Tag Archive: Masyarakat


SALING BERBAGI

Penduduk,Masyarakat, dan Kebudayaan
Tiga komponen penting yang saling berkaitan. Penduduk adalah bagian yang menyusun terbentuknya sebuah masyarakat. Penduduk dan masyarakat berinteraksi satu sama lain sehingga terciptalah sebuah kebudayaan. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana ketiga komponen ini saling berkaitan setidaknya kita harus mengetahui pengertian dan penjelasan dari komponen itu sendiri..

Penduduk

Secara umum penduduk dalam artian ilmu sosiologi diartikan sebagai sekelompok orang yang tinggal disuatu daerah, yang menempati ruang dan waktu. Penduduk tidak bersifat konstan tetap selalu meningkat. Adanya pertumbuhan penduduk akan menyebabkan kepadatan penduduk dan mempersempit luas.

View original post 1,379 more words

Advertisements

SALING BERBAGI

Peran Individu,keluarga, dan Masyarakat

A)Individu

Kita adalah individu, maksudnya diri kita sendiri adalah individu. Pengertian individu itu sendiri berasal dari kata latin, yaitu individiuum, “berarti “yang tak terbagi”. Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas

Manusia sebagai individu memiliki tugas pada dirinya sendiri yaitu;

1.Menuntut ilmu pengetahuan, merekayasa teknologi serta memanfaatkannya untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk terus belajar. Proses belajar berarti proses perubahan sikap dan perilaku dengan mendapatkan pengalaman dan pelatihan.

View original post 1,438 more words

SALING BERBAGI

LAPISAN MASYARAKAT

Lapisan sosial (stratifikasi sosial) berasal dari kata strata atau stratum yang berarti lapisan. Pitirim A.Soroki memberi definisi lapisan masyarakat sebagai  perbedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat.

Lapisan-lapisan yang ada didalam masyarakat ada yang terjadi sengaja maupun tidak sengaja;

            Pertama,Sebuah lapisan yang terjadi sengaja apabila lapisan itu terbentuk secara otomatis,biasanya lapisan ini dikategorikan menurut waktu dan tempat. Misalnya kelompok-kelompok yang berusia lanjut disebut sebagai golongan tua sementara orang-orang yang masih muda disebut golongan muda. Pada lapisan ini tidak ada terjadinya pemaksaan oleh masyarakat,semuanya terjadi secara alami .

View original post 1,348 more words


            Guyuran hujan di sore hari kala itu, Rabu, 13 November 2013 pukul 14.00 WIB, tidak sedingin hawa kekhawatiran yang menusuk kalbu sebagian besar warga Pondok Cina di daerah subsetting saya. Bukan saja kekhawatiran akan rezeki yang setiap hari dicari oleh para warga melalui berbagai usaha mereka masing-masing, namun lebih pada kekhawatiran akan gertakan PT. KAI (PT. Kereta Api Indonesia) agar para warga di daerah subsetting saya (gang di sebelah timur – belakang Stasiun Pondok Cina; antara lahan parkir mobil di Stasiun Pondok Cina hingga Depok Town Square) segera pindah dari Pondok Cina paling lambat minggu ketiga Desember 2013, dengan dijanjikannya pemberian uang kompensasi sebesar Rp. 250,000 per m2 luas tanah dan bangunan setiap rumah warga.

Daerah subsetting saya semakin hari semakin sepi, baik sepi akan para pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor yang melewati jalanan di daerah tersebut maupun sepi akan para warga yang tinggal atau menghuni rumah di daerah tersebut, yang salah satunya disebabkan oleh banyaknya warga yang telah pindah dari Pondok Cina, tidak terkecuali rumah Ketua RW. 08 yang sudah tidak berpenghuni. Bahkan, rumah-rumah di samping Depok Town Square sedikit-demi-sedikit sudah mulai dihancur-leburkan oleh pihak PT. KAI.

Sempat terlihat oleh saya seorang pria paruh baya yang menggunakan topi dengan kaos lengan panjang dan celana panjang memulung atau memungut puing-puing bangunan yang masih tersisa dan masih bisa beliau manfaatkan dari reruntuhan hasil penghancuran tersebut, bahkan hingga turun ke dalam sungai kecil yang begitu hitam warna airnya (karena terdapat banyak sampah di dalamnya) di antara rumah-rumah tersebut. Beliau menggunakan gerobak berwarna putih untuk mengangkut puing-puing

Sempat pula terlihat oleh saya beberapa pria menghancurkan bagian-bagian bangunan yang masih tersisa secara manual (menggunakan semacam benda tumpul di tangan). Dengan rasa penasaran yang menjalar di hati, saya pun memberanikan diri bertanya kepada salah seorang pemuda di sana, “Wah, Mas, kenapa ini semua dihancurkan, ya? Ada penggusuran ya, Mas?” Lalu dengan sigap beliau “melempar” pertanyaan saya tersebut dengan berkata, “Wah, saya gak tau, Mbak. Coba tanya ke Mas ini saja yang lebih berwenang.” Ketika saya membalikkan badan saya untuk melihat orang yang telah ditunjuk oleh pemuda tersebut, seorang pria berambut cepak yang mengenakan kaos berwarna jingga (orange) bertuliskan PT. KAI di samping kiri dadanya dan celana selutut menghampiri saya dengan wajah tanpa senyuman. Setelah pria tersebut bertanya dengan tegas kepada saya, “Ada apa ya, Mbak?” Saya pun menjawab, “Gak, Pak, saya sudah lama gak lewat sini terus belum tahu kalau ada penggusuran. Penggusurannya dari PT. KAI ya, Pak?” Lalu, beliau segera menjawab, “Gak tahu saya, Mbak.” Merasa tiada lagi celah terbuka untuk mengetahui lebih dalam seluk-beluk mengenai penggusuran rumah-rumah para warga di daerah subsetting saya, saya pun segera mengucapkan terimakasih kepada pria tersebut kemudian beranjak pergi.

