Category: Materi Pelajaran


Faedah Surat Al Mulk, Hikmah Allah Menciptakan Bintang di Langit


Artikel kali ini adalah lanjutan dari pembahasan kami dalam faedah tafsir surat Al Mulk. Namun pembahasan ini akan melebar sampai pembahasan ramalan bintang dan zodiak dalam ilmu astrologi. Semoga bermanfaat.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (5)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 3-5)

Apakah Langit Ada yang Cacat?

Dalam ayat ini, Allah menciptakan langit berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat. Kemudian Allah tanyakan, apakah ada sesuatu yang cacat atau retak di langit tersebut?  Jawabannya tentu saja tidak. Kemudian Allah memerintah melihatnya berulang lagi (bahkan berulang kali), apakah ada yang cacat di langit itu? Hasilnya, jika dilihat berulang kali tidak ada cacat sama sekali pada ciptaan Allah tersebut. Namun yang didapat adalah rasa payah karena berulangkalinya menelusuri langit itu.

Syaikh As Sa’di mengatakan bahwa jika sama sekali di langit tersebut tidak ada cacat, maka ini menunjukkan sempurnanya hasil ciptaan Allah. Ciptaan Allah tersebut begitu seimbang dilihat dari berbagai sisi, yaitu dari warna, hakikatnya, dan ketinggiannya. Begitu pula pada ciptaan Allah lainnya seperti matahari, rembulan dan bintang yang bersinar.[1]

Keindahan Langit Ciptaan Allah

Dalam ayat selanjutnya, Allah menjelaskan kebagusan langit ciptaan-Nya. Langit tersebut menjadi indah dan menawan karena dihiasi dengan bintang-bintang. Bintang dalam ayat di atas disebutkan berfungsi untuk melempar setan dan sebagai penghias langit. Namun sebenaranya fungsi bintang masih ada satu lagi. Bintang secara keseluruhan memiliki tiga fungsi.

Fungsi Bintang di Langit

Fungsi pertama: Untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al Mulk,

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

DanKami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 5)

Setan mencuri berita langit dari para malaikat langit. Lalu ia akan meneruskannya pada tukang ramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut. Apalagi ketika diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, langit terus dilindungi dengan percikan api.  Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا, وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al Jin: 9-10). Berita langit yang setan tersebut curi sangat sedikit sekali.[2]

Fungsi kedua: Sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut.

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 16). Allah menjadikan bagi para musafir tanda-tanda yang mereka dapat gunakan sebagai petunjuk di bumi dan sebagai tanda-tanda di langit.[3]

Fungsi ketiga: Sebagai penerang dan penghias langit dunia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.”(QS. Al Mulk: 5)

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.” (QS. Ash Shofaat: 6)

Mengenai surat Al Mulk ayat 5, ulama pakar tafsir –Qotadah As Sadusiy- mengatakan,

إن الله جلّ ثناؤه إنما خلق هذه النجوم لثلاث خصال: خلقها زينة للسماء الدنيا، ورجومًا للشياطين، وعلامات يهتدي بها ؛ فمن يتأوّل منها غير ذلك، فقد قال برأيه، وأخطأ حظه، وأضاع نصيبه، وتكلَّف ما لا علم له به.

Sesungguhnya Allah hanyalah menciptakan bintang untuk tiga tujuan:  [1] sebagai hiasan langit dunia, [2] sebagai pelempar setan, dan [3] sebagai penunjuk arah. Barangsiapa yang meyakini fungsi bintang selain itu, maka ia berarti telah berkata-kata dengan pikirannya semata,  ia telah mendapatkan nasib buruk, menyia-nyiakan agamanya (berkonsekuensi dikafirkan) dan telah menyusah-nyusahkan berbicara yang ia tidak memiliki ilmu sama sekali.[4] Dari sini Qotadah melarang mempelajari kedudukan bintang, begitu pula Sufyan bin ‘Uyainah tidak memberi keringanan dalam masalah ini.[5]

Mempelajari Posisi Benda Langit

Ada dua ilmu yang mempelajari posisi benda langit yaitu ilmu astronomi (ilmu tas-yir) dan ilmu astrologi (ilmu ta’tsir).

Pertama: Ilmu astronomi (ilmu tas-yir)

Astronomi, yang secara etimologi berarti “ilmu bintang” adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.

Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmusemu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak.[6]

Kedua: Ilmu astrologi (ilmu ta’tsir)

Astrologi adalah ilmu yang menghubungkan antara gerakan benda-benda tata surya (planet, bulan dan matahari) dengan nasib manusia. Karena semua planet, matahari dan bulan beredar di sepanjang lingkaran ekliptik, otomatis mereka semua juga beredar di antara zodiak. Ramalan astrologi didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak.

Seseorang akan menyandang tanda zodiaknya berdasarkan kedudukan matahari di dalam zodiak pada tanggal kelahirannya. Misalnya, orang yang lahir awal desember akan berzodiak Sagitarius, karena pada tanggal tersebut Matahari berada di wilayah rasi bintang Sagitarius. Kedudukan Matahari sendiri dibedakan antara waktu tropikal dan waktu sideral yang menyebabkan terdapat dua macam zodiak, yaitu zodiak tropikal dan zodiak sideral. Sebagian besar astrologer Barat menggunakan zodiak tropikal.

Di bola langit terdapat garis khayal yang disebut dengan lingkaran ekliptika. Jika diamati dari bumi, semua benda tatasurya (planet, Bulan dan Matahari) beredar di langit mengelilingi lingkaran ekliptika. Keistimewaan dari keduabelas zodiak dibanding rasi bintang lainnya adalah semuanya berada di wilayah langit yang memotong lingkaran ekliptika. Jadi dapat disimpulkan zodiak adalah semua rasi bintang yang berada disepanjang lingkaran ekliptika. Rasi-rasi bintang tersebut adalah:

  1. Capricornus: Kambing laut
  2. Aquarius: Pembawa Air
  3. Pisces: Ikan
  4. Aries: Domba
  5. Taurus: Kerbau
  6. Gemini: Si Kembar
  7. Cancer: Kepiting
  8. Leo: Singa
  9. Virgo: Gadis Perawan
  10. Libra: Timbangan
  11. Scorpius: Kalajengking
  12. Sagitarius : Si Pemanah[7]

Hukum Mempelajari Ilmu Astronomi dan Ilmu Astrologi

Para ulama dalam menilai ilmu yang mempelajari kedudukan bintang ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Terlarang mempelajari posisi benda langit. Inilah pendapat Qotadah dan Sufyan bin ‘Uyainah. Alasan mereka melarang hal ini dalam rangkasaddu adz dzari’ah yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang. Mereka khawatir jika kedudukan bintang tersebut dipelajari, akan diyakini bahwa posisi benda langit tersebut bisa berpengaruh pada takdir seseorang. Dan ini adalah penambahan dari tiga fungsi benda langit sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Pendapat kedua: Tidak mengapa mempelajari posisi benda langit. Yang dibolehkan di sini adalah ilmu tas-yir (ilmu astronomi). Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq bin Rohuyah dan kebanyakan ulama.

Pendapat kedua inilah yang lebih tepat karena berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari ilmu astronomi dan tidak termasuk sebab yang dilarang. Ilmu tas-yir (ilmu astronomi) memiliki beberapa manfaat. Di antaranya bisa dipakai untuk kepentingan agama seperti mengetahui arah kiblat dan waktu shalat. Atau untuk urusan dunia seperti mengetahui pergantian musim. Ini semua termasuk ilmu hisab dan dibolehkan.[8]

Sedangkan yang terlarang untuk dipelajari adalah ilmu yang pertama yang disebut dengan ilmuta’tsir (ilmu astrologi). Dalam ilmu astrologi, ada keyakinan bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib seseorang.[9] Padahal tidak ada kaitan ilmiah antara posisi benda langit dan nasib seseorang. Inilah yang keliru.

Keyakinan Terhadap Zodiak dan Ramalan Bintang

Ada tiga macam keyakinan yang dimaksud dan ketiga-tiganya haram.

Pertama: Keyakinan bahwa posisi benda langit yang menciptakan segala kejadian yang ada di alam semesta dan segala kejadian berasal dari pergerakan benda langit.

Keyakinan semacam ini adalah keyakinan yang dimiliki oleh Ash Shobi-ah. Mereka mengingkari Allah sebagai pencipta. Segala kejadian yang ada diciptakan oleh benda langit. Pergerakan benda langit yang ada dapat diklaim menimbulkan kejadian baik dan buruk di alam semesta. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan yang kufur berdasarkan kesepakatan para ulama.

Kedua: Keyakinan bahwa posisi benda langit yang ada hanyalah sebagai sebab (ta’tsir) dan benda tersebut tidak menciptakan segala kejadian yang ada. Yang menciptakan setiap kejadian hanyalah Allah, sedangkan posisi benda langit tersebut hanyalah sebab semata. Keyakinan semacam ini juga tetap keliru dan termasuk syirik ashgor. Karena Allah sendiri tidak pernah menjadikan benda langit tersebut sebagai sebab. Allah pun tidak pernah menganggapnya punya kaitan dengan kejadian yang ada di muka bumi, seperti turunnya hujan dan bertiupnya angin. Semua ini kembali pada pengaturan Allah dan atas izin-Nya, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kedudukan benda langit yang ada. Allah hanya menciptakan bintang untuk tiga tujuan sebagaimana telah dikemukakan di atas.

Ketiga: Posisi benda langit sebagai petunjuk untuk peristiwa masa akan datang. Keyakinan semacam ini berarti mengaku-ngaku ilmu ghoib. Ini termasuk perdukunan dan sihir. Perbuatan semacam ini termasuk kekufuran berdasarkan kesepakatan para ulama.[10]

Intinya, ketiga keyakinan di atas adalah keyakinan yang keliru, walaupun hanya menganggap sebagai sebab sedangkan yang menciptakan segala peristiwa adalah Allah. Keyakinan semacam inilah yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat muslim dalam majalah, koran, di dunia maya seperti di situs jejaring sosial (Facebook dan Friendster). Sebagian muslim masih saja mempercayai ramalan-ramalan bintang semacam zodiak (Aquarius, Pisces, Sagitarius, dll). Mereka meyakini bahwa pasangan yang cocok untuk dirinya adalah jika memiliki zodiak A, karena berdasarkan ramalan zodiaknya. Jika dia memiliki pasangan dari zodiak C, maka boleh jadi ada ketidakcocokan. Inilah perbuatan dosa yang sudah semakin tersebar luas di masyarakat muslim.

Mengenai hukum membaca ramalan bintang secara lebih lengkap -insya Allah- akan kami ulas pada posting selanjutnya dalam kategori aqidah.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Janganlah pernah bosan untuk mempelajari Al Qur’an melalui tafsirnya walaupun hanya satu atau dua ayat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Panggang, Gunung Kidul, 3 Dzulhijah 1430 H

– Setiap hari harus disibukkan dengan mengkaji Al Qur’an –


[1]Taisir Al Karimir Rohman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 875, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.

[2] Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, 2/14-15, Terbitan Ulin Nuha, tahun 2003.

[3] Idem

[4] Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobariy dalam Jami’il Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 23/508, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H. Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy mengatakan bahwa sanadnya hasan. Lihat Tafsir Juz Tabaarok, Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy, hal. 20, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1423 H.

[5] Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab dalam Kitabut Tauhid.

[6] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Astronomi

[7] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Zodiak

[8] Lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam, hal. 167-168, Pustaka Muslim, cetakan pertama, 1428 H dan I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, 2/18.

[9] Sumber Wikipedia [english], kata “Astrology”.

[10] Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, 2/17.

-Repost from http://rumaysho.com/tafsir-al-quran/faedah-surat-mulk-hikmah-allah-menciptakan-bintang-di-langit-674.html

🙂

Constructing an argument

When writing an essay it is essential to construct an argument. An argument is a particular stand on an issue or question. It is made up of a series of claims. There are two types of claim:

  • the conclusion: the final claim that you are trying to prove. This is often the answer to a direct question, and is also known as the thesis statement.
  • the premises: other claims that lead to or contribute to the thesis statement. These are often topic sentences of paragraphs.

In order to prove the premises, you must also provide:

  • the evidence: the research, facts and discussion used to prove those points.

Therefore, if you are asked to argue a concept you are being asked to provide evidence to support your premises, which in turn support your conclusion.

When writing an essay, for example, the thesis statement will appear in your introduction and conclusion. Each premise is usually in a separate paragraph, supported by the evidence for that premise. For more on structuring an essay, see essay planning and structure.

Identifying a claim

You can often identify a premise or a conclusion by the kinds of words used:

  • Premise: since, because, as, for, given that, assuming that
  • Conclusion: thus, therefore, hence, so, it follows that, we may conclude that

(Flage, 2003, p. 58-9)

As Allen (2004, p. 19) observes, sometimes the same claim can be used as either a conclusion or a premise, depending on the point you want to make:

“Your car is dirty [conclusion] because you drove through some mud [premise].”
“You should wash your car [conclusion] since your car is dirty [premise].”

What makes a strong argument?

An argument is strong if it convinces the reader that the conclusion is correct. An argument is weak if there are gaps or bad connections between the premises which undermine their link to the conclusion.

A strong argument is:

  • supported: the evidence is convincing and objective, and it supports the claims
  • balanced: the argument considers all the different perspectives, and comes to a reasonable conclusion based on those perspectives
  • logical: the argument is clearly and consistently reasoned. An argument that contains errors of logic (also known as logical fallacies) is weak.

You can examine the strength of your argument by applying the principles of critical reading.

References and further reading

Allen, M. (2004). Smart thinking: Skills for critical understanding and writing. (2nd ed.). Melbourne, Australia: Oxford University Press. [Massey Library link]

Flage, D. (2003). The art of questioning: An introduction to critical thinking. Upper Saddle River, NJ: Pearson Education. [Massey Library link]

 

Reference: http://owll.massey.ac.nz/study-skills/constructing-an-argument.php seen on Thursday, 5 March 2015

TICs y Formación

Hola:

Una infografía sobre cómo crear un mensaje con impacto.

Un saludo

View original post

Music, Culture, and Education

Oleh: Desyandri

Pandangan Teori Perkembangan Psikoanalisis menurut Freuds

Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya (lihat representasi grafik struktur kepribadian pada Gambar 1. Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:

a)   Sadar (Conscious)

Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi daerah sadar…

View original post 2,438 more words

http://ariefrisman.com/article/135101/pph-21-atas-belanja-pegawai-bendahara-pemerintah.html

 

PPh 21 atas Belanja Pegawai (Bendahara Pemerintah)

  Bab II 

Pajak Penghasilan pasal 21/26 atas Belanja Pegawai

  1. Jenis Penghasilan yang dipotong PPh pasal 21/26

Bendahara pemerintah membayar imbalan kerja kepada dua kelompok pegawai yaitu pegawai negeri sipil dan non pegawai negeri sipil. Adapun  jenis penghasilan yang diterima oleh mereka di antaranya adalah sebagai berikut :

No Penerima Penghasilan Jenis Penghasilan
1 Pegawai Negeri Sipil (PNS) Gaji, tunjangan-tunjangan,premi asuransi, honor, penghasilan lainnya
2 Non PNS Upah, Honor, Hadiah, penghasilan lainnya
  1. Tarif PPh untuk Wajib Pajak Orang Pribadi

Seperti yang tercantum di pasal 17 ayat 1(a) Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
sampai dengan Rp 50.000.000,00 5%
di atas Rp   50.000.000 sampai dengan Rp. 250.000.000 15%
di atas Rp 250.000.000 sampai dengan Rp. 500.000.000 25%
di atas Rp 500.000.000 30%

 

Tarif PPh pasal 17 tersebut diatas adalah berlaku untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.  Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dikenakan tarif PPh lebih tinggi 20% dari tarif yang berlaku sehingga pengenaan tarifnya lebih tinggi 20% daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak.

Khusus untuk penghasilan yang diterima oleh Orang Pribadi non PNS yang berstatus sebagai subjek pajak luar negeri dipotong PPh pasal 26 dengan tarif 20% kecuali jika terdapat Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan negara dimana Subjek Pajak Luar negeri tersebut berdomisili, maka pajak disesuaikan dengan pasal dalam perjanjian tersebut.

 

Contoh pengenaan tarif PPh pasal 17 UU PPh :

 

  1. Tn. Ali menerima penghasilan kena pajak Rp. 45.000.000

Maka :                               5% x 45.000.000

PPh terutang   =  Rp. 2.250.000

 

  1. Tn. Adi menerima penghasilan kena pajak Rp. 150.000.000

Maka :   5% x   50.000.000      =           2.500.000

15% x 100.000.000     =          15.000.000 +

PPh terutang                                      =          17.500.000

(keliru jika PPh = 15% x 150.000.000)

 

  1. Tn. Ari menerima penghasilan kena pajak Rp. 320.000.000

Maka :                                         5% x  50.000.000     =            2.500.000

15% x 200.000.000     =          30.000.000

25% x   70.000.000     =          15.000.000 +

PPh terutang                                      =          17.500.000

(keliru jika PPh = 25% x 320.000.000)

 

  1. Tn. Ayi menerima penghasilan kena pajak Rp. 520.000.000

Maka :                                        5%    x     50.000.000   =               2.500.000

15%   x  200.000.000  =            30.000.000

25%   x  250.000.000  =            62.500.000

15%    x     20.000.000  =            30.000.000 +

PPh terutang                                      =          125.000.000

(keliru jika PPh = 30% x 520.000.000)

 

  1. Mr. Van Persie (Subjek Pajak Luar Negeri) menerima honor dari sebuah instansi pemerintah   sebagai pembicara tamu sebesar Rp. 20.000.000

PPh terutang = 20% x 20.000.000 =    Rp. 4.000.000

 

  1. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak,  Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berhak atas pengurangan atas penghasilan netto-nya, pengurang tersebut disebut   Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). PTKP itu sendiri diatur pada   pasal 7 Undang-Undang Pajak Penghasilan.

 

Besaran angka PTKP yang berlaku sampai dengan 31 Desember 2012 adalah :

a. Rp 15.840.000 , untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;

b. Rp   1.320.000, tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;

c. Rp    1.320.000   tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga

semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang

menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang

untuk setiap keluarga.

No Status PTKP (2009 s.d 2012)
1 TK/0 15.840.000
2 TK/1 17.160.000
3 TK/2 18.480.000
4 TK/3 19.800.000
5 K/0 17.160.000
6 K/1 18.480.000
7 K/2 19.800.000
8 K/3 21.120.000

 

Sedangkan mulai 1 Januari 2013   berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 162/PMK.011/2012 tanggal 22 Oktober 2012,  besaran angka PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) adalah sebagai berikut :

a. Rp 24.300.000 , untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;

b. Rp   2.025.000, tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;

c. Rp    2.025.000,  tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga

semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang

menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang

untuk setiap keluarga.

Contoh :

 

  1. Tn.  Ajie, memiliki 1 istri dan 2 anak maka PTKP-nya adalah K/2

Perhitungan PTKP K/2:

Keterangan Jumlah Jumlah
Pribadi 24.300.000
Kawin 2.025.000
2 tanggungan =2 x 2.025.000 4.050.000
Jumlah PTKP K/2 30.375.000

 

  1. Tn. Dude, memiliki 2 istri dan 3 anak kandung (dari istri pertama)

Maka PTKP-nya adalah K/3, nilai PTKP untuk kawin hanya sekali saja tidak ada 2K atau KK.

Perhitungan PTKP K/3 :

 

Keterangan Jumlah Jumlah
Pribadi 24.300.000
Kawin 2.025.000
3 tanggungan = 3 x 6.075.000
Jumlah PTKP K/3 32.400.000

 

  1. Tn. Boy status menikah dan telah dikaruniai seorang anak, namun status pernikahan mereka adalah pernikahan siri.  Maka PTKP Tn. Boy adalah TK/0 karena status K/1 harus dibuktikan dengan kartu keluarga sedangkan Tn. Boy belum bisa memiliki dokumen tersebut.

 

TK/0 = Rp. 24.300.000

 

  1. Ny. Diah seorang PNS, bersuamikan seorang pegawai BUMN, mereka dikaruniai 2 orang anak.  Maka PTKP Ny. Diah untuk penghitungan PPh pasal 21 di kantornya adalah TK/0, sedangkan PTKP suami Ny. Diah adalah K/2.

 

TK/0 = Rp. 24.300.000

  1. Tn. Robi, masih single menanggung ibu kandungnya yang kini tinggal serumah dengan Robi, maka PTKP-nya adalah TK/1.

 

Perhitungan PTKP TK/1 :

 

Keterangan Jumlah Jumlah
Pribadi 24.300.000
1 tanggungan 2.025.000
Jumlah PTKP TK/1 26.325.000

 

Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk penghitungan PPh pasal 21 secara lengkap adalah sebagai berikut :

 

No Status PTKP (mulai 1 Jan 2013)
1 TK/0 24.300.000
2 TK/1 26.325.000
3 TK/2 28.350.000
4 TK/3 30.375.000
5 K/0 26.325.000
6 K/1 28.350.000
7 K/2 30.375.000
8 K/3 32.400.000

 

 

 

  1. Penghitungan PPh pasal 21

 

4.1  PPh 21 atas penghasilan tetap yang diterima PNS

 

Gaji Pokok                               Rp. ….

Tunjangan ….                          Rp. ….

Tunjangan ….                          Rp. ….

Premi Asuransi                        Rp. ….

Penghasilan teratur lainnya   Rp. …. +

Jumlah Penghasilan bruto      Rp. ….

Pengurang-pengurang :

Biaya Jabatan  Rp. …..

Iuran Pensiun  Rp. ….. +

Jumlah Pengurang                  Rp. ….   _

Penghasilan Netto                   Rp. ….

PTKP (…/…)                             Rp. ….   _

Penghasilan Kena Pajak          Rp. ….

 

PPh pasal 21 terutang = tarif PPh pasal 17  x Penghasilan kena pajak

 

Keterangan :

  1. Biaya Jabatan adalah merupakan pengurang penghasilan bruto yang hanya dapat diberikan kepada seorang pegawai tetap.  Besaran angka untuk biaya jabatan adalah Rp. 6.000.000 per tahun atau Rp. 500.000 per bulannya.
  2. Iuran pensiun yang menjadi pengurang penghasilan bruto adalah iuran pensiun yang dipotong dari masing-masing pegawai tetap. Khusus untuk PNS jumlah iuran pensiun adalah 4,75% sedangkan jumlah iuran Tunjangan hari Tua (THT) adalah 3,25%, masing-masing dikalikan dengan gaji pokok ditambah tunjangan istri dan tunjangan anak.
  3. Salah satu Tunjangan yang diperoleh PNS adalah tunjangan anak, jumlah tunjangan yang diperoleh adalah maksimal 2 (dua) orang tanggungan, namun untuk penghitungan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) jumlah tanggungan yang diperbolehkan adalah tetap maksimal 3 (tiga) orang tanggungan.

 

Contoh penghitungan :

Nyonya Denisa adalah seorang PNS yang bersuamikan pegawai swasta, mereka dikaruniai 2 orang anak.  Tahun 2013 menerima penghasilan sbb :

Gaji pokok perbulan adalah Rp. 2.400.000, selain itu juga menerima beberapa tunjangan diantaranya tunjangan beras, tunjangan umum, dan tentu saja tunjangan suami dan tunjangan anak.

 

Keterangan :

PTKP untuk Ny. Denisa dalam rangka penghitungan PPh pasal 21 adalah TK/0. Meski sudah menikah dan dikaruniai 2 orang anak, PTKP-nya adalah TK/0 karena yang berhak menyandang PTKP K/2 adalah suaminya.

 

4.2  PPh 21 atas penghasilan tetap yang diterima Pensiunan PNS

 

Uang Pensiun                          Rp. ….

Tunjangan ….                          Rp. ….

Tunjangan ….                          Rp. ….

Premi Asuransi                        Rp. ….

Penghasilan teratur lainnya   Rp. …. +

Jumlah Penghasilan bruto      Rp. ….

Pengurang-pengurang :

Biaya Pensiun                          Rp. ….   _

Penghasilan Netto                   Rp. ….

PTKP (…/…)                             Rp. ….   _

Penghasilan Kena Pajak          Rp. ….

 

PPh pasal 21 terutang = tarif PPh pasal 17  x Penghasilan kena pajak

 

Keterangan :

  1. Biaya Pensiun adalah merupakan pengurang penghasilan bruto yang hanya dapat diberikan kepada seorang pensiunan.  Besaran angka untuk biaya jabatan adalah Rp. 2.400.000 per tahun atau Rp. 200.000 per bulannya.

 

Contoh :

Raden Suryaman, bersatus kawin dengan dua orang tanggungan, menerima uang pensiun setiap bulan Rp. 3.000.000

 

 

 

4.3  PPh 21 atas upah

 

Terdapat beberapa jenis upah yang biasanya dibayarkan oleh pihak pemberi kerja, meliputi upah harian, upah mingguan, upah bulanan, upah satuan atau upah borongan.

 

 

Terdapat beberapa jenis upah yang biasanya dibayarkan oleh pihak pemberi kerja, meliputi upah harian, upah mingguan, upah bulanan, upah satuan atau upah borongan.

Upah yang dikenakan pemotongan PPh pasal 21 adalah upah yang melebihi batasan upah tidak kena pajak sebesar Rp. 200.000 per hari sepanjang penghasilan kumulatif yang diterima dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi Rp 2.025.000.

 

PPh pasal 21 atas upah = tarif PPh WP OP x (jumlah upah – Upah tidak kena pajak)

 

Contoh Penghitungan :

  1. Upah harian

Teddy dengan status belum menikah pada bulan Januari 2013 melakukan perbaikan gedung di sebuah kantor pemerintah daerah. Ia bekerja selama 3 hari dan menerima upah harian sebesar Rp 200.000,00

Penghitungan PPh Pasal 21 terutang:

Upah sehari                                                                                Rp 200.000

Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan

pemotongan PPh                                                                       Rp 200.000

Penghasilan Kena Pajak sehari                                                  Rp           0

PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari:                                  Rp           0

Jika diakumulasikan sampai hari ketiga

3 x Rp. 150.000 = Rp. 450.000

Jumlah ini ternyata masih dibawah Rp. 2.025.000 maka sampai hari ketiga tidak terutang PPh pasal 21.

 

Sentot dengan status belum menikah pada bulan Januari 2013 bekerja sebagai buruh harian PT Harapan Sentosa. Ia bekerja selama 10 hari dan menerima upah harian sebesar Rp 200.000,00

Penghitungan PPh Pasal 21 terutang:

Upah sehari                                                     Rp 200.000,00

batas upah tidak kena pajak                           Rp 200.000,00

Penghasilan Kena Pajak sehari                       Rp              0,00

PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari:       Rp              0,00

 

Sampai dengan hari ke-10, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum melebihi Rp 2.025.000, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong.

Jumlah upah s.d hari ke-10 = 10 x 200.000 = Rp. 2.000.000

 

Pada hari ke-11 jumlah kumulatif upah yang diterima melebihi Rp 2.025.000, maka PPh Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP yang sebenarnya.

Upah s.d hari ke-11  (Rp 200.000,00 x 11)                 Rp 2.200.000

PTKP sebenarnya: 11 x (Rp 24.300.000 / 360)           Rp    742.500

Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-11                       Rp 1.457.500

PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-11

5% x Rp 1.457.500,00                                                 Rp      72.875,00

PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-10       Rp                 0,00

PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-11   Rp      72.875,00

 

Sehingga pada hari ke-11, upah bersih yang diterima Sentot sebesar:

Rp 200.000,00 – Rp 72.875,00 = Rp 127.125,00

 

Misalkan Sentot bekerja selama 12 hari, maka penghitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke – 12 adalah sebagai berikut :

hari kerja ke-12, jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong adalah:

Upah sehari                                                                 Rp    200.000,00

PTKP sehari

untuk WP sendiri (Rp 24.300.000 : 360)                     Rp      67.500,00

Penghasilan Kena Pajak                                              Rp    132.500,00

PPh Pasal 21 terutang

5% x Rp 132.500,00                                                    Rp          6.625,00

Sehingga pada hari ke-12, Sentot menerima upah bersih sebesar:

Rp 200.000,00 – Rp 6.625,00 = Rp 193.375,00

 

  1. Upah satuan

Contoh :

Beni (TK/0) adalah seorang pekerja yang ikut terlibat dalam sebuah proyek di sebuah satker. Upah yang dibayar adalah berdasarkan jumlah unit satuan yang diselesaikannya yaitu Rp. 75.000/buah, serta dibayarkan setiap minggu. Dalam waktu 1 minggu (6 hari) diselesaikan sebanyak 24 unit dengan upah Rp. 1.800.000, dibayarkan di akhir minggu Maret  2013.

Maka :

 

  1. Upah borongan

Contoh : akhir Juni 2010 Romi memperoleh upah borongan atas pengerjaan sebuah proyek yang dilakukan selama 2 hari sebesar Rp. 450.000

 

 

  1. Upah harian/satuan/borongan/honorarium yang Diterima Tenaga Harian Lepas Tapi Dibayarkan Secara Bulanan

 

Wardi (K/0) : Bekerja di perusahaan elektronik dengan dasar upah harian dibayarkan bulanan.
Januari 2013, wardi bekerja 20 hari @ Rp 150.000

 

Upah Sehari Rp150.000
Upah Bulan Januari Rp3.000.000
Ph netto setahun Rp36.000.000
PTKP (K/0) Rp26.325.000
Ph Kena Pajak Rp 9.675.000
PPh Pasal 21 setahun = 5% x 9.675.000 = Rp483.750
PPh Pasal 21 sebulan = 1/12 x 483.750 = Rp40.312

 

 

4.4  PPh 21 atas honor

 

Honor yang dibayarkan oleh Bendaharawan Pemerintah dapat diberikan kepada 2 (dua) pihak, yaitu kepada PNS/TNI/POLRI/Pejabat Negara dan kepada non PNS. Pembayaran honor kepada PNS/TNI/POLRI/Pejabat Negara dipotong PPh pasal 21 dan bersifat final.   Pengenaan PPh 21 atas pembayaran honor atau penghasilan lainnya di luar penghasilan yang rutin diterima kepada para pejabat negara, PNS, TNI dan POLRI yang didanai dari APBN/APBD diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 80 tahun 2010 tanggal 20 Desember 2010. Pengenaan tarif PPh pasal 21 atas penghasilan tersebut adalah sebagai berikut :

 

No Golongan PNS/TNI/POLRI Tarif PPh pasal 21 (final)
1 Pejabat Negara/Golongan IV/Perwira Menengah dan Tinggi/Komisaris Polisi/  dan pensiunannya 15%
2 Golongan III/Perwira Pertama dan pensiunannya 5%
3 Golongan I dan II/Tamtama dan Bintara 0%

 

Pembayaran honor kepada penerima penghasilan yang ber-status bukan PNS dikelompokan menjadi tiga, yaitu :

  1. Honor untuk kelompok bukan pegawai, diantaranya pengajar, tenaga ahli, pembawa acara, penyuluh, peneliti, pemberi jasa dalam segala bidang, dll

–       Honor yang bersifat tidak berkesinambungan : PPh pasal 21 yang dipotong adalah tarif normal (sesuai tarif PPh pasal 17 UU PPh) atas 50% dari jumlah honor yang diterimanya.

–       Honor yang bersifat berkesinambungan : PPh pasal 21 yang dipotong adalah tarif normal (sesuai tarif PPh pasal 17 UU PPh) atas jumlah kumulatif penghasilan kena pajak. Besarnya penghasilan kena pajak adalah 50% dari jumlah penghasilan bruto.  Adapun jika si penerima penghasilan tidak menerima penghasilan dari tempat lainnya maka besarnya penghasilan bruto adalah 50% dari jumlah penghasilan bruto kemudian dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebulan.

  1. Honor untuk pegawai tidak tetap

PPh pasal 21 dikenakan atas penghasilan kena pajak, yaitu jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi PTKP

  1. Honor untuk Subjek Pajak orang pribadi Luar Negeri

Honor yang dibayarkan kepada penerima penghasilan yang merupakan subjek pajak luar negeri dipotong PPh pasal 26 dengan tarif 20% atau tarif yang sesuai dengan tax treaty/P3B (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda).

 

Contoh (1) PPh pasal 21 atas honor :

 

Bendaharawan sebuah universitas negeri ABC di Bandung pada bulan Nopember 2011 membayar honor atas sebuah kegiatan kepada pihak-pihak berikut ini :

  1. Profesor Dudung (PNS, guru besar Universitas Negeri SRI Jakarta) sebesar Rp. 7.000.000
  2. Profesor Dadang (PNS, guru besar Universitas Negeri ABC) sebesar Rp. 5.000.000
  3. Mr. John Terry (pembicara tamu dari negara Eropa) sebesar Rp. 10.000.000
  4. Tn. Supardi Lee (non PNS, pembicara tamu) sebesar Rp. 5.000.000
  5. Tn. Beni (PNS, dosen golongan IIId) sebesar Rp. 3.000.000
  6.   Ny. Reni (PNS, staf universitas negeri ABC, golongan IId, sebesar Rp. 1.000.000

 

Maka penghitungan PPh atas honor yang dibayarkan kepada pihak-pihak tersebut di atas adalah sebagai berikut :

 

No Penghitungan PPh Jumlah PPh (Rp) Jenis PPh
15% x Rp. 7.000.000 1.050.000 PPh pasal 21
15% x Rp. 5.000.000 750.000 PPh pasal 21
20% x Rp. 10.000.000 2.000.000 PPh pasal 26
5% x 50% x Rp. 5.000.000 125.000 PPh pasal 21
5% x Rp. 3.000.000 150.000 PPh pasal 21
0% x Rp. 1.000.000 0 PPh pasal 21

 

Contoh (2)

 

PPh pasal 21 atas honor diterima oleh bukan pegawai yang menerima penghasilan yang tidak bersifat berkesinambungan :

 

Sebuah Kantor Pelayanan Pajak Pratama membayar fee sebesar Rp. 5.000.000 kepada Fadil atas jasa perbaikan beberapa komputer.

Jika Fadil memiliki NPWP :

PPh pasal 21 terutang adalah : 5% x 50% x Rp. 5.000.000 = Rp. 125.000,00

Jika Fadil tidak memiliki NPWP :

PPh pasal 21 terutang adalah : 5% x 120% x 50% x Rp. 5.000.000 = Rp. 150.000,00

 

 

Contoh (3)

PPh pasal 21 atas honor diterima oleh bukan pegawai yang menerima penghasilan secara berkesinambungan, serta menerima penghasilan lainnya    :

 

Dr. Halim adalah seorang dokter berstatus bukan PNS, menerima penghasilan dari sebuah Rumah Sakit Umum daerah kota X.  Dr. Halim yang telah ber-NPWP ini juga menerima penghasilan dari beberapa Rumah Sakit swasta. Berikut rincian penghasilan dan pengenaan PPh pasal 21 yang dipotong oleh pihak RSUD, dari masa Januari sd Juni :

 

Bulan (tahun 2011) Jumlah Honor (Rp.)
Januari 30.000.000
Pebruari 30.000.000
Maret 25.000.000
April 40.000.000
Mei 45.000.000
Juni 25.000.000

 

 

Contoh (4)

PPh pasal 21 atas honor diterima oleh bukan pegawai yang menerima penghasilan secara berkesinambungan, namun tidak menerima penghasilan lainnya   :

 

Puspa SE, Ak. Seorang pengajar STAN Kementerian Keuangan RI,  tidak berstatus sebagai PNS, status masing single dan telah ber-NPWP.  Puspa hanya menerima penghasilan dari STAN

Bendahara STAN telah membayar honor kepada Puspa untuk masa Januari sampai dengan April 2013, sbb :

 

Bulan (tahun 2013) Jumlah Honor (Rp.)
Januari 5.000.000
Pebruari 4.500.000
Maret 4.800.000
April 5.100.000

 

Penghitungan PPh pasal 21 adalah sbb :

 

Contoh (5) PPh pasal 21 atas honor diterima oleh pegawai tidak tetap :

Sebuah kantor pemerintah membayar beberapa jenis penghasilan sbb :

  1. Honor Arman (satpam) status K/2 sebesar Rp. 1.500.000/bulan
  2. Honor Handi (cleaning service) status (TK/0) sebesar Rp. 1.200.000/bulan

Maka

No PTKP Ph kena pajak =Honor – PTKP bulanan PPh pasal 21
K/2 = Rp. 2.531.250/bulan   1.500.000 –2.531.250 0
TK/0 = Rp. 2.025.000/bulan 1.200.000 – 2.025.000 0

 

 

4.5  PPh 21 atas hadiah

 

Pengenaan Pajak Penghasilan pasal 21 atas hadiah adalah hadiah yang bersifat kegiatan atau penghargaan.  Hadiah yang bersifat undian merupakan objek pemotongan Pajak Penghasilan pasal 4(2) bersifat final.

Pengenaan PPh pasal 21 atas hadiah menggunakan tarif PPh pasal 17 atas jumlah hadiahnya atau atas jumlah penghasilan bruto (tanpa pengurang Penghasilan Tidak Kena Pajak/PTKP)

PPh pasal 21 atas hadiah = tarif PPh pasal 17 UU PPh X jumlah hadiah

 

Contoh (1) :

Bendahara sebuah Kementerian memberikan hadiah kepada Amir (telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak) sebagai pemenang pertama lomba pembuatan slogan sebesar Rp. 60.000.000.

 

Penghitungan PPh pasal 21 :

5%   X  Rp.  50.000.000 =  2.500.000

15%   X   Rp.  10.000.000 =  1.500.000 +

PPh pasal 21 terutang          4.000.000

 

Contoh (2) :

Bendahara sebuah Kementerian memberikan hadiah kepada Nasri (belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak) sebagai juara pertama tenis meja dalam pertandingan olahraga antar penyandang cacat  sebesar Rp. 5.000.000.

 

Penghitungan PPh pasal 21 :

5%  X 120%   X  Rp.  5.000.000 =  Rp. 300.000

 

Tue, 11 Feb 2014 @23:41

Tags: pph 21 bendahara pemerintah

 

desipurnamasari1412

PENDAHULUAN

 

Definisi dan Unsur Pajak

Defnisi atau pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH:

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan  yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Fungsi Pajak

Ada dua fungsi pajak, yaitu:

  1. Fungsi Budgetair

Pajak sebagai sumber dan bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran –pengeluarannya.

  1. Fungsi Mengatur (regulerent)

Pajak Sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.

Syarat Pemungutan pajak

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Pemungutan pajak hams adil (Syarat Keadilan)

Sesuai dengan tujuan hukurn, yakni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemarnpuan masing-masing. Sedang adil dalam pelaksanaannya yakni dengan memberikan hak bagi Wajib Pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam…

View original post 3,347 more words

Curahan Opini

 

Image

Kepribadian merupakan hal yang unik yang diberikan Tuhan kepada manusia, yang membedakan tiap orang dalam cara berpikir, bertindak, merespon dalam suatu hal dan lain sebagainya. Para pakar psikologi telah mencoba merangkum berbagai jenis kepribadian yang umumnya dimiliki oleh manusia. Carl Gustav Jung (1875-1961) adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia dengan istilah ekstrovert dan introvert, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa. Tes kepribadian yang menggambarkan teori Jung ini kemudian dinamakan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). Tes ini tidak mengukur intelegensi, motivasi, kedewasaan, atau kesehatan mental seseorang, melainkan membagi manusia menjadi 16 tipe kepribadian yang berbeda sesuai dengan 4 dimensi yang telah ditentukan. MBTI ini terdiri dari:

  1. Terbuka (Extraverted) atau Tertutup (Introverted)
  2. Pengiindera (Sensing) atau Intuitif (Intuition)
  3. Pemikir (Thinking) atau Perasa (Feeling)
  4. Penilai (Judging) atau Pengamat (Perceiving)

 

Berikut ini ialah hasil tes MBTI atas kepribadian saya:

“Terbuka (Extraverted), Pengindera (Sensing)…

View original post 379 more words

Tambahkan pemikiran Anda di sini… (opsional)

Buah simalakata

Di tahun 2012 lalu, Indonesia boleh kembali patut berbangga dan bersyukur atas rahmat yang telah Allah berikan kepada bangsa ini. Perekonomian Indonesia kembali tumbuh hingga mampu mencapai angka 6,2%, jauh diatas rata-rata pertumbuhan selama satu dekade ini yaitu 5,5%, walaupun tren pertumbuhan ini dapat dikatakan melambat dibandingkan dengan tahun 2011 yang sebesar 6,5% akibat krisis global yang belum memberikan sinyal membaik, bahkan di beberapa negara Eropa semakin memburuk hingga menginjak di akhir tahun 2012 yang lalu.

            Di tahun 2012, konsumsi (rumah tangga) dan investasi memberikan kontribusi tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi nasional dimana masing-masing menyumbangkan pertumbuhan sebesar 2,9% dan 2,4% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Didalam tulisan ini saya tidak akan membahas pertumbuhan ekonomi secara umum, tapi saya lebih mengkhususkan topik tulisan ini kedalam investasi, dan lebih dalam lagi, investasi yang dilakukan oleh pihak asing.

            Berbicara mengenai investasi, banyak orang awam langsung membayangkan kegiatan transaksi di pasar modal baik dalam…

View original post 1,068 more words

Pinarta's Blog

Investment & Indonesia Capital Market

harikaryo

Just another WordPress.com site

Djunijanto Blog

Arek Soeroboyo, Bisa!!!

Pak Guru Bambang's Weblog

BERANILAH TAMPIL BEDA

eunchasiluets

Saatnya Ngampus Bukan Sekedar Status

desywu

My Garden of Words and Thoughts

Indra Putranto

Professional Training and Engineering

ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Soldier of Fortune

Into a World of Illusion

ERIK KAKTUS Green Souvenir @ Merchandise

Green Souvenir for Green Wedding and Green Party, Green Campaign Party...

%d bloggers like this: