting saya) menyapa saya, “Wah, Mbak, masih pengamatan ke sini, ya?” Lalu saya menjawab, “Haha iya nih, Pak.” Pak Asan kemudian bercerita bahwa sudah banyak rumah di dekat Depok Town Square yang ditinggalkan penghuninya lalu dihancurkan oleh pihak PT. KAI. Pak Asan sendiri berencana untuk langsung pindah bersama keluarganya ke daerah Kukusan-Teknik setelah melangsungkan pernikahan adiknya pada tanggal 1 Desember 2013 di depan rumah Pak Asan di Pondok Cina. Pak Asan mengundang saya dan teman-teman saya (yang memang selama pengamatan MMI (Manusia dan Masyarakat Indonesia) sering mengunjungi rumah Pak Asan untuk mewawancara beliau) untuk datang ke acara pernikahan adiknya tersebut. Saya menyanggupinya dengan syarat tidak diharuskan “menyumbang lagu” dangdut. Tidak hanya itu, Pak Asan pun mempersilahkan saya dan teman-teman saya untuk kelak berkunjung ke rumahnya di daerah Kukusan-Teknik serta memberikan nomor handphonenya kepada saya.

Pak Asan juga bercerita kepada saya bahwa beliau berencana kerja menjadi guru silat seperti yang pernah beliau lakukan beberapa tahun yang lalu ataupun satpam. Beliau ckup khawatir bahwa bila beliau menjadi guru silat kembali, beliau belum bisa mengatur waktu. Karena biasanya akan ada murid yang meminta beliau mengajar secara privat. Beliau bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, namun juga untuk turut melestarikan budaya Indonesia, terutama budaya silat Betawi. Beliau sempat menawarkan saya untuk belajar silat dengan beliau, namun saya menolaknya karena saya tidak ingin belajar silat.

Pak Asan pun bercerita bahwa sebagian dari uang kompensasi yang dijanjikan oleh PT. KAI kepada para warga Pondok Cina yang digusur telah diberikan, dan sebagian lainnya akan diberikan di akhir November 2013 nanti. Pak Asan sempat menyayangkan Ketua RW. 08 yang sudah pindah terlebih dahulu, karena dianggap Ketua RW. 08 tersebut tidak berhasil mengadvokasi aspirasi para warga yang tidak ingin digusur PT. KAI.

Ketika itu, Pak Asan dengan motornya yang dimodifikasi untuk dapat mendistribusikan barang-barang dagangannya sebenarnya sedang mengantar pesanan minuman-minuman ringan (dalam satuan dus) dan LPG ke warung-warung di daerah Pondok Cina yang telah menjadi pelanggan tetapnya, seperti yang beliau lakukan setiap hari. Dulu beliau pernah mendistribusikan barang-barang dagangannya ke kantin-kantin di UI (Universitas Indonesia), namun hal tersebut tidak dilakukannya lagi karena beliau tidak ingin merasakan macet di UI (Universitas Indonesia).

Setelah kami mengakhiri pembicaraan, saya kembali berjalan menelurusi jalanan di daerah Pondok Cina. Terdapat 2 (dua) orang pemulung sampah kala itu yang sedang duduk di pinggir jalan dengan karung sampah berada di samping tubuh mereka masing-masigng. Salah seorang dari mereka yang mengenakan topi dan baju atasan hitam, merokok di bawah pohon rindang. Salah seorang lainnya yang mengenakan topi dan baju atasan putih, terlihat duduk di seberang pria yang mengenakan topi dan baju atasan hitam tersebut. Pria yang mengenakan topi dan baju atasan putih tersebut terlihat diam membisu dengan pandangan kosong ke arah jalanan di depannya.

Ketika tiba di daerah subsetting saya, saya memutuskan untuk duduk di seberang warung nasi Priangan untuk mengamati sekeliling saya. Ternyata belum ada warga di daerah subsetting saya tersebut yang pindah rumah. Kemudian, terdapat seorang pria yang menggunakan topi dan kaos berwarna coklat muda sedang berjalan dengan mendorong troli kecil (yang biasa digunakan untuk memindahkan LPG) melewati saya menuju ke warung kopi teresebut. Saat saya tersenyum kepada pria tersebut, beliau pun membalasnya dengan tersenyum ramah kepada saya dan berkata, “Ngapain, Mbak?” Saya pun menjawab sekedarnya, “Hanya duduk-duduk di sini, Pak, berteduh sebentar (di bawah pohon rindang). Hehe.” Terlihat pula wanita pemilik warung kopi di seberang toko pernak-pernik sedang melayani seorang pembeli. Toko pernak-pernik itu sendiri terlihat tidak ada orang yang menjaganya. Namun, berdasarkan pengalaman saya, seorang wanita yang biasa menjaga toko pernak-pernik tersebut berada di balik lemari kaca di bagian belakang toko, dan baru muncul ketika ada pembeli yang memasuki tokonya tersebut. Sayangnya, tiada satu pun orang yang menjaga toko Rahayu Cell dan gerobak CiLok “Putuwijoyo 01” ketika saya melakukan pengamatan tersebut. Beberapa menit kemudian, terdapat seorang wanita berkemeja biru yang juga mengenakan celana jeans panjang dan topi bersama seorang anak laki-laki yang mengenakan kaos dan celana untuk bermain sepakbola, mengamen melewati daerah subsetting saya dari arah Stasiun Pondok Cina, dengan pembagian tugas wanita tersebut membawa alat pemutar lagu serta anak laki-laki tersebut membawa sebuah kantong bekas bungkus permen untuk meminta uang kepada setiap orang yang dilewati mereka. Ketika melewati warung kopi, toko pernak-pernik, serta toko Rahayu Cell, kedua pengamen tersebut mendapatkan hasil mengamen (berupa uang) yang nihil. Namun sang anak laki-laki berhasil mendapat uang ketika meminta kepada para pengunjung warung nasi Priangan. Tertangkap mata oleh saya kala itu seorang wanita pemilik warung nasi Priangan sedang melayani banyak pembeli, baik para pembeli yang makan langsung di warung tersebut maupun yang membawa makanannnya setelah dibungkus. Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pria penjual kerupuk keliling menghampiri wanita pemilik warung nasi Priangan kamudian mengambil tempat kerupuk yang ada di meja-meja warung nasi Priangan untuk diisi kerupuk. Di bengkel (tambal ban dan tiup angin) kecil di samping kanan warung nasi Priangan, terlihat begitu sepi dari luar. Padahal dalam pengamatan-pengamatan yang telah saya lakukan sebelumnya, teras rumah di belakang bengkel tersebut sering terlihat ramai oleh para wanita beserta anak-anak mereka yang sedang mengobrol dan bermain bersama.

Lara yang menusuk kalbu beberapa warga Pondok Cina sehubungan dengan penggusuran yang dilakukan oleh PT. KAI, ternyata tidak (terlihat) dirasakan oleh para warga yang menghuni warung kopi, toko pernak-pernik, hingga rumah Pak Asan tersebut. Harapan terus saya gaungkan agar seluruh warga Pondok Cina yang pindah rumah kelak akan mendapat penghidupan yang lebih baik lagi bersama keluarga mereka masing-masing di tempat tinggal barunya.