Sebelumnya, saya sempat mampir ke sebuah toko pernak-pernik di samping Rahayu Cell milik kakak dari Ibu Nunuk. Saya melihat barang-barang yang dipajang di sana, seperti gelang, kertas kado, kartu ucapan, boneka, lampu meja, celengan, dan sebagainya. Saya membeli 3 (tiga) buah gelang yang di-bundling seharga Rp. 10,000 untuk saya dan 2 (dua) teman saya pakai nantinya. Ketika saya mencoba memakai salah satu gelang tersebut, simpul talinya tidak sengaja lepas sehingga gelang tersebut pun tidak bisa dipakai lagi. Melihat kejadian tersebut, seorang wanita berkaos abu-abu dan (rambutnya) berkuncir kuda yang sedang menjaga toko tersebut pun dengan senang hati menukarnya dengan gelang baru yang belum rusak atau masih dalam keadaan baik, tanpa perlu saya membayar lagi. Wanita tersebut cukup ramah kepada saya. Namun, terdapat hal yang menyayat hati saya ketika itu, bahwa sedari saya datang mengunjungi toko tersebut, anak perempuan cantik sedang bermain hujan di depan toko menggunakan payung. Anak tersebut berumur sekitar 6 (enam) tahun. Ketika saya menyapa anak tersebut dan menanyakan namanya, ia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama saya melihat barang-barang yang dipajang di sana, wanita yang sedang menjaga toko tersebut sempat terlihat mencari sesuatu di atas meja display di depan tokok lalu berkata kepada anaknya dengan nada tinggi, “Eh, obat gw mana? Lo ilangin lagi, ya, obat gw? Dasar anak monyet emang, lu.” Padahal saya lihat, anak tersebut tidak mengerti perkataan wanita tersebut dan hanya diam termangu melihat wanita tersebut berteriak kepadanya. Ketika wanita tersebut menghampirinya, anak tersebut lari membawa payungnya ke arah Depok Town Square.

Setelah saya keluar dari toko pernak-pernik tersebut, saya disapa oleh Pak Marsino, pemilik usaha CiLok “Putuwijoyo 01” di Pondok Cina, yang sedang membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya yang beliau beli di warung kopi di seberang toko pernak-pernik tersebut. Pak Marsino yang sedang menggunakan seragam kerjanya (bertuliskan “Putuwijoyo 01” di belakang punggungnya) lengkap dengan topi dan senyum khasnya menyapa saya dengan berkata, “Masih ingat, Mbak, dengan saya?” Saya pun menjawab, “Wah, Pak, masih, dong. Hehe. Kok Bapak jaga di (toko) sini, ya? Mas Ahmad ke mana, ya?” Lalu Pak Marsino yang terlihat sambil menggunakan handphonenya untuk mengetik sesuatu pun berkata, “Iya, Mas Ahmad lagi pulang kampung. Kangen keluarga, katanya. Udah sekitar 3 (tiga) bulanan Dia di sini.” Pak Marsino pun cerita bahwa setelah penggusuran oleh PT. KAI beliau tetap berjualan CiLok di Pondok Cina tersebut, dengan memindahkan gerobaknya ke halte di sisi samping rel kereta api (di belakang Depok Town Square).

Hari Senin, 18 November 2013, saya kembali menyusuri jalan di Pondok Cina pada pukul 09.30 WIB. Pagi yang cerah nan terik akan sinar sang surya kala itu, menemani saya dan orang-orang yang berlalu-lalang di daerah Pondok Cina tersebut. Cukup terkejut saya ketika di depan toko buku dekat Stasiun Pondok Cina, Pak Asan (pemilik warung kelontong di daerah subsetting saya) menyapa saya, “Wah, Mbak, masih pengamatan ke sini, ya?” Lalu saya menjawab, “Haha iya nih, Pak.” Pak Asan kemudian bercerita bahwa sudah banyak rumah di dekat Depok Town Square yang ditinggalkan penghuninya lalu dihancurkan oleh pihak PT. KAI. Pak Asan sendiri berencana untuk langsung pindah bersama keluarganya ke daerah Kukusan-Teknik setelah melangsungkan pernikahan adiknya pada tanggal 1 Desember 2013 di depan rumah Pak Asan di Pondok Cina. Pak Asan mengundang saya dan teman-teman saya (yang memang selama pengamatan MMI (Manusia dan Masyarakat Indonesia) sering mengunjungi rumah Pak Asan untuk mewawancara beliau) untuk datang ke acara pernikahan adiknya tersebut. Saya menyanggupinya dengan syarat tidak diharuskan “menyumbang lagu” dangdut. Tidak hanya itu, Pak Asan pun mempersilahkan saya dan teman-teman saya untuk kelak berkunjung ke rumahnya di daerah Kukusan-Teknik serta memberikan nomor handphonenya kepada saya.

Pak Asan juga bercerita kepada saya bahwa beliau berencana kerja menjadi guru silat seperti yang pernah beliau lakukan beberapa tahun yang lalu ataupun satpam. Beliau ckup khawatir bahwa bila beliau menjadi guru silat kembali, beliau belum bisa mengatur waktu. Karena biasanya akan ada murid yang meminta beliau mengajar secara privat. Beliau bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, namun juga untuk turut melestarikan budaya Indonesia, terutama budaya silat Betawi. Beliau sempat menawarkan saya untuk belajar silat dengan beliau, namun saya menolaknya karena saya tidak ingin belajar silat.

Pak Asan pun bercerita bahwa sebagian dari uang kompensasi yang dijanjikan oleh PT. KAI kepada para warga Pondok Cina yang digusur telah diberikan, dan sebagian lainnya akan diberikan di akhir November 2013 nanti. Pak Asan sempat menyayangkan Ketua RW. 08 yang sudah pindah terlebih dahulu, karena dianggap Ketua RW. 08 tersebut tidak berhasil mengadvokasi aspirasi para warga yang tidak ingin digusur PT. KAI.

Ketika itu, Pak Asan dengan motornya yang dimodifikasi untuk dapat mendistribusikan barang-barang dagangannya sebenarnya sedang mengantar pesanan minuman-minuman ringan (dalam satuan dus) dan LPG ke warung-warung di daerah Pondok Cina yang telah menjadi pelanggan tetapnya, seperti yang beliau lakukan setiap hari. Dulu beliau pernah mendistribusikan barang-barang dagangannya ke kantin-kantin di UI (Universitas Indonesia), namun hal tersebut tidak dilakukannya lagi karena beliau tidak ingin merasakan macet di UI (Universitas Indonesia).

Setelah kami mengakhiri pembicaraan, saya kembali berjalan menelurusi jalanan di daerah Pondok Cina. Terdapat 2 (dua) orang pemulung sampah kala itu yang sedang duduk di pinggir jalan dengan karung sampah berada di samping tubuh mereka masing-masigng. Salah seorang dari mereka yang mengenakan topi dan baju atasan hitam, merokok di bawah pohon rindang. Salah seorang lainnya yang mengenakan topi dan baju atasan putih, terlihat duduk di seberang pria yang mengenakan topi dan baju atasan hitam tersebut. Pria yang mengenakan topi dan baju atasan putih tersebut terlihat diam membisu dengan pandangan kosong ke arah jalanan di depannya.

Ketika tiba di daerah subsetting saya, saya memutuskan untuk duduk di seberang warung nasi Priangan untuk mengamati sekeliling saya. Ternyata belum ada warga di daerah subsetting saya tersebut yang pindah rumah. Kemudian, terdapat seorang pria yang menggunakan topi dan kaos berwarna coklat muda sedang berjalan dengan mendorong troli kecil (yang biasa digunakan untuk memindahkan LPG) melewati saya menuju ke warung kopi teresebut. Saat saya tersenyum kepada pria tersebut, beliau pun membalasnya dengan tersenyum ramah kepada saya dan berkata, “Ngapain, Mbak?” Saya pun menjawab sekedarnya, “Hanya duduk-duduk di sini, Pak, berteduh sebentar (di bawah pohon rindang). Hehe.” Terlihat pula wanita pemilik warung kopi di seberang toko pernak-pernik sedang melayani seorang pembeli. Toko pernak-pernik itu sendiri terlihat tidak ada orang yang menjaganya. Namun, berdasarkan pengalaman saya, seorang wanita yang biasa menjaga toko pernak-pernik tersebut berada di balik lemari kaca di bagian belakang toko, dan baru muncul ketika ada pembeli yang memasuki tokonya tersebut. Sayangnya, tiada satu pun orang yang menjaga toko Rahayu Cell dan gerobak CiLok “Putuwijoyo 01” ketika saya melakukan pengamatan tersebut. Beberapa menit kemudian, terdapat seorang wanita berkemeja biru yang juga mengenakan celana jeans panjang dan topi bersama seorang anak laki-laki yang mengenakan kaos dan celana untuk bermain sepakbola, mengamen melewati daerah subsetting saya dari arah Stasiun Pondok Cina, dengan pembagian tugas wanita tersebut membawa alat pemutar lagu serta anak laki-laki tersebut membawa sebuah kantong bekas bungkus permen untuk meminta uang kepada setiap orang yang dilewati mereka. Ketika melewati warung kopi, toko pernak-pernik, serta toko Rahayu Cell, kedua pengamen tersebut mendapatkan hasil mengamen (berupa uang) yang nihil. Namun sang anak laki-laki berhasil mendapat uang ketika meminta kepada para pengunjung warung nasi Priangan. Tertangkap mata oleh saya kala itu seorang wanita pemilik warung nasi Priangan sedang melayani banyak pembeli, baik para pembeli yang makan langsung di warung tersebut maupun yang membawa makanannnya setelah dibungkus. Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pria penjual kerupuk keliling menghampiri wanita pemilik warung nasi Priangan kamudian mengambil tempat kerupuk yang ada di meja-meja warung nasi Priangan untuk diisi kerupuk. Di bengkel (tambal ban dan tiup angin) kecil di samping kanan warung nasi Priangan, terlihat begitu sepi dari luar. Padahal dalam pengamatan-pengamatan yang telah saya lakukan sebelumnya, teras rumah di belakang bengkel tersebut sering terlihat ramai oleh para wanita beserta anak-anak mereka yang sedang mengobrol dan bermain bersama.

Lara yang menusuk kalbu beberapa warga Pondok Cina sehubungan dengan penggusuran yang dilakukan oleh PT. KAI, ternyata tidak (terlihat) dirasakan oleh para warga yang menghuni warung kopi, toko pernak-pernik, hingga rumah Pak Asan tersebut. Harapan terus saya gaungkan agar seluruh warga Pondok Cina yang pindah rumah kelak akan mendapat penghidupan yang lebih baik lagi bersama keluarga mereka masing-masing di tempat tinggal barunya.

“Apakah benar, semua manusia tiada yang sama? Buktinya, kita semua sama-sama tidak sempurna,” salah satu pertanyaan retoris yang menurut saya cukup mendasar dalam kehidupan kita (as a human being) karena menyangkut tentang fakta dari karakteristik atau ciri-ciri manusia. Ketika kita meyakini bahwa di dunia ini tiada manusia yang sama persis, maka di saat yang sama pula, tingkat kesempurnaan dari manusia sebagai makhluk hidup ciptaan-Nya diyakini adalah sama, yakni sama-sama tidak (sepenuhnya) sempurna. Tapi memangnya, seperti apa sih bentuk kehidupan manusia yang semakin mendekati kesempurnaan tersebut?

Equality atau persamaan dari tiap manusia dalam nilai dan prinsip yang mainstream di masyarakat begitu sering diagungkan atau dianggap penting oleh masyarakat itu sendiri, di mana ketika terdapat seseorang atau pun sekelompok kecil orang yang tidak sama atau “menyimpang” dari kebiasaan dan/atau keadaan masyarakat pada umumnya, maka masyarakat akan cenderung bersikap kurang friendly kepadanya dibandingkan dengan kepada orang lain yang pemikiran dan kebiasaannya mainstream di masyarakat, hingga seseorang atau pun sekelompok kecil orang unik tersebut bisa semakin lama semakin ter-marjinal-kan.

Pemikiran saya di atas timbul setelah saya “turun lapangan” ke Pondok Cina untuk pengamatan kembali di hari Minggu, 6 Oktober 2013 yang cerah pada pukul 15.00 WIB. Ketika saya berjalan kaki dari Depok Town Square (Detos) menuju sub-setting saya, saya melihat Mas Ahmad (objek pengamatan saya: penjual CinLok “Putuwijoyo 01” di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) sedang berjualan dengan mengenakan seragam biru mudanya di cabang dari CinLok “Putuwijoyo 01” di belakang Depok Town Square. Suasana yang lebih ramai dengan lalu-lalang masyarakat (dibandingkan dengan suasana Pondok Cina di hari lainnya) pada saat itu membuat saya tidak terlihat oleh Mas Ahmad padahal saya sedang berdiri di seberangnya, yang juga disebabkan karena kebetulan pada saat itu Mas Ahmad sedang melayani banyak pembeli CinLok. Bermaksud untuk berbincang sebentar dengannya, saya pun kemudian berjalan ke arahnya.

Namun, ketika tidak sengaja menoleh ke rumah warga di samping kanan Mas Ahmad, saya melihat Pak Marsino (pemilik CinLok “Putuwijoyo 01”) sedang tiduran di sofa dalam rumah tersebut. Rumah warga yang berwarna krem dan bersih tersebut tidak begitu besar, seperti rumah-rumah warga di Perumnas pada umumnya. Kebetulan di depan rumah tersebut terdapat seorang wanita (sekitar umur 35an) yang sedang menyapu lantai dan mengenakan daster batik warna merah dengan rambut di-konde, saya pun menghampiri wanita itu untuk meminta izin menemui Pak Marsino. Awalnya, wanita tersebut sempat bertanya kepada saya beberapa kali untuk meyakinkannya apakah ia perlu membangunkan Pak Marsino yang sedang tertidur lelap di sofanya sembari mengenakan seragam biru mudanya.

Ketika saya masih memohon kepada wanita tersebut untuk membangunkan beliau, tiba-tiba Pak Marsino terbangun dari tidurnya. Walau kedua mata beliau terlihat berwarna merah karena masih mengantuk dan beliau terlihat linglung, beliau menyadari kehadiran saya dan mengizinkan saya berbincang sejenak dengan beliau di rumah tersebut. Rasa tidak enak kepada Pak Marsino berserta wanita tersebut pun sempat menjalar di hati saya walau pada akhirnya saya tetap masuk ke dalam rumah tersebut setelah diizinkan oleh wanita penghuni rumah tersebut.

Setelah saya memohon maaf kepada beliau karena telah mengganggu “perjalanan beliau ke pulau kapuk”, saya yang mengingat hasil pengamatan kedua saya dulu (bahwa Pak Marsino tinggal di Beji, bukan Pondok Cina) pun bertanya apakah beliau memang tinggal di rumah tersebut. Beliau lalu menjawab bahwa pada saat itu (dan sudah biasa beliau lakukan sehari-hari) ia hanya menumpang untuk tiduran sejenak di rumah tersebut.

Selama kami berdua berbincang, beliau bercerita bahwa perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah adalah begitu sedikitnya lapangan (kesempatan) kerja yang terdapat di domisilinya yang merupakan daerah pedesaan tersebut, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota. Selain itu, beliau pun berpendapat bahwa cuaca di Depok lebih panas daripada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Di daerah domisili beliau, tiada warga yang mengemis, yang kontradiktif dengan keadaan di Depok (khususnya di Pondok Cina) yang setiap hari disinggahi banyak pengemis. Cukup menarik namun ironis, bahwa terdapat seorang pengemis yang setiap hari diberi uang oleh Pak Marsino (dengan nominal yang tidak banyak) karena bila tidak diberi uang maka pengemis tersebut marah.

Kemudian, beliau bercerita bahwa sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja (tiada warga Pondok Cina yang sering bertengkar).

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau menjelaskan bahwa kaki beliau pernah tersiram air panas ketika ia sedang menyiapkan bakso untuk dijual sejak dini hari, yang menyebabkan beliau sempat dibawa ke rumah sakit dan masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD), hingga beliau lalu pulang ke Jawa Tengah untuk beberapa hari.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di daerah domisili beliau, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga di daerah tersebut, termasuk oleh beliau. Berbeda dengan suasana “17 Agustus” di Depok yang menurut beliau kurang ramai, dan beliau sendiri tidak turut serta dalam perayaan tersebut di Depok. Menariknya, beliau mengaku bahwa dahulu (ketika masih muda) di daerah domisilinya ia pernah menjadi ketua Karang Taruna.

Beliau pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut untuk pergi ke daerah Jakarta dan Bogor.

Ternyata, Pak Marsino telah memiliki akun Facebook dan Twitter yang seringkali di-update oleh beliau, sekedar untuk mengisi waktu senggangnya. Beliau pun mengaku sering mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk belanja kebutuhan sehari-hari setiap bulannya serta mengetahui harga-harga gadget terkini melalui teman-temannya yang memiliki counter di Depok Town Square. Plaza Depok dan Depok Mall juga pernah dikunjungi beliau dulu.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Pak Marsino ingin turut serta memilih presiden yang menurut beliau cocok dan pantas memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya.

Setelah berterimakasih kepada Pak Marsino beserta wanita penghuni rumah tersebut, saya menghampiri Mas Ahmad yang sedang melayani 3 (tiga) pembeli CinLok. Tidak disangka, Mas Ahmad menengok ke arah saya yang sedang berada di samping kanan dari toko (gerobak-red.) CinLok-nya sambil menyunggingkan senyuman kecil yang saya tangkap sebagai suatu tanda positif bahwa ia sudah menerima “usaha pendekatan” saya kepadanya selama ini.

Kami (saya dan Mas Ahmad) pun berbincang ketika sedang tiada pembeli menghampiri tokonya. Sembari menghisap rokoknya, Mas Ahmad berpendapat bahwa  perbedaan yang paling dirasakannya dari domisilinya di Kebumen, Jawa Tengah dan tempat tinggalnya kini di Depok adalah cuacanya yang lebih dingin dan suasana yang kurang ramai, bila dibandingkan dengan tempat tinggalnya kini di Depok yang merupakan sebuah kota.

Kemudian, Mas Ahmad bercerita bahwa walaupun sepenglihatannya selama ini suasana daerah Pondok Cina adem-ayem (rukun) saja, namun ia pernah melihat beberapa warga Pondok Cina bertengkar, dengan total kejadian (yang pernah dilihat Mas Ahmad) yaitu sebanyak 3 (tiga), tanpa ia tahu pasti masalah atau perkara yang menjadi penyebab dari pertengkaran-pertengkaran tersebut.

Mengenai pengalaman menarik beliau selama di Depok yang tidak terlupakan, beliau mengaku bahwa ia lupa (setelah untuk sejenak ia sempat terlihat berpikir untuk mengingat-ingat sesuatu). Seketika itu saya pun berpikir 2 (dua) opsi pilihan terkait dengan Mas Ahmad yang lupa tersebut, bahwa bila Mas Ahmad benar tidak memiliki pengalaman menarik selama di Depok yang tidak terlupakan, maka berarti Mas Ahmad sebenarnya hanya malu mengungkapkannya.

Di setiap hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus di Kebumen, berbagai lomba menarik serta upacara bendera diadakan sekaligus dihadiri oleh begitu banyak warga Kebumen, termasuk oleh Mas Ahmad. Menariknya, ia mengaku bahwa ia cukup sering memenangkan lomba “17 Agustus”-an.

Mas Ahmad pun berpendapat mengenai Commuter Line (CL) sudah terasa nyaman, karena beliau sudah beberapa kali memanfaatkan transportasi umum tersebut, seperti untuk pergi ke daerah Tanah Abang dan Bogor bersama teman-temannya.

Yang lebih menarik lagi bagi saya, adalah ketika Mas Ahmad bercerita bahwa ia belum memiliki akun Facebook dan Twitter karena beberapa alasan, yaitu tiada minat untuk “bermain Internet”, ketiadaan koneksi Internet, serta handphone-nya yang sekedar digunakan untuk menelepon orang lain. Mas Ahmad pun mengaku telah beberapa kali mengunjungi Margo City dan Depok Town Square untuk sekedar melihat-lihat bersama teman.

Mas Ahmad juga bercerita tentang keadaan di Pondok Cina yang setiap hari disinggahi banyak pengemis, berbeda dengan di Kebumen di mana tiada warga yang mengemis. Cukup menarik dan mengharukan bagi saya bahwa Mas Ahmad mengaku ia hanya mengikuti kata hatinya dalam memberikan uang kepada pengemis yang melewati tempat kerjanya, yakni terkadang memberi dan terkadang pula tidak memberi, agar ia dapat terus ikhlas dalam bersedekah setelah melihat terlebih dahulu keadaan yang tampak dari sang pengemis.

Untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 nanti, Mas Ahmad ingin turut serta memilih presiden yang menurutnya cocok memimpin negara ini, dengan pulang terlebih dahulu ke daerah domisili sesuai yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya, yakni ke Kebumen.

Obrolan kami yang sudah beberapa kali diselingi oleh pelayanan dari Mas Ahmad kepada para pembeli CinLok yang menghampiri tokonya tersebut, saya akhiri dengan terlebih dahulu berterimakasih kepada Mas Ahmad yang telah saya “ganggu” sebentar, sebelum saya pulang. Sempat tertangkap beberapa kali momen menarik oleh saya ketika saya memperhatikan lebih dekat tentang kinerja pelayanan yang dilakukan oleh Mas Ahmad kepada para pembelinya yang banyak pada hari itu (lebih banyak pembeli sebenarnya bila dibandingkan dengan toko-toko jajanan ringan lain yang berada di sekitar CinLok “Putuwijoyo 01” tersebut pada waktu yang sama), bahwa Mas Ahmad begitu cekatan dalam menyajikan CinLok siap makan serta tidak lupa untuk tersenyum dan berterimakasih kepada seluruh pembeli yang menghampirinya. Teringat saya akan seorang pemuda lain yang menjaga cabang toko CinLok “Putuwijoyo 01” di sub-setting saya (di sudut jalan antara parkiran mobil Stasiun Pondok Cina dan Depok Town Square) dan mulai terpikir oleh saya apakah pemuda tersebut memiliki semangat dan dedikasi yang sama dengan Mas Ahmad selama ini.

Di akhir pengamatan kali ini, setelah beberapa pertanyaan terkait pengalaman hidup dari Mas Ahmad dan Pak Marsino selama di Jawa Tengah dan di Depok saya ajukan kepada beliau semua, saya mendapat insight tersendiri bahwa memang tidak sedikit perbedaan yang dimiliki oleh orang-orang yang secara kasat mata memiliki kegiatan serta profesi yang sama. Dan dari perbedaan-perbedaan tersebut, setiap orang yang memilikinya akan mampu mendapatkan pengalaman menarik sekaligus berharga sebagai “guru terbaik” yang bisa mempengaruhi kehidupan serta prinsip yang dianut oleh orang tersebut di masa depan, terlepas dari kebiasaan dari orang tersebut unik atau pun tidak, dan mainstream atau pun antimainstream di masyarakat. Bahkan bila kita mau saling menghargai serta memanfaatkannya, perbedaan dari setiap manusia dapat kita jadikan sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Sore itu, sejak pukul 14.00 WIB, saya menghabiskan waktu luang di hari Minggu untuk sejenak mengunjungi dan memperhatikan sepotong kehidupan yang sebelumnya tak begitu saya kenal baik di daerah Pondok Cina, Depok, sendirian. Niat awal untuk “turun lapangan” bersama kawan-kawan hilang begitu saja ketika di tengah perjalanan hujan turun begitu deras dan kubangan-kubangan air di jalanan berhasil membasahi rok panjang saya. Untunglah tiada kendaraan bermotor yang sengaja lewat di samping saya dengan kecepatan tinggi sehingga baju atasan saya masih kering karena tidak kecipratan air dari kubangan-kubangan di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tersebut. Saya pun terlindungi oleh payung mungil saya, ketika di saat yang sama saya melihat banyak pengendara motor yang nekat menerobos terjangan hujan dari dan menuju Jalan Margonda tanpa peduli badan mereka menjadi basah kuyup walau sudah menggunakan helm.

Jalanan di daerah Pondok Cina cukup lebar, yang terbukti dengan kemampuannya dilewati dua (2) mobil ukuran Kijang secara bersamaan, walau tetap saja tak dapat mobil berjalan ngebut di daerah Pondok Cina karena banyaknya pejalan kaki yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina tersebut. Tak heran bila Pondok Cina dapat dikategorikan sebagai daerah yang ramai dilewati masyarakat karena memang selain banyak mahasiswa-mahasiswi Universitas Indonesia yang nge-kost di daerah Pondok Cina, sebuah pusat perbelanjaan besar bernama Depok Town Square yang berdiri dengan angkuhnya di daerah Pondok Cina, Stasiun Pondok Cina pun menjadi salah satu fasilitas umum yang tak jarang dimanfaatkan masyarakat untuk pergi mencari nafkah dengan menaiki Commuter Line baik ke kota terpadat penduduknya di Nusantara, Jakarta, maupun ke Kota Hujan, Bogor. Pertokoan kecil yang menjual berbagai macam barang dan jasa sebagai unit usaha masyarakat Pondok Cina juga turut memutar roda perekonomian di daerah tersebut, seperti warung nasi padang, toko yang menjual buku-buku kuliah, tempat servis handphone dan komputer, warung internet (warnet), usaha laundry, dan masih banyak lagi. Namun, sore itu, sekilas saya memperhatikan sebuah toko yang menjual pulsa dan berbagai aksesoris handphone bernama Rahayu Cell sepertinya tidak begitu ramai dikunjungi pembeli, walau toko penjual pulsa di sepanjang jalanan daerah Pondok Cina tidak banyak, karena hanya ada dua (2). Atau mungkin belum?

Hujan mulai reda sejak pukul 14.45 WIB. Pondok Cina yang telah sempat dibersihkan dan disegarkan oleh butiran-butiran hujan kembali “hidup” dengan           deru motor yang mulai siap beraksi di jalanan setelah para pengendaranya sempat bernaung sejenak di bawah atap-atap pertokoan selama hujan turun. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk di atas tembok batu pemisah wilayah parkir Stasiun Pondok Cina dan jalanan Pondok Cina yang tingginya kurang-lebih ½ dari tinggi saya.

Sungguh terasa kehangatan menyelimuti pertokoan di seberang dari tempat saya duduk, dengan tertujunya pandangan saya pada gerobak penjual makanan “Cinlok” yang merupakan plesetan dari nama sebenarnya “Cilok”. Cilok yang aslinya berasal dari Tanah Parahyangan (alias Bandung) tersebut merupakan sebuah singkatan dari “Aci dicolok” yang berarti “(makanan dari) tepung kanji yang dicolok (seperti sate)”. Terlihat asap terus mengepul dari panci besar berisi cilok di gerobak yang ditempelkan spanduk hijau bertuliskan merek “Cinlok Putuwijoyo” dan nomor telepon seseorang bernama Slank tersebut. Ketika menyembul kepala seorang pria berumur kurang-lebih 27 tahun yang berseragam serta bertopi biru muda, saya duga pria itulah yang bernama Slank. Pria tersebut diam dan duduk di belakang gerobaknya, di gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell. Cukup menarik bagi saya bahwa mata pria tersebut fokus memperhatikan jalanan Pondok Cina di depannya tanpa memperlihatkan sedikitpun lelah dan bosan dari mimik wajah serta gesture tubuhnya dalam penantian terhadap pembeli untuk datang menghampirinya. Sisi belakang dari seragam yang beliau kenakan bertuliskan “Cinlok Putuwijoyo” yang mampu menunjukkan loyalitas dari beliau dalam bekerja, bila dibandingkan dengan para pedagang kecil lainnya yang tidak jarang terlihat hanya memakai kaos ataupun batik biasa serta bebas sesuka hati mereka. By the way, saya tidak membeli cilok meski sudah cukup tergoda dengan kegurihan serta kehangatannya, karena saya masih kenyang pada saat itu.

Beberapa saat kemudian, tertangkap mata oleh saya seorang anak kecil berusia kurang-lebih 5 tahun yang merokok dengan santainya di balik lemari kaca di toko Rahayu Cell. Tak begitu jelas oleh saya untuk menyatakan jenis kelamin anak tersebut, karena walaupun rambutnya pendek, namun wajahnya cukup cantik. Seketika hati saya ciut dan sedih, setelah untuk kesekian kalinya saya melihat langsung banyak dari generasi muda bangsa ini yang merokok dengan menikmati kehangatannya disertai wajah yang ceria tanpa khawatir sedikitpun akan sejuta bahaya dari sepuntung rokok.

Sejenak saya alihkan pandangan saya dari anak tersebut, agar sakit hati saya terhadap rokok tidak berlarut-larut pada saat itu, untuk menengok ke setiap sisi dari toko Rahayu Cell dari jarak kurang-lebih tiga (3) meter. Dinding yang seluruhnya berwarna kuning masih terlihat baik, karena cat dindingnya belum berkelupas dan dindingnya bersih. Di depan toko, terlihat sedikit sampah-sampah kecil yang tergeletak begitu saja tanpa rasa dosa. Namun, di sisi luar toko tersebut dapat dibilang sudah cukup bersih karena pada nyatanya di pinggir jalan daerah Pondok Cina tidak tersedia tempat sampah untuk para masyarakat yang tinggal ataupun lewat di sana bisa membuang sampah pada tempat yang seyogyanya. Dari kardus-kardus handphone di dalam lemari kaca tersebut, dapat diketahui bahwa sekitar 90% produk handphone yang dijual adalah merek lama atau terbilang “jadul“. Cukup unik ketika saya dapati banyak terdapat colokan listrik yang tergantung di atas lemari kaca tersebut dan ternyata beberapa saat kemudian terdapat dua (2) pengunjung yang numpang men-charge handphone mereka di sana, dengan ditemani seorang wanita (yang saya yakini merupakan ibu dari anak kecil yang merokok tersebut) berbaju putih agak lusuh dan berkulit sawo matang yang muncul dari balik lemari kaca di depan tokonya. Wajah wanita tersebut terlihat cukup berminyak dan rambutnya dikuncir kuda.

Cuaca mendung masih menyelimuti langit dan seisi bumi pada pukul 15.15 WIB. Jalanan Pondok Cina yang ramai akan lalu-lalang para pejalan kaki dan para pengendara motor, turut digaduhkan oleh derap langkah kereta Commuter Line, yang ketika ia lewat, maka jalanan di daerah Pondok Cina tak terkecuali tempat saya duduk pada saat itu pun bergetar. Tak sedikit motor yang melewati jalanan di daerah Pondok Cina pada saat itu ditumpangi oleh tiga (3) orang. Mungkin belum dipandang bahaya oleh banyak masyarakat, memang, untuk mengendarai motor di daerah Pondok Cina tersebut. Hal itu juga terlihat dari banyaknya pengendara motor tidak ber-helm yang lewat. Banyak pula motor yang berjalan di depan saya dikendarai hanya oleh satu (1) orang di tiap motornya. Saya langsung mengingat di komplek rumah saya yang juga sering ditemui para warga seorang diri mengendarai motor mereka masing-masing dari rumah mereka ke depan komplek, padahal dengan jalan kaki saja tidak dibutuhkan lebih dari 10 menit untuk sampai ke jalan raya di depan komplek saya tersebut, apalagi jalanannya datar (tidak naik-turun).

Terlihat pula beberapa pejalan kaki yang melewati jalanan di depan saya dengan membawa kantong plastik dari Hypermart yang berlokasi di dalam Depok Town Square. Begitu mudahnya saat ini masyarakat di Depok, terutama yang bertempat tinggal di sepanjang jalan Margonda,  untuk pergi berbelanja bahkan sekedar bertemu handai taulan di mall. Padahal di Jerman, sebuah negara maju di belahan benua Eropa dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang lebih tinggi daripada PDB per kapita Indonesia (sebagai salah satu indikator ekonomi yang dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara), sangat sedikit jumlah mall yang berdiri. Saya refleks mengingat fakta perbedaan antara Indonesia dan Jerman tersebut pada saat itu.

Di samping kiri gerobak cilok, terdapat sebuh toko mainan anak yang berisi lampu meja, celengan, bingkai foto, dan masih banyak lagi mainan berkarakter kartun-kartun menarik di atas lemari display-nya. Tiba-tiba muncul seorang anak kecil cantik berambut pendek yang memakai baju warna kuning dari dalam toko mainan tersebut. Ia menggenggam kain kanebo (kain lap kuning untuk membersihkan kendaraan bermotor yang menyerap air) erat-erat di tangan mungilnya. Tak disangka oleh saya bahwa ternyata anak kecil tersebut bermaksud untuk membersihkan seluruh mainan dan pajangan yang terletak di atas lemari kaca. Ia begitu telaten dan hati-hati dalam membersihkan mainan satu-per-satu. Ketulusannya dalam membersihkan barang-barang di toko tersebut juga terlihat ketika ia sempat menyapu isi makanan ringan yang bungkusnya tidak sengaja jatuh dari atas lemari kaca di depan toko dan tumpah ke lantai. Saya jadi begitu penasaran dengan orangtua dari anak tersebut, apakah orangtuanya juga rajin sepertinya. Karena, hanya anak tersebut seorang diri yang terus terlihat di depan toko. Wajah imutnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal ataupun lelah akan pekerjaan bersih-bersih yang ia lakukan tersebut. Bahkan, kain kanebo tersebut ia lipat rapi kembali secara perlahan-lahan setelah ia selesai membersihkan barang-barang dan sekaligus membersihkan lemari kaca di depan tokonya. Meskipun hingga akhir pengamatan saya di sana, tiada pembeli yang mengunjungi toko mainan tersebut.

Di samping kiri saya, terdapat sebuah warung tegal (warteg) yang di pinggir jalannya (di sisi luar warung tersebut) terdapat beberapa bungkus plastik besar berisi sampah. Tidak bau, memang, namun tetap tidaklah benar dan pantas untuk kita meninggalkan sampah begitu saja di pinggir jalan, di tempat yang tidak semestinya kita kotori dengan terbengkalainya sampah di sana, walau tempat sampah memang terbilang cukup jauh dari warteg tersebut. Beberapa saat kemudian, muncul seorang ibu (berusia kurang-lebih 42 tahun) dari dalam warteg yang membawa ember hitam berisi air dan beberapa piring. Ternyata, beliau ingin mencuci piring di luar warteg, dengan cara yang menurut saya kurang higienis. Beberapa saat kemudian, wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell pergi ke warteg tersebut dengan sebatang rokok terbakar di tangan kanannya. Lalu, wanita tersebut kembali ke toko Rahayu Cell dengan membawa dua (2) gelas air minum dalam kemasan merek Aqua.

Tak lama setelah itu, pria penjual cilok pun pergi ke warteg tersebut lalu kembali ke gerobaknya dengan membawa segelas kopi panas. Saya salut dengan pria tersebut, karena saya tidak menangkap basah beliau merokok sekalipun selama pengamatan sata pada saat itu. Dan Alhamdulillah hingga akhir pengamatan saya tersebut, gerobak cilok itu telah dikunjungi pembeli sebanyak delapan (8) kali.

Kemudian, dari dalam gang sempit antara toko mainan anak dan toko Rahayu Cell, muncul seorang bapak yang kurang-lebih berusia 50 tahun. Beliau duduk di kursi plastik di depan toko Rahayu Cell. Sekilas saya persepsikan, bahwa alis matanya yang berkerut mengandung arti dari sifat beliau yang mudah marah atau temperament. Ia sempat berbincang dengan wanita yang rambutnya berkuncir kuda yang sedang berada di dalam toko Rahayu Cell, namun sayangnya saya tidak dapat begitu jelas mendengar percakapan mereka karena keriuhan suasana Pondok Cina di Minggu sore. Bapak tersebut pun sempat membeli sebuah es potong berwarna merah muda dari seorang pedagang keliling yang kebetulan stand by lima (5) meter dari beliau, dengan meminta uang Rp. 2,000 kepada wanita yang rambutnya berkuncir kuda di toko Rahayu Cell tersebut. Beberapa saat kemudian, saya dapati beliau menyapa beberapa warga yang lewat di depannya dengan sangat ramah, seperti dengan mengatakan, “Sore, Bu, ke mana?”, ”Hei, Pak! Hehe.”, dan sebagainya. Lalu, tiba-tiba, terdapat seorang ayah yang bersama anaknya menuntun sepeda motor ke pinggir jalan, karena mogok. Bapak tersebut menghampiri ayah dan anak itu untuk mengetahui ada masalah apa dengan motor mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Bapak tersebut mengatakan bahwa masalahnya adalah bensin yang sudah terlanjur habis di tangki mesin motornya. Ketika ayah dan anak tersebut berterimakasih kepada Bapak itu atas informasinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke arah utara, Bapak tersebut kembali duduk di depan toko Rahayu Cell. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk melempar senyum kepada beliau sebelum saya pulang dan mengakhiri pengamatan pertama saya pukul 16.00 WIB. Beliau membalasnya dengan senyuman yang hangat pula. 🙂

Pinarta's Blog

Investment & Indonesia Capital Market

harikaryo

Just another WordPress.com site

Djunijanto Blog

Arek Soeroboyo, Bisa!!!

Pak Guru Bambang's Weblog

BERANILAH TAMPIL BEDA

eunchasiluets

Saatnya Ngampus Bukan Sekedar Status

desywu

My Garden of Words and Thoughts

Indra Putranto

Professional Training and Engineering

ilmu SDM

Rethinking Possibilities, Unleashing Human Potentials

Soldier of Fortune

Into a World of Illusion

ERIK KAKTUS Green Souvenir @ Merchandise

Green Souvenir for Green Wedding and Green Party, Green Campaign Party...

%d bloggers like this: