Category: Manusia dan Masyarakat Indonesia©



            Guyuran hujan di sore hari kala itu, Rabu, 13 November 2013 pukul 14.00 WIB, tidak sedingin hawa kekhawatiran yang menusuk kalbu sebagian besar warga Pondok Cina di daerah subsetting saya. Bukan saja kekhawatiran akan rezeki yang setiap hari dicari oleh para warga melalui berbagai usaha mereka masing-masing, namun lebih pada kekhawatiran akan gertakan PT. KAI (PT. Kereta Api Indonesia) agar para warga di daerah subsetting saya (gang di sebelah timur – belakang Stasiun Pondok Cina; antara lahan parkir mobil di Stasiun Pondok Cina hingga Depok Town Square) segera pindah dari Pondok Cina paling lambat minggu ketiga Desember 2013, dengan dijanjikannya pemberian uang kompensasi sebesar Rp. 250,000 per m2 luas tanah dan bangunan setiap rumah warga.

Daerah subsetting saya semakin hari semakin sepi, baik sepi akan para pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor yang melewati jalanan di daerah tersebut maupun sepi akan para warga yang tinggal atau menghuni rumah di daerah tersebut, yang salah satunya disebabkan oleh banyaknya warga yang telah pindah dari Pondok Cina, tidak terkecuali rumah Ketua RW. 08 yang sudah tidak berpenghuni. Bahkan, rumah-rumah di samping Depok Town Square sedikit-demi-sedikit sudah mulai dihancur-leburkan oleh pihak PT. KAI.

Sempat terlihat oleh saya seorang pria paruh baya yang menggunakan topi dengan kaos lengan panjang dan celana panjang memulung atau memungut puing-puing bangunan yang masih tersisa dan masih bisa beliau manfaatkan dari reruntuhan hasil penghancuran tersebut, bahkan hingga turun ke dalam sungai kecil yang begitu hitam warna airnya (karena terdapat banyak sampah di dalamnya) di antara rumah-rumah tersebut. Beliau menggunakan gerobak berwarna putih untuk mengangkut puing-puing

Sempat pula terlihat oleh saya beberapa pria menghancurkan bagian-bagian bangunan yang masih tersisa secara manual (menggunakan semacam benda tumpul di tangan). Dengan rasa penasaran yang menjalar di hati, saya pun memberanikan diri bertanya kepada salah seorang pemuda di sana, “Wah, Mas, kenapa ini semua dihancurkan, ya? Ada penggusuran ya, Mas?” Lalu dengan sigap beliau “melempar” pertanyaan saya tersebut dengan berkata, “Wah, saya gak tau, Mbak. Coba tanya ke Mas ini saja yang lebih berwenang.” Ketika saya membalikkan badan saya untuk melihat orang yang telah ditunjuk oleh pemuda tersebut, seorang pria berambut cepak yang mengenakan kaos berwarna jingga (orange) bertuliskan PT. KAI di samping kiri dadanya dan celana selutut menghampiri saya dengan wajah tanpa senyuman. Setelah pria tersebut bertanya dengan tegas kepada saya, “Ada apa ya, Mbak?” Saya pun menjawab, “Gak, Pak, saya sudah lama gak lewat sini terus belum tahu kalau ada penggusuran. Penggusurannya dari PT. KAI ya, Pak?” Lalu, beliau segera menjawab, “Gak tahu saya, Mbak.” Merasa tiada lagi celah terbuka untuk mengetahui lebih dalam seluk-beluk mengenai penggusuran rumah-rumah para warga di daerah subsetting saya, saya pun segera mengucapkan terimakasih kepada pria tersebut kemudian beranjak pergi.

Sebelumnya, saya sempat mampir ke sebuah toko pernak-pernik di samping Rahayu Cell milik kakak dari Ibu Nunuk. Saya melihat barang-barang yang dipajang di sana, seperti gelang, kertas kado, kartu ucapan, boneka, lampu meja, celengan, dan sebagainya. Saya membeli 3 (tiga) buah gelang yang di-bundling seharga Rp. 10,000 untuk saya dan 2 (dua) teman saya pakai nantinya. Ketika saya mencoba memakai salah satu gelang tersebut, simpul talinya tidak sengaja lepas sehingga gelang tersebut pun tidak bisa dipakai lagi. Melihat kejadian tersebut, seorang wanita berkaos abu-abu dan (rambutnya) berkuncir kuda yang sedang menjaga toko tersebut pun dengan senang hati menukarnya dengan gelang baru yang belum rusak atau masih dalam keadaan baik, tanpa perlu saya membayar lagi. Wanita tersebut cukup ramah kepada saya. Namun, terdapat hal yang menyayat hati saya ketika itu, bahwa sedari saya datang mengunjungi toko tersebut, anak perempuan cantik sedang bermain hujan di depan toko menggunakan payung. Anak tersebut berumur sekitar 6 (enam) tahun. Ketika saya menyapa anak tersebut dan menanyakan namanya, ia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama saya melihat barang-barang yang dipajang di sana, wanita yang sedang menjaga toko tersebut sempat terlihat mencari sesuatu di atas meja display di depan tokok lalu berkata kepada anaknya dengan nada tinggi, “Eh, obat gw mana? Lo ilangin lagi, ya, obat gw? Dasar anak monyet emang, lu.” Padahal saya lihat, anak tersebut tidak mengerti perkataan wanita tersebut dan hanya diam termangu melihat wanita tersebut berteriak kepadanya. Ketika wanita tersebut menghampirinya, anak tersebut lari membawa payungnya ke arah Depok Town Square.

Setelah saya keluar dari toko pernak-pernik tersebut, saya disapa oleh Pak Marsino, pemilik usaha CiLok “Putuwijoyo 01” di Pondok Cina, yang sedang membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya yang beliau beli di warung kopi di seberang toko pernak-pernik tersebut. Pak Marsino yang sedang menggunakan seragam kerjanya (bertuliskan “Putuwijoyo 01” di belakang punggungnya) lengkap dengan topi dan senyum khasnya menyapa saya dengan berkata, “Masih ingat, Mbak, dengan saya?” Saya pun menjawab, “Wah, Pak, masih, dong. Hehe. Kok Bapak jaga di (toko) sini, ya? Mas Ahmad ke mana, ya?” Lalu Pak Marsino yang terlihat sambil menggunakan handphonenya untuk mengetik sesuatu pun berkata, “Iya, Mas Ahmad lagi pulang kampung. Kangen keluarga, katanya. Udah sekitar 3 (tiga) bulanan Dia di sini.” Pak Marsino pun cerita bahwa setelah penggusuran oleh PT. KAI beliau tetap berjualan CiLok di Pondok Cina tersebut, dengan memindahkan gerobaknya ke halte di sisi samping rel kereta api (di belakang Depok Town Square).

Hari Senin, 18 November 2013, saya kembali menyusuri jalan di Pondok Cina pada pukul 09.30 WIB. Pagi yang cerah nan terik akan sinar sang surya kala itu, menemani saya dan orang-orang yang berlalu-lalang di daerah Pondok Cina tersebut. Cukup terkejut saya ketika di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina, Pak Asan (pemilik warung kelontong di daerah subsetting saya) menyapa saya, “Wah, Mbak, masih pengamatan ke sini, ya?” Lalu saya menjawab, “Haha iya nih, Pak.” Pak Asan kemudian bercerita bahwa sudah banyak rumah di dekat Depok Town Square yang ditinggalkan penghuninya lalu dihancurkan oleh pihak PT. KAI. Pak Asan sendiri berencana untuk langsung pindah bersama keluarganya ke daerah Kukusan-Teknik setelah melangsungkan pernikahan adiknya pada tanggal 1 Desember 2013 di depan rumah Pak Asan di Pondok Cina. Pak Asan mengundang saya dan teman-teman saya (yang memang selama pengamatan MMI (Manusia dan Masyarakat Indonesia) sering mengunjungi rumah Pak Asan untuk mewawancara beliau) untuk datang ke acara pernikahan adiknya tersebut. Saya menyanggupinya dengan syarat tidak diharuskan “menyumbang lagu” dangdut. Tidak hanya itu, Pak Asan pun mempersilahkan saya dan teman-teman saya untuk kelak berkunjung ke rumahnya di daerah Kukusan-Teknik serta memberikan nomor handphonenya kepada saya.

Pak Asan juga bercerita kepada saya bahwa beliau berencana kerja menjadi guru silat seperti yang pernah beliau lakukan beberapa tahun yang lalu ataupun satpam. Beliau ckup khawatir bahwa bila beliau menjadi guru silat kembali, beliau belum bisa mengatur waktu. Karena biasanya akan ada murid yang meminta beliau mengajar secara privat. Beliau bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, namun juga untuk turut melestarikan budaya Indonesia, terutama budaya silat Betawi. Beliau sempat menawarkan saya untuk belajar silat dengan beliau, namun saya menolaknya karena saya tidak ingin belajar silat.

Pak Asan pun bercerita bahwa sebagian dari uang kompensasi yang dijanjikan oleh PT. KAI kepada para warga Pondok Cina yang digusur telah diberikan, dan sebagian lainnya akan diberikan di akhir November 2013 nanti. Pak Asan sempat menyayangkan Ketua RW. 08 yang sudah pindah terlebih dahulu, karena dianggap Ketua RW. 08 tersebut tidak berhasil mengadvokasi aspirasi para warga yang tidak ingin digusur PT. KAI.

Ketika itu, Pak Asan dengan motornya yang dimodifikasi untuk dapat mendistribusikan barang-barang dagangannya sebenarnya sedang mengantar pesanan minuman-minuman ringan (dalam satuan dus) dan LPG ke warung-warung di daerah Pondok Cina yang telah menjadi pelanggan tetapnya, seperti yang beliau lakukan setiap hari. Dulu beliau pernah mendistribusikan barang-barang dagangannya ke kantin-kantin di UI (Universitas Indonesia), namun hal tersebut tidak dilakukannya lagi karena beliau tidak ingin merasakan macet di UI (Universitas Indonesia).

Setelah kami mengakhiri pembicaraan, saya kembali berjalan menelurusi jalanan di daerah Pondok Cina. Terdapat 2 (dua) orang pemulung sampah kala itu yang sedang duduk di pinggir jalan dengan karung sampah berada di samping tubuh mereka masing-masigng. Salah seorang dari mereka yang mengenakan topi dan baju atasan hitam, merokok di bawah pohon rindang. Salah seorang lainnya yang mengenakan topi dan baju atasan putih, terlihat duduk di seberang pria yang mengenakan topi dan baju atasan hitam tersebut. Pria yang mengenakan topi dan baju atasan putih tersebut terlihat diam membisu dengan pandangan kosong ke arah jalanan di depannya.

Ketika tiba di daerah subsetting saya, saya memutuskan untuk duduk di seberang warung nasi Priangan untuk mengamati sekeliling saya. Ternyata belum ada warga di daerah subsetting saya tersebut yang pindah rumah. Kemudian, terdapat seorang pria yang menggunakan topi dan kaos berwarna coklat muda sedang berjalan dengan mendorong troli kecil (yang biasa digunakan untuk memindahkan LPG) melewati saya menuju ke warung kopi teresebut. Saat saya tersenyum kepada pria tersebut, beliau pun membalasnya dengan tersenyum ramah kepada saya dan berkata, “Ngapain, Mbak?” Saya pun menjawab sekedarnya, “Hanya duduk-duduk di sini, Pak, berteduh sebentar (di bawah pohon rindang). Hehe.” Terlihat pula wanita pemilik warung kopi di seberang toko pernak-pernik sedang melayani seorang pembeli. Toko pernak-pernik itu sendiri terlihat tidak ada orang yang menjaganya. Namun, berdasarkan pengalaman saya, seorang wanita yang biasa menjaga toko pernak-pernik tersebut berada di balik lemari kaca di bagian belakang toko, dan baru muncul ketika ada pembeli yang memasuki tokonya tersebut. Sayangnya, tiada satu pun orang yang menjaga toko Rahayu Cell dan gerobak CiLok “Putuwijoyo 01” ketika saya melakukan pengamatan tersebut. Beberapa menit kemudian, terdapat seorang wanita berkemeja biru yang juga mengenakan celana jeans panjang dan topi bersama seorang anak laki-laki yang mengenakan kaos dan celana untuk bermain sepakbola, mengamen melewati daerah subsetting saya dari arah Stasiun Pondok Cina, dengan pembagian tugas wanita tersebut membawa alat pemutar lagu serta anak laki-laki tersebut membawa sebuah kantong bekas bungkus permen untuk meminta uang kepada setiap orang yang dilewati mereka. Ketika melewati warung kopi, toko pernak-pernik, serta toko Rahayu Cell, kedua pengamen tersebut mendapatkan hasil mengamen (berupa uang) yang nihil. Namun sang anak laki-laki berhasil mendapat uang ketika meminta kepada para pengunjung warung nasi Priangan. Tertangkap mata oleh saya kala itu seorang wanita pemilik warung nasi Priangan sedang melayani banyak pembeli, baik para pembeli yang makan langsung di warung tersebut maupun yang membawa makanannnya setelah dibungkus. Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pria penjual kerupuk keliling menghampiri wanita pemilik warung nasi Priangan kamudian mengambil tempat kerupuk yang ada di meja-meja warung nasi Priangan untuk diisi kerupuk. Di bengkel (tambal ban dan tiup angin) kecil di samping kanan warung nasi Priangan, terlihat begitu sepi dari luar. Padahal dalam pengamatan-pengamatan yang telah saya lakukan sebelumnya, teras rumah di belakang bengkel tersebut sering terlihat ramai oleh para wanita beserta anak-anak mereka yang sedang mengobrol dan bermain bersama.

Lara yang menusuk kalbu beberapa warga Pondok Cina sehubungan dengan penggusuran yang dilakukan oleh PT. KAI, ternyata tidak (terlihat) dirasakan oleh para warga yang menghuni warung kopi, toko pernak-pernik, hingga rumah Pak Asan tersebut. Harapan terus saya gaungkan agar seluruh warga Pondok Cina yang pindah rumah kelak akan mendapat penghidupan yang lebih baik lagi bersama keluarga mereka masing-masing di tempat tinggal barunya.

Advertisements

           Pondok Cina, sebagai salah satu kelurahan di Depok, Jawa Barat, hingga saat ini seakan tidak pernah sepi untuk dilewati serta disinggahi masyarakat yang memang sekedar melintasinya atau bahkan justru telah bermukim di sana, baik warga Kota Depok maupun masyarakat dari luar Depok. Mulai dari universitas, tempat kost-an, stasiun, toko buku Gramedia, pusat perbelanjaan Depok Town Square, serta diramaikan dengan banyaknya pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa (seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warung internet (warnet), usaha laundry, tempat fotokopian, penjual gorengan dengan gerobak, dan masih banyak lagi) sebagai unit usaha masyarakat Pondok Cina mampu terus memutar roda perekonomian di daerah tersebut. Keamanan dari banjir bandang serta kenyamanan saat hidup bersama dengan para warganya yang relatif friendly dan open, masih turut menjadi magnet bagi para kaum pendatang untuk tinggal dan berbisnis di Pondok Cina. Mengamati interaksi warga di Pondok Cina yang saya yakini beragam untuk mata kuliah Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) pun menjadi menarik bagi saya.

            Dengan kesepakatan bersama dalam kelompok, saya dan teman-teman saya memutuskan untuk mengambil sub-setting di tikungan jalan antara tempat parkir mobil di Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square. Di daerah sub-setting tersebut, terdapat sebuah warung tegal (warteg), sebuah toko mainan anak, seorang penjual makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” dengan gerobak yang settle, sebuah toko pulsa dan aksesoris handphone “Rahayu Cell”, sebuah warung nasi “Priangan”, rumah-rumah warga (yang merupakan penduduk asli) Pondok Cina, sebuah bengkel serta tempat tambal ban kecil, beberapa toko kelontong, dan sebuah toko baju.

Masih terdapat banyak pohon yang cukup rimbun di daerah sub-setting tersebut, sehingga suasana dan udara di sana tidak terlalu gersang dan panas. Jalanan yang sudah di-aspal namun belum begitu “mulus” karena masih banyak terdapat lubang, belum dapat dikatakan bersih dari sampah, terutama sampah-sampah yang telah disatukan ke dalam kantong plastik, yang dibiarkan terbengkalai begitu saja di luar rumah oleh warga setempat, karena ketiadaan tempat sampah di daerah sub-setting tersebut. Hal tersebut bahkan tidak jarang menyebabkan para warga secara swadaya membakar sampah di tikungan jalan menuju Depok Town Square bila pemulung jarang atau pun sedang tidak melewati daerah sub-setting tersebut. Ditemukan pula sampah-sampah kecil di dalam saluran parit di depan rumah para warga yang menghambat aliran airnya. Hal tersebut berafiliasi dengan keadaan sungai kecil di antara rumah-rumah warga (di sebelah kiri jalan yang menuju Depok Town Square dari Stasiun Pondok Cina) yang berisi banyak sampah menumpuk, terutama sampah plastik, sehingga warna airnya menjadi keruh.

Jalanan Pondok Cina yang terus diramaikan dengan lalu-lalang para pejalan kaki dan para pengendara motor, turut digaduhkan oleh derap langkah kereta Commuter Line, yang setiap kali ia lewat, jalanan di daerah Pondok Cina tidak terkecuali tempat saya berdiri dalam setiap “turun lapangan” pun akan bergetar di saat yang sama. Tidak sedikit motor yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina ditumpangi oleh 3 (tiga) orang sekaligus. Mungkin belum dipandang bahaya oleh sebagian masyarakat, memang, untuk mengendarai motor dengan cara yang salah seperti itu. Pelanggaran dalam berlalu-lintas di sana juga seringkali terlihat dari banyaknya pengendara motor yang tidak menggunakan helm. Banyak pula motor yang berjalan di depan saya dikendarai hanya oleh 1 (satu) orang di tiap motornya, yang dapat menunjukkan kecenderungan masyarakat Indonesia secara umum pada saat ini lebih sering (dan mungkin lebih merasa nyaman) mengendarai sepeda motor daripada sepeda biasa yang jauh lebih ramah lingkungan dan menyehatkan bagi yang mengendarainya.

Sejak “turun lapangan” yang pertama, saya telah memutuskan untuk menjadikan seorang penjual makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” sebagai objek pengamatan saya. Karena selain beliau merupakan satu-satunya warga yang memang lebih sering stand by di luar rumah (tepatnya di belakang gerobaknya) daripada warga lain di daerah sub-setting tersebut yang lebih sering berada di dalam rumah mereka masing-masing, gerobak beliau pun tidak jarang terlihat dihampiri oleh banyak pembeli yang dapat meyakinkan saya bahwa Cilok yang beliau jual enak (yang dibuktikan dengan terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual Cilok tersebut sebanyak delapan (8) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan pertama saya di hari Minggu serta sebanyak 10 (sepuluh) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan keempat saya di hari Minggu, (sebenarnya) lebih banyak pembeli Cilok “Putuwijoyo 01” tersebut bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitarnya pada waktu yang sama). Setelah beberapa kali “turun lapangan” pun, saya selalu disambut oleh beliau dengan tatapan dan salam yang ramah, sehingga saya belum pernah mengalami “penolakan” secara langsung dari warga setempat yang merasa “terganggu” dengan kehadiran para mahasiswa yang sedang melakukan observasi di sana.

Setelah beberapa kali berbincang dengan penjual makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” yang diketahui bernama (Mas) Ahmad tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa pemilik dari usaha perdagangan makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” tersebut bukanlah Mas Ahmad, namun seorang pria bernama (Pak) Marsino. Pak Marsino hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari usaha makanan ringan Cilok “Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di daerah sub-setting saya telah dijaga oleh Mas Ahmad tersebut serta cabang yang berada di belakang Depok Town Square dijaga oleh Mas Suryanto (seorang teman dari Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat).

Mas Ahmad yang lahir pada tanggal 16 Mei 1992 tersebut ternyata bukan merupakan warga Pondok Cina asli. Beliau diajak teman baiknya dari Jawa Tengah untuk bekerja menjual Cilok di Pondok Cina, Depok. Beliau tinggal dengan mengontrak rumah bersama temannya tersebut di daerah Depok I, tepatnya di Jalan Kedondong. Beliau bercerita bahwa di rumah kontrakannya tersebut sering terjadi mati lampu secara tiba-tiba, walau biasanya tidak mati terlalu lama. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah mengalami banjir, walau sering terjadi hujan deras di sana. Hobi yang beliau biasa lakukan di waktu senggangnya adalah merokok, walau tergantung pula dengan suasananya. Namun di daerah asalnya yakni Kebumen, ia ternyata senang bermain gitar, “walau gak jago-jago amat,” ungkapnya.

Saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa Mas Ahmad merupakan seorang penjual Cilok yang selalu ramah, fokus, dan ikhlas atau tulus dalam melayani para pembeli, dengan begitu cekatannya menyajikan Cilok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Cukup menarik pula bagi saya bahwa menurut beliau, pada umumnya, bapak-bapaklah yang lebih sering membeli Cilok darinya daripada ibu-ibu maupun anak-anak.

Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik. Beliau bercerita bahwa walau pun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga) kali, tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi penyebab dari pertengkaran-pertengkaran tersebut. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah melihat atau pun mengalami tindakan premanisme.

Setelah beberapa kali “turun lapangan” ke daerah Pondok Cina, saya pun sempat berbincang dan memperoleh sekelumit informasi mengenai kehidupan Pak Marsino. Pak Marsino yang telah beberapa kali saya pergoki secara langsung terlihat sedang merokok dengan nikmatnya bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, pernah terjadi penggusuran di daerah Pondok Cina oleh pihak Pemerintah yang menyebabkan Pak Marsino sempat berhenti berjualan untuk sementara waktu. Setelah beliau menemukan resep membuat Cilok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan Cilok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Pak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan Cilok khas-nya tersebut yang diberi nama (atau merek) “Cinlok”, karena umumnya “Cinlok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan Cilok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada Cilok khas-nya itu. Setelah dipercaya oleh banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil (berupa gerobak yang settle) dengan merek Cilok dagangannya “Cinlok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”.

Hingga saat ini, Pak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang biasa dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang biasa dijaga oleh Mas Ahmad), dan di daerah Kukusan (Beji, Depok). Pak Marsino pun pernah mengaku bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Mas Suryanto sempat mengatakan bahwa setiap hari Cilok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari.

Pak Marsino sempat bercerita pula bahwa perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah adalah begitu sedikitnya lapangan (kesempatan) kerja yang terdapat di domisilinya yang merupakan daerah pedesaan tersebut, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah daerah perkotaan. Selain itu, beliau pun berpendapat bahwa cuaca di Depok lebih panas daripada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di daerah domisili beliau, tiada warga yang mengemis, yang kontradiktif dengan keadaan di Depok (khususnya di Pondok Cina) yang setiap hari disinggahi banyak pengemis. Cukup menarik namun ironis, bahwa terdapat seorang pengemis yang setiap hari diberi uang oleh Pak Marsino (dengan nominal yang tidak banyak) karena bila tidak diberi uang maka pengemis tersebut marah.

Mengenai pengalaman menarik beliau (selama di Depok) yang tidak terlupakan, Pak Marsino menjelaskan bahwa kaki beliau pernah tersiram air panas ketika ia sedang menyiapkan bakso untuk dijual sejak dini hari, yang menyebabkan beliau sempat dibawa ke rumah sakit dan masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga setelah itu beliau memutuskan untuk pulang sejenak ke Jawa Tengah untuk beberapa hari. Di setiap perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di daerah domisili beliau, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga di daerah tersebut, termasuk oleh beliau. Berbeda dengan suasana “17 Agustus” di Depok yang menurut beliau kurang ramai, dan beliau sendiri tidak turut serta dalam perayaan tersebut di Depok. Menariknya, beliau mengaku bahwa dahulu (ketika masih muda) di daerah domisilinya ia pernah menjadi ketua Karang Taruna. Ternyata, Pak Marsino telah memiliki akun Facebook dan Twitter yang seringkali di-update oleh beliau, sekedar untuk mengisi waktu senggangnya. Beliau pun mengaku sering mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk belanja kebutuhan sehari-hari setiap bulannya serta mengetahui harga-harga gadget terkini melalui teman-temannya yang memiliki counter di Depok Town Square. Plaza Depok dan Depok Mall juga pernah dikunjungi beliau dulu.

Setelah pertanyaan-pertanyaan terkait pengalaman hidup dari Mas Ahmad dan Pak Marsino selama di Jawa Tengah dan di Depok saya ajukan kepada beliau semua ketika beberapa kali “turun lapangan”, saya mendapat insight tersendiri bahwa memang tidak sedikit perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang secara kasat mata memiliki kegiatan serta profesi yang sama. Dan dari perbedaan-perbedaan tersebut, setiap orang yang memilikinya akan mampu mendapatkan pengalaman menarik sekaligus berharga sebagai “guru terbaik” yang bisa mempengaruhi kehidupan serta prinsip yang dianut oleh orang tersebut di masa yang akan datang, terlepas dari kebiasaan dari orang tersebut unik atau pun tidak, dan mainstream atau pun antimainstream di masyarakat. Bahkan bila kita sebagai sesama manusia mau saling menghargai serta memanfaatkannya, perbedaan dari setiap orang dapat kita jadikan sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran dan refleksi untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Hasil pengamatan saya selain terhadap 2 (dua) objek pengamatan saya (yakni Mas Ahmad dan Pak Marsino) tersebut di daerah sub-setting saya, yaitu mengenai seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 tahun yang pernah terlihat merokok dengan santainya bersama sang ibu di balik lemari kaca di toko “Rahayu Cell”. Begitu pula dengan Mas Ahmad yang sering terlihat merokok ketika tidak ada pembeli yang menghampirinya. Hati saya ciut dan sedih, setelah untuk kesekian kalinya saya melihat langsung banyak dari generasi muda bangsa ini yang merokok dengan menikmati kehangatannya disertai wajah yang ceria tanpa khawatir sedikitpun akan sejuta bahaya dari sepuntung rokok.

Pernah pula dalam pengamatan saya muncul seorang ibu (berusia kurang-lebih 42 tahun) dari dalam warteg yang membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring. Ternyata, beliau ingin mencuci piring di luar warteg, dengan cara yang menurut saya kurang higienis. Setelah itu, wanita yang saya yakini merupakan ibu dari anak kecil yang merokok di toko “Rahayu Cell” tersebut terlihat pergi ke warteg lalu kembali ke toko “Rahayu Cell” dengan membawa dua (2) gelas air minum dalam kemasan merek Aqua. Tak lama kemudian, Mas Ahmad pun pergi ke warteg tersebut lalu kembali ke gerobaknya dengan membawa segelas kopi panas.

Pada suatu hari (ketika saya “turun lapangan”), dari dalam gang sempit antara toko mainan anak dan toko “Rahayu Cell”, muncul seorang bapak yang kurang-lebih berusia 50 tahun. Sekilas saya persepsikan, bahwa alis matanya yang berkerut mengandung arti dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Ia sempat berbincang dengan wanita yang rambutnya berkuncir kuda (ibu dari anak kecil yang merokok tersebut) yang sedang berada di dalam toko “Rahayu Cell”, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar percakapan mereka karena keriuhan suasana di Pondok Cina. Bapak tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by lima (5) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada wanita di toko “Rahayu Cell” tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Bapak tersebut menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Bapak tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ayah dan anak tersebut pun berterimakasih kepada Bapak itu atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara.

Saya pernah “turun lapangan” bersama dengan teman-teman di satu waktu, sebanyak 2 (dua) kali, yang selalu pada sore hari. Saya diajak teman-teman untuk berkunjung ke rumah salah satu warga asli Pondok Cina di daerah sub-setting kami yang begitu ramah dan terbuka, yaitu Pak Hasan. Tidak mengherankan, memang, ketika kami tiba di depan rumah Pak Hasan, beliau langsung menyunggingkan senyum secara tulus untuk menyambut kami. Beliau memiliki toko kelontong di depan rumahnya yang menjual beragam makanan dan minuman ringan plus gorengan. Dalam kunjungan pertama kami ke rumah beliau, setelah teman saya memperkenalkan kami sebagai mahasiswa yang ingin berbincang sejenak dengan beliau untuk mengetahui interaksi warga Pondok Cina, beliau tanpa ragu bercerita panjang-lebar kepada kami mengenai pengalaman hidupnya selama tinggal di Pondok Cina.

Ayah dari Pak Hasan yang terkena penyakit stroke sering terlihat duduk sendiri dengan mengenakan sarung dan kaos singlet di depan rumah beliau setiap sore. Begitu mengharukan bagi saya ketika Ayah dari Pak Hasan tersebut pernah mencoba berkomunikasi dengan saya dan teman-teman secara terbata-bata untuk bertanya apakah kami mahasiswa dari Kampus Universitas Indonesia (UI), kemudian beliau dengan perlahan menarik kursi plastik yang sebelumnya ia duduki untuk diberikan kepada kami (mempersilahkan kami duduk). Istri dari Pak Hasan pun begitu murah senyum (yakni selalu senyum dengan tulus tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu siapa lawan bicaranya, bahkan ketika ia tidak sedang berbincang dengan orang lain). Saat saya memperhatikan ketika Pak Hasan berbincang atau berdiskusi dengan sang istri, beliau berdua terlihat begitu akrab dan saling mendukung keputusan satu sama lain.

Cerita mengenai pengalaman hidup Pak Hasan yang selalu terlihat memakai kupluk tersebut beranekaragam dan “mengalir jauh”, mulai dari sejarah kedua orangtua dan keluarganya yang menguasai seni bela diri tradisional Betawi, pengaruh dari Pemerintah terhadap seni bela diri tradisional dan perkembangannya kini, contoh-contoh perbedaan dari keindahan tiap seni bela diri tradisional antar-daerah di Indonesia serta perbedaan antara seni tradisional dan seni modern saat ini. Saya pun berpendapat bahwa Pak Hasan menerangkan secara komprehensif mengenai seni tradisional Indonesia di tiap kunjungan kami ke rumah beliau, terutama mengenai seni bela diri tradisional, dengan tujuan dan harapan secara implisit agar para mahasiswa masa kini mau turut serta dalam usaha pelestarian seni tradisional Indonesia yang terlalu berharga untuk ditelan zaman dengan menyadari keindahan dari tiap seni tradisional yang memiliki kekhasan tersendiri di tiap daerah di Nusantara.

Menariknya, Pak Hasan sempat bercerita bahwa belum lama ini (yakni sekitar 2 (dua) minggu yang lalu) para warga RW. 08 Pondok Cina melakukan perjalanan rekreasi bersama-sama dengan biaya bersih yang diambil dari kas RW (jadi, warga tidak dipungut biaya lagi) ke Pemandian Air Panas Ciater, Jawa Barat dalam rangka mempererat tali silaturahim dan kekeluargaan dari seluruh warga, walau terdapat sebagian warga yang tidak ikut berekreasi karena memang tidak diwajibkan. Beliau pun menceritakan pengalaman warga RW. 08 yang juga pernah mengunjungi Masjid Kubah Emas di Cinere, Depok bersama-sama. Waktu yang diperlukan untuk berbincang dengan Pak Hasan memang seakan tidak pernah cukup bagi kami J.

Setelah melakukan pengamatan sebanyak 4 (empat) kali dalam rentang waktu sejak minggu pertama September hingga minggu pertama Oktober, pada hari Sabtu, 12 Oktober 2013, pukul 08.15 WIB, saya melakukan pengamatan sekali lagi (sebelum Ujian Tengah Semester (UTS)) dengan berjalan kaki mengamati suasana keramaian Pondok Cina dari belakang Depok Town Square hingga depan gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok, sembari berbincang dengan beberapa warga namun tidak dengan para objek pengamatan saya sebelumnya (yaitu Mas Ahmad dan Pak Marsino).

Dari perbincangan dengan beberapa warga namun tidak dengan para objek pengamatan saya sebelumnya tersebut, saya memperoleh informasi bahwa ternyata di sebagian besar wilayah RW. 08 daerah Pondok Cina (yaitu di sekitar depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok, yang banyak berdiri pertokoan aksesoris dan jasa service komputer, hingga masuk ke dalam sebuah gang kecil di sebelah kiri) memang sudah banyak dijadikan tempat tinggal oleh para kaum pendatang yang bukan merupakan penduduk asli Pondok Cina, sehingga keakraban kurang terlihat dari interaksi antar-warga di wilayah RW. 08 tersebut (relatif terhadap interaksi antar-warga di wilayah sub-setting saya), walau pun pertemuan antar-warga seperti rapat RT, rapat RW, arisan, serta acara perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus masih terus diadakan dan dihadiri oleh para warga.

Keadaan (relasi) antar-warga di wilayah gang kecil yang dihuni oleh para kaum pendatang tersebut cukup berbeda dengan keadaan (relasi) antar-warga di daerah sub-setting saya yang memang dihuni oleh para penduduk asli Pondok Cina, walaupun masih dalam wilayah Rukun Warga (RW) yang sama dengan daerah di sekitar depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok tersebut. Perbedaan tersebut juga terlihat dari model rumah yang besar dan berpagar rapat di dalam gang kecil tersebut dengan rumah yang lebih kecil (seperti rumah di Perumnas pada umumnya) dan pelatarannya sering dijadikan tempat bersosialisasi oleh para warga di daerah sub-setting saya.

Khusus di dalam gang kecil cabang dari Gang Pondok Cina tersebut, ternyata di sisi kanan-kiri jalan di sepanjang gang kecil itu terdapat rumah-rumah warga yang beberapa di antaranya merupakan rumah kost. Menarik ketika saya mendapati banyak dari rumah-rumah warga tersebut diberi pagar, yang menurut saya mampu mengurangi intensitas interaksi antar-warga di gang kecil itu. Tidak sedikit dari rumah-rumah tersebut terlihat sepi dan bahkan kosong karena tidak ada penghuninya yang (pada saat saya “turun lapangan”) sedang beraktivitas di halaman rumah dan bahkan pagarnya tertutup rapat. Menurut seorang bapak pemilik salah satu toko kelontong di dalam gang kecil tersebut, yang sudah tinggal di sana kurang-lebih selama 2 (dua) tahun, daerah sepanjang gang kecil tersebut memang terbilang sering sepi karena lebih banyak rumah yang menyediakan tempat kost untuk perempuan sehingga sering terlihat tertutup karena lebih “protektif” daripada tempat kost untuk laki-laki.

Dari penuturan seorang ibu pemilik salah satu restoran kecil di dalam gang kecil tersebut, yang baru saja tinggal di sana kurang-lebih selama 2 (dua) minggu, diketahui bahwa warga di sana umumnya baik dan ramah ketika bertemu dan bertegur sapa dengannya di luar rumah. Walau pun memang intensitas untuk berinteraksi lebih dekat serta menjalin relasi dengan lebih akrab lagi belum sempat beliau lakukan bersama para warga di sana, mengingat bahwa beliau pindah ke daerah Pondok Cina ini memiliki tujuan utama untuk mencari penghasilan dengan berdagang makanan dan minuman melalui restoran kecilnya tersebut.

Terdapat pula pengalaman singkat yang telah diceritakan oleh beberapa teman saya, bahwa kedatangan teman-teman saya ke Pondok Cina ketika “turun lapangan” tersebut sempat langsung “ditolak” seorang ibu penjual kopi di warteg tersebut, sebelum mereka sempat berkata apa-apa, dengan alasan bahwa beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Ada pula teman saya yang mengaku memiliki pemikiran (yang cukup subjektif menurut saya, karena saya tidak mengalaminya secara langsung) bahwa para warga yang berada di sub-setting kami akhir-akhir ini menunjukkan sikap dan pandangan tidak ramah kepada kami bahkan lebih menutup diri daripada dalam pengamatan-pengamatan kami sebelumnya.

Sedih saya mendengar cerita dari pengalaman tersebut, karena sesungguhnya saya bersama teman-teman tidak ingin para warga Pondok Cina memiliki persepsi awal yang negatif terhadap mahasiswa, walau mungkin memang para warga masih merasa insecure terhadap kehadiran “orang baru” yang tiba-tiba datang ke lingkungan mereka secara intens. Ternyata, usaha pendekatan yang telah saya dan teman-teman lakukan selama ini kepada beberapa warga Pondok Cina di sub-setting kami tidak semudah yang awalnya pernah kami yakini.

Sejak pertama kali kelas MMI “turun lapangan” ke sub-setting masing-masing kelompok, saya telah memperhatikan seorang bapak yang tinggal di sebelah kanan dari sebuah bengkel serta tempat tambal ban kecil di daerah sub-setting saya. Bapak tersebut tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang begitu tajam dan penuh kecurigaan kepada kami (saya dan teman-teman) setiap kali kami melewati rumahnya, hingga saya pribadi sempat merasa paranoid dan memperkirakan bahwa bapak tersebut mengalami gangguan jiwa. Ingin sekali rasanya saya berkunjung ke rumah bapak tersebut untuk berkenalan dan meluruskan persepsinya dengan memperlihatkan kenyataan bahwa sebenarnya para mahasiswa yang sejak awal September sering terlihat mondar-mandir ngobrol dengan para warga di Pondok Cina itu tidak pernah memiliki sedikitpun maksud ataupun motif buruk terhadap para warga di Pondok Cina, walau sebenarnya kami (para mahasiswa) juga belum dapat memberikan kebermanfaatan yang secara nyata dapat dirasakan para warga di Pondok Cina melalui kegiatan pengamatan tersebut. Namun hingga saat ini, entah mengapa saya belum berani berkunjung dan berbincang dengan bapak tersebut. Seorang teman saya memberi saran untuk tidak terlihat membawa buku ketika “turun lapangan” agar dapat terlihat lebih membaur dengan para warga setempat secara natural dan membumi, karena para warga tersebut masih cukup sensitif dengan kegiatan pengamatan mahasiswa terhadap mereka.

Saya sempat merenungi kegiatan pengamatan yang telah saya lakukan di Pondok Cina beberapa kali, dengan mencoba memahami keadaan ketika saya yang menjadi warga Pondok Cina dan terdapat sekelompok mahasiswa yang menjadikan saya objek pengamatan, untuk tujuan apapun. Saya pribadi sebenarnya tidak begitu takut dan menutup diri ketika bertemu dengan orang asing yang di kemudian hari justru bercengkerama dengan saya secara intens. Namun, keadaan psikologis serta historis yang berbeda antara kami (para mahasiswa) dan para warga yang mayoritas dari mereka masih termasuk dalam golongan ekonomi “menengah ke bawah” di Pondok Cina tersebut menyebabkan fleksibilitas penerimaan terhadap orang asing dalam kehidupan mereka masih cukup rendah. Comfort zone dari masing-masing warga tersebut pun begitu “dilindungi” oleh mereka dari segala bentuk threat atau ancaman dari luar dengan cara bersikap apatis terhadap keberadaan dan keadaan orang lain yang masih dianggap “asing” oleh mereka.

Prolog

            Langit biru yang sedang menangis deras pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 pukul 13.00 WIB menambah gulana suasana hati kecil ini, di sepanjang perjalanan saya dari FE (Fakultas Ekonomi) ke Pondok Cina, yang belum dapat tenang seiring dengan berjalannya proses penggusuran oleh PT. KAI (PT. Kereta Api Indonesia) di daerah subsetting kelompok MMI (Manusia dan Masyarakat Indonesia) saya (gang di sebelah timur – belakang Stasiun Pondok Cina; mulai dari lahan parkir kendaraan di Stasiun Pondok Cina hingga ke bekas rumah Ketua RW. 08, ke arah Depok Town Square) sejak awal November 2013 dengan target untuk seluruh warga setempat pindah dari Pondok Cina paling lambat minggu ketiga Desember 2013.

———————————————————————————————

                 Sekilas gambaran mengenai kondisi fisik serta suasana Pondok Cina pada umumnya dan daerah subsetting kelompok MMI saya pada khususnya kini, bahwa masih terdapat beberapa pohon yang cukup rimbun di daerah sub-setting tersebut, sehingga suasana dan udara di sana tidak terlalu gersang dan panas. Jalanan yang sudah di-aspal dan bersih dari sampah non-organik (yakni sampah plastik, kertas, botol, dan sebagainya selain dedaunan tua yang memang berjatuhan ke jalanan dari pepohonan di pinggir jalan), jauh berbeda kondisinya dengan parit dan sungai kecil di pinggir jalanan yang airnya sudah pekat akan banyaknya sampah non-organik yang menumpuk di atas genangannya hingga berwarna hitam. Untungnya, meski kondisi parit dan sungai kecil di sana tersebut memprihatinkan, hingga kini belum ada warga Pondok Cina yang ketika saya wawancara bercerita bahwa Pondok Cina banjir karena hujan. Semakin minimnya jumlah sampah yang tergeletak sembarangan di jalanan tersebut (bila dibandingkan dengan jumlah sampah yang dapat ditemukan di jalanan sebelum bulan November 2013 tiba) ditengarai berbanding lurus dengan semakin sedikitnya jumlah warga di daerah subsetting kelompok MMI saya yang hingga pada hari terakhir pengamatan saya (Sabtu, 14 Desember 2013) masih keukeuh menetap di sana walau di akhir minggu ketiga bulan ini mereka sudah di‘harus’kan meninggalkan daerah tersebut. Namun, pada hari yang sama, masih saya temukan 2 (dua) tumpukan kecil sampah dan dedaunan di pinggir jalan (di sisi kiri dari lahan parkir Stasiun Pondok Cina, bila kita berjalan dari arah Gramedia masuk ke gang subsetting kelompok MMI saya) yang menjadi sisa pembakaran oleh warga setempat.

Hingga saat ini pun, daerah Pondok Cina (tidak terkecuali daerah subsetting kelompok MMI saya) seakan tidak pernah sepi untuk dilewati oleh masyarakat yang umumnya sekedar melintasinya baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai motor, terutama oleh para mahasiswa dan mahasiswi, mengingat bahwa di daerah Pondok Cina terdapat 2 (dua) universitas, tempat kost-an, stasiun, toko buku Gramedia, pusat perbelanjaan Depok Town Square, serta ramai dengan terdapat banyaknya pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa (seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warnet (warung internet), usaha laundry, tempat fotokopian, penjual gorengan dengan gerobak, dan masih banyak lagi). Daerah Pondok Cina juga digaduhkan oleh derap langkah kereta CL (Commuter Line) setiap kali ia melewati Stasiun Pondok Cina, dengan turut bergetarnya jalanan di sana seiring kedatangan kereta CL tersebut.

Di daerah subsetting kelompok MMI saya tersebut, terdapat sebuah warteg (warung tegal) “Ronda-Ronde” dengan tokoh Ibu Cindy, sebuah toko mainan dan aksesoris anak dengan tokoh Kakak kandung Ibu Nunuk, seorang penjual makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” (dengan gerobak yang settle) bernama Mas Ahmad, sebuah toko pulsa dan aksesoris handphone “Rahayu Cell” dengan tokoh Ibu Nunuk, sebuah warung nasi “Priangan” dengan tokoh Ibu Amero, rumah-rumah warga (yang merupakan penduduk asli) Pondok Cina, sebuah bengkel serta tempat kecil untuk tambal dan pompa ban dengan tokoh Bapak Mamin, toko kelontong kecil yang menjual minuman-minuman ringan blended dengan tokoh Ibunda dari Bapak Mamin, sebuah toko baju, sebuah toko kelontong yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan dengan tokoh Bapak Asan, seorang penjual bensin eceran, serta Ketua RW. 08. (dengan urutan lokasi masing-masing yakni start dari lahan parkir kendaraan di Stasiun Pondok Cina menuju ke bekas rumah Ketua RW. 08, ke arah Depok Town Square).

Setiap setelah melakukan pengamatan (‘turun lapangan’), saya beserta teman-teman sekelompok MMI saling bercerita tentang perkembangan temuan interaksi dari masing-masing objek pengamatan kami dengan orang-orang di sekitar mereka untuk saling meng-update kabar terkini warga di ‘lapangan’.

Ibu pemilik warteg (warung tegal) “Ronda-Ronde” bernama Ibu Cindy. Menurut beberapa teman kelompok MMI saya, pada awalnya Ibu Cindy kurang ‘bersahabat’ dengan kami yang sedang melakukan pengamatan di sana karena ketika kami mengajak bicara Ibu Cindy, kami dianggap mengganggu beliau bekerja. Namun, Alhamdulillah semakin lama beliau pun dapat menerima kami ketika kami sekedar berkunjung kembali ke warung beliau. Sepanjang pengamatan kami, terutama salah satu teman kelompok MMI saya yang menjadikan Ibu Cindy sebagai objek pengamatannya, interaksi yang terlihat antara Ibu Cindy dengan para pelanggannya hanya sebatas interaksi jual-beli; interaksi selesai ketika Ibu Cindy selesai menyediakan makanan dan minuman yang dipesan oleh pelanggannya tanpa berbasa-basi. Pernah pula pada suatu hari saya melihat suami dari Ibu Cindy melayani pesanan makanan dan minuman kepada para pelanggan ketika Ibu Cindy memasak. Acap kali Ibu Nunuk (seorang wanita pemilik “Rahayu Cell” di seberang warung Ibu Cindy) terlihat bercengkerama dengan Ibu Cindy, seperti ketika Ibu Nunuk membeli air mineral dan gorengan ke warung Ibu Cindy dan ketika Ibu Nunuk menanyakan Ibu Cindy tentang proses penggantian atap warung Ibu Cindy yang sempat bocor. Mas Ahmad (seorang pria yang menjaga gerobak CinLok “Putuwijoyo 01” di antara toko mainan dan aksesoris anak dan toko pulsa dan aksesoris handphone “Rahayu Cell”) serta bosnya Bapak Marsino (seorang pria pemilik usaha CinLok “Putuwijoyo 01”) pernah pula terlihat membeli kopi panas dan gorengan ke warung Ibu Cindy selama menjaga gerobaknya ketika belum ada pelanggan yang membeli CinLok. Pada suatu hari, saya pernah melihat Ibu Cindy keluar dari warung beliau untuk membuang sampah dalam plastik transparan besar berwarna merah (dengan cara meletakkannya begitu saja) ke samping warung beliau tersebut, untuk nantinya diambil oleh pemulung, serta di hari lain dari dalam warung beliau pernah beliau membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring untuk dicuci di luar warung beliau tersebut dengan cara yang menurut saya kurang higienis.

Toko mainan dan aksesoris anak di seberang warung Ibu Cindy merupakan milik dari Kakak kandung Ibu Nunuk. Dalam beberapa pengamatan, saya pernah melihat seorang pria yang kurang-lebih berusia 50 tahun, duduk di teras ‘Rahayu Cell’ dan di hari lain duduk di teras toko mainan dan aksesoris anak tersebut. Sekilas saya sempat persepsikan di awal pengamatan, bahwa alis mata beliau yang berkerut mengandung arti secara implisit dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Beliau pernah saya lihat berbincang dengan Ibu Nunuk yang sedang berada di dalam toko “Rahayu Cell”, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar isi percakapan mereka pada saat itu karena keriuhan suasana di Pondok Cina. Pria yang sedang mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam serta celana bahan selutut tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by 5 (lima) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada Ibu Nunuk, dan kemudian pria tersebut memakan es potong bersama dengan Ibu Nunuk sambil duduk di teras toko mainan dan aksesoris anak tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Pria tersebut segera menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, pria tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ayah dan anak tersebut pun berterimakasih kepada beliau atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara (ke arah Masjid di Gunadarma). Pada kesempatan lain ketika mengunjungi Pondok Cina, saya juga pernah mengamati Kakak kandung Ibu Nunuk tersebut yang sedang mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih serta celana bahan selutut duduk di teras toko mainan dan aksesoris anak tersebut sambil menggendong seorang anak perempuan cantik yang berusia kira-kira 3 (tiga) tahun dan tersenyum tulus yang menyiratkan kebahagiaan tersendiri dari wajah beliau, dengan tetap menyapa ramah beberapa warga yang lewat di depannya. Saya pun tidak ketinggalan turut tersenyum kepada beliau setiap saya lewat di hadapannya. Beberapa teman kelompok MMI saya juga pernah mengamati Ibu Nunuk tidak jarang meminta tolong Kakaknya tersebut untuk melayani pelanggan di toko “Rahayu Cell” saat Ibu Nunuk sibuk dengan urusan lain. Sebenarnya, saya beserta teman-teman sekelompok MMI belum pernah menangkap interaksi antara pria tersebut maupun orang lain yang menjaga toko tersebut dengan pelanggan di toko mainan dan aksesoris anak (karena pada beberapa kesempatan saat ‘turun lapangan’, kami mendapati toko mainan dan aksesoris anak tersebut tidak hanya dijaga oleh Kakak kandung Ibu Nunuk tersebut, tapi juga pernah dijaga oleh anggota keluarga Ibu Nunuk lainnya yang memang banyak tinggal bersama di rumah-rumah di belakang toko “Rahayu Cell”). Namun, saat saya bersama salah satu teman kelompok MMI saya mengunjungi toko mainan dan aksesoris tersebut dan untuk pertama kalinya menjadi pelanggan, terdapat seorang wanita berkulit putih dengan rambut dikuncir kuda yang sedang mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana bahan selutut yang menjaga toko tersebut dari balik sebuah lemari display yang besar dan kemudian memberi kebebasan kepada kami untuk melihat berbagai barang yang dijualnya tanpa pengawasan yang begitu ketat. Kami melihat barang-barang yang dipajang di sana, seperti gelang, kertas kado, kartu ucapan, boneka, lampu meja, celengan, dan sebagainya. Saya membeli 3 (tiga) buah gelang yang di-bundling seharga Rp. 10,000 untuk saya dan 2 (dua) teman saya pakai nantinya. Ketika saya mencoba memakai salah satu gelang tersebut, simpul talinya tidak sengaja lepas sehingga gelang tersebut pun tidak bisa dipakai lagi. Melihat kejadian tersebut, wanita tersebut pun dengan senang hati menukarnya dengan gelang baru yang belum rusak atau masih dalam keadaan baik, tanpa perlu saya membayar lagi. Wanita tersebut cukup ramah kepada kami. Namun, terdapat hal yang menyayat hati saya ketika itu, bahwa sedari kami datang mengunjungi toko tersebut, terdapat seorang anak perempuan cantik yang sedang bermain hujan di depan toko tersebut menggunakan payung. Anak tersebut berumur sekitar 6 (enam) tahun. Ketika saya menyapa anak tersebut dan menanyakan namanya, ia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama kami melihat barang-barang yang dipajang di sana, wanita tersebut sempat terlihat mencari sesuatu di atas meja display di depan toko lalu berkata kepada anaknya dengan nada tinggi, “Eh, obat gw mana? Lo ilangin lagi, ya, obat gw? Dasar anak monyet emang, lu.” Padahal saya lihat, anak tersebut tidak mengerti perkataan wanita tersebut dan hanya diam termangu melihat wanita tersebut berteriak kepadanya. Ketika wanita tersebut menghampirinya, anak tersebut lari membawa payungnya ke arah Depok Town Square. Pada hari terakhir pengamatan saya (Sabtu, 14 Desember 2013), saya melihat terdapat 2 (dua) orang pria berambut agak gondrong dan berbaju putih yang menjaga toko mainan dan aksesoris anak tersebut. Beliau berdua terlihat sibuk saling berdiskusi satu sama lain di dalam toko, namun sesekali tertangkap pula momen ketika beliau berdua menertawakan sesuatu yang mereka diskusikan tersebut, sambil juga menyapa ramah beberapa warga yang lewat di depan mereka.

Di gang kecil antara toko mainan dan aksesoris anak serta toko “Rahayu Cell”, terdapat seorang penjual makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” yang menjadi salah satu fokus dari objek pengamatan saya, bernama Mas Ahmad. Selain beliau merupakan satu-satunya warga yang memang lebih sering stand by di luar rumah (tepatnya di belakang gerobaknya) daripada warga lain di daerah subsetting kelompok MMI saya yang lebih sering berada di dalam rumah mereka masing-masing, gerobak beliau pun tidak jarang terlihat dihampiri oleh banyak pembeli yang dapat meyakinkan saya bahwa CinLok yang beliau jual enak (yang dibuktikan dengan terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual CinLok tersebut sebanyak delapan (8) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan pertama saya di hari Minggu serta sebanyak 10 (sepuluh) kali selama 1 (satu) jam dalam pengamatan keempat saya di hari Minggu, (sebenarnya) lebih banyak pembeli CinLok “Putuwijoyo 01” tersebut bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitarnya pada waktu yang sama). Setelah beberapa kali “turun lapangan” pun, saya selalu disambut oleh beliau dengan tatapan dan salam yang ramah, sehingga saya belum pernah mengalami “penolakan” secara langsung dari warga setempat yang merasa “terganggu” dengan kehadiran para mahasiswa yang sedang melakukan observasi di sana. Setelah beberapa kali berbincang dengan Mas Ahmad tersebut, saya mendapatkan informasi bahwa pemilik dari usaha perdagangan makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” adalah Bapak Marsino yang hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari usaha makanan ringan CinLok “Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di daerah subsetting kelompok MMI saya tersebut telah dijaga oleh Mas Ahmad serta cabang yang berada di belakang Depok Town Square dijaga oleh Mas Suryanto (seorang teman dari Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat). Saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa Mas Ahmad merupakan seorang penjual CinLok yang selalu ramah, fokus, dan ikhlas atau tulus dalam melayani para pembeli, dengan begitu cekatannya menyajikan CinLok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Cukup menarik pula bagi saya bahwa menurut beliau, pada umumnya, bapak-bapaklah yang lebih sering membeli CinLok darinya daripada ibu-ibu maupun anak-anak. Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik. Beliau bercerita bahwa walau pun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga) kali, tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi akar dari pertengkaran-pertengkaran tersebut. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah melihat atau pun mengalami tindakan premanisme. Setelah beberapa kali ‘turun lapangan’ ke daerah Pondok Cina, saya pun sempat berbincang dan memperoleh sekelumit informasi mengenai kehidupan Bapak Marsino. Bapak Marsino yang telah beberapa kali saya pergoki secara langsung sedang merokok dengan nikmatnya bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, pernah terjadi penggusuran di daerah Pondok Cina oleh pihak Pemerintah yang menyebabkan Bapak Marsino sempat berhenti berjualan untuk sementara waktu. Setelah beliau menemukan resep membuat CinLok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan CinLok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Bapak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan makanan khas yang sebenarnya bernama “Cilok” tersebut dengan memberinya nama (atau merek) baru “CinLok”, karena umumnya “CinLok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan CinLok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada CinLok khas-nya itu. Setelah dipercaya oleh banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil (berupa gerobak yang settle) dengan merek CinLok dagangannya “CinLok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”. Hingga akhir Oktober 2013, Bapak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “CinLok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang biasa dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang biasa dijaga oleh Mas Ahmad), dan di daerah Kukusan (Beji, Depok). Bapak Marsino pun pernah mengaku bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Sebelum proses penggusuran mulai dilaksanakan oleh PT. KAI, Mas Suryanto pernah bercerita kepada saya bahwa setiap hari CinLok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari. Namun, setelah proses penggusuran mulai dilaksanakan oleh PT. KAI sejak awal November 2013, tidak jarang saya mendapati gerobak “CinLok Putuwijoyo 01” di daerah subsetting kelompok MMI saya serta di cabang yang berada di belakang Depok Town Square kosong atau sedang tidak berjualan, ketika sebenarnya masih terdapat beberapa pedagang kecil yang menjajakan barang dagangannya kepada para masyarakat yang melewati jalan dari dan ke Depok Town Square tersebut walau memang tidak seramai sebelum proses penggusuran dimulai. Terakhir kali saya bertemu dengan Bapak Marsino yang sedang membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya yang beliau beli di warungnya Ibu Cindy, yakni tepatnya pada saat pengamatan ketujuh saya. Kala itu, Bapak Marsino yang sedang menggunakan seragam kerjanya (bertuliskan “Putuwijoyo 01” di belakang punggungnya) lengkap dengan topi dan senyum khasnya seperti biasa menyapa saya dengan berkata, “Masih ingat, Mbak, dengan saya?” Saya pun menjawab, “Wah, Pak, masih, dong. Hehe. Kok Bapak jaga di sini (di gerobak “CinLok Putuwijoyo 01” samping “Rahayu Cell”), ya? Mas Ahmad ke mana, ya?” Lalu Bapak Marsino yang terlihat sambil menggunakan handphonenya untuk mengetik sesuatu pun berkata, “Iya, Mas Ahmad lagi pulang kampung. Kangen keluarga, katanya. Udah sekitar 3 (tiga) bulanan Dia di sini.” Bapak Marsino pun cerita bahwa setelah penggusuran oleh PT. KAI beliau tetap ingin berjualan CinLok di Pondok Cina tersebut, dengan memindahkan gerobaknya ke halte di sisi samping rel kereta api (di belakang Depok Town Square).

Pada pengamatan pertama saya di Toko “Rahayu Cell” milik Ibu Nunuk, saya pernah melihat seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 (lima) tahun yang pernah terlihat merokok dengan santainya bersama sang ibu (yakni Ibu Nunuk) di balik lemari display di toko “Rahayu Cell”. Di awal masa pengamatan MMI kami, tidak jarang kami mendapati Ibu Nunuk berusaha ‘menghindar’ dari penglihatan kami dengan cara pergi ke warungnya Ibu Cindy atau ke rumah di belakang toko “Rahayu Cell” setelah beliau mendapati kami datang ke daerah subsetting kelompok MMI saya tersebut beramai-ramai dengan membawa buku catatan dan alat tulis. Namun semakin lama, saya dan terutama beberapa teman kelompok MMI saya menyadari bahwa sebenarnya Ibu Nunuk cekatan dan ramah dalam melayani pelanggan yang menghampiri toko bercat dinding warna kuningnya tersebut meski beliau jarang tersenyum, setelah beberapa teman saya berhasil ‘mendekati’ dan berdiskusi dengan beliau dalam beberapa kali kunjungan. Pernah suatu hari terlihat Ibu Nunuk membeli gorengan di warung nasi “Priangan” milik Ibu Amero. Sempat pula tertangkap mata oleh beberapa teman kelompok MMI saya momen ketika Ibu Nunuk menyusul anaknya yang sedang bermain di warung nasi “Priangan” tersebut. Namun pada kesempatan lain, beberapa teman kelompok MMI saya sempat melihat Ibu Nunuk menarik tangan anaknya yang hendak bermain ke warung nasi “Priangan”. Ibu Nunuk pun pernah terlihat sedang menyuapi anaknya makanan dan memandikan lalu memakaikan baju anaknya pada kesempatan yang lain. cukup disayangkan, bahwa Mas Ahmad pernah bercerita kepada saya bahwa beliau belum pernah berinteraksi dengan Ibu Nunuk padahal hampir setiap hari beliau berdua sama-sama menjaga toko masing-masing yang letaknya berdampingan. Cerita Mas Ahmad tersebut sebanding dengan hasil pengamatan saya beserta teman-teman sekelompok MMI yang belum pernah melihat interaksi di antara keduanya, dengan dukungan fakta bahwa memang Mas Ahmad merupakan seseorang yang pendiam dan juga merupakan penduduk baru di Pondok Cina. Ibu Nunuk seringkali cukup sulit ditemui oleh pelanggan yang mendatangi toko “Rahayu Cell” karena menurut hasil pengamatan beberapa teman kelompok MMI saya beliau lebih sering berada di toko mainan dan aksesoris anak ataupun di warungnya Ibu Cindy.

Interaksi antara Ibu Amero, pemilik warung nasi “Priangan”, dengan orang-orang di sekitarnya sempat terlihat ketika saya beserta teman-teman sekelompok MMI ‘turun lapangan’ beberapa kali. Seperti ketika Mas Ahmad membeli gorengan di warung nasi “Priangan”, saat Ibu Amero mengantarkan cucunya membeli es potong kepada pedagang keliling yang sedang berhenti di depan toko mainan dan aksesoris anak, serta waktu Ibu Amero menanyakan kabar tentang anjing milik Bapak Mamin. Beberapa teman kelompok MMI saya pernah mendapati Ibu Amero sedang memasak bersama di dapur (di bagian belakang warung nasi “Priangan”) dengan menantunya yang bernama Ibu Sri. Ibu Amero pun pernah tertangkap mata sedang meminta tolong (atau memberi tugas) kepada Ibu Sri untuk menyediakan pesanan makanan dan minuman kepada para pelanggan yang datang ke warung nasi “Priangan” tersebut. Ibu Amero yang seringkali mengajak ngobrol para pelanggannya sembari menyiapkan pesanan makanan dan tidak jarang berkomunikasi kepada Ibu Sri, tetangga, dan pelanggannya dengan Bahasa Sunda tersebut sudah hafal dengan menu yang cukup sering dipesan oleh para pelanggan yang memang sudah sering datang ke warung nasi “Priangan” tersebut. Pernah pada suatu hari, saya beserta beberapa teman sekelompok MMI berkunjung ke warung nasi “Priangan” dan memesan minuman untuk sekaligus berteduh dari hujan gerimis pada saat itu sembari menunggu beberapa teman kami yang belum tiba di Pondok Cina. Pada kesempatan yang lain, Ibu Amero sempat terlihat dari balik pintu samping rumahnya sedang memasak di dapur dengan mengenakan kaos berwarna merah muda. Saya sempat menyapa beliau dengan sekedar berkata “Halo, Bu.”, dan beliau langsung menjawab dengan hati-hati, “Iya, ada apa, ya?” Setelah saya menjelaskan secara singkat kepada beliau bahwa saya hanya kebetulan melewati Pondok Cina dan sekedar ingin menyapa beliau, beliau pun akhirnya mengerti dan sempat tersenyum kepada saya sebelum beliau melanjutkan kembali kegiatan memasaknya dengan segera.

Di belakang toko “Rahayu Cell” dan warung nasi “Priangan”, terdapat sejumlah rumah warga. Saya beserta teman-teman sekelompok MMI pun sempat pada suatu hari memperhatikan keadaan di sekeliling kami ketika ‘turun lapangan’ dan mendapati banyak wanita dan anak-anak kecil yang sedang duduk dan saling berbincang satu sama lain di pelataran atau teras rumah (di belakang tempat tambal ban milik Bapak Mamin) dengan volume suara yang kecil hingga kami tidak dapat mendengar apa yang sedang diperbincangkan dari kejauhan (bahkan kami tidak akan mengetahui keberadaan banyak wanita dan anak-anak kecil tersebut bila kami hanya mengandalkan pendengaran kami tanpa melihat mereka secara langsung dengan lebih jelas lagi). Sangat disayangkan, memang, bahwa tidak ada satupun dari kami yang pada saat itu mau memberanikan diri untuk menghampiri mereka dan mengetahui interaksi yang terjadi di antara mereka. Karena, di saat yang sama terlihat pula sedang duduk di pelataran atau teras rumah tersebut kakak dari Pak Asan yang sedari saya beserta teman-teman sekelompok MMI pertama kali melakukan pengamatan di Pondok Cina tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang tajam dan lekat kepada kami setiap kali kami melewati rumahnya, walau saya telah beberapa kali mencoba menganggukkan kepala saya sambil menyunggingkan senyum dan berkata “Permisi, Pak,” (sebagai sapaan) kepada beliau, namun tatapan tajam dan lekat tersebut masih saja kami terima dari beliau sebelum Bapak Asan beserta seluruh keluarga besarnya yang tinggal bersama di Pondok Cina pindah hunian ke daerah Kukusan-Teknik di awal minggu kedua Bulan Desember 2013 yang lalu.

Bapak Mamin, pemilik bengkel serta tempat kecil untuk tambal dan pompa ban di samping warung nasi “Priangan” yang memelihara anjing berukuran besar dan berwarna hitam legam, merupakan seseorang yang baik, dengan tertangkapnya momen oleh beberapa teman kelompok MMI saya bahwa beliau selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat menerima pembayaran dari pelanggan atas jasanya (menambal atau memompa ban) serta mempersilakan para pelanggannya duduk di kursi kayu yang sederhana di depan bengkelnya tersebut dan mengajak ngobrol mereka untuk menunggu proses tambal atau pompa ban. Pernah pada suatu hari beberapa teman kelompok MMI saya melihat Bapak Mamin membeli minuman di toko kelontong kecil yang menjual minuman-minuman ringan blended di samping bengkel kecil beliau tersebut, tetapi Bapak Mamin tidak membayar karena penjual dari berbagai minuman ringan tersebut merupakan Ibunda dari Bapak Mamin. Ibunda dari Bapak Mamin sudah cukup renta, berusia kurang-lebih 60 (enam puluh) tahun. Saya pernah memperhatikan beliau dari jauh, ketika beliau berjalan perlahan dari dalam rumahnya menuju toko kelontong kecilnya tersebut untuk duduk di sana dan menunggu kedatangan pelanggan. Pada saat itu, rambut putih beliau dikonde dan beliau mengenakan daster warna putih. Di atas meja di depannya, terdapat sewadah air putih, sebuah blender, dan beberapa bungkus sachet minuman ringan. Beliau terlihat begitu sabar dan tulus menunggu pelanggan hingga membuat saya langsung teringat akan Nenek saya yang begitu saya sayangi.

Terdapat sebuah toko baju kecil di daerah subsetting kelompok MMI saya, tepatnya di tikungan jalan dari arah Stasiun Pondok Cina menuju ke Depok Town Square. Selama kami ‘turun lapangan’ ke sana, belum pernah kami melihat adanya interaksi antara seorang wanita yang biasanya menjaga toko tersebut dengan pelanggan. Namun, sempat beberapa teman kelompok MMI saya melihat bahwa wanita tersebut tidak jarang ngobrol dengan istri Bapak Asan dan membeli barang dagangan Bapak Asan dengan cara berutang. Pernah pula wanita tersebut terlihat sedang mengembalikan sendok yang telah dipinjamnya dari Bapak Asan. Juga, wanita tersebut pernah terlihat menggunakan kamar mandi di rumah Bapak Asan.

Dalam beberapa kali pengamatan, saya sempat diajak beberapa teman kelompok MMI saya untuk berkunjung ke rumah salah satu warga asli Pondok Cina di daerah subsetting kami yang begitu ramah dan terbuka, yaitu Bapak Asan. Tidak mengherankan, memang, ketika kami tiba di depan rumah Bapak Asan, beliau langsung menyunggingkan senyum secara tulus untuk menyambut kami. Beliau memiliki toko kelontong di depan rumahnya yang menjual beragam makanan dan minuman ringan plus gorengan. Dalam kunjungan pertama kami ke rumah beliau, setelah teman saya memperkenalkan kami sebagai mahasiswa yang ingin berbincang sejenak dengan beliau untuk mengetahui interaksi antar-warga di Pondok Cina, beliau tanpa ragu bercerita panjang-lebar kepada kami mengenai pengalaman hidupnya selama tinggal di Pondok Cina, yang sebenarnya memerlukan waktu yang seakan tidak pernah cukup bagi kami untuk berbincang dengan Bapak Asan setiap kami mengunjungi toko beliau J. Bapak Asan sempat bercerita bahwa di awal Oktober 2013 para warga RW. 08 Pondok Cina melakukan perjalanan rekreasi bersama-sama dengan biaya bersih yang diambil dari kas RW (jadi, warga tidak dipungut biaya lagi) ke Pemandian Air Panas Ciater, Jawa Barat dalam rangka mempererat tali silaturahim dan kekeluargaan dari seluruh warga, walau terdapat sebagian warga yang tidak ikut berekreasi karena memang tidak diwajibkan. Beliau pun menceritakan pengalaman warga RW. 08 yang juga pernah mengunjungi Masjid Kubah Emas di Cinere, Depok bersama-sama. Ayah dari Bapak Asan yang terkena penyakit stroke sering terlihat duduk sendiri dengan mengenakan sarung dan kaos singlet di depan rumah beliau setiap sore. Begitu mengharukan bagi saya ketika Ayah dari Bapak Asan tersebut pernah mencoba berkomunikasi dengan saya beserta teman-teman sekelompok MMI secara terbata-bata untuk bertanya apakah kami mahasiswa dari Kampus UI (Universitas Indonesia), kemudian beliau dengan perlahan menarik kursi plastik yang sebelumnya ia duduki untuk diberikan kepada kami (mempersilahkan kami duduk). Istri dari Bapak Asan pun begitu murah senyum (yakni selalu senyum dengan tulus tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu siapa lawan bicaranya, bahkan ketika ia tidak sedang berbincang atau tidak memiliki kepentingan dengan orang lain). Saat saya memperhatikan ketika Bapak Asan berbincang atau berdiskusi dengan sang istri, beliau berdua terlihat begitu akrab dan saling mendukung keputusan satu sama lain. Pernah pula pada suatu ketika saya beserta teman-teman sekelompok MMI menyapa Fadil (anak dari Bapak Asan) di depan rumahnya. Fadil tidak begitu mengingat kami dengan jelas yang memang telah pernah mengunjungi rumahnya, yakni sebelum UTS (Ujian Tengah Semester), namun ia merasa familiar dengan kami sehingga kami dengan Fadil mudah atau cepat akrab kembali. Fadil mengajak kami untuk berkunjung ke rumahnya. Terlihat dari dekat sosok sang Ibunda dari Fadil yang sedang duduk membuat atau meracik bumbu dapur untuk memasak. Seperti biasa, Ibunda dari Fadil (yang juga merupakan istri dari Bapak Asan) tersenyum tulus untuk menyapa kami semua dengan begitu hangatnya. Selama beberapa menit, kami (saya, teman-teman saya, dan Fadil) sempat berbincang ringan serta berfoto ria. Fadil yang tidak ragu untuk terus mencari lalu menggendong ayam jago berbulu cantik milik ayahnya, begitu senang dan selalu tersenyum riang ketika kami potret. Tak lupa sang ibunda pun terus mengingatkan Fadil dengan lembut untuk berhati-hati dengan kendaraan yang melewati jalan. Tak lama kemudian, datang menghampiri kami seorang anak laki-laki berkaos merah tanpa lengan dan bercelana selutut yang merupakan teman Fadil, bernama Dafa. Awalnya, Dafa yang ingin membeli makanan ringan (snack) di warung kelontong di rumah Fadil masih menjawab dengan ketus (belum ramah) ketika saya dan teman-teman saya menyapa dan menanyakan namanya. Namun, setelah beberapa lama Dafa dan Fadil bermain bersama dengan action figures sederhana atau robot-robot kecil yang terbuat dari plastik serta berwarna-warni di depan rumah Fadil, kami semua pun dapat tertawa bersama dan mudah untuk saling mengakrabkan diri satu sama lain. Fadil pun sempat menunjukkan kepada saya dan teman-teman saya kepintarannya memainkan games dalam tablet-nya. Selang beberapa menit kemudian, 3 (tiga) orang anak kecil (yang diketahui salah satunya merupakan keponakan dari Ibu Nunuk bernama Ayu) datang menghampiri warung di depan rumah Fadil untuk membeli makanan ringan (snack) sembari menerka-nerka apakah terdapat hadiah di dalam masing-masing bungkus snack yang mereka beli tersebut. Fadil sempat menyapa Ayu. namun Ayu tidak menanggapi panggilan dari Fadil secara serius (Ayu hanya menengok ke Fadil sebentar, lalu pergi). Tak hanya Fadil, Dafa pun begitu riang ketika dipotret oleh kami, hingga Fadil dan Dafa pun berlarian kesana-kemari. Namun, ketika Fadil dan Dafa melewati Kakek Fadil (Ayah Bapak Asan) yang sedang duduk santai di kursi plastik di depan rumah Pak Asan dengan mengenakan sarung sambil merokok, Kakek Fadil yang telah mengalami stroke tersebut memperingatkan Fadil dan Dafa dengan suara yang lantang untuk tidak asal bermain dan berlari yang dapat menimbulkan tangis di antara Fadil dan Dafa bila keduanya bertengkar dalam permainan ataupun jatuh ketika berlari-lari. Miris hati saya ketika saya mendengar secara langsung ancaman yang dikatakan oleh Kakek Fadil untuk menendang Fadil dan Dafa ke tong sampah ataupun menyundut rokok ke mulut 2 (dua) anak tersebut bila mereka berdua terus ribut apalagi menangis. Dafa dan Fadil yang sempat terlihat diam karena takut, seketika itu pula saya ajak untuk meminta maaf serta menjauhi Kakek Fadil dengan bermain tanpa mengganggu sang kakek lagi. Pada saat melakukan pengamatan ketujuh ke Pondok Cina, cukup terkejut saya ketika di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina, Bapak Asan menyapa saya, “Wah, Mbak, masih pengamatan ke sini, ya?” Lalu saya pun menjawab dengan senang hati, “Haha iya nih, Pak.” Bapak Asan kemudian bercerita bahwa sudah banyak rumah di dekat Depok Town Square yang ditinggalkan penghuninya lalu dihancurkan oleh pihak PT. KAI. Bapak Asan sendiri berencana untuk langsung pindah bersama keluarga besarnya ke daerah Kukusan-Teknik setelah melangsungkan pernikahan adiknya pada tanggal 1 Desember 2013 di depan rumah Bapak Asan di Pondok Cina tersebut. Dengan tulus Bapak Asan mengundang saya beserta teman-teman sekelompok MMI (yang memang selama melakukan pengamatan MMI sering mengunjungi rumah Bapak Asan untuk mewawancarai beliau) untuk datang ke acara pernikahan adiknya tersebut. Saya sempat menyanggupinya dengan syarat tidak diharuskan ‘menyumbang’ lagu dangdut. Namun sangat disesalkan, dikarenakan satu-dua hal, kami tidak jadi datang pada acara pernikahan Adik Bapak Asan tersebut. Tidak hanya itu, Pak Asan pun mempersilahkan saya dan teman-teman saya untuk kelak berkunjung ke rumahnya di daerah Kukusan-Teknik serta memberikan nomor handphonenya kepada saya. Bapak Asan juga bercerita kepada saya bahwa beliau berencana kerja menjadi guru silat seperti yang pernah beliau lakukan beberapa tahun yang lalu ataupun satpam. Beliau ckup khawatir bahwa bila beliau menjadi guru silat kembali, beliau belum bisa mengatur waktu. Karena biasanya akan ada murid yang meminta beliau mengajar secara privat. Beliau bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, namun juga untuk turut melestarikan budaya Indonesia, terutama budaya silat Betawi. Beliau sempat menawarkan saya untuk belajar silat dengan beliau, namun saya menolaknya karena saya tidak ingin belajar silat. Bapak Asan pun bercerita kepada saya bahwa sebagian dari uang kompensasi yang dijanjikan oleh PT. KAI kepada para warga Pondok Cina yang digusur (yakni total sebesar Rp. 250,000 per m2 luas tanah dan bangunan setiap rumah warga tersebut) telah diberikan pada pertengahan Bulan November 2013, dan sebagian sisanya akan diberikan di akhir bulan yang sama. Bapak Asan sempat menyayangkan Ketua RW. 08 yang sudah pindah terlebih dahulu, karena dianggap Ketua RW. 08 tersebut tidak berhasil mengadvokasi aspirasi para warga yang tidak ingin digusur PT. KAI. Hal yang sama sempat pula dirasakan oleh Bapak Mamin, bahwa Ketua RW. 08 tersebut belum melakukan sesuatu yang bisa menunda penggusuran oleh PT. KAI di Pondok Cina. Bahkan, Bapak Asan dan Bapak Mamin sempat curiga bahwa Ketua RW. 08 mengadakan kerjasama dengan PT. KAI untuk memperlancar penggusuran rumah di daerah subsetting kelompok MMI saya dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan pengguna jasa kereta api. Pada saat pertemuan tak terencana di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina tersebut, Bapak Asan dengan motornya yang telah dimodifikasi untuk dapat mendistribusikan barang-barang dagangannya sebenarnya sedang mengantar pesanan minuman-minuman ringan (dalam satuan dus) dan LPG ke warung-warung tetangga di daerah Pondok Cina yang telah menjadi pelanggan tetapnya, seperti yang beliau lakukan setiap hari. Dulu, beliau pernah mendistribusikan barang-barang dagangannya ke kantin-kantin di UI, namun hal tersebut tidak dilakukannya lagi karena beliau tidak ingin merasakan macet di UI. Pada hari Minggu, 8 Desember 2013, saya pernah melihat Fadil sedang berjalan-jalan seorang diri di tengah kerumunan pasar pagi di daerah Kukusan-Teknik. 2 (dua) hari sebelumnya, saya pun pernah melihat Fadil beserta Kakak dari Bapak Asan di Selasar FEUI (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) ketika Prokadisu (Program Kakak-Adik Asuh) yang merupakan salah satu dari acara BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FEUI sedang menyelenggarakan salah satu mata acaranya sebagai kegiatan rutin tiap bulan untuk mengundang anak-anak yang mendapat donasi berupa uang sekolah dari Prokadisu tersebut datang ke gathering bersama mahasiswa-mahasiswi FEUI yang memberikan donasi untuk mereka setiap bulannya. Beberapa teman kelompok MMI saya pernah mendapati petugas dari PT. KAI melepas ikatan penyangga pohon pisang milik Bapak Asan yang ditanam di seberang rumahnya, sehingga pohon pisang tersebut rubuh, setelah Bapak Asan dan petugas dari PT. KAI tersebut berselisih paham karena pohon pisang tersebut tingginya telah melebihi tinggi peron Stasiun Pondok Cina. Terdapat beberapa hasil pengamatan dari teman-teman kelompok MMI saya, bahwa Bapak Asan selalu menjaga ayam peliharaan beliau agar tidak masuk ke rumah para tetangga. Bapak Asan pun menerima penitipan barang dagangan (penjualan sistem konsinyasi) dari para tetangga. Bapak Asan juga bersedia membuka toko kelontong beliau apabila mendesak (maksudnya apabila terdapat pelanggan yang ingin membeli sesuatu di sana walau toko kelontongnya sebenarnya telah tutup karena telah larut malam dan/atau karena masih terlalu dini hari). Bahkan, Bapak Asan biasa membiarkan para pelanggan untuk membuang sampah di depan toko kelontong beliau karena beliau akan menyapu halaman rumah beliau tersebut dan membuang sampah rumah tangga beliau tersebut ke dalam tempat sampah yang telah disediakan di sana (Beberapa warga di sana biasanya membuang sampah ke dalam tempat sampah masing-masing yang tiap sorenya akan dikumpulkan oleh seorang pria yang merupakan petugas kebersihan dari Dinas Kota Depok. Setiap rumah yang menggunakan jasa tersebut membayar iuran kebersihan sebesar Rp. 20,000 per bulannya). Tidak jarang Bapak Asan mengajak para pelanggan beliau ngobrol dan mengucapkan terima kasih setiap telah menerima pembayaran dari para pelanggan beliau tersebut. Tidak lupa beliau pun selalu tersenyum dan ramah ketika berhadapan dengan para pelanggan serta selalu menyapa para handai taulannya yang bertemu dengan beliau dan/atau melewati rumah beliau.

Pada suatu hari, ketika melakukan ‘turun lapangan’ ke daerah Pondok Cina, seorang teman kelompok MMI saya pernah berkenalan dengan Ibu Aisyah; seorang wanita yang baik hati dan dapat dipercaya yang selalu mengumpulkan uang beberapa warga di sana (berupa tabungan) setiap hari di warung nasi “Priangan” di sekitar pukul 16.00 WIB. Kepercayaan antar-warga tersebut timbul (dan semakin lama semakin kuat) seiring dengan manfaat yang terus diperoleh oleh para penabung tersebut dalam hal perencanaan dan pengaturan keuangan rumah tangga yang baik dan sederhana.

Ibu Gina, berdasarkan hasil pengamatan beberapa teman kelompok MMI saya, merupakan seorang wanita penjual bensin eceran yang rumahnya terletak di samping rumah Bapak Asan dan bensin eceran dagangannya diletakkan di rak kecil di depan rumahnya tersebut. Berbeda dengan bensin eceran yang dijual pula oleh Bapak Mamin, harga dari bensin eceran yang dijual Ibu Gina tidak di-markup setinggi harga jual bensin eceran yang dijual Bapak Mamin, walau beda harga antara keduanya tidak terlampau jauh. Pernah suatu ketika banjir menggenangi daerah Pondok Cina, para tetangga membantu mengangkat barang-barang di dalam rumah Ibu Gina untuk diselamatkan. Senyum dan ucapan terima kasih selalu beliau berikan ketika melayani para pelanggan beliau. Ibu Gina pun cekatan dalam melayani pelanggan.

Di akhir Oktober 2013, saya beserta teman-teman kelompok MMI saya pernah berkunjung sekali ke rumah Bapak Asep (Ketua RW. 08 Pondok Cina) untuk mencaritahu lebih lanjut terkait rencana penggusuran dari PT. KAI. Bapak Asep dengan ramah mempersilahkan kami duduk di pelataran atau teras rumahnya, bahkan istri beliau dengan ramah menyuguhkan air minum dalam kemasan gelas kepada kami semua. Setelah beberapa saat Bapak Asep menyatakan keluh-kesahnya mengenai keputusan penggusuran dari PT. KAI sambil merokok, saya dan teman-teman saya pun sempat menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau terkait dengan rencana penggusuran tersebut. Berbagai usaha telah Bapak Asep lakukan untuk mencegah penggusuran oleh PT. KAI terjadi, yakni dengan mengajukan pengaduan kepada Pemerintah setempat secara prosedural yang diawali dari pihak Kelurahan, namun kabar baik belum juga sampai ke telinga beliau. Saya sempat memberi usul kepada beliau untuk langsung mengadu kepada Walikota Depok, namun Bapak Asep merasa pesimis terhadap proses birokrasi di sana yang pada akhirnya tidak akan mengubah apa-apa. Sebenarnya, Bapak Asep berharap kepada para mahasiswa UI agar mau dan dapat membantu (melakukan advokasi untuk) para warga di Pondok Cina supaya terhindar dari rencana penggusuran oleh PT. KAI tersebut, atau minimal supaya mendapat kompensasi uang dan waktu yang lebih layak lagi sebelum pindah keluar dari Pondok Cina. Sedari awal Oktober 2013 (setelah pengumuman rencana penggusuran telah dinyatakan oleh PT. KAI), Bapak Asep sudah mengingatkan para warganya untuk mulai menabung sebelum pindah dari Pondok Cina. Namun, informasi yang diberikan Bapak Asep sedikit berbeda dengan informasi dari Bapak Asan dan Bapak Mamin terkait dengan proses penggusuran tersebut.

Pada hari terakhir pengamatan saya (Sabtu, 14 Desember 2013), saya sempat berjalan menyusuri sebuah gang di antara reruntuhan rumah hasil proses penggusuran oleh PT. KAI (yakni gang di dekat Depok Town Square, di sisi sungai kecil yang airnya telah menghitam). Ketika saya melihat beberapa meter di depan gang tersebut masih terdapat rumah-rumah warga yang masih utuh tidak tersentuh penggusuran oleh PT. KAI, saya akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri sebuah tempat usaha fotokopi yang di terlihat di dalamnya terdapat 2 (dua) pria (seorang memakai kaos hitam lengan pendek dan celana jeans selutut, dan seorang lagi memakai kemeja lengan pendek berwarna putih dan celana bahan panjang) sedang duduk dan asyik bercengkerama, untuk sekedar bertanya kepada beliau berdua terkait progress proses penggusuran PT. KAI di sana. Ketika saya mulai menyapa dan memperkenalkan diri, beliau berdua masih memperlihatkan senyum dan menanyakan maksud dari kedatangan saya tersebut. Ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk sekedar bertanya tentang penggusuran oleh PT. KAI di sana, beliau berdua langsung memelototkan mata kepada saya dan untuk beberapa detik termangu diam tanpa memberikan jawaban konfirmasi apa-apa. Setelah itu, dengan hati was-was karena sebelumnya saya tidak pernah mengira akan mendapat respon yang tidak biasa terkait penggusuran oleh PT. KAI tersebut, mendengarkan salah satu pria menjawab sambil menundukkan kepala bahwa memang terdapat usaha penggusuran oleh PT. KAI. Ketika saya untuk terakhir kalinya memberanikan diri bertanya (basa-basi) tentang letak rumah Ketua RW.08, beliau pun menjawab bahwa Ketua RW.08 sudah pindah ke daerah Beji, Depok. Seketika saya pun berterimakasih dan pamit pulang kepada beliau berdua.

Entah perlu dibenarkan atau tidak, proses penggusuran oleh PT. KAI di daerah Pondok Cina ini, yang diadakan dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap para pengguna jasa kereta api dengan membangun lahan parkir stasiun yang lebih luas lagi untuk menampung kendaraan-kendaraan pribadi yang semakin lama semakin banyak jumlahnya, terutama di daerah perkotaan. Para warga di daerah Pondok Cina, terutama yang tinggal di daerah subsetting kelompok MMI saya, umumnya berpenghasilan menengah ke bawah. Sedari awal para warga tersebut tinggal di Pondok Cina (baik mengontrak maupun tinggal menetap di rumah pribadi) dan membuka usaha untuk mendapatkan penghasilan serta mengadakan interaksi dengan orang-orang di sekitar mereka, hanyalah kebahagiaan untuk hidup tenang dan damai bersama seluruh warga di sana disertai dengan harta yang sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tidaklah muluk-muluk. Keberagaman antar-suku, agama, ras, dan sebagainya di antara para warga tersebut menjadi indah dengan terjalinnya hubungan persaudaraan dan kekeluargaan mereka yang semakin lama semakin erat, sehingga saling tegur sapa serta saling tolong-menolong untuk kebaikan menjadi makanan mereka di sana setiap hari. Semoga, jalinan kasih di antara para warga tersebut dapat terus terjaga walau mereka semua telah berpindah tempat setelah penggusuran oleh PT. KAI, hingga kebaikan dan semangat persaudaraan pun dapat terus mereka sebarkan kepada orang-orang di sekitar mereka kelak di tempat tinggal baru mereka masing-masing.

“Apakah benar, semua manusia tiada yang sama? Buktinya, kita semua sama-sama tidak sempurna,” salah satu pertanyaan retoris yang menurut saya cukup mendasar dalam kehidupan kita (as a human being) karena menyangkut tentang fakta dari karakteristik atau ciri-ciri manusia. Ketika kita meyakini bahwa di dunia ini tiada manusia yang sama persis, maka di saat yang sama pula, tingkat kesempurnaan dari manusia sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya diyakini adalah sama, yakni sama-sama tidak (sepenuhnya) sempurna. Tapi memangnya, seperti apa sih bentuk kehidupan manusia yang semakin mendekati kesempurnaan tersebut?

Equality atau persamaan dari tiap manusia dalam nilai dan prinsip yang mainstream di masyarakat begitu sering diagungkan atau dianggap penting oleh masyarakat itu sendiri, di mana ketika terdapat seseorang atau pun sekelompok kecil orang yang tidak sama atau “menyimpang” dari kebiasaan dan/atau keadaan masyarakat pada umumnya, maka masyarakat akan cenderung bersikap kurang friendly kepadanya dibandingkan dengan kepada orang lain yang pemikiran dan kebiasaannya mainstream di masyarakat, hingga seseorang atau pun sekelompok kecil orang unik tersebut bisa semakin lama semakin ter-marjinal-kan.

Pemikiran saya di atas timbul setelah saya “turun lapangan” ke Pondok Cina untuk pengamatan kembali di hari Minggu, 6 Oktober 2013 yang cerah pada pukul 15.00 WIB. Ketika saya berjalan kaki dari Depok Town Square (Detos) menuju sub-setting saya, saya melihat Mas Ahmad (objek pengamatan saya: penjual CinLok “Putuwijoyo 01” di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) sedang berjualan dengan mengenakan seragam biru mudanya di cabang dari CinLok “Putuwijoyo 01” di belakang Depok Town Square. Suasana yang lebih ramai dengan lalu-lalang masyarakat (dibandingkan dengan suasana Pondok Cina di hari lainnya) pada saat itu membuat saya tidak terlihat oleh Mas Ahmad padahal saya sedang berdiri di seberangnya, yang juga disebabkan karena kebetulan pada saat itu Mas Ahmad sedang melayani banyak pembeli CinLok. Bermaksud untuk berbincang sebentar dengannya, saya pun kemudian berjalan ke arahnya.

Namun, ketika tidak sengaja menoleh ke rumah warga di samping kanan Mas Ahmad, saya melihat Pak Marsino (pemilik CinLok “Putuwijoyo 01”) sedang tiduran di sofa dalam rumah tersebut. Rumah warga yang berwarna krem dan bersih tersebut tidak begitu besar, seperti rumah-rumah warga di Perumnas pada umumnya. Kebetulan di depan rumah tersebut terdapat seorang wanita (sekitar umur 35an) yang sedang menyapu lantai dan mengenakan daster batik warna merah dengan rambut di-konde, saya pun menghampiri wanita itu untuk meminta izin menemui Pak Marsino. Awalnya, wanita tersebut sempat bertanya kepada saya beberapa kali untuk meyakinkannya apakah ia perlu membangunkan Pak Marsino yang sedang tertidur lelap di sofanya sembari mengenakan seragam biru mudanya.

Ketika saya masih memohon kepada wanita tersebut untuk membangunkan beliau, tiba-tiba Pak Marsino terbangun dari tidurnya. Walau kedua mata beliau terlihat berwarna merah karena masih mengantuk dan beliau terlihat linglung, beliau menyadari kehadiran saya dan mengizinkan saya berbincang sejenak dengan beliau di rumah tersebut. Rasa tidak enak kepada Pak Marsino berserta wanita tersebut pun sempat menjalar di hati saya walau pada akhirnya saya tetap masuk ke dalam rumah tersebut setelah diizinkan oleh wanita penghuni rumah tersebut.

Setelah saya memohon maaf kepada beliau karena telah mengganggu “perjalanan beliau ke pulau kapuk”, saya yang mengingat hasil pengamatan kedua saya dulu (bahwa Pak Marsino tinggal di Beji, bukan Pondok Cina) pun bertanya apakah beliau memang tinggal di rumah tersebut. Beliau lalu menjawab bahwa pada saat itu (dan sudah biasa beliau lakukan sehari-hari) ia hanya menumpang untuk tiduran sejenak di rumah tersebut.

Selama kami berdua berbincang, beliau bercerita bahwa perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah adalah begitu sedikitnya lapangan (kesempatan) kerja yang terdapat di domisilinya yang merupakan daerah pedesaan tersebut, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota. Selain itu, beliau pun berpendapat bahwa cuaca di Depok lebih panas daripada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di daerah domisili beliau, tiada warga yang mengemis, yang kontradiktif dengan keadaan di Depok (khususnya di Pondok Cina) yang setiap hari disinggahi banyak pengemis. Cukup menarik namun ironis, bahwa terdapat seorang pengemis yang setiap hari diberi uang oleh Pak Marsino (dengan nominal yang tidak banyak) karena bila tidak diberi uang maka pengemis tersebut marah.

Kemudian, beliau bercerita bahwa sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja (tiada warga Pondok Cina yang sering bertengkar).

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau menjelaskan bahwa kaki beliau pernah tersiram air panas ketika ia sedang menyiapkan bakso untuk dijual sejak dini hari, yang menyebabkan beliau sempat dibawa ke rumah sakit dan masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga beliau lalu pulang ke Jawa Tengah untuk beberapa hari.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di daerah domisili beliau, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga di daerah tersebut, termasuk oleh beliau. Berbeda dengan suasana “17 Agustus” di Depok yang menurut beliau kurang ramai, dan beliau sendiri tidak turut serta dalam perayaan tersebut di Depok. Menariknya, beliau mengaku bahwa dahulu (ketika masih muda) di daerah domisilinya ia pernah menjadi ketua Karang Taruna.

Beliau pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut untuk pergi ke daerah Jakarta dan Bogor.

Ternyata, Pak Marsino telah memiliki akun Facebook dan Twitter yang seringkali di-update oleh beliau, sekedar untuk mengisi waktu senggangnya. Beliau pun mengaku sering mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk belanja kebutuhan sehari-hari setiap bulannya serta mengetahui harga-harga gadget terkini melalui teman-temannya yang memiliki counter di Depok Town Square. Plaza Depok dan Depok Mall juga pernah dikunjungi beliau dulu.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Pak Marsino ingin turut serta memilih presiden yang menurut beliau cocok dan pantas memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya.

Setelah berterimakasih kepada Pak Marsino beserta wanita penghuni rumah tersebut, saya menghampiri Mas Ahmad yang sedang melayani 3 (tiga) pembeli CinLok. Tidak disangka, Mas Ahmad menengok ke arah saya yang sedang berada di samping kanan dari toko (gerobak-red.) CinLok-nya sambil menyunggingkan senyuman kecil yang saya tangkap sebagai suatu tanda positif bahwa ia sudah menerima “usaha pendekatan” saya kepadanya selama ini.

Kami (saya dan Mas Ahmad) pun berbincang ketika sedang tiada pembeli menghampiri tokonya. Sembari menghisap rokoknya, Mas Ahmad berpendapat bahwa  perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di Kebumen, Jawa Tengah dan tempat tinggalnya kini di Depok adalah cuacanya yang lebih dingin dan suasana yang kurang ramai, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota.

Kemudian, Mas Ahmad bercerita bahwa walaupun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga), tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi penyebab dari pertengkaran-pertengkaran tersebut.

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau mengaku bahwa ia lupa (setelah untuk sejenak ia sempat terlihat berpikir untuk mengingat-ingat sesuatu). Seketika itu saya pun berpikir 2 (dua) opsi pilihan terkait dengan Mas Ahmad yang lupa tersebut, bahwa bila Mas Ahmad benar tidak memiliki pengalaman menarik selama di Depok yang tidak terlupakan, maka berarti Mas Ahmad sebenarnya hanya malu mengungkapkannya.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di Kebumen, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga Kebumen, termasuk oleh Mas Ahmad. Menariknya, ia mengaku bahwa ia cukup sering memenangkan lomba “17 Agustus”-an.

Mas Ahmad pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut, seperti untuk pergi ke daerah Tanah Abang dan Bogor bersama teman-temannya.

Yang lebih menarik lagi bagi saya, adalah ketika Mas Ahmad bercerita bahwa ia belum memiliki akun Facebook dan Twitter karena beberapa alasan, yaitu tiada minat untuk “bermain Internet”, ketiadaan koneksi Internet, serta handphone-nya yang sekedar digunakan untuk menelepon orang lain. Mas Ahmad pun mengaku telah beberapa kali mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk sekedar melihat-lihat bersama teman.

Mas Ahmad juga bercerita tentang keadaan di Pondok Cina yang setiap hari disinggahi banyak pengemis, berbeda dengan di Kebumen di mana tiada warga yang mengemis. Cukup menarik dan mengharukan bagi saya bahwa Mas Ahmad mengaku ia hanya mengikuti kata hatinya dalam memberikan uang kepada pengemis yang melewati tempat kerjanya, yakni terkadang memberi dan terkadang pula tidak memberi, agar ia dapat terus ikhlas dalam bersedekah setelah melihat terlebih dahulu keadaan yang tampak dari sang pengemis.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Mas Ahmad ingin turut serta memilih presiden yang menurutnya cocok memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya, yakni ke Kebumen.

Obrolan kami yang sudah beberapa kali diselingi oleh pelayanan dari Mas Ahmad kepada para pembeli CinLok yang menghampiri tokonya tersebut, saya akhiri dengan terlebih dahulu berterimakasih kepada Mas Ahmad yang telah saya “ganggu” sebentar, sebelum saya pulang. Sempat tertangkap beberapa kali momen menarik oleh saya ketika saya memperhatikan lebih dekat tentang kinerja pelayanan yang dilakukan oleh Mas Ahmad kepada para pembelinya yang banyak pada hari itu (lebih banyak pembeli sebenarnya bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitar CinLok “Putuwijoyo 01” tersebut pada waktu yang sama), bahwa Mas Ahmad begitu cekatan dalam menyajikan CinLok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Teringat saya akan seorang pemuda lain yang menjaga cabang toko CinLok “Putuwijoyo 01” di sub-setting saya (di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) dan mulai terpikir oleh saya apakah pemuda tersebut memiliki semangat dan dedikasi yang sama dengan Mas Ahmad selama ini.

Di akhir pengamatan kali ini, setelah beberapa pertanyaan terkait pengalaman hidup dari Mas Ahmad dan Pak Marsino selama di Jawa Tengah dan di Depok saya ajukan kepada beliau semua, saya mendapat insight tersendiri bahwa memang tidak sedikit perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang secara kasat mata memiliki kegiatan serta profesi yang sama. Dan dari perbedaan-perbedaan tersebut, setiap orang yang memilikinya akan mampu mendapatkan pengalaman menarik sekaligus berharga sebagai “guru terbaik” yang bisa mempengaruhi kehidupan serta prinsip yang dianut oleh orang tersebut di masa depan, terlepas dari kebiasaan dari orang tersebut unik atau pun tidak, dan mainstream atau pun antimainstream di masyarakat. Bahkan bila kita mau saling menghargai serta memanfaatkannya, perbedaan dari setiap manusia dapat kita jadikan sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Langkah gontai mengawali perjalanan saya dan teman-teman dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) ke Pondok Cina sore itu, pukul 14.00 WIB. Langit mendung yang semakin mengelamkan suasana sempat menciutkan semangat teman-teman saya untuk “turun lapangan” saat itu, namun tidak untuk semangat saya. Sebenarnya, bukan semata-mata karena keengganan teman-teman saya dalam melakukan pengamatan di Pondok Cina, namun lebih karena pengalaman singkat yang telah diceritakan beberapa teman kami, bahwa 3 (tiga) hari yang lalu, kedatangan mereka langsung “ditolak” seorang Ibu penjual kopi di sebuah warung kecil, sebelum mereka sempat berkata apa-apa, dengan alasan bahwa beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Ada pula teman kami yang mengaku memiliki pemikiran (yang cukup subjektif menurut saya, karena saya tidak mengalaminya secara langsung) bahwa para warga yang berada di sub-setting kami akhir-akhir ini menunjukkan sikap dan pandangan tidak ramah kepada kami bahkan lebih menutup diri daripada dalam pengamatan-pengamatan kami sebelumnya.

Sedih saya mendengar cerita dari pengalaman tersebut, karena sesungguhnya saya tidak ingin para warga Pondok Cina memiliki persepsi awal yang negatif terhadap mahasiswa UI, walau mungkin memang para warga masih merasa insecure terhadap kehadiran “orang baru” yang tiba-tiba datang ke lingkungan mereka secara intens. Ternyata, usaha pendekatan yang telah saya dan teman-teman lakukan selama ini kepada beberapa warga Pondok Cina di sub-setting kami tidak semudah yang awalnya pernah kami pikirkan, bagai aliran air dari sungai ke laut.

Sejak pertama kali kelas Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) “turun lapangan” ke sub-setting masing-masing kelompok, saya telah memperhatikan seorang bapak yang memiliki bengkel serta tempat tambal ban kecil di pelataran rumahnya di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square. Bapak tersebut tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang begitu menyeramkan dan penuh kecurigaan kepada kami (para mahasiswa) yang melewati rumahnya, hingga pada saat pengamatan kami Rabu lalu. Saya pribadi sempat merasa paranoid dan memperkirakan bahwa bapak tersebut mengalami gangguan jiwa. Ingin sekali rasanya saya berkunjung ke rumah bapak tersebut untuk berkenalan dan memperlihatkan kenyataan bahwa sebenarnya para mahasiswa yang sejak awal September sering terlihat mondar-mandir ngobrol dengan para warga di Pondok Cina itu tidak pernah memiliki sedikitpun maksud ataupun motif buruk terhadap para warga di Pondok Cina, walau sebenarnya kami (para mahasiswa) juga belum dapat memberikan kebermanfaatan yang secara nyata dapat dirasakan para warga di Pondok Cina melalui kegiatan pengamatan tersebut.

Yang lebih menimbulkan “tanda tanya” (rasa penasaran-red.) lagi, saya pernah melihat seorang nenek paruh baya dengan rambut yang telah memutih secara keseluruhan berada di samping bengkel tersebut untuk menunggu pembeli di toko kecil di depan rumah tersebut. Nenek tersebut menjual minuman-minuman instan (sachet) yang jumlah dan variasi merk produknya tidak banyak dengan menggantungnya secara anggun di atas seutas tali putih yang turut menjadi saksi bisu mengenai asam-garam kehidupan sang nenek selama ini. Seketika itu juga saya mengingat nenek saya yang begitu saya sayangi, yang telah turut merawat saya dengan begitu sabar sedari saya masih kecil, terutama ketika kedua orangtua saya bekerja. Karena, hingga saat ini nenek saya tersebut tinggal bersama saya dalam satu atap.

Ketika saya kembali merenungi kegiatan pengamatan yang telah saya lakukan di Pondok Cina beberapa kali, saya mencoba memahami keadaan ketika saya yang menjadi warga Pondok Cina dan terdapat sekelompok mahasiswa yang menjadikan saya objek pengamatan, untuk tujuan apapun. Saya pribadi sebenarnya tidak begitu takut dan menutup diri ketika bertemu dengan orang asing yang di kemudian hari secara intens justru bercengkerama dengan saya. Namun, keadaan psikologis yang berbeda antara kami (para mahasiswa) dan para warga yang mayoritas dari mereka masih termasuk dalam golongan ekonomi “menengah ke bawah” di Pondok Cina tersebut menyebabkan fleksibilitas penerimaan terhadap orang asing dalam kehidupan mereka cukup rendah. Comfort zone dari masing-masing warga tersebut pun begitu “dilindungi” oleh mereka dari segala bentuk threat atau ancaman dari luar dengan cara bersikap apatis terhadap keberadaan dan keadaan orang lain yang masih dianggap “asing” oleh mereka.

Rasa penasaran yang diawali dengan rasa takut tersebut menyelimuti pikiran saya selama perjalanan ke Pondok Cina pada hari itu. Namun, ketika saya melihat dari kejauhan bahwa penjual CinLok yang menjadi objek pengamatan saya berada di tempat beliau biasa mencari nafkah dengan memakai seragam biru muda plus topi khasnya. Sebelum berbincang dengan penjual CinLok tersebut, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk berkunjung ke Warung Nasi Priangan yang terletak di kurang-lebih 5 (lima) meter dari tempat dagang penjual CinLok untuk menikmati segelas teh manis-dingin serta untuk berteduh dari rintik-rintik hujan. Alhamdulillah Warung Nasi Priangan tersebut ramai dikunjungi para pembeli pada saat itu, yang berarti di waktu yang sama pundi-pundi rezeki pun mengalir deras kepada sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut.

Tidak lama kemudian, saya bergegas mengamati kembali penjual CinLok dari kejauhan setelah hujan reda. Karena kebetulan sedang tidak ada pembeli yang datang, maka saya memberanikan diri untuk berkunjung ke sana dan berbincang dengan beliau yang terlihat sedang merokok (teringat kembali hipotesis dari hasil pengamatan pertama saya bahwa penjual CinLok tersebut tidak merokok, ternyata terbukti tidak tepat).

Senang rasanya mengetahui bahwa penjual CinLok tersebut masih mengingat saya yang sudah cukup lama tidak berkunjung ke sana. Saya pun melanjutkan sambutan hangat dari beliau dengan memulai perbincangan kami. Beliau bercerita bahwa ia lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Namun, beliau lupa tanggal lahirnya. Saya iseng melarang beliau untuk nyontek ke Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya yang berdomisili di Kebumen. Beliau pun sekedar mengira-ngira bahwa ia lahir pada tanggal 16 Mei 1992. Saya cukup terkejut mengetahui bahwa ternyata saya hanya lebih muda setahun daripada beliau. Ia lalu berkata bahwa di Kebumen terdapat seorang kakak yang sudah bekerja dan seorang adik yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hobi yang beliau biasa lakukan di waktu senggangnya adalah merokok, walau tergantung pula dengan suasananya. Namun di Kebumen, ia ternyata senang bermain gitar, “walau gak jago-jago amat,” ungkapnya.

Sudah 3 (tiga) minggu penjual CinLok tersebut tinggal di Depok. Semua kebutuhan hidupnya sehari-hari (seperti sabun cuci, dan sebagainya) telah disediakan oleh pemilik kontrakannya, yang menurut saya kurang lazim atau begitu jarang dilakukan oleh para pemilik kontrakan rumah saat ini. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah mengalami banjir, walau sering terjadi hujan deras. “Paling airnya hanya naik berapa centi,” jawabnya. Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik dan hingga kini tiada konflik serius antar-warga karena hubungan antar-warga terjalin dengan dekat dan baik. Namun, beliau belum begitu tahu persis akan kemungkinan adanya preman di Pondok Cina tersebut.

Beliau tinggal dengan mengontrak rumah bersama temannya di daerah Depok I, tepatnya di Jalan Kedondong. Beliau bercerita bahwa di rumah kontrakannya tersebut sering terjadi mati lampu secara tiba-tiba, walau biasanya tidak mati terlalu lama.

Di bulan Mei 2013 yang lalu, beliau mengikuti (berperan serta dalam) pemilihan gubernur Jawa Tengah. Ia berkata bahwa untuk pemilihan presiden Indonesia tahun 2014 nanti beliau ingin turut serta memilih, walau hingga saat ini ia belum memiliki pilihan calon presiden yang menurutnya baik.

Obrolan ringan tersebut pun saya akhiri dengan berterimakasih kepada beliau. Lalu, saya iseng bertanya kepadanya mengenai penjual es potong yang sebelumnya sering terlihat mangkal di dekat CinLok tersebut. Beliau pun bercerita bahwa 2 (dua) hari terakhir ini mas-mas penjual es potong tersebut tidak terlihat berjualan di Pondok Cina, karena sakit. Penjual CinLok tersebut juga bercerita bahwa pada hari itu (Rabu, 2 Oktober 2013) CinLok-nya dihampiri banyak pembeli. Tampak senyum kecil di wajahnya mengandung ribuan energi mengalir untuk beliau terus berjuang menghadapi ketidakpastian akan hari esok dengan suka-duka kehidupan barunya di Pondok Cina.

Ketika saya dan beberapa teman duduk di kursi kayu reot di depan bengkel yang terletak di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square, secara tidak sadar kaki saya terkena batang kayu kecil yang tajam di samping kursi tersebut. Darah segar mengalir deras keluar dari kulit ibu jari kaki saya, walaupun lubang lukanya kecil. Saya pun berkeliling mencari keran air di sekitar saya pada waktu itu dengan langkah kaki yang pincang namun tak kunjung saya temukan, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Warung Nasi Priangan yang terletak di kurang-lebih 5 (lima) meter dari tempat dagang penjual CinLok. Kemudian, saya meminta izin dari sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut untuk meminta air dari keran di kamar mandinya. Awalnya, terlihat keraguan sempat menghampiri ibu tersebut terhadap saya yang memang belum pernah kenal dengannya. Namun, Alhamdulillah tidak begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk saya mendengar kata “iya” darinya sebagai tanda persetujuan izin beliau.

Setelah sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut mencoba mendeskripsikan keadaan kamar mandinya yang berantakan dengan barang ini-itu, saya pun mencoba meyakinkan beliau bahwa saya hanya perlu sedikit aliran air untuk membersihkan luka saya tersebut serta saya tidak akan “merusak tatanan” dari barang-barang di kamar mandi beliau. Namun, ketika saya membuka pintu kamar mandi tersebut, ternyata peralatan-peralatan dapur seperti wajan penggorengan, panci, dan sebagainya, tergeletak secara random di lantai. Mengetahui bahwa ibu tersebut “mengawasi” dari luar kamar mandi, saya bergegas mencuci luka saya secara hati-hati agar darahnya tidak mengenai peralatan dapur sang ibu. Semoga segala kebaikan yang telah ibu tersebut lakukan dibalas pula dengan kebaikan oleh Allah SWT., aamiin.

Setelah luka tersebut saya balut dengan plester antiseptik, tiba-tiba muncul gagasan antara saya dan teman-teman untuk kami pindah sub-setting, untuk memperhatikan dan mengkaji interaksi antar-warga Pondok Cina yang kami harap ”lebih ramah” daripada warga di sub-setiing pertama kami. Karena faktor ketidakpastian respons dari para warga Pondok Cina yang berada di sub-setting lain, maka pada akhirnya kami sepakat untuk tetap di sub-setting pertama hingga Ujian Tengah Semester (UTS) selesai, lalu akan ada diskusi kembali untuk kami memutuskan untuk pindah maupun menetap di sub-setting awal. Kami pun sudah sempat melakukan evaluasi, brainstorming, serta menyamakan sikap dalam usaha pendekatan kepada para warga Pondok Cina secara lebih baik dan lebih soft “mengalir” ketika melakukan pengamatan selanjutnya. Semoga kami berhasil, aamiin.

Berubah dan baru. Tidak mudah, memang, untuk setiap dari diri kita menerima serta membiasakan diri akan perubahan dan pembaharuan dalam hidup kita, tidak terkecuali bagi saya dan beberapa warga Pondok Cina yang sudah secara sukarela menyempatkan sedikit waktunya untuk berbincang dengan saya di sore itu, Minggu, 22 September 2013 pukul 16.15 WIB.

Saya menaiki sebuah angkutan umum dari depan komplek rumah saya hingga ke depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok. Selama menyusuri Gang Pondok Cina kala itu, terasa ketenangan dan kedamaian mengiringi perjalanan saya, jauh bila dibandingkan dengan perjalanan saya selama melewati jalan raya perkotaan yang kini sudah sesak akan asap dan deru kendaraan bermotor. Langit biru yang cerah serta hembusan angin yang lembut, semakin memperkuat suasana yang hangat dari keharmonisan interaksi antar-warga di daerah Pondok Cina pada saat itu. Sekilas terlihat beberapa orang mengunjungi pertokoan-pertokoan di sepanjang Gang Pondok Cina tersebut yang didominasi oleh toko aksesoris dan jasa service komputer.

Kemudian, saat melihat suatu gang kecil di sebelah kiri saya, rasa penasaran pun muncul seketika di benak saya yang akhirnya berhasil mendorong saya untuk coba melewati gang kecil cabang dari Gang Pondok Cina tersebut. Ternyata, di kanan-kiri jalan di sepanjang gang kecil itu, terdapat rumah-rumah warga yang beberapa di antaranya merupakan rumah kost. Menarik ketika saya mendapati banyak dari rumah-rumah warga tersebut diberi pagar, yang menurut saya mampu mengurangi intensitas interaksi antar-warga di gang kecil itu. Tidak sedikit dari rumah-rumah tersebut terlihat sepi dan bahkan kosong karena tidak ada penghuninya yang pada saat itu beraktivitas di halaman rumah dan bahkan pagarnya tertutup rapat. Namun, mata saya sempat berhasil menangkap “pemandangan” yang cukup menarik di gang kecil tersebut, yakni seorang ibu paruh baya berbaju putih yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Menarik, karena ketika terdapat beberapa orang yang kebetulan juga sedang beraktivitas di luar runah (di sekitar rumah Ibu paruh baya tersebut) pada saat itu, tidak ada satu pun dari mereka yang saling bertegur sapa bahkan untuk sekedar menengok keadaan satu sama lain. Saya pun cukup heran dengan banyaknya mobil yang diparkir memenuhi halaman dari salah satu rumah kost di dalam gang kecil tersebut, apakah itu semua mobil dari pemilik kost atau dari penyewa kost.

Setelah untuk beberapa saat memperhatikan lebih dekat salah satu gang kecil di daerah Pondok Cina tersebut, saya kembali ke gang besarnya dan memperhatikan daerah pengamatan Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) saya dari jauh terlebih dahulu untuk memastikan bahwa warga Pondok Cina yang ingin saya temui tersebut ada pada saat itu. Alhamdulillah, Mas penjual Cinlok yang sejak seminggu sebelumnya telah saya amati ada dan sedang berjualan Cinlok pada saat itu. Karena kebetulan sedang tidak ada pembeli dan Mas penjual Cinlok tersebut sedang duduk saja (tidak mengerjakan apa-apa), maka tanpa ragu saya menghampiri Mas penjual Cinlok tersebut. Senyum tulus dari Mas penjual Cinlok yang sedang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans tersebut menunjukkan keramahan sekaligus tanda tanya bagi beliau mengenai saya yang belum beliau kenal namun tiba-tiba mengajak berbincang empat mata dengan beliau sore itu. Sebelum saya melanjutkan wawancara tersebut lebih jauh, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dari kunjungan saya tersebut kepada beliau. Saya memohon izin kepada Mas penjual Cinlok tersebut untuk saya tiap minggu mengunjungi beliau selama kurang-lebih 5 (lima) bulan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau. Alhamdulillah, tanpa pikir panjang, beliau mengizinkan saya. Saya cukup terkejut dengan kenyataan bahwa Mas penjual Cinlok tersebut merupakan seorang bertipikal pendiam-introvert, namun selama perbincangan beliau tidak se-tertutup yang pada awalnya sempat saya bayangkan. Berikut ini adalah hasil wawancara dan kunjungan saya ke beberapa pedagang Cinlok di Pondok Cina, Depok.

Mas yang bernama Ahmad ini ternyata bukan merupakan warga Pondok Cina asli. Beliau diajak teman baiknya dari Jawa Tengah untuk bekerja menjual Cinlok di Pondok Cina, Depok. Beliau baru tiba di Depok pada hari Minggu, 15 September 2013 (tepat di hari pengamatan pertama saya di tempat yang sama). Sekarang, beliau tinggal bersama teman baiknya yang bernama Suryanto tersebut di dekat Pertamina daerah Beji, Depok. Namun lucunya, beliau tidak tahu dengan pasti di mana letak dan arah tempat tinggalnya di Beji tersebut karena beliau mengendarai motor untuk berjualan di Pondok Cina dan beliau belum hafal nama jalan maupun angkutan umum menuju tempat tinggalnya tersebut. Cinlok yang juga disukai oleh Mas Ahmad tersebut dijual seharga Rp. 1,000; per 4 (empat) buah. Karena Cinlok ini bukan merupakan usaha beliau pribadi, maka supply bahan baku Cinlok tersebut beliau peroleh dari temannya yang biasa berbelanja ke pasar, yang kemudian beliau masak sendiri di gerobak dagangan Cinlok beliau. Suryanto ternyata juga berjualan Cinlok di belakang Depok Town Square, yang berarti di daerah Pondok Cina juga. Beliau mengaku bahwa dagangan Cinlok ini beliau buka setiap hari Senin hingga Minggu sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB, kecuali bila beliau sedang sakit yang menyebabkan beliau tidak dapat berjualan. Karena baru berjualan Cinlok di Pondok Cina ini selama kurang-lebih seminggu, beliau belum menemukan hari tertentu atau jam khusus saat terdapat pembeli Cinlok terbanyak. Namun pada umumnya, rata-rata jumlah pembeli yang datang setiap jam dan setiap hari adalah sama, mengingat bahwa Pondok Cina merupakan daerah yang setiap hari ramai akan lalu-lalang masyarakat, baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor, karena di sana terdapat suatu pusat perbelanjaan yang besar serta stasiun kereta api. Cukup menarik bahwa beliau juga menyatakan bahwa umumnya bapak-bapaklah yang lebih sering membeli Cinlok daripada ibu-ibu maupun anak-anak. Menelisik kembali hasil pengamatan pertama saya di Pondok Cina, saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa terdapat seorang pedagang Cinlok yang ramah dan fokus dalam melayani para pembeli tanpa terlihat ada insentif apapun bagi pedagang tersebut pada saat itu untuk melayani pembeli dengan baik. Setelah pengamatan kedua ini saya lakukan, saya cukup kecewa karena Mas Ahmad tersebut menjawab bahwa beliau melakukan semua hal yang telah saya sebutkan sebelumnya (ramah dan fokus dalam melayani para pembeli-red.) itu hanya (sebagai variasi pelayanan terhadap pembeli) agar beliau tidak bosan selama berjualan Cinlok. Tapi entah mengapa, saya tetap meyakini bahwa seluruh tindakan Mas Ahmad tersebut datang dan diniatkan secara tulus dari hati, ketika kebetulan terdapat seorang anak kecil membeli Cinlok setelah beberapa saat saya berbincang dengan beliau dan saya kembali mendapati keramahan beliau dalam melayani pembeli. Sempat terkejut saya ketika tertangkap mata oleh saya sebungkus rokok dan korek api tergeletak di atas gerobak Cinlok beliau, padahal saya belum pernah melihat secara langsung Mas Ahmad merokok selama beberapa kali saya mengamati beliau, yang pada awalnya menjadi suatu hal menarik pula bagi saya.

Karena sejak awal saya memang baru berniat untuk berbincang dengan Mas Ahmad sebentar dalam rangka perkenalan awal, saya akhiri perbincangan kami di menit ke-20 sejak awal saya menghampiri beliau. Sebagai sekedar tanda terimakasih, saya membawa gula seberat setengah kilogram dari rumah untuk saya berikan kepada beliau. Namun, beliau terus bersikeras untuk menolak pemberian saya tersebut (tentunya dengan penolakan secara halus) sehingga saya terpaksa membawa pulang kembali gula tersebut.

Penasaran dengan informasi dari Mas Ahmad bahwa terdapat seorang temannya yang juga berjualan Cinlok di belakang Depok Town Square, saya pun pergi ke belakang Depok Town Square lalu mencari toko ataupun gerobak pedagang Cinlok yang memiliki merek sama dengan Cinlok Mas Ahmad, yakni “Cinlok Putuwijoyo 01”. Setelah saya temukan apa yang saya cari tersebut, saya menghampiri seorang pemuda yang sedang melayani banyak pembeli Cinlok (rupanya pedagang Cinlok di belakang Depok Town Square tersebut jauh lebih ramai daripada pedagang Cinlok Mas Ahmad di dekat parkiran stasiun Pondok Cina). Ketika saya meminta izin pemuda tersebut untuk berbincang sebentar terkait tugas kuliah saya, pemuda tersebut “melemparkan” saya untuk bertanya langsung kepada bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” yang sedang duduk sambil merokok tepat di depan saya berdiri pada saat itu. Cukup awkward pada awalnya, namun spontan saya kemudian memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dari kunjungan saya tersebut kepada bapak tersebut. Saya memohon izin kepada beliau untuk saya tiap minggu mengunjungi beliau selama kurang-lebih 5 (lima) bulan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau (walaupun nantinya saya ragu untuk kembali mengamati bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut karena telah keluar dari zona setting MMI kelompok saya). Bapak yang sedikit terlihat lebih open dan ramah ini awalnya sempat menunjukkan kecurigaan dan sikap defensive-nya kepada saya dengan beberapa kali bertanya (untuk memastikan) maksud dan tujuan saya mengamati beliau dan dagangan beliau. Namun pada akhirnya, Alhamdulillah saya berhasil meyakinkan beliau bahwa saya hanya bermaksud mengerjakan tugas kuliah untuk berbincang dengan salah satu warga di Pondok Cina (tanpa memberitahu bapak tersebut bahwa sebelumnya saya sudah sempat berbincang dengan Mas Ahmad– temannya).

Bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut bernama Marsino. Beliau tinggal di daerah Beji Timur, Depok. Beliau hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di belakang Depok Town Square tersebut dijaga oleh Suryanto (seorang teman Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat). Pak Marsino bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, sempat terjadi penggusuran dari Pemerintah yang menyebabkan beliau berhenti berjualan sementara. Setelah beliau menemukan resep membuat Cilok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan Cilok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Pak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan Cilok khas-nya tersebut yang diberi nama (atau merek) “Cinlok”, karena umumnya “Cinlok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan Cilok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada Cilok khas-nya itu. Setelah dipercaya banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil dengan merek Cilok dagangannya “Cinlok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”, karena Pak Marsino merupakan cucu pertama sekaligus cucu kesayangan dari Mbah Wijoyo, Kakek yang begitu beliau sayangi dan selalu beliau banggakan. Hingga saat ini, Pak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang dijaga oleh Mas Ahmad), dan di Kukusan (Beji, Depok). Mas Suryanto sempat mengatakan bahwa setiap hari Cinlok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari. Setelah itu, dengan bercanda Pak Marsino gantian bertanya kepada saya, “Mbak udah punya pacar, belum? Untuk si Suryanto, nih. Hahaha.

Setelah rasa penasaran saya cukup terobati dengan berbagai informasi relevan mengenai seluk-beluk “Cinlok Putuwijoyo 01” yang lebih mendalam dari perbincangan singkat saya dengan Pak Marsino, saya pun pulang (tentunya setelah pamit serta berterimakasih kepada Pak Marsino dan Mas Suryanto) dengan optimisme untuk dapat mengungkap lebih banyak lagi keterkaitan serta interaksi menarik antara pedagang-pedagang Cinlok tersebut dengan warga lain di daerah Pondok Cina, terutama setelah Pak Marsino mengatakan bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Semua terasa dimulai di sini, di Pondok Cina.

Sore itu, sejak pukul 14.00 WIB, saya menghabiskan waktu luang di hari Minggu untuk sejenak mengunjungi dan memperhatikan sepotong kehidupan yang sebelumnya tak begitu saya kenal baik di daerah Pondok Cina, Depok, sendirian. Niat awal untuk “turun lapangan” bersama kawan-kawan hilang begitu saja ketika di tengah perjalanan hujan turun begitu deras dan kubangan-kubangan air di jalanan berhasil membasahi rok panjang saya. Untunglah tiada kendaraan bermotor yang sengaja lewat di samping saya dengan kecepatan tinggi sehingga baju atasan saya masih kering karena tidak kecipratan air dari kubangan-kubangan di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tersebut. Saya pun terlindungi oleh payung mungil saya, ketika di saat yang sama saya melihat banyak pengendara motor yang nekat menerobos terjangan hujan dari dan menuju Jalan Margonda tanpa peduli badan mereka menjadi basah kuyup walau sudah menggunakan helm.

Jalanan di daerah Pondok Cina cukup lebar, yang terbukti dengan kemampuannya dilewati dua (2) mobil ukuran Kijang secara bersamaan, walau tetap saja tak dapat mobil berjalan ngebut di daerah Pondok Cina karena banyaknya pejalan kaki yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina tersebut. Tak heran bila Pondok Cina dapat dikategorikan sebagai daerah yang ramai dilewati masyarakat karena memang selain banyak mahasiswa-mahasiswi Universitas Indonesia yang nge-kost di daerah Pondok Cina, sebuah pusat perbelanjaan besar bernama Depok Town Square yang berdiri dengan angkuhnya di daerah Pondok Cina, Stasiun Pondok Cina pun menjadi salah satu fasilitas umum yang tak jarang dimanfaatkan masyarakat untuk pergi mencari nafkah dengan menaiki Commuter Line baik ke kota terpadat penduduknya di Nusantara, Jakarta, maupun ke Kota Hujan, Bogor. Pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa sebagai unit usaha masyarakat Pondok Cina juga turut memutar roda perekonomian di daerah tersebut, seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warung internet (warnet), usaha laundry, dan masih banyak lagi. Namun, sore itu, sekilas saya memperhatikan sebuah toko yang menjual pulsa dan berbagai aksesoris handphone bernama Rahayu Cell sepertinya tidak begitu ramai dikunjungi pembeli, walau toko penjual pulsa di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tidak banyak, karena hanya ada dua (2). Atau mungkin belum?

Hujan mulai reda sejak pukul 14.45 WIB. Pondok Cina yang telah sempat dibersihkan dan disegarkan oleh butiran-butiran hujan kembali “hidup” dengan           deru motor yang mulai siap beraksi di jalanan setelah para pengendaranya sempat bernaung sejenak di bawah atap-atap pertokoan selama hujan turun. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk di atas tembok batu pemisah wilayah parkir Stasiun Pondok Cina dan jalanan Pondok Cina yang tingginya kurang-lebih ½ dari tinggi saya.

Sungguh terasa kehangatan menyelimuti pertokoan di seberang dari tempat saya duduk, dengan tertujunya pandangan saya pada gerobak penjual makanan “Cinlok” yang merupakan plesetan dari nama sebenarnya “Cilok”. Cilok yang aslinya berasal dari Tanah Parahyangan (alias Bandung) tersebut merupakan sebuah singkatan dari “Aci dicolok” yang berarti “(makanan dari) tepung kanji yang dicolok (seperti sate)”. Terlihat asap terus mengepul dari panci besar berisi cilok di gerobak yang ditempelkan spanduk hijau bertuliskan merek “Cinlok Putuwijoyo” dan nomor telepon seseorang bernama Slank tersebut. Ketika menyembul kepala seorang pria berumur kurang-lebih 27 tahun yang berseragam serta bertopi biru muda, saya duga pria itulah yang bernama Slank. Pria tersebut diam dan duduk di belakang gerobaknya, di gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell. Cukup menarik bagi saya bahwa mata pria tersebut fokus memperhatikan jalanan Pondok Cina di depannya tanpa memperlihatkan sedikitpun lelah dan bosan dari mimik wajah serta gesture tubuhnya dalam penantian terhadap pembeli untuk datang menghampirinya. Sisi belakang dari seragam yang beliau kenakan bertuliskan “Cinlok Putuwijoyo” yang mampu menunjukkan loyalitas dari beliau dalam bekerja, bila dibandingkan dengan para pedagang kecil lainnya yang tidak jarang terlihat hanya memakai kaos ataupun batik biasa serta bebas sesuka hati mereka. By the way, saya tidak membeli cilok meski sudah cukup tergoda dengan kegurihan serta kehangatannya, karena saya masih kenyang pada saat itu.

Beberapa saat kemudian, tertangkap mata oleh saya seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 tahun yang merokok dengan santainya di balik lemari kaca di toko Rahayu Cell. Tak begitu jelas oleh saya untuk menyatakan jenis kelamin anak tersebut, karena walaupun rambutnya pendek, namun wajahnya cukup cantik. Seketika hati saya ciut dan sedih, setelah untuk kesekian kalinya saya melihat langsung banyak dari generasi muda bangsa ini yang merokok dengan menikmati kehangatannya disertai wajah yang ceria tanpa khawatir sedikitpun akan sejuta bahaya dari sepuntung rokok.

Sejenak saya alihkan pandangan saya dari anak tersebut, agar sakit hati saya terhadap rokok tidak berlarut-larut pada saat itu, untuk menengok ke setiap sisi dari toko Rahayu Cell dari jarak kurang-lebih tiga (3) meter. Dinding yang seluruhnya berwarna kuning masih terlihat baik, karena cat dindingnya belum berkelupas dan dindingnya bersih. Di depan toko, terlihat sedikit sampah-sampah kecil yang tergeletak begitu saja tanpa rasa dosa. Namun, di sisi luar toko tersebut dapat dibilang sudah cukup bersih karena pada nyatanya di pinggir jalan daerah Pondok Cina tidak tersedia tempat sampah untuk para masyarakat yang tinggal ataupun lewat di sana bisa membuang sampah pada tempat yang seyogyanya. Dari kardus-kardus handphone di dalam lemari kaca tersebut, dapat diketahui bahwa sekitar 90% produk handphone yang dijual adalah merek lama atau terbilang “jadul“. Cukup unik ketika saya dapati banyak terdapat colokan listrik yang tergantung di atas lemari kaca tersebut dan ternyata beberapa saat kemudian terdapat dua (2) pengunjung yang numpang men-charge handphone mereka di sana, dengan ditemani seorang wanita (yang saya yakini merupakan ibu dari anak kecil yang merokok tersebut) berbaju putih agak lusuh dan berkulit sawo matang yang muncul dari balik lemari kaca di depan tokonya. Wajah wanita tersebut terlihat cukup berminyak dan rambutnya dikuncir kuda.

Cuaca mendung masih menyelimuti langit dan seisi bumi pada pukul 15.15 WIB. Jalanan Pondok Cina yang ramai akan lalu-lalang para pejalan kaki dan para pengendara motor, turut digaduhkan oleh derap langkah kereta Commuter Line, yang ketika ia lewat, maka jalanan di daerah Pondok Cina tak terkecuali tempat saya duduk pada saat itu pun bergetar. Tak sedikit motor yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina pada saat itu ditumpangi oleh tiga (3) orang. Mungkin belum dipandang bahaya oleh banyak masyarakat, memang, untuk mengendarai motor di daerah Pondok Cina tersebut. Hal itu juga terlihat dari banyaknya pengendara motor tidak ber-helm yang lewat. Banyak pula motor yang berjalan di depan saya dikendarai hanya oleh satu (1) orang di tiap motornya. Saya langsung mengingat di komplek rumah saya yang juga sering ditemui para warga seorang diri mengendarai motor mereka masing-masing dari rumah mereka ke depan komplek, padahal dengan jalan kaki saja tidak dibutuhkan lebih dari 10 menit untuk sampai ke jalan raya di depan komplek saya tersebut, apalagi jalanannya datar (tidak naik-turun).

Terlihat pula beberapa pejalan kaki yang melewati jalanan di depan saya dengan membawa kantong plastik dari Hypermart yang berlokasi di dalam Depok Town Square. Begitu mudahnya saat ini masyarakat di Depok, terutama yang bertempat tinggal di sepanjang jalan Margonda,  untuk pergi berbelanja bahkan sekedar bertemu handai taulan di mall. Padahal di Jerman, sebuah negara maju di belahan benua Eropa dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang lebih tinggi daripada PDB per kapita Indonesia (sebagai salah satu indikator ekonomi yang dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara), sangat sedikit jumlah mall yang berdiri. Saya refleks mengingat fakta perbedaan antara Indonesia dan Jerman tersebut pada saat itu.

Di samping kiri gerobak cilok, terdapat sebuh toko mainan anak yang berisi lampu meja, celengan, bingkai foto, dan masih banyak lagi mainan berkarakter kartun-kartun menarik di atas lemari display-nya. Tiba-tiba muncul seorang anak kecil cantik berambut pendek yang memakai baju warna kuning dari dalam toko mainan tersebut. Ia menggenggam kain kanebo (kain lap kuning untuk membersihkan kendaraan bermotor yang menyerap air) erat-erat di tangan mungilnya. Tak disangka oleh saya bahwa ternyata anak kecil tersebut bermaksud untuk membersihkan seluruh mainan dan pajangan yang terletak di atas lemari kaca. Ia begitu telaten dan hati-hati dalam membersihkan mainan satu-per-satu. Ketulusannya dalam membersihkan barang-barang di toko tersebut juga terlihat ketika ia sempat menyapu isi makanan ringan yang bungkusnya tidak sengaja jatuh dari atas lemari kaca di depan toko dan tumpah ke lantai. Saya jadi begitu penasaran dengan orangtua dari anak tersebut, apakah orangtuanya juga rajin sepertinya. Karena, hanya anak tersebut seorang diri yang terus terlihat di depan toko. Wajah imutnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal ataupun lelah akan pekerjaan bersih-bersih yang ia lakukan tersebut. Bahkan, kain kanebo tersebut ia lipat rapi kembali secara perlahan-lahan setelah ia selesai membersihkan barang-barang dan sekaligus membersihkan lemari kaca di depan tokonya. Meskipun hingga akhir pengamatan saya di sana, tiada pembeli yang mengunjungi toko mainan tersebut.

Di samping kiri saya, terdapat sebuah warung tegal (warteg) yang di pinggir jalannya (di sisi luar warung tersebut) terdapat beberapa bungkus plastik besar berisi sampah. Tidak bau, memang, namun tetap tidaklah benar dan pantas untuk kita meninggalkan sampah begitu saja di pinggir jalan, di tempat yang tidak semestinya kita kotori dengan terbengkalainya sampah di sana, walau tempat sampah memang terbilang cukup jauh dari warteg tersebut. Beberapa saat kemudian, muncul seorang ibu (berusia kurang-lebih 42 tahun) dari dalam warteg yang membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring. Ternyata, beliau ingin mencuci piring di luar warteg, dengan cara yang menurut saya kurang higienis. Beberapa saat kemudian, wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell pergi ke warteg tersebut dengan sebatang rokok terbakar di tangan kanannya. Lalu, wanita tersebut kembali ke toko Rahayu Cell dengan membawa dua (2) gelas air minum dalam kemasan merek Aqua.

Tak lama setelah itu, pria penjual cilok pun pergi ke warteg tersebut lalu kembali ke gerobaknya dengan membawa segelas kopi panas. Saya salut dengan pria tersebut, karena saya tidak menangkap basah beliau merokok sekalipun selama pengamatan sata pada saat itu. Dan Alhamdulillah hingga akhir pengamatan saya tersebut, gerobak cilok itu telah dikunjungi pembeli sebanyak delapan (8) kali.

Kemudian, dari dalam gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell, muncul seorang bapak yang kurang-lebih berusia 50 tahun. Beliau duduk di kursi plastik di depan toko Rahayu Cell. Sekilas saya persepsikan, bahwa alis matanya yang berkerut mengandung arti dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Ia sempat berbincang dengan wanita yang rambutnya berkuncir kuda yang sedang berada di dalam toko Rahayu Cell, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar percakapan mereka karena keriuhan suasana Pondok Cina di Minggu sore. Bapak tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by lima (5) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Bapak tersebut menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Bapak tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ketika ayah dan anak tersebut berterimakasih kepada Bapak itu atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara, Bapak tersebut kembali duduk di depan toko Rahayu Cell. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk melempar senyum kepada beliau sebelum saya pulang dan mengakhiri pengamatan pertama saya pukul 16.00 WIB. Beliau membalasnya dengan senyuman yang hangat pula. 🙂

Pinarta's Blog

Investment & Indonesia Capital Market

harikaryo

Just another WordPress.com site

Djunijanto Blog

Arek Soeroboyo, Bisa!!!

Pak Guru Bambang's Weblog

BERANILAH TAMPIL BEDA

eunchasiluets

Saatnya Ngampus Bukan Sekedar Status

desywu

My Garden of Words and Thoughts

Indra Putranto

Professional Training and Engineering

ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Soldier of Fortune

Into a World of Illusion

ERIK KAKTUS Green Souvenir @ Merchandise

Green Souvenir for Green Wedding and Green Party, Green Campaign Party...

%d bloggers like this: