Tag Archive: Cilok


“Apakah benar, semua manusia tiada yang sama? Buktinya, kita semua sama-sama tidak sempurna,” salah satu pertanyaan retoris yang menurut saya cukup mendasar dalam kehidupan kita (as a human being) karena menyangkut tentang fakta dari karakteristik atau ciri-ciri manusia. Ketika kita meyakini bahwa di dunia ini tiada manusia yang sama persis, maka di saat yang sama pula, tingkat kesempurnaan dari manusia sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya diyakini adalah sama, yakni sama-sama tidak (sepenuhnya) sempurna. Tapi memangnya, seperti apa sih bentuk kehidupan manusia yang semakin mendekati kesempurnaan tersebut?

Equality atau persamaan dari tiap manusia dalam nilai dan prinsip yang mainstream di masyarakat begitu sering diagungkan atau dianggap penting oleh masyarakat itu sendiri, di mana ketika terdapat seseorang atau pun sekelompok kecil orang yang tidak sama atau “menyimpang” dari kebiasaan dan/atau keadaan masyarakat pada umumnya, maka masyarakat akan cenderung bersikap kurang friendly kepadanya dibandingkan dengan kepada orang lain yang pemikiran dan kebiasaannya mainstream di masyarakat, hingga seseorang atau pun sekelompok kecil orang unik tersebut bisa semakin lama semakin ter-marjinal-kan.

Pemikiran saya di atas timbul setelah saya “turun lapangan” ke Pondok Cina untuk pengamatan kembali di hari Minggu, 6 Oktober 2013 yang cerah pada pukul 15.00 WIB. Ketika saya berjalan kaki dari Depok Town Square (Detos) menuju sub-setting saya, saya melihat Mas Ahmad (objek pengamatan saya: penjual CinLok “Putuwijoyo 01” di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) sedang berjualan dengan mengenakan seragam biru mudanya di cabang dari CinLok “Putuwijoyo 01” di belakang Depok Town Square. Suasana yang lebih ramai dengan lalu-lalang masyarakat (dibandingkan dengan suasana Pondok Cina di hari lainnya) pada saat itu membuat saya tidak terlihat oleh Mas Ahmad padahal saya sedang berdiri di seberangnya, yang juga disebabkan karena kebetulan pada saat itu Mas Ahmad sedang melayani banyak pembeli CinLok. Bermaksud untuk berbincang sebentar dengannya, saya pun kemudian berjalan ke arahnya.

Namun, ketika tidak sengaja menoleh ke rumah warga di samping kanan Mas Ahmad, saya melihat Pak Marsino (pemilik CinLok “Putuwijoyo 01”) sedang tiduran di sofa dalam rumah tersebut. Rumah warga yang berwarna krem dan bersih tersebut tidak begitu besar, seperti rumah-rumah warga di Perumnas pada umumnya. Kebetulan di depan rumah tersebut terdapat seorang wanita (sekitar umur 35an) yang sedang menyapu lantai dan mengenakan daster batik warna merah dengan rambut di-konde, saya pun menghampiri wanita itu untuk meminta izin menemui Pak Marsino. Awalnya, wanita tersebut sempat bertanya kepada saya beberapa kali untuk meyakinkannya apakah ia perlu membangunkan Pak Marsino yang sedang tertidur lelap di sofanya sembari mengenakan seragam biru mudanya.

Ketika saya masih memohon kepada wanita tersebut untuk membangunkan beliau, tiba-tiba Pak Marsino terbangun dari tidurnya. Walau kedua mata beliau terlihat berwarna merah karena masih mengantuk dan beliau terlihat linglung, beliau menyadari kehadiran saya dan mengizinkan saya berbincang sejenak dengan beliau di rumah tersebut. Rasa tidak enak kepada Pak Marsino berserta wanita tersebut pun sempat menjalar di hati saya walau pada akhirnya saya tetap masuk ke dalam rumah tersebut setelah diizinkan oleh wanita penghuni rumah tersebut.

Setelah saya memohon maaf kepada beliau karena telah mengganggu “perjalanan beliau ke pulau kapuk”, saya yang mengingat hasil pengamatan kedua saya dulu (bahwa Pak Marsino tinggal di Beji, bukan Pondok Cina) pun bertanya apakah beliau memang tinggal di rumah tersebut. Beliau lalu menjawab bahwa pada saat itu (dan sudah biasa beliau lakukan sehari-hari) ia hanya menumpang untuk tiduran sejenak di rumah tersebut.

Selama kami berdua berbincang, beliau bercerita bahwa perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah adalah begitu sedikitnya lapangan (kesempatan) kerja yang terdapat di domisilinya yang merupakan daerah pedesaan tersebut, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota. Selain itu, beliau pun berpendapat bahwa cuaca di Depok lebih panas daripada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di daerah domisili beliau, tiada warga yang mengemis, yang kontradiktif dengan keadaan di Depok (khususnya di Pondok Cina) yang setiap hari disinggahi banyak pengemis. Cukup menarik namun ironis, bahwa terdapat seorang pengemis yang setiap hari diberi uang oleh Pak Marsino (dengan nominal yang tidak banyak) karena bila tidak diberi uang maka pengemis tersebut marah.

Kemudian, beliau bercerita bahwa sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja (tiada warga Pondok Cina yang sering bertengkar).

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau menjelaskan bahwa kaki beliau pernah tersiram air panas ketika ia sedang menyiapkan bakso untuk dijual sejak dini hari, yang menyebabkan beliau sempat dibawa ke rumah sakit dan masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga beliau lalu pulang ke Jawa Tengah untuk beberapa hari.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di daerah domisili beliau, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga di daerah tersebut, termasuk oleh beliau. Berbeda dengan suasana “17 Agustus” di Depok yang menurut beliau kurang ramai, dan beliau sendiri tidak turut serta dalam perayaan tersebut di Depok. Menariknya, beliau mengaku bahwa dahulu (ketika masih muda) di daerah domisilinya ia pernah menjadi ketua Karang Taruna.

Beliau pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut untuk pergi ke daerah Jakarta dan Bogor.

Ternyata, Pak Marsino telah memiliki akun Facebook dan Twitter yang seringkali di-update oleh beliau, sekedar untuk mengisi waktu senggangnya. Beliau pun mengaku sering mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk belanja kebutuhan sehari-hari setiap bulannya serta mengetahui harga-harga gadget terkini melalui teman-temannya yang memiliki counter di Depok Town Square. Plaza Depok dan Depok Mall juga pernah dikunjungi beliau dulu.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Pak Marsino ingin turut serta memilih presiden yang menurut beliau cocok dan pantas memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya.

Setelah berterimakasih kepada Pak Marsino beserta wanita penghuni rumah tersebut, saya menghampiri Mas Ahmad yang sedang melayani 3 (tiga) pembeli CinLok. Tidak disangka, Mas Ahmad menengok ke arah saya yang sedang berada di samping kanan dari toko (gerobak-red.) CinLok-nya sambil menyunggingkan senyuman kecil yang saya tangkap sebagai suatu tanda positif bahwa ia sudah menerima “usaha pendekatan” saya kepadanya selama ini.

Kami (saya dan Mas Ahmad) pun berbincang ketika sedang tiada pembeli menghampiri tokonya. Sembari menghisap rokoknya, Mas Ahmad berpendapat bahwa  perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di Kebumen, Jawa Tengah dan tempat tinggalnya kini di Depok adalah cuacanya yang lebih dingin dan suasana yang kurang ramai, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota.

Kemudian, Mas Ahmad bercerita bahwa walaupun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga), tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi penyebab dari pertengkaran-pertengkaran tersebut.

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau mengaku bahwa ia lupa (setelah untuk sejenak ia sempat terlihat berpikir untuk mengingat-ingat sesuatu). Seketika itu saya pun berpikir 2 (dua) opsi pilihan terkait dengan Mas Ahmad yang lupa tersebut, bahwa bila Mas Ahmad benar tidak memiliki pengalaman menarik selama di Depok yang tidak terlupakan, maka berarti Mas Ahmad sebenarnya hanya malu mengungkapkannya.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di Kebumen, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga Kebumen, termasuk oleh Mas Ahmad. Menariknya, ia mengaku bahwa ia cukup sering memenangkan lomba “17 Agustus”-an.

Mas Ahmad pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut, seperti untuk pergi ke daerah Tanah Abang dan Bogor bersama teman-temannya.

Yang lebih menarik lagi bagi saya, adalah ketika Mas Ahmad bercerita bahwa ia belum memiliki akun Facebook dan Twitter karena beberapa alasan, yaitu tiada minat untuk “bermain Internet”, ketiadaan koneksi Internet, serta handphone-nya yang sekedar digunakan untuk menelepon orang lain. Mas Ahmad pun mengaku telah beberapa kali mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk sekedar melihat-lihat bersama teman.

Mas Ahmad juga bercerita tentang keadaan di Pondok Cina yang setiap hari disinggahi banyak pengemis, berbeda dengan di Kebumen di mana tiada warga yang mengemis. Cukup menarik dan mengharukan bagi saya bahwa Mas Ahmad mengaku ia hanya mengikuti kata hatinya dalam memberikan uang kepada pengemis yang melewati tempat kerjanya, yakni terkadang memberi dan terkadang pula tidak memberi, agar ia dapat terus ikhlas dalam bersedekah setelah melihat terlebih dahulu keadaan yang tampak dari sang pengemis.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Mas Ahmad ingin turut serta memilih presiden yang menurutnya cocok memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya, yakni ke Kebumen.

Obrolan kami yang sudah beberapa kali diselingi oleh pelayanan dari Mas Ahmad kepada para pembeli CinLok yang menghampiri tokonya tersebut, saya akhiri dengan terlebih dahulu berterimakasih kepada Mas Ahmad yang telah saya “ganggu” sebentar, sebelum saya pulang. Sempat tertangkap beberapa kali momen menarik oleh saya ketika saya memperhatikan lebih dekat tentang kinerja pelayanan yang dilakukan oleh Mas Ahmad kepada para pembelinya yang banyak pada hari itu (lebih banyak pembeli sebenarnya bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitar CinLok “Putuwijoyo 01” tersebut pada waktu yang sama), bahwa Mas Ahmad begitu cekatan dalam menyajikan CinLok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Teringat saya akan seorang pemuda lain yang menjaga cabang toko CinLok “Putuwijoyo 01” di sub-setting saya (di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) dan mulai terpikir oleh saya apakah pemuda tersebut memiliki semangat dan dedikasi yang sama dengan Mas Ahmad selama ini.

Di akhir pengamatan kali ini, setelah beberapa pertanyaan terkait pengalaman hidup dari Mas Ahmad dan Pak Marsino selama di Jawa Tengah dan di Depok saya ajukan kepada beliau semua, saya mendapat insight tersendiri bahwa memang tidak sedikit perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang secara kasat mata memiliki kegiatan serta profesi yang sama. Dan dari perbedaan-perbedaan tersebut, setiap orang yang memilikinya akan mampu mendapatkan pengalaman menarik sekaligus berharga sebagai “guru terbaik” yang bisa mempengaruhi kehidupan serta prinsip yang dianut oleh orang tersebut di masa depan, terlepas dari kebiasaan dari orang tersebut unik atau pun tidak, dan mainstream atau pun antimainstream di masyarakat. Bahkan bila kita mau saling menghargai serta memanfaatkannya, perbedaan dari setiap manusia dapat kita jadikan sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Advertisements

Langkah gontai mengawali perjalanan saya dan teman-teman dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) ke Pondok Cina sore itu, pukul 14.00 WIB. Langit mendung yang semakin mengelamkan suasana sempat menciutkan semangat teman-teman saya untuk “turun lapangan” saat itu, namun tidak untuk semangat saya. Sebenarnya, bukan semata-mata karena keengganan teman-teman saya dalam melakukan pengamatan di Pondok Cina, namun lebih karena pengalaman singkat yang telah diceritakan beberapa teman kami, bahwa 3 (tiga) hari yang lalu, kedatangan mereka langsung “ditolak” seorang Ibu penjual kopi di sebuah warung kecil, sebelum mereka sempat berkata apa-apa, dengan alasan bahwa beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Ada pula teman kami yang mengaku memiliki pemikiran (yang cukup subjektif menurut saya, karena saya tidak mengalaminya secara langsung) bahwa para warga yang berada di sub-setting kami akhir-akhir ini menunjukkan sikap dan pandangan tidak ramah kepada kami bahkan lebih menutup diri daripada dalam pengamatan-pengamatan kami sebelumnya.

Sedih saya mendengar cerita dari pengalaman tersebut, karena sesungguhnya saya tidak ingin para warga Pondok Cina memiliki persepsi awal yang negatif terhadap mahasiswa UI, walau mungkin memang para warga masih merasa insecure terhadap kehadiran “orang baru” yang tiba-tiba datang ke lingkungan mereka secara intens. Ternyata, usaha pendekatan yang telah saya dan teman-teman lakukan selama ini kepada beberapa warga Pondok Cina di sub-setting kami tidak semudah yang awalnya pernah kami pikirkan, bagai aliran air dari sungai ke laut.

Sejak pertama kali kelas Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) “turun lapangan” ke sub-setting masing-masing kelompok, saya telah memperhatikan seorang bapak yang memiliki bengkel serta tempat tambal ban kecil di pelataran rumahnya di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square. Bapak tersebut tidak jemu bahkan terus-menerus mengarahkan tatapannya yang begitu menyeramkan dan penuh kecurigaan kepada kami (para mahasiswa) yang melewati rumahnya, hingga pada saat pengamatan kami Rabu lalu. Saya pribadi sempat merasa paranoid dan memperkirakan bahwa bapak tersebut mengalami gangguan jiwa. Ingin sekali rasanya saya berkunjung ke rumah bapak tersebut untuk berkenalan dan memperlihatkan kenyataan bahwa sebenarnya para mahasiswa yang sejak awal September sering terlihat mondar-mandir ngobrol dengan para warga di Pondok Cina itu tidak pernah memiliki sedikitpun maksud ataupun motif buruk terhadap para warga di Pondok Cina, walau sebenarnya kami (para mahasiswa) juga belum dapat memberikan kebermanfaatan yang secara nyata dapat dirasakan para warga di Pondok Cina melalui kegiatan pengamatan tersebut.

Yang lebih menimbulkan “tanda tanya” (rasa penasaran-red.) lagi, saya pernah melihat seorang nenek paruh baya dengan rambut yang telah memutih secara keseluruhan berada di samping bengkel tersebut untuk menunggu pembeli di toko kecil di depan rumah tersebut. Nenek tersebut menjual minuman-minuman instan (sachet) yang jumlah dan variasi merk produknya tidak banyak dengan menggantungnya secara anggun di atas seutas tali putih yang turut menjadi saksi bisu mengenai asam-garam kehidupan sang nenek selama ini. Seketika itu juga saya mengingat nenek saya yang begitu saya sayangi, yang telah turut merawat saya dengan begitu sabar sedari saya masih kecil, terutama ketika kedua orangtua saya bekerja. Karena, hingga saat ini nenek saya tersebut tinggal bersama saya dalam satu atap.

Ketika saya kembali merenungi kegiatan pengamatan yang telah saya lakukan di Pondok Cina beberapa kali, saya mencoba memahami keadaan ketika saya yang menjadi warga Pondok Cina dan terdapat sekelompok mahasiswa yang menjadikan saya objek pengamatan, untuk tujuan apapun. Saya pribadi sebenarnya tidak begitu takut dan menutup diri ketika bertemu dengan orang asing yang di kemudian hari secara intens justru bercengkerama dengan saya. Namun, keadaan psikologis yang berbeda antara kami (para mahasiswa) dan para warga yang mayoritas dari mereka masih termasuk dalam golongan ekonomi “menengah ke bawah” di Pondok Cina tersebut menyebabkan fleksibilitas penerimaan terhadap orang asing dalam kehidupan mereka cukup rendah. Comfort zone dari masing-masing warga tersebut pun begitu “dilindungi” oleh mereka dari segala bentuk threat atau ancaman dari luar dengan cara bersikap apatis terhadap keberadaan dan keadaan orang lain yang masih dianggap “asing” oleh mereka.

Rasa penasaran yang diawali dengan rasa takut tersebut menyelimuti pikiran saya selama perjalanan ke Pondok Cina pada hari itu. Namun, ketika saya melihat dari kejauhan bahwa penjual CinLok yang menjadi objek pengamatan saya berada di tempat beliau biasa mencari nafkah dengan memakai seragam biru muda plus topi khasnya. Sebelum berbincang dengan penjual CinLok tersebut, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk berkunjung ke Warung Nasi Priangan yang terletak di kurang-lebih 5 (lima) meter dari tempat dagang penjual CinLok untuk menikmati segelas teh manis-dingin serta untuk berteduh dari rintik-rintik hujan. Alhamdulillah Warung Nasi Priangan tersebut ramai dikunjungi para pembeli pada saat itu, yang berarti di waktu yang sama pundi-pundi rezeki pun mengalir deras kepada sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut.

Tidak lama kemudian, saya bergegas mengamati kembali penjual CinLok dari kejauhan setelah hujan reda. Karena kebetulan sedang tidak ada pembeli yang datang, maka saya memberanikan diri untuk berkunjung ke sana dan berbincang dengan beliau yang terlihat sedang merokok (teringat kembali hipotesis dari hasil pengamatan pertama saya bahwa penjual CinLok tersebut tidak merokok, ternyata terbukti tidak tepat).

Senang rasanya mengetahui bahwa penjual CinLok tersebut masih mengingat saya yang sudah cukup lama tidak berkunjung ke sana. Saya pun melanjutkan sambutan hangat dari beliau dengan memulai perbincangan kami. Beliau bercerita bahwa ia lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Namun, beliau lupa tanggal lahirnya. Saya iseng melarang beliau untuk nyontek ke Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya yang berdomisili di Kebumen. Beliau pun sekedar mengira-ngira bahwa ia lahir pada tanggal 16 Mei 1992. Saya cukup terkejut mengetahui bahwa ternyata saya hanya lebih muda setahun daripada beliau. Ia lalu berkata bahwa di Kebumen terdapat seorang kakak yang sudah bekerja dan seorang adik yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hobi yang beliau biasa lakukan di waktu senggangnya adalah merokok, walau tergantung pula dengan suasananya. Namun di Kebumen, ia ternyata senang bermain gitar, “walau gak jago-jago amat,” ungkapnya.

Sudah 3 (tiga) minggu penjual CinLok tersebut tinggal di Depok. Semua kebutuhan hidupnya sehari-hari (seperti sabun cuci, dan sebagainya) telah disediakan oleh pemilik kontrakannya, yang menurut saya kurang lazim atau begitu jarang dilakukan oleh para pemilik kontrakan rumah saat ini. Selama berjualan di Pondok Cina, beliau belum pernah mengalami banjir, walau sering terjadi hujan deras. “Paling airnya hanya naik berapa centi,” jawabnya. Alhamdulillah tetangga-tetangga (para warga) di Pondok Cina tersebut menyambut beliau (sebagai warga baru di lingkungan Pondok Cina) dengan baik dan hingga kini tiada konflik serius antar-warga karena hubungan antar-warga terjalin dengan dekat dan baik. Namun, beliau belum begitu tahu persis akan kemungkinan adanya preman di Pondok Cina tersebut.

Beliau tinggal dengan mengontrak rumah bersama temannya di daerah Depok I, tepatnya di Jalan Kedondong. Beliau bercerita bahwa di rumah kontrakannya tersebut sering terjadi mati lampu secara tiba-tiba, walau biasanya tidak mati terlalu lama.

Di bulan Mei 2013 yang lalu, beliau mengikuti (berperan serta dalam) pemilihan gubernur Jawa Tengah. Ia berkata bahwa untuk pemilihan presiden Indonesia tahun 2014 nanti beliau ingin turut serta memilih, walau hingga saat ini ia belum memiliki pilihan calon presiden yang menurutnya baik.

Obrolan ringan tersebut pun saya akhiri dengan berterimakasih kepada beliau. Lalu, saya iseng bertanya kepadanya mengenai penjual es potong yang sebelumnya sering terlihat mangkal di dekat CinLok tersebut. Beliau pun bercerita bahwa 2 (dua) hari terakhir ini mas-mas penjual es potong tersebut tidak terlihat berjualan di Pondok Cina, karena sakit. Penjual CinLok tersebut juga bercerita bahwa pada hari itu (Rabu, 2 Oktober 2013) CinLok-nya dihampiri banyak pembeli. Tampak senyum kecil di wajahnya mengandung ribuan energi mengalir untuk beliau terus berjuang menghadapi ketidakpastian akan hari esok dengan suka-duka kehidupan barunya di Pondok Cina.

Ketika saya dan beberapa teman duduk di kursi kayu reot di depan bengkel yang terletak di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square, secara tidak sadar kaki saya terkena batang kayu kecil yang tajam di samping kursi tersebut. Darah segar mengalir deras keluar dari kulit ibu jari kaki saya, walaupun lubang lukanya kecil. Saya pun berkeliling mencari keran air di sekitar saya pada waktu itu dengan langkah kaki yang pincang namun tak kunjung saya temukan, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Warung Nasi Priangan yang terletak di kurang-lebih 5 (lima) meter dari tempat dagang penjual CinLok. Kemudian, saya meminta izin dari sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut untuk meminta air dari keran di kamar mandinya. Awalnya, terlihat keraguan sempat menghampiri ibu tersebut terhadap saya yang memang belum pernah kenal dengannya. Namun, Alhamdulillah tidak begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk saya mendengar kata “iya” darinya sebagai tanda persetujuan izin beliau.

Setelah sang ibu pemilik Warung Nasi Priangan tersebut mencoba mendeskripsikan keadaan kamar mandinya yang berantakan dengan barang ini-itu, saya pun mencoba meyakinkan beliau bahwa saya hanya perlu sedikit aliran air untuk membersihkan luka saya tersebut serta saya tidak akan “merusak tatanan” dari barang-barang di kamar mandi beliau. Namun, ketika saya membuka pintu kamar mandi tersebut, ternyata peralatan-peralatan dapur seperti wajan penggorengan, panci, dan sebagainya, tergeletak secara random di lantai. Mengetahui bahwa ibu tersebut “mengawasi” dari luar kamar mandi, saya bergegas mencuci luka saya secara hati-hati agar darahnya tidak mengenai peralatan dapur sang ibu. Semoga segala kebaikan yang telah ibu tersebut lakukan dibalas pula dengan kebaikan oleh Allah SWT., aamiin.

Setelah luka tersebut saya balut dengan plester antiseptik, tiba-tiba muncul gagasan antara saya dan teman-teman untuk kami pindah sub-setting, untuk memperhatikan dan mengkaji interaksi antar-warga Pondok Cina yang kami harap ”lebih ramah” daripada warga di sub-setiing pertama kami. Karena faktor ketidakpastian respons dari para warga Pondok Cina yang berada di sub-setting lain, maka pada akhirnya kami sepakat untuk tetap di sub-setting pertama hingga Ujian Tengah Semester (UTS) selesai, lalu akan ada diskusi kembali untuk kami memutuskan untuk pindah maupun menetap di sub-setting awal. Kami pun sudah sempat melakukan evaluasi, brainstorming, serta menyamakan sikap dalam usaha pendekatan kepada para warga Pondok Cina secara lebih baik dan lebih soft “mengalir” ketika melakukan pengamatan selanjutnya. Semoga kami berhasil, aamiin.

Berubah dan baru. Tidak mudah, memang, untuk setiap dari diri kita menerima serta membiasakan diri akan perubahan dan pembaharuan dalam hidup kita, tidak terkecuali bagi saya dan beberapa warga Pondok Cina yang sudah secara sukarela menyempatkan sedikit waktunya untuk berbincang dengan saya di sore itu, Minggu, 22 September 2013 pukul 16.15 WIB.

Saya menaiki sebuah angkutan umum dari depan komplek rumah saya hingga ke depan Gang Pondok Cina di seberang Toko Buku Gramedia Depok. Selama menyusuri Gang Pondok Cina kala itu, terasa ketenangan dan kedamaian mengiringi perjalanan saya, jauh bila dibandingkan dengan perjalanan saya selama melewati jalan raya perkotaan yang kini sudah sesak akan asap dan deru kendaraan bermotor. Langit biru yang cerah serta hembusan angin yang lembut, semakin memperkuat suasana yang hangat dari keharmonisan interaksi antar-warga di daerah Pondok Cina pada saat itu. Sekilas terlihat beberapa orang mengunjungi pertokoan-pertokoan di sepanjang Gang Pondok Cina tersebut yang didominasi oleh toko aksesoris dan jasa service komputer.

Kemudian, saat melihat suatu gang kecil di sebelah kiri saya, rasa penasaran pun muncul seketika di benak saya yang akhirnya berhasil mendorong saya untuk coba melewati gang kecil cabang dari Gang Pondok Cina tersebut. Ternyata, di kanan-kiri jalan di sepanjang gang kecil itu, terdapat rumah-rumah warga yang beberapa di antaranya merupakan rumah kost. Menarik ketika saya mendapati banyak dari rumah-rumah warga tersebut diberi pagar, yang menurut saya mampu mengurangi intensitas interaksi antar-warga di gang kecil itu. Tidak sedikit dari rumah-rumah tersebut terlihat sepi dan bahkan kosong karena tidak ada penghuninya yang pada saat itu beraktivitas di halaman rumah dan bahkan pagarnya tertutup rapat. Namun, mata saya sempat berhasil menangkap “pemandangan” yang cukup menarik di gang kecil tersebut, yakni seorang ibu paruh baya berbaju putih yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Menarik, karena ketika terdapat beberapa orang yang kebetulan juga sedang beraktivitas di luar runah (di sekitar rumah Ibu paruh baya tersebut) pada saat itu, tidak ada satu pun dari mereka yang saling bertegur sapa bahkan untuk sekedar menengok keadaan satu sama lain. Saya pun cukup heran dengan banyaknya mobil yang diparkir memenuhi halaman dari salah satu rumah kost di dalam gang kecil tersebut, apakah itu semua mobil dari pemilik kost atau dari penyewa kost.

Setelah untuk beberapa saat memperhatikan lebih dekat salah satu gang kecil di daerah Pondok Cina tersebut, saya kembali ke gang besarnya dan memperhatikan daerah pengamatan Manusia dan Masyarakat Indonesia (MMI) saya dari jauh terlebih dahulu untuk memastikan bahwa warga Pondok Cina yang ingin saya temui tersebut ada pada saat itu. Alhamdulillah, Mas penjual Cinlok yang sejak seminggu sebelumnya telah saya amati ada dan sedang berjualan Cinlok pada saat itu. Karena kebetulan sedang tidak ada pembeli dan Mas penjual Cinlok tersebut sedang duduk saja (tidak mengerjakan apa-apa), maka tanpa ragu saya menghampiri Mas penjual Cinlok tersebut. Senyum tulus dari Mas penjual Cinlok yang sedang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans tersebut menunjukkan keramahan sekaligus tanda tanya bagi beliau mengenai saya yang belum beliau kenal namun tiba-tiba mengajak berbincang empat mata dengan beliau sore itu. Sebelum saya melanjutkan wawancara tersebut lebih jauh, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dari kunjungan saya tersebut kepada beliau. Saya memohon izin kepada Mas penjual Cinlok tersebut untuk saya tiap minggu mengunjungi beliau selama kurang-lebih 5 (lima) bulan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau. Alhamdulillah, tanpa pikir panjang, beliau mengizinkan saya. Saya cukup terkejut dengan kenyataan bahwa Mas penjual Cinlok tersebut merupakan seorang bertipikal pendiam-introvert, namun selama perbincangan beliau tidak se-tertutup yang pada awalnya sempat saya bayangkan. Berikut ini adalah hasil wawancara dan kunjungan saya ke beberapa pedagang Cinlok di Pondok Cina, Depok.

Mas yang bernama Ahmad ini ternyata bukan merupakan warga Pondok Cina asli. Beliau diajak teman baiknya dari Jawa Tengah untuk bekerja menjual Cinlok di Pondok Cina, Depok. Beliau baru tiba di Depok pada hari Minggu, 15 September 2013 (tepat di hari pengamatan pertama saya di tempat yang sama). Sekarang, beliau tinggal bersama teman baiknya yang bernama Suryanto tersebut di dekat Pertamina daerah Beji, Depok. Namun lucunya, beliau tidak tahu dengan pasti di mana letak dan arah tempat tinggalnya di Beji tersebut karena beliau mengendarai motor untuk berjualan di Pondok Cina dan beliau belum hafal nama jalan maupun angkutan umum menuju tempat tinggalnya tersebut. Cinlok yang juga disukai oleh Mas Ahmad tersebut dijual seharga Rp. 1,000; per 4 (empat) buah. Karena Cinlok ini bukan merupakan usaha beliau pribadi, maka supply bahan baku Cinlok tersebut beliau peroleh dari temannya yang biasa berbelanja ke pasar, yang kemudian beliau masak sendiri di gerobak dagangan Cinlok beliau. Suryanto ternyata juga berjualan Cinlok di belakang Depok Town Square, yang berarti di daerah Pondok Cina juga. Beliau mengaku bahwa dagangan Cinlok ini beliau buka setiap hari Senin hingga Minggu sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB, kecuali bila beliau sedang sakit yang menyebabkan beliau tidak dapat berjualan. Karena baru berjualan Cinlok di Pondok Cina ini selama kurang-lebih seminggu, beliau belum menemukan hari tertentu atau jam khusus saat terdapat pembeli Cinlok terbanyak. Namun pada umumnya, rata-rata jumlah pembeli yang datang setiap jam dan setiap hari adalah sama, mengingat bahwa Pondok Cina merupakan daerah yang setiap hari ramai akan lalu-lalang masyarakat, baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor, karena di sana terdapat suatu pusat perbelanjaan yang besar serta stasiun kereta api. Cukup menarik bahwa beliau juga menyatakan bahwa umumnya bapak-bapaklah yang lebih sering membeli Cinlok daripada ibu-ibu maupun anak-anak. Menelisik kembali hasil pengamatan pertama saya di Pondok Cina, saya sempat menemukan hal yang menarik bagi saya bahwa terdapat seorang pedagang Cinlok yang ramah dan fokus dalam melayani para pembeli tanpa terlihat ada insentif apapun bagi pedagang tersebut pada saat itu untuk melayani pembeli dengan baik. Setelah pengamatan kedua ini saya lakukan, saya cukup kecewa karena Mas Ahmad tersebut menjawab bahwa beliau melakukan semua hal yang telah saya sebutkan sebelumnya (ramah dan fokus dalam melayani para pembeli-red.) itu hanya (sebagai variasi pelayanan terhadap pembeli) agar beliau tidak bosan selama berjualan Cinlok. Tapi entah mengapa, saya tetap meyakini bahwa seluruh tindakan Mas Ahmad tersebut datang dan diniatkan secara tulus dari hati, ketika kebetulan terdapat seorang anak kecil membeli Cinlok setelah beberapa saat saya berbincang dengan beliau dan saya kembali mendapati keramahan beliau dalam melayani pembeli. Sempat terkejut saya ketika tertangkap mata oleh saya sebungkus rokok dan korek api tergeletak di atas gerobak Cinlok beliau, padahal saya belum pernah melihat secara langsung Mas Ahmad merokok selama beberapa kali saya mengamati beliau, yang pada awalnya menjadi suatu hal menarik pula bagi saya.

Karena sejak awal saya memang baru berniat untuk berbincang dengan Mas Ahmad sebentar dalam rangka perkenalan awal, saya akhiri perbincangan kami di menit ke-20 sejak awal saya menghampiri beliau. Sebagai sekedar tanda terimakasih, saya membawa gula seberat setengah kilogram dari rumah untuk saya berikan kepada beliau. Namun, beliau terus bersikeras untuk menolak pemberian saya tersebut (tentunya dengan penolakan secara halus) sehingga saya terpaksa membawa pulang kembali gula tersebut.

Penasaran dengan informasi dari Mas Ahmad bahwa terdapat seorang temannya yang juga berjualan Cinlok di belakang Depok Town Square, saya pun pergi ke belakang Depok Town Square lalu mencari toko ataupun gerobak pedagang Cinlok yang memiliki merek sama dengan Cinlok Mas Ahmad, yakni “Cinlok Putuwijoyo 01”. Setelah saya temukan apa yang saya cari tersebut, saya menghampiri seorang pemuda yang sedang melayani banyak pembeli Cinlok (rupanya pedagang Cinlok di belakang Depok Town Square tersebut jauh lebih ramai daripada pedagang Cinlok Mas Ahmad di dekat parkiran stasiun Pondok Cina). Ketika saya meminta izin pemuda tersebut untuk berbincang sebentar terkait tugas kuliah saya, pemuda tersebut “melemparkan” saya untuk bertanya langsung kepada bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” yang sedang duduk sambil merokok tepat di depan saya berdiri pada saat itu. Cukup awkward pada awalnya, namun spontan saya kemudian memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dari kunjungan saya tersebut kepada bapak tersebut. Saya memohon izin kepada beliau untuk saya tiap minggu mengunjungi beliau selama kurang-lebih 5 (lima) bulan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau (walaupun nantinya saya ragu untuk kembali mengamati bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut karena telah keluar dari zona setting MMI kelompok saya). Bapak yang sedikit terlihat lebih open dan ramah ini awalnya sempat menunjukkan kecurigaan dan sikap defensive-nya kepada saya dengan beberapa kali bertanya (untuk memastikan) maksud dan tujuan saya mengamati beliau dan dagangan beliau. Namun pada akhirnya, Alhamdulillah saya berhasil meyakinkan beliau bahwa saya hanya bermaksud mengerjakan tugas kuliah untuk berbincang dengan salah satu warga di Pondok Cina (tanpa memberitahu bapak tersebut bahwa sebelumnya saya sudah sempat berbincang dengan Mas Ahmad– temannya).

Bapak pemilik “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut bernama Marsino. Beliau tinggal di daerah Beji Timur, Depok. Beliau hanya bertindak sebagai supervisor karena cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” yang buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB di belakang Depok Town Square tersebut dijaga oleh Suryanto (seorang teman Mas Ahmad yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat). Pak Marsino bercerita bahwa sebenarnya beliau telah mulai berjualan makanan di daerah Pondok Cina ini sejak tahun 1993. Namun, sempat terjadi penggusuran dari Pemerintah yang menyebabkan beliau berhenti berjualan sementara. Setelah beliau menemukan resep membuat Cilok khas berisi daging yang lezat dari ayahnya (mengingat bahwa makanan Cilok umumnya tidak berisi daging namun hanya tepung kanji yang dibentuk seperti bola-bola kecil lalu ditusuk-tusuk atau dirangkai seperti sate), maka Pak Marsino memberanikan diri untuk mulai berjualan keliling menjajakan Cilok khas-nya tersebut yang diberi nama (atau merek) “Cinlok”, karena umumnya “Cinlok” diartikan banyak masyarakat Indonesia sebagai singkatan dari “Cinta Lokasi” dengan harapan agar setiap orang yang pertama kali memakan Cilok khas-nya tersebut atau bahkan baru melihatnya dari jauh dapat langsung menjadi cinta pada Cilok khas-nya itu. Setelah dipercaya banyak konsumennya dan mendapat laba yang cukup besar, akhirnya pada tahun 2010 beliau mendirikan toko kecil dengan merek Cilok dagangannya “Cinlok Putuwijoyo 01”. “Putuwijoyo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Cucu (dari) Wijoyo”, karena Pak Marsino merupakan cucu pertama sekaligus cucu kesayangan dari Mbah Wijoyo, Kakek yang begitu beliau sayangi dan selalu beliau banggakan. Hingga saat ini, Pak Marsino telah memiliki 3 (tiga) cabang dari “Cinlok Putuwijoyo 01” tersebut, yakni di belakang Depok Town Square (yang dijaga oleh Mas Suryanto), di dekat parkiran stasiun Pondok Cina (yang dijaga oleh Mas Ahmad), dan di Kukusan (Beji, Depok). Mas Suryanto sempat mengatakan bahwa setiap hari Cinlok di belakang Depok Town Square ramai dengan pembeli, terutama di pagi hari. Setelah itu, dengan bercanda Pak Marsino gantian bertanya kepada saya, “Mbak udah punya pacar, belum? Untuk si Suryanto, nih. Hahaha.

Setelah rasa penasaran saya cukup terobati dengan berbagai informasi relevan mengenai seluk-beluk “Cinlok Putuwijoyo 01” yang lebih mendalam dari perbincangan singkat saya dengan Pak Marsino, saya pun pulang (tentunya setelah pamit serta berterimakasih kepada Pak Marsino dan Mas Suryanto) dengan optimisme untuk dapat mengungkap lebih banyak lagi keterkaitan serta interaksi menarik antara pedagang-pedagang Cinlok tersebut dengan warga lain di daerah Pondok Cina, terutama setelah Pak Marsino mengatakan bahwa pedagang bakso di belakang Depok Town Square merupakan milik keluarganya (khususnya dikelola oleh ayahnya) yang sudah sejak lama “memiliki nama” di daerah Pondok Cina tersebut. Semua terasa dimulai di sini, di Pondok Cina.

Sore itu, sejak pukul 14.00 WIB, saya menghabiskan waktu luang di hari Minggu untuk sejenak mengunjungi dan memperhatikan sepotong kehidupan yang sebelumnya tak begitu saya kenal baik di daerah Pondok Cina, Depok, sendirian. Niat awal untuk “turun lapangan” bersama kawan-kawan hilang begitu saja ketika di tengah perjalanan hujan turun begitu deras dan kubangan-kubangan air di jalanan berhasil membasahi rok panjang saya. Untunglah tiada kendaraan bermotor yang sengaja lewat di samping saya dengan kecepatan tinggi sehingga baju atasan saya masih kering karena tidak kecipratan air dari kubangan-kubangan di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tersebut. Saya pun terlindungi oleh payung mungil saya, ketika di saat yang sama saya melihat banyak pengendara motor yang nekat menerobos terjangan hujan dari dan menuju Jalan Margonda tanpa peduli badan mereka menjadi basah kuyup walau sudah menggunakan helm.

Jalanan di daerah Pondok Cina cukup lebar, yang terbukti dengan kemampuannya dilewati dua (2) mobil ukuran Kijang secara bersamaan, walau tetap saja tak dapat mobil berjalan ngebut di daerah Pondok Cina karena banyaknya pejalan kaki yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina tersebut. Tak heran bila Pondok Cina dapat dikategorikan sebagai daerah yang ramai dilewati masyarakat karena memang selain banyak mahasiswa-mahasiswi Universitas Indonesia yang nge-kost di daerah Pondok Cina, sebuah pusat perbelanjaan besar bernama Depok Town Square yang berdiri dengan angkuhnya di daerah Pondok Cina, Stasiun Pondok Cina pun menjadi salah satu fasilitas umum yang tak jarang dimanfaatkan masyarakat untuk pergi mencari nafkah dengan menaiki Commuter Line baik ke kota terpadat penduduknya di Nusantara, Jakarta, maupun ke Kota Hujan, Bogor. Pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa sebagai unit usaha masyarakat Pondok Cina juga turut memutar roda perekonomian di daerah tersebut, seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warung internet (warnet), usaha laundry, dan masih banyak lagi. Namun, sore itu, sekilas saya memperhatikan sebuah toko yang menjual pulsa dan berbagai aksesoris handphone bernama Rahayu Cell sepertinya tidak begitu ramai dikunjungi pembeli, walau toko penjual pulsa di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tidak banyak, karena hanya ada dua (2). Atau mungkin belum?

Hujan mulai reda sejak pukul 14.45 WIB. Pondok Cina yang telah sempat dibersihkan dan disegarkan oleh butiran-butiran hujan kembali “hidup” dengan           deru motor yang mulai siap beraksi di jalanan setelah para pengendaranya sempat bernaung sejenak di bawah atap-atap pertokoan selama hujan turun. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk di atas tembok batu pemisah wilayah parkir Stasiun Pondok Cina dan jalanan Pondok Cina yang tingginya kurang-lebih ½ dari tinggi saya.

Sungguh terasa kehangatan menyelimuti pertokoan di seberang dari tempat saya duduk, dengan tertujunya pandangan saya pada gerobak penjual makanan “Cinlok” yang merupakan plesetan dari nama sebenarnya “Cilok”. Cilok yang aslinya berasal dari Tanah Parahyangan (alias Bandung) tersebut merupakan sebuah singkatan dari “Aci dicolok” yang berarti “(makanan dari) tepung kanji yang dicolok (seperti sate)”. Terlihat asap terus mengepul dari panci besar berisi cilok di gerobak yang ditempelkan spanduk hijau bertuliskan merek “Cinlok Putuwijoyo” dan nomor telepon seseorang bernama Slank tersebut. Ketika menyembul kepala seorang pria berumur kurang-lebih 27 tahun yang berseragam serta bertopi biru muda, saya duga pria itulah yang bernama Slank. Pria tersebut diam dan duduk di belakang gerobaknya, di gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell. Cukup menarik bagi saya bahwa mata pria tersebut fokus memperhatikan jalanan Pondok Cina di depannya tanpa memperlihatkan sedikitpun lelah dan bosan dari mimik wajah serta gesture tubuhnya dalam penantian terhadap pembeli untuk datang menghampirinya. Sisi belakang dari seragam yang beliau kenakan bertuliskan “Cinlok Putuwijoyo” yang mampu menunjukkan loyalitas dari beliau dalam bekerja, bila dibandingkan dengan para pedagang kecil lainnya yang tidak jarang terlihat hanya memakai kaos ataupun batik biasa serta bebas sesuka hati mereka. By the way, saya tidak membeli cilok meski sudah cukup tergoda dengan kegurihan serta kehangatannya, karena saya masih kenyang pada saat itu.

Beberapa saat kemudian, tertangkap mata oleh saya seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 tahun yang merokok dengan santainya di balik lemari kaca di toko Rahayu Cell. Tak begitu jelas oleh saya untuk menyatakan jenis kelamin anak tersebut, karena walaupun rambutnya pendek, namun wajahnya cukup cantik. Seketika hati saya ciut dan sedih, setelah untuk kesekian kalinya saya melihat langsung banyak dari generasi muda bangsa ini yang merokok dengan menikmati kehangatannya disertai wajah yang ceria tanpa khawatir sedikitpun akan sejuta bahaya dari sepuntung rokok.

Sejenak saya alihkan pandangan saya dari anak tersebut, agar sakit hati saya terhadap rokok tidak berlarut-larut pada saat itu, untuk menengok ke setiap sisi dari toko Rahayu Cell dari jarak kurang-lebih tiga (3) meter. Dinding yang seluruhnya berwarna kuning masih terlihat baik, karena cat dindingnya belum berkelupas dan dindingnya bersih. Di depan toko, terlihat sedikit sampah-sampah kecil yang tergeletak begitu saja tanpa rasa dosa. Namun, di sisi luar toko tersebut dapat dibilang sudah cukup bersih karena pada nyatanya di pinggir jalan daerah Pondok Cina tidak tersedia tempat sampah untuk para masyarakat yang tinggal ataupun lewat di sana bisa membuang sampah pada tempat yang seyogyanya. Dari kardus-kardus handphone di dalam lemari kaca tersebut, dapat diketahui bahwa sekitar 90% produk handphone yang dijual adalah merek lama atau terbilang “jadul“. Cukup unik ketika saya dapati banyak terdapat colokan listrik yang tergantung di atas lemari kaca tersebut dan ternyata beberapa saat kemudian terdapat dua (2) pengunjung yang numpang men-charge handphone mereka di sana, dengan ditemani seorang wanita (yang saya yakini merupakan ibu dari anak kecil yang merokok tersebut) berbaju putih agak lusuh dan berkulit sawo matang yang muncul dari balik lemari kaca di depan tokonya. Wajah wanita tersebut terlihat cukup berminyak dan rambutnya dikuncir kuda.

Cuaca mendung masih menyelimuti langit dan seisi bumi pada pukul 15.15 WIB. Jalanan Pondok Cina yang ramai akan lalu-lalang para pejalan kaki dan para pengendara motor, turut digaduhkan oleh derap langkah kereta Commuter Line, yang ketika ia lewat, maka jalanan di daerah Pondok Cina tak terkecuali tempat saya duduk pada saat itu pun bergetar. Tak sedikit motor yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina pada saat itu ditumpangi oleh tiga (3) orang. Mungkin belum dipandang bahaya oleh banyak masyarakat, memang, untuk mengendarai motor di daerah Pondok Cina tersebut. Hal itu juga terlihat dari banyaknya pengendara motor tidak ber-helm yang lewat. Banyak pula motor yang berjalan di depan saya dikendarai hanya oleh satu (1) orang di tiap motornya. Saya langsung mengingat di komplek rumah saya yang juga sering ditemui para warga seorang diri mengendarai motor mereka masing-masing dari rumah mereka ke depan komplek, padahal dengan jalan kaki saja tidak dibutuhkan lebih dari 10 menit untuk sampai ke jalan raya di depan komplek saya tersebut, apalagi jalanannya datar (tidak naik-turun).

Terlihat pula beberapa pejalan kaki yang melewati jalanan di depan saya dengan membawa kantong plastik dari Hypermart yang berlokasi di dalam Depok Town Square. Begitu mudahnya saat ini masyarakat di Depok, terutama yang bertempat tinggal di sepanjang jalan Margonda,  untuk pergi berbelanja bahkan sekedar bertemu handai taulan di mall. Padahal di Jerman, sebuah negara maju di belahan benua Eropa dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang lebih tinggi daripada PDB per kapita Indonesia (sebagai salah satu indikator ekonomi yang dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara), sangat sedikit jumlah mall yang berdiri. Saya refleks mengingat fakta perbedaan antara Indonesia dan Jerman tersebut pada saat itu.

Di samping kiri gerobak cilok, terdapat sebuh toko mainan anak yang berisi lampu meja, celengan, bingkai foto, dan masih banyak lagi mainan berkarakter kartun-kartun menarik di atas lemari display-nya. Tiba-tiba muncul seorang anak kecil cantik berambut pendek yang memakai baju warna kuning dari dalam toko mainan tersebut. Ia menggenggam kain kanebo (kain lap kuning untuk membersihkan kendaraan bermotor yang menyerap air) erat-erat di tangan mungilnya. Tak disangka oleh saya bahwa ternyata anak kecil tersebut bermaksud untuk membersihkan seluruh mainan dan pajangan yang terletak di atas lemari kaca. Ia begitu telaten dan hati-hati dalam membersihkan mainan satu-per-satu. Ketulusannya dalam membersihkan barang-barang di toko tersebut juga terlihat ketika ia sempat menyapu isi makanan ringan yang bungkusnya tidak sengaja jatuh dari atas lemari kaca di depan toko dan tumpah ke lantai. Saya jadi begitu penasaran dengan orangtua dari anak tersebut, apakah orangtuanya juga rajin sepertinya. Karena, hanya anak tersebut seorang diri yang terus terlihat di depan toko. Wajah imutnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal ataupun lelah akan pekerjaan bersih-bersih yang ia lakukan tersebut. Bahkan, kain kanebo tersebut ia lipat rapi kembali secara perlahan-lahan setelah ia selesai membersihkan barang-barang dan sekaligus membersihkan lemari kaca di depan tokonya. Meskipun hingga akhir pengamatan saya di sana, tiada pembeli yang mengunjungi toko mainan tersebut.

Di samping kiri saya, terdapat sebuah warung tegal (warteg) yang di pinggir jalannya (di sisi luar warung tersebut) terdapat beberapa bungkus plastik besar berisi sampah. Tidak bau, memang, namun tetap tidaklah benar dan pantas untuk kita meninggalkan sampah begitu saja di pinggir jalan, di tempat yang tidak semestinya kita kotori dengan terbengkalainya sampah di sana, walau tempat sampah memang terbilang cukup jauh dari warteg tersebut. Beberapa saat kemudian, muncul seorang ibu (berusia kurang-lebih 42 tahun) dari dalam warteg yang membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring. Ternyata, beliau ingin mencuci piring di luar warteg, dengan cara yang menurut saya kurang higienis. Beberapa saat kemudian, wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell pergi ke warteg tersebut dengan sebatang rokok terbakar di tangan kanannya. Lalu, wanita tersebut kembali ke toko Rahayu Cell dengan membawa dua (2) gelas air minum dalam kemasan merek Aqua.

Tak lama setelah itu, pria penjual cilok pun pergi ke warteg tersebut lalu kembali ke gerobaknya dengan membawa segelas kopi panas. Saya salut dengan pria tersebut, karena saya tidak menangkap basah beliau merokok sekalipun selama pengamatan sata pada saat itu. Dan Alhamdulillah hingga akhir pengamatan saya tersebut, gerobak cilok itu telah dikunjungi pembeli sebanyak delapan (8) kali.

Kemudian, dari dalam gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell, muncul seorang bapak yang kurang-lebih berusia 50 tahun. Beliau duduk di kursi plastik di depan toko Rahayu Cell. Sekilas saya persepsikan, bahwa alis matanya yang berkerut mengandung arti dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Ia sempat berbincang dengan wanita yang rambutnya berkuncir kuda yang sedang berada di dalam toko Rahayu Cell, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar percakapan mereka karena keriuhan suasana Pondok Cina di Minggu sore. Bapak tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by lima (5) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Bapak tersebut menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Bapak tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ketika ayah dan anak tersebut berterimakasih kepada Bapak itu atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara, Bapak tersebut kembali duduk di depan toko Rahayu Cell. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk melempar senyum kepada beliau sebelum saya pulang dan mengakhiri pengamatan pertama saya pukul 16.00 WIB. Beliau membalasnya dengan senyuman yang hangat pula. 🙂

Pinarta's Blog

Investment & Indonesia Capital Market

harikaryo

Just another WordPress.com site

Djunijanto Blog

Arek Soeroboyo, Bisa!!!

Pak Guru Bambang's Weblog

BERANILAH TAMPIL BEDA

eunchasiluets

Saatnya Ngampus Bukan Sekedar Status

desywu

My Garden of Words and Thoughts

Indra Putranto

Professional Training and Engineering

ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Soldier of Fortune

Into a World of Illusion

ERIK KAKTUS Green Souvenir @ Merchandise

Green Souvenir for Green Wedding and Green Party, Green Campaign Party...

%d bloggers like this